Musikal 113
Tifa segera dilarikan
ke UGD. Perawat dan dokter dengan cepat memasang peralatan rumit pada tubuh
wanita itu. Menyisakan Adrian, Dave, dan Ririn yang masih diliputi ketegangan.
Saking tegangnya bahkan Ririn sampai kaget saat ponsel yang ia pegang bergetar.
[From : Alexi]
[Kami sudah sampai]
Baru
saja Ririn akan memberitahukan kabar itu, dokter yang memeriksa Tifa
menghampiri mereka. Fokusnya pun teralih pada penjelasan yang akan dokter itu
sampaikan.
“
Sebelumnya saya butuh keterangan tentang pasien,” ujar dokter itu mengawali
kata-katanya. “ Kapan terkahir pasien makan?”
Ririn
langsung menoleh pada Adrian, tapi pemuda itu hanya menggeleng lemah.
“
Tadi pagi ia sarapan, tapi saya tidak tahu apakah dia makan siang atau tidak,”
sahut Dave. Pria itu menggaruk telinganya dengan bingung, “ Tapi saya tidak
yakin dia tadi sempat menelan roti lapis yang harusnya jadi makan malam kami.”
Dokter
itu menghela napas berat.
“
Apa yang terjadi dengan Tante saya, Dok?” tanya Adrian tak sabar.
“
Begini, untuk sementara kami mendiagnosis bahwa pasien terkena tukak lambung.
Kami belum bisa memeriksa lebih jauh karena laboratorium kami sedang mengalami
perbaikan. Hasil lab akan kami berikan besok pagi. Ada kemungkinan pasien juga
menderita penyakit lain karena hematesis
atau muntah darah menandakan kemungkinan lain.”
Napas
Adrian terasa tercekat.
“
Apa pasien sering mengonsumsi obat tertentu atau alkohol, atau makanan pemicu
asam lambung?”
Dave
sedang memikirkan kebiasaan buruk Tifa yang tidak ia ketahui. Sementara Adrian
masih dalam kondisi syok.
“
Kopi. Saya ingat Miss Tifa bisa
mengonsumsi lebih dari empat gelas kopi sehari.”
“
Begitu,” dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Ya, kopi memang
mengandung asam yang berbahaya bagi lambung.”
Dave
menoleh cepat, “ Kamu tahu, Rin?”
“
Aku selalu membuatkan kopinya kalau sedang menginap,” ujar Ririn seraya mengangkat bahunya.
“
Tapi kami belum bisa memastikan karena hasil lab belum ada. Untuk itu kami
minta agar pasien menjalani rawat inap agar penanganan lebih cepat.”
Adrian
hanya bisa mengangguk pasrah. Dokter itu pun berlalu. Dave mengucapkan terima
kasih kemudian menepuk bahu Adrian.
“
Temani Om mengisi formulir opname Tantemu. Pasti ada hal-hal yang tidak Om
ketahui dan Om butuh bantuanmu.”
Adrian
kembali mengangguk. Sebelum ia berangkat, ia sempat berpesan pada Ririn.
“
Titip Tanteku.”
Ririn
mengangguk kaku. Adrian benar-benar terlihat lemah. Hari ini dua kali pemuda
itu terkena syok yang begitu membuatnya down
dan semua kejadian itu melibatkan wanita-wanita terpenting dalam hidupnya.
Ririn
benar-benar ingin menenangkan pemuda itu. Memeluknya atau sekadar menjadi
sandaran untuknya. Sayang itu Adrian terlalu jauh untuk ia gapai.
“
Tidakkah kubilang kalau aku sudah sampai?”
Sentuhan
yang mengejutkan di bahunya membuat Ririn tersadar. Hari ini juga dua kali
Alexi mengejutkan dengan cara membuyarkan lamunannya. Ririn tak pernah melihat
si kacamata bertingkah sangat aneh seperti hari ini.
“
Ah, maaf. Tadi kami harus mendengarkan penjelasan dokter.”
“
Lalu bagaimana kabar Miss Tifa?”
tanya Hiro.
“
Adurian-san dan Davu-san dimana?” sahut Jiro.
“
Dokter bilang Miss Tifa kemungkinan
terkena tukak lambung. Dokter hanya bisa melihat dari gejalanya saja karena
hasil lab baru bisa didapatkan besok pagi. Miss
Tifa harus diopname, makanya Adrian dan Om-ku sedang mengurus surat-suratnya.”
Alexi
mendesah berat, “ Setidaknya kita sedikit aman. Adrian tidak akan kabur lagi
dan Miss Tifa sudah dalam penanganan
yang tepat. Yaah, meski cuma sedikit.”
Ririn
melirik Alexi sekilas lalu matanya tertuju pada Tifa yang terbaring lemah
dengan alat-alat rumit memenuhi tubuhnya. Wanita yang segarang macan itu
tiba-tiba saja terbaring lemah. Tentu kejadian hari ini juga menjadi penyebab
kenapa panglima perang Love Musical
itu mendadak jatuh sakit.
ooOoo
Jemari Dave terhenti
saat mengisi salah satu isian formulir. Sedari tadi ia tak mempermasalahkan
lembaran-lembaran formulir yang ia isi. Namun, yang satu ini benar-benar
menyulitkannya. Lebih sulit daripada soal ujian nasional 20 paket.
STATUS WALI : ………..
Jika
saja Adrian yang mengisi formulir ini mungkin tak akan ada kesulitan. Sayang,
saat ini Adrian tak bisa diandalkan, lalu apa yang akan ia isi di sini? Status
wali pasien sangat penting karena pertanggungjawaban akan dilimpahkan penuh
pada sang wali. Seharusnya ia mengisi nama Adrian saja, tapi Dave sudah
terlanjur menuliskan namanya. Belum lagi Dave sudah terlanjur tanda tangan di
beberapa dokumen sebelumnya.
Isi
apa? Keluarga? Bisa saja, tapi jadi siapa? Saudara kandung? sepupu? Dave mendesah berat. Rasanya ia tak mau
menjalin hubungan saudara dengan siapa pun saat ini. Mengingat kejadian Adrian
tadi siang cukup membuatnya bergidik.
Lantas
apa? Pacar? Suami? Bah, boro-boro! Lamarannya saja ditolak Tifa berkali-kali.
Rasanya tak pantas. Lagi pula orang-orang pasti merasa aneh nantinya kalau dia
menjawab dengan status seperti itu. Sial, kenapa di saat genting seperti ini ia
justru memikirkan hal-hal yang demikian.
“
Tulis saja suami.”
Dave
menatap pemuda ini penuh tanda tanya. Benarkah?
Bolehkah?
“
Kalau nanti terjadi sesuatu aku yakin kalian akan langsung bisa berimprovisasi.
Bukannya kalian jago akting.”
Untuk
pertama kalinya setelah ketegangan berlangsung Adrian mengukirkan senyum di
wajahnya. Dave pun ikut terkekeh seraya menuliskan ejaan S-U-A-M-I.
“
Baiklah, secara dokumen rumah sakit aku sudah resmi menikah dengan Tantemu.”
Dave
menyerahkan formulir itu pada petugas administrasi. Mereka pun diharuskan
menunggu sejenak sampai petugas itu mendapatkan konfirmasi kamar yang tersedia.
“
Menikahlah setelah semua ini selesai. Dia benar-benar membutuhkan laki-laki
seperti Om,” Adrian menundukkan kepalanya. “ Bukan laki-laki tak berguna
seperti aku ini.”
“
Dia membutuhkanmu Adrian,” ujar Dave seraya menepuk pundak Adrian. “Tidakkah
kamu ingat kalau pesan Tantemu supaya kamu pulang. Itu artinya dia juga tak
bisa kehilangan dirimu.”
Adrian
mengangkat kepalanya perlahan lalu mengusap wajahnya.
“
Tak hanya kalian berdua, tapi aku dan teman-temanmu yang lain juga terguncang
kejadian tadi siang. Semua tak ada yang menyangka dan tidak ada yang
mengharapkan ini, tentunya.”
“
Mereka tahu?” Adrian sedikit terperanjat.
Dave
mengangkat bahu, “ Om pikir hanya mereka, tapi Om yakin mereka bersedia tutup
mulut.”
Yah,
tidak penting untuk saat ini. Bagi Adrian kepulihan Tantenya jauh di atas
segalanya.
Petugas
administrasi itu memberitahukan bahwa kamar yang mereka pesan tersedia. Adrian
meminta agar Tantenya disediakan kamar VIP. Ia tahu, begitu sadar nanti
Tantenya tidak akan suka satu kamar dengan orang asing.
“
Ayo kita kembali! Masih banyak yang harus kita urus.”
Author's Note:
Postingan tentang rumah sakit, update-nya di rumah sakit. cepet sembuh Mom
STATUS WALI : ………..
BalasHapussetidak nya ada bagian di chap ini , yang bisa membuat tersenyum.
tante GWS ^^s emga cepet pulang dr RS ...
bagabaga juga lagi perawatan obes(sekarang malah nambah diare)
jadi lupa buat baca :(
wkwkwwkwk jd curhat #plak
cepet sembuh buat bagabaga yaaah...
Hapus