Total Tayangan Halaman

Sabtu, 03 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 105)



Musikal 105

Dave menghela napas panjang. Ia memerhatikan outfit-nya hari ini. Celana chino warna khaki dengan kemeja navy blue, dan beralaskan loafers cokelat. Dave mengangguk. Tampilannya sudah cukup meyakinkan kalau saat ini ia akan pergi berkencan.
Bel pintu ditekan. Dave yakin kalau Tifa menyalakan kamera pada interkomnya. Oleh karena itu, ia melebarkan senyum pada kamera. Namun, senyumnya perlahan sirna saat pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita berbalut vintage midi dress hitam dengan motif floral.
“ Apa? Ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Tifa seraya seraya mematut-matut ujung roknya.
Dave mengatupkan mulutnya. Senyumnya yang pudar berganti dengan mulutnya yang sedikit ternganga. Sepertinya Dave terpesona dengan penampilan Tifa kali ini.
“ Kupikir hanya aku saja yang heboh hari ini, ternyata kita memang benar-benar akan berkencan,” Dave terkekeh. Matanya kembali menatap baju Tifa. “ Gaunmu bagus.”
Tifa langsung mengalihkan perhatian pada gaunnya, “ Oh, aku mengenakannya hanya untuk antisipasi supaya tidak mengeluarkan jurus tendangan.”
Dave hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia menyampirkan lengannya, “ Shall we?”
Biasanya Tifa akan melewatkan kesempatan itu, tapi kali ini dengan tenangnya ia menggamit lengan Dave. Bahkan Dave tak percaya kalau Tifa bisa selunak ini. Apa karena mereka sudah menghabiskan waktu semalaman? Atau karena kejadian saat sarapan? Yang mana pun Dave tidak peduli. Ia senang karena kenyataannya saat ini tangan halus itu sedang merangkul lengannya.
Mobil Dave melaju. Perjalanan mereka hanya diisi oleh suara dari radio yang silih-berganti. Tak ada percakapan di antara mereka. Perhatian Tifa tersita oleh pemandangan dari balik kaca, sementara Dave fokus menyetir. Meski sesekali ia curi-curi pada Tifa.
“ Setelah ini, ada acara apa?” Dave memulai percakapan.
“ Hm, tidak ada.”
“ Sudah cantik begini, kenapa kita tidak kencan betulan saja?”
Tidak ada jawaban. Jeda yang terlalu panjang membuat Dave berpikiran negatif.
“ Boleh saja.”
Refleks, Dave menoleh cepat, “ Serius?”
“ Ya, kenapa tidak,” ujar Tifa seraya membetulkan posisi duduknya.
Dave tertawa senang, “ Kalau begitu kita nonton yuk. Lagi banyak film bagus nih. Setelah itu kita dinner. Aku pernah mencicipi restoran enak di Palembang. Eh, atau kita dinner dulu baru nonton?”
“ Terserah saja,” kening Tifa berkerut. “ Tapi kupikir nanti kita cuma sebentar di sana’kan? Jadi, tidak akan makan banyak. Mungkin lebih baik kita dinner dulu.”
“ Oke,” sahut Dave sambil mengangguk. “ Setelah nonton nanti kita habiskan malam di BKB yuk.”
Tawa Tifa meledak, “ Kurang kerjaan!


ooOoo
Begitu Ririn turun dari mobil ia melihat sebuah mobil yang baru saja terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Ririn merasa familier dengan mobil bewarna cokelat itu. Belum sempat ia melihat platnya, si pemilik mobil sudah lebih dulu keluar. Benar saja, dugaan Ririn mengenai si pemilik mobil itu tak meleset.
“ Om Dave!”
Tak hanya Ririn, tapi Alexi, Hiro, dan Jiro pun tak menyangka kalau akan bertemu Dave di kafe yang sama. Lebih mengejutkan lagi ketika sosok Tifa ikut keluar dari mobil yang sama. Jika dilihat dari cara mereka berpakaian, orang mana pun pasti menebak kalau mereka sedang berkencan.
“ Hai, Rin. Hangout bersama teman-teman?”
“ Ngg, bisa dibilang begitu,” Ririn menganggaruk-garuk ujung hidungnya. “Sebenarnya kami ditraktir Andani makan di sini. Hitung-hitung syukuran dia yang udah sembuh.”
“ Wah, seru pasti.”
Ririn mengangguk, lalu matanya melirik Tifa. “ Semalam Om gak pulang’kan? Kemana sih?”
“ Anak kecil gak usah banyak tanya,” Dave tertawa seraya mengacak kepala Ririn.
“ Sedang berkencan?” Jiro menyapa tanpa basa-basi.
“ Ah, tidak,” sahut Tifa cepat. “ Hanya pertemuan keluarga.”
Keempat anak muda ini langsung bengong. Pertemuan keluarga? Lamaran?
Tifa menepuk keningnya. Jawaban barusan membuat anak-anak didiknya berpikir ambigu.
“ Bu-bukan pertemua keluarga yang seperti itu. Ini hanya…. Ah, sudahlah! Kenapa aku harus menjelaskan pada kalian? Sudah sana cepat masuk!”
Mendengar omelan Tifa yang menyentak, keempat remaja ini memilih untuk bubar jalan. Entah mengapa suasana tiba-tiba terasa seperti pada saat latihan.
Dave tak kuasa menahan tawanya saat melihat keponakan serta teman-temannya lari terbirit-birit. Di sisi lain, wajah Tifa terlihat merah padam menahan malu.
“ Gak usah ketawa-ketawa!” omel Tifa.
“ Ya, kamu juga pakai acara senewen gitu,” Dave berdeham untuk meredakan tawanya. “ Terserah’kan mereka mau mikir apa. Toh, kamu lajang dan aku juga. Berkencan atau acara lamaran bukan sesuatu yang tabu, bukan?”
Tifa membuang mukanya.
“ Sudah kubilang’kan, kita ini memang cocok. Kenapa kamu gak terima lamaran aku aja sih?”
Tifa mendelik kepada Dave, “ Sekali lagi kamu ngelantur lagi, akan aku pastikan ujung stiletto-ku merobek mulutmu!”
Saat tatapan Dave jatuh pada hak sepatu Tifa, buru-buru ia mengangkat tangannya seraya tersenyum gummy. Ngeri juga kalau sampai hak sepatu Tifa yang runcing menyambar pipinya. Tifa tersenyum puas saat Dave terlihat tunduk padanya.
“ Bagus, sekarang diam di sini. Aku mau menelepon Adrian dulu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar