Musikal 105
Dave menghela napas
panjang. Ia memerhatikan outfit-nya
hari ini. Celana chino warna khaki
dengan kemeja navy blue, dan
beralaskan loafers cokelat. Dave
mengangguk. Tampilannya sudah cukup meyakinkan kalau saat ini ia akan pergi
berkencan.
Bel
pintu ditekan. Dave yakin kalau Tifa menyalakan kamera pada interkomnya. Oleh
karena itu, ia melebarkan senyum pada kamera. Namun, senyumnya perlahan sirna
saat pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita berbalut vintage midi dress hitam dengan motif floral.
“
Apa? Ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Tifa seraya seraya
mematut-matut ujung roknya.
Dave
mengatupkan mulutnya. Senyumnya yang pudar berganti dengan mulutnya yang
sedikit ternganga. Sepertinya Dave terpesona dengan penampilan Tifa kali ini.
“
Kupikir hanya aku saja yang heboh hari ini, ternyata kita memang benar-benar
akan berkencan,” Dave terkekeh. Matanya kembali menatap baju Tifa. “ Gaunmu
bagus.”
Tifa
langsung mengalihkan perhatian pada gaunnya, “ Oh, aku mengenakannya hanya
untuk antisipasi supaya tidak mengeluarkan jurus tendangan.”
Dave
hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia menyampirkan lengannya, “ Shall we?”
Biasanya
Tifa akan melewatkan kesempatan itu, tapi kali ini dengan tenangnya ia
menggamit lengan Dave. Bahkan Dave tak percaya kalau Tifa bisa selunak ini. Apa
karena mereka sudah menghabiskan waktu semalaman? Atau karena kejadian saat
sarapan? Yang mana pun Dave tidak peduli. Ia senang karena kenyataannya saat
ini tangan halus itu sedang merangkul lengannya.
Mobil
Dave melaju. Perjalanan mereka hanya diisi oleh suara dari radio yang
silih-berganti. Tak ada percakapan di antara mereka. Perhatian Tifa tersita
oleh pemandangan dari balik kaca, sementara Dave fokus menyetir. Meski sesekali
ia curi-curi pada Tifa.
“ Setelah
ini, ada acara apa?” Dave memulai percakapan.
“
Hm, tidak ada.”
“
Sudah cantik begini, kenapa kita tidak kencan betulan saja?”
Tidak
ada jawaban. Jeda yang terlalu panjang membuat Dave berpikiran negatif.
“
Boleh saja.”
Refleks,
Dave menoleh cepat, “ Serius?”
“
Ya, kenapa tidak,” ujar Tifa seraya membetulkan posisi duduknya.
Dave
tertawa senang, “ Kalau begitu kita nonton yuk. Lagi banyak film bagus nih. Setelah
itu kita dinner. Aku pernah mencicipi
restoran enak di Palembang. Eh, atau kita dinner
dulu baru nonton?”
“
Terserah saja,” kening Tifa berkerut. “ Tapi kupikir nanti kita cuma sebentar
di sana’kan? Jadi, tidak akan makan banyak. Mungkin lebih baik kita dinner dulu.”
“
Oke,” sahut Dave sambil mengangguk. “ Setelah nonton nanti kita habiskan malam
di BKB yuk.”
Tawa
Tifa meledak, “ Kurang kerjaan!
ooOoo
Begitu Ririn turun
dari mobil ia melihat sebuah mobil yang baru saja terparkir tak jauh dari
tempatnya berdiri. Ririn merasa familier dengan mobil bewarna cokelat itu.
Belum sempat ia melihat platnya, si pemilik mobil sudah lebih dulu keluar.
Benar saja, dugaan Ririn mengenai si pemilik mobil itu tak meleset.
“ Om
Dave!”
Tak
hanya Ririn, tapi Alexi, Hiro, dan Jiro pun tak menyangka kalau akan bertemu
Dave di kafe yang sama. Lebih mengejutkan lagi ketika sosok Tifa ikut keluar
dari mobil yang sama. Jika dilihat dari cara mereka berpakaian, orang mana pun
pasti menebak kalau mereka sedang berkencan.
“
Hai, Rin. Hangout bersama
teman-teman?”
“
Ngg, bisa dibilang begitu,” Ririn menganggaruk-garuk ujung hidungnya.
“Sebenarnya kami ditraktir Andani makan di sini. Hitung-hitung syukuran dia
yang udah sembuh.”
“
Wah, seru pasti.”
Ririn
mengangguk, lalu matanya melirik Tifa. “ Semalam Om gak pulang’kan? Kemana
sih?”
“
Anak kecil gak usah banyak tanya,” Dave tertawa seraya mengacak kepala Ririn.
“
Sedang berkencan?” Jiro menyapa tanpa basa-basi.
“
Ah, tidak,” sahut Tifa cepat. “ Hanya pertemuan keluarga.”
Keempat
anak muda ini langsung bengong. Pertemuan
keluarga? Lamaran?
Tifa
menepuk keningnya. Jawaban barusan membuat anak-anak didiknya berpikir ambigu.
“
Bu-bukan pertemua keluarga yang seperti itu. Ini hanya…. Ah, sudahlah! Kenapa
aku harus menjelaskan pada kalian? Sudah sana cepat masuk!”
Mendengar
omelan Tifa yang menyentak, keempat remaja ini memilih untuk bubar jalan. Entah
mengapa suasana tiba-tiba terasa seperti pada saat latihan.
Dave
tak kuasa menahan tawanya saat melihat keponakan serta teman-temannya lari
terbirit-birit. Di sisi lain, wajah Tifa terlihat merah padam menahan malu.
“
Gak usah ketawa-ketawa!” omel Tifa.
“
Ya, kamu juga pakai acara senewen
gitu,” Dave berdeham untuk meredakan tawanya. “ Terserah’kan mereka mau mikir
apa. Toh, kamu lajang dan aku juga.
Berkencan atau acara lamaran bukan sesuatu yang tabu, bukan?”
Tifa
membuang mukanya.
“
Sudah kubilang’kan, kita ini memang cocok. Kenapa kamu gak terima lamaran aku
aja sih?”
Tifa
mendelik kepada Dave, “ Sekali lagi kamu ngelantur lagi, akan aku pastikan
ujung stiletto-ku merobek mulutmu!”
Saat
tatapan Dave jatuh pada hak sepatu Tifa, buru-buru ia mengangkat tangannya
seraya tersenyum gummy. Ngeri juga
kalau sampai hak sepatu Tifa yang runcing menyambar pipinya. Tifa tersenyum
puas saat Dave terlihat tunduk padanya.
“
Bagus, sekarang diam di sini. Aku mau menelepon Adrian dulu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar