Total Tayangan Halaman

Sabtu, 24 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 113)




Musikal 113

Tifa segera dilarikan ke UGD. Perawat dan dokter dengan cepat memasang peralatan rumit pada tubuh wanita itu. Menyisakan Adrian, Dave, dan Ririn yang masih diliputi ketegangan. Saking tegangnya bahkan Ririn sampai kaget saat ponsel yang ia pegang bergetar.
[From : Alexi]
[Kami sudah sampai]
Baru saja Ririn akan memberitahukan kabar itu, dokter yang memeriksa Tifa menghampiri mereka. Fokusnya pun teralih pada penjelasan yang akan dokter itu sampaikan.
“ Sebelumnya saya butuh keterangan tentang pasien,” ujar dokter itu mengawali kata-katanya. “ Kapan terkahir pasien makan?”
Ririn langsung menoleh pada Adrian, tapi pemuda itu hanya menggeleng lemah.
“ Tadi pagi ia sarapan, tapi saya tidak tahu apakah dia makan siang atau tidak,” sahut Dave. Pria itu menggaruk telinganya dengan bingung, “ Tapi saya tidak yakin dia tadi sempat menelan roti lapis yang harusnya jadi makan malam kami.”
Dokter itu menghela napas berat.
“ Apa yang terjadi dengan Tante saya, Dok?” tanya Adrian tak sabar.
“ Begini, untuk sementara kami mendiagnosis bahwa pasien terkena tukak lambung. Kami belum bisa memeriksa lebih jauh karena laboratorium kami sedang mengalami perbaikan. Hasil lab akan kami berikan besok pagi. Ada kemungkinan pasien juga menderita penyakit lain karena hematesis atau muntah darah menandakan kemungkinan lain.”
Napas Adrian terasa tercekat.
“ Apa pasien sering mengonsumsi obat tertentu atau alkohol, atau makanan pemicu asam lambung?”
Dave sedang memikirkan kebiasaan buruk Tifa yang tidak ia ketahui. Sementara Adrian masih dalam kondisi syok.
“ Kopi. Saya ingat Miss Tifa bisa mengonsumsi lebih dari empat gelas kopi sehari.”
“ Begitu,” dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Ya, kopi memang mengandung asam yang berbahaya bagi lambung.”
Dave menoleh cepat, “ Kamu tahu, Rin?”
“ Aku selalu membuatkan kopinya kalau sedang menginap,” ujar Ririn seraya  mengangkat bahunya.
“ Tapi kami belum bisa memastikan karena hasil lab belum ada. Untuk itu kami minta agar pasien menjalani rawat inap agar penanganan lebih cepat.”
Adrian hanya bisa mengangguk pasrah. Dokter itu pun berlalu. Dave mengucapkan terima kasih kemudian menepuk bahu Adrian.
“ Temani Om mengisi formulir opname Tantemu. Pasti ada hal-hal yang tidak Om ketahui dan Om butuh bantuanmu.”
Adrian kembali mengangguk. Sebelum ia berangkat, ia sempat berpesan pada Ririn.
“ Titip Tanteku.”
Ririn mengangguk kaku. Adrian benar-benar terlihat lemah. Hari ini dua kali pemuda itu terkena syok yang begitu membuatnya down dan semua kejadian itu melibatkan wanita-wanita terpenting dalam hidupnya.
Ririn benar-benar ingin menenangkan pemuda itu. Memeluknya atau sekadar menjadi sandaran untuknya. Sayang itu Adrian terlalu jauh untuk ia gapai.
“ Tidakkah kubilang kalau aku sudah sampai?”
Sentuhan yang mengejutkan di bahunya membuat Ririn tersadar. Hari ini juga dua kali Alexi mengejutkan dengan cara membuyarkan lamunannya. Ririn tak pernah melihat si kacamata bertingkah sangat aneh seperti hari ini.
“ Ah, maaf. Tadi kami harus mendengarkan penjelasan dokter.”
“ Lalu bagaimana kabar Miss Tifa?” tanya Hiro.
“ Adurian-san dan Davu-san dimana?” sahut Jiro.
“ Dokter bilang Miss Tifa kemungkinan terkena tukak lambung. Dokter hanya bisa melihat dari gejalanya saja karena hasil lab baru bisa didapatkan besok pagi. Miss Tifa harus diopname, makanya Adrian dan Om-ku sedang mengurus surat-suratnya.”
Alexi mendesah berat, “ Setidaknya kita sedikit aman. Adrian tidak akan kabur lagi dan Miss Tifa sudah dalam penanganan yang tepat. Yaah, meski cuma sedikit.”
Ririn melirik Alexi sekilas lalu matanya tertuju pada Tifa yang terbaring lemah dengan alat-alat rumit memenuhi tubuhnya. Wanita yang segarang macan itu tiba-tiba saja terbaring lemah. Tentu kejadian hari ini juga menjadi penyebab kenapa panglima perang Love Musical itu mendadak jatuh sakit.
ooOoo
Jemari Dave terhenti saat mengisi salah satu isian formulir. Sedari tadi ia tak mempermasalahkan lembaran-lembaran formulir yang ia isi. Namun, yang satu ini benar-benar menyulitkannya. Lebih sulit daripada soal ujian nasional 20 paket.
STATUS WALI : ………..
Jika saja Adrian yang mengisi formulir ini mungkin tak akan ada kesulitan. Sayang, saat ini Adrian tak bisa diandalkan, lalu apa yang akan ia isi di sini? Status wali pasien sangat penting karena pertanggungjawaban akan dilimpahkan penuh pada sang wali. Seharusnya ia mengisi nama Adrian saja, tapi Dave sudah terlanjur menuliskan namanya. Belum lagi Dave sudah terlanjur tanda tangan di beberapa dokumen sebelumnya.
Isi apa? Keluarga? Bisa saja, tapi jadi siapa? Saudara kandung? sepupu?  Dave mendesah berat. Rasanya ia tak mau menjalin hubungan saudara dengan siapa pun saat ini. Mengingat kejadian Adrian tadi siang cukup membuatnya bergidik.
Lantas apa? Pacar? Suami? Bah, boro-boro! Lamarannya saja ditolak Tifa berkali-kali. Rasanya tak pantas. Lagi pula orang-orang pasti merasa aneh nantinya kalau dia menjawab dengan status seperti itu. Sial, kenapa di saat genting seperti ini ia justru memikirkan hal-hal yang demikian.
“ Tulis saja suami.”
Dave menatap pemuda ini penuh tanda tanya. Benarkah? Bolehkah?
“ Kalau nanti terjadi sesuatu aku yakin kalian akan langsung bisa berimprovisasi. Bukannya kalian jago akting.”
Untuk pertama kalinya setelah ketegangan berlangsung Adrian mengukirkan senyum di wajahnya. Dave pun ikut terkekeh seraya menuliskan ejaan S-U-A-M-I.
“ Baiklah, secara dokumen rumah sakit aku sudah resmi menikah dengan Tantemu.”
Dave menyerahkan formulir itu pada petugas administrasi. Mereka pun diharuskan menunggu sejenak sampai petugas itu mendapatkan konfirmasi kamar yang tersedia.
“ Menikahlah setelah semua ini selesai. Dia benar-benar membutuhkan laki-laki seperti Om,” Adrian menundukkan kepalanya. “ Bukan laki-laki tak berguna seperti aku ini.”
“ Dia membutuhkanmu Adrian,” ujar Dave seraya menepuk pundak Adrian. “Tidakkah kamu ingat kalau pesan Tantemu supaya kamu pulang. Itu artinya dia juga tak bisa kehilangan dirimu.”
Adrian mengangkat kepalanya perlahan lalu mengusap wajahnya.
“ Tak hanya kalian berdua, tapi aku dan teman-temanmu yang lain juga terguncang kejadian tadi siang. Semua tak ada yang menyangka dan tidak ada yang mengharapkan ini, tentunya.”
“ Mereka tahu?” Adrian sedikit terperanjat.
Dave mengangkat bahu, “ Om pikir hanya mereka, tapi Om yakin mereka bersedia tutup mulut.”
Yah, tidak penting untuk saat ini. Bagi Adrian kepulihan Tantenya jauh di atas segalanya.
Petugas administrasi itu memberitahukan bahwa kamar yang mereka pesan tersedia. Adrian meminta agar Tantenya disediakan kamar VIP. Ia tahu, begitu sadar nanti Tantenya tidak akan suka satu kamar dengan orang asing.
“ Ayo kita kembali! Masih banyak yang harus kita urus.”

Author's Note:
Postingan tentang rumah sakit, update-nya di rumah sakit. cepet sembuh Mom  

2 komentar:

  1. STATUS WALI : ………..
    setidak nya ada bagian di chap ini , yang bisa membuat tersenyum.

    tante GWS ^^s emga cepet pulang dr RS ...
    bagabaga juga lagi perawatan obes(sekarang malah nambah diare)
    jadi lupa buat baca :(
    wkwkwwkwk jd curhat #plak

    BalasHapus