Total Tayangan Halaman

Sabtu, 31 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 115)




Musikal 115

Langkah Ririn terhenti saat ia tak sengaja berpapasan dengan sosok Alexi yang baru saja memarkir sepedanya. Entah kenapa bibirnya terkatup rapat sementara pupilnya berkeliaran seperti sedang menyembunyikan dosa besar. Padahal Alexi hanya menatapnya dengan cara yang biasa dan bahkan belum mengatakan apa-apa.
“ Pagi,” ujar Alexi.
Ririn menelan ludahnya dengan susah payah, “ Pa—pagi.”
Ia berusaha tersenyum, tapi Alexi hanya menanggapinya dengan datar. Hal itu membuat nyali Ririn ciut. Jemarinya otomatis menggaruk ujung hidungnya. Alexi akhirnya mendesah panjang.
“ Jangan bersikap aneh atau nanti semua orang tahu apa yang terjadi kemarin.”
Ririn memberanikan diri menatap mata pemuda itu secara langsung, “ Aku tahu. Hanya saja… hanya saja auramu membuatku gugup.”
“ Apa menurutmu aku ini Miss Tifa atau sejenis hewan buas?” Alexi terkekeh. “Kenapa kamu harus gugup sama aku? Apa aku sedang memelototimu?”
“ Ti—tidak,” Ririn tersenyum geli. Suasana yang menegangkan pun mulai mencair.
Tak lama berselang, ada tiga motor yang datang berbarengan. Kedua insan ini pun sengaja menunda niat untuk langsung ke kelas karena mereka akan berbarengan ke sana dengan para penunggang kuda besi itu. Tepat seperti dugaan keduanya, wajah para penunggang itu adalah teman-teman sekelas mereka. Siapa lagi kalau bukan Ben, Kemal, Wenda, dan si kembar Bramastya.
“ Waktu yang pas sekali!” ujar Ben setelah merkea saling bertukar sapa. “ Aku punya pengumuman untuk kalian.”
Semua orang memperhatikan Ben.
“ Aku dapat kabar kalau Miss Tifa masuk rumah sakit. Adrian dan Pak Dave sepertinya tidak akan datang lalu Bu Riani, Bu Gloria, dan Bu Hana juga akan datang menjenguk siang ini. Jadi, kita tidak akan latihan hari ini.”
“ Oh, yeey!” Kemal merentangkan tangannya ke atas. “ Aku bisa kencan buta hari ini!”
“ Kencan buta gundulmu!” omel Ben seraya meninju lengan Kemal. “ Kegiatan kita hari ini diganti dengan membuat properti. Ingat, jangan ada yang mencoba kabur karena aku dan Kak Santi akan mengawasi kalian semua!”
Kemal menunjukkan wajah kekecewaannya. Hal itu memancing tawa teman-temannya.
“ Tapi kira-kira apa ya yang membuat Miss Tifa masuk rumah sakit? Bukannya dia selalu sehat?” ujar Andani.
“ Aku tidak tahu, tapi menurutku dia kelelahan,” jawab Ben. “ Tahu sendiri’kan jam terbangnya sangat tinggi.”
“ Semoga bukan karena kecelakaan,” sambung Anjani seraya membetulkan tali ranselnya. “ Dan semoga lekas sembuh.”
Ririn dan Alexi bertukar pandang. Ada sedikit kelegaan di wajah mereka karena teman-temannya tidak tahu apa yang menyebabkan Tifa masuk rumah sakit.
“ Kalau begitu ayo kita ke kelas!” ajak Wenda. Namun, baru beberapa langkah tangannya tak sengaja meraba bagian retseliting tasnya, wajahnya seketika menegang. “Astaga, dimana kuncinya?”
Langkah teman-temannya terhenti. Perhatian mereka tertuju pada Wenda.
“ Kunci apa?” tanya Kemal.
“ Kunci motorku. Ya ampun, dimana ya?”
“ Tasmu?” sahut Anjani.
Wenda menggeleng, “ Aku ingat aku belum memasukkannya dalam tas. Aduh, apa masih di motor ya.”
Ia langsung berbalik ke tempat parkir. Namun, baru saja ia hampir saja menabrak seseorang saat membalikkan tubuhnya. Di saat yang sama, orang yang hampir ditabraknya menyodorkan sebuah kunci yang dihiasi dengan gantungan kunci bertuliskan “EXO”.
“ Aku menemukannya tergantung di motormu.”
Ucapan terima kasih itu tergantung di lidah Wenda saat menyadari siapa yang memberikan kunci motornya. Tangannya ragu-ragu saat menerima kunci dari tangan Priyanka.
Melihat kedua gadis itu sama-sama bergeming, Kemal pun beringsut menjadi penengah di antara keduanya.
“ Nah, pahlawan sudah datang. Kenapa tidak ucapkan terima kasih saja?”
Wenda menarik napas lalu menatap Priyanka ragu, “ Te—terima kasih.”
“ Sama-sama,” jawab Priyanka tak kalah ragu.
Kemal berdeham seraya merangkulkan tangannya di pundak kedua gadis itu, “Yap, kasus terpecahkan. Waktunya kita ke kelas bersama-sama.”
Bahu Wenda menepis tangan Kemal, “ Jangan sentuh aku!” kemudian Wenda melenggang pergi lebih dulu.
Priyanka juga menyingkirkan tangan Kemal tapi dengan cara yang lebih sopan, “Kamu juga jangan taruh tangan seenaknya,” ujarnya seraya melangkah pergi.
Kemudian Ben datang dan menaruh lengan Kemal di pundaknya, “ Jangan kecewa, kamu masih bisa meletakannya di pundakku.”
Ekspresi Kemal yang seperti baru saja dicampakkan oleh dua orang gadis langsung berubah menjadi tatapan nafsu yang ia lemparkan pada Ben.
“ Kamu memang satu-satunya. Ayo beb, kita pergi bersama.”
“ Dasar gila,” Anjani tak dapat menahan tawanya yang kemudian disusul oleh tawa Andani.
Mereka pun melangkah bersama. Sekali lagi Ririn dan Alexi saling bertukar pandang. Kali ini ekspresi lega itu lebih terpancar dari keduanya. Yah, setidaknya masih ada angin tenang di sini.
ooOoo
Santi dan Ben mengawasi teman-temannya yang bergotong-royong membuat set panggung dan properti lainnya. Mereka berdua lalu membandingkan daftar hadir dari masing-masing kelompok.
“ Anak kelas 11 semuanya masuk. Bagaimana denganmu?” tanya Santi.
“ Hanya Fi, tapi memang dari tadi dia memang tidak masuk.”
“ Sakit?”
Ben mengangkat bahu, “ Entahlah, tidak ada surat izin atau kabar lainnya. Daftar hadirnya di kelas juga ditulis alpa.”
“ Hmm, sesuatu sekali,” ujar Santi sambil bertopang dagu. “ Menurutmu apa suatu kebetulan kalau dua pemeran utama kita sama-sama tidak hadir?”
“ Mana kutahu,” Ben mengangkat bahunya lagi. “ Sudahlah, kita sekarang bantu mereka. Bisa-bisa kita disebut diktator kalau hanya ngerumpi di sini.”
Kedua pemimpin kelas itu bergabung dengan teman-teman mereka. Tanpa mereka sadari kalau percakapan mereka tadi terdengar jelas oleh Ririn. Namun, Ririn tak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya mendengarkan, tapi tetap fokus pada kawat-kawat yang sedang ia potong. Tak hanya Ririn, ternyata Priyanka juga menangkap pembicaraan Ben dan Santi. Ia pun mengambil posisi duduk di sebelah Ririn seraya mencolek lengan gadis itu.
“ Jadi, bagaimana kemarin?” bisiknya.
Gerakan tangan Ririn terhenti. kepalanya menoleh kesana-kemari untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka. Dengan tangan yang masih fokus pada kawat, ia balas berbisik.
“ Adrian sempat menghilang, tapi kami sudah menemukannya.”
“ Kami?” alis Priyanka saling bertaut. “ Maksudmu ada orang lain selain kita yang tahu tentang ini?”
Ririn mengangguk kecil, “ Alexi, Hiro dan Jiro-senpai, dan supirnya juga. Aku keceplosan, tapi mereka janji tidak akan membeberkan masalah ini.”
Priyanka menarik napas panjang lalu mengambil sebuah kawat dan memotongnya dengan tang, “ Menurutmu ini ada hubungannya dengan sakitnya Miss Tifa?”
“ Ya, Miss Tifa terlalu lelah dan stres akibat kejadian ini. Semalam dokter bilang dia terkena tukak lambung. Setahuku tukak lambung itu akibat dari makanan yang tidak sehat dan stres juga salah satu pemicunya.”
Tak ada sahutan lagi dari Priyanka. Kesunyian di antara hanya diisi dengan bunyi-bunyi kawat yang patah karena gigitan tang.
“ Kasihan Fi,” akhirnya Priyanka membuka suara kembali. “ Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku ada di posisinya.”
Ririn diam seribu bahasa.
“ Oh ya, aku dengar dari yang lain, besok kita akan menjenguk Miss Tifa ke rumah sakit. Kamu sudah diberi tahu?”
Kepala Ririn menggeleng, tapi ada seulas senyum di wajahnya.
“ Tapi sebelum itu aku mau ke rumah Fi dulu. Aku ingin tahu keadaannya.”
Mata Ririn otomatis mengarah pada Priyanka. Ternyata gadis ini punya sifat yang sangat baik. Dulu dia pernah dibuang oleh Fi, tapi sekarang justru gadis ini yang ingin ada di sisi orang yang sekarang ikut terbuang. Harusnya Fi beruntung punya teman seperti dia.
“ Apa?” Priyanka kaget saat ia sadar kalau mata Ririn terus-terusan mengarah padanya.
“ Ah tidak, aku hanya berpikir kalau Fi beruntung punya teman sepertimu.”
Ririn mengembalikan perhatian pada pekerjaannya. Kemudian terdengar helaan napas Priyanka.
“ Aku pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Fi dan waktu itu aku masih ditolong oleh orang yang baik hati. Kupikir sudah saatnya aku berubah jadi orang yang baik hati itu.”
“ Siapa orang yang baik hati itu?”
Priyanka menatap Ririn, tapi gadis itu membalas dengan tatapan penuh tanda tanya. Sepertinya ia benar-benar tak mengerti dengan kode pragmatik yang Priyanka katakan. Melihat hal itu Priyanka terkekeh seraya mengetuk kepala Ririn dengan sebuah kawat.
“ Lupakan saja. Aku tidak akan beri tahu kamu.”
Pipi Ririn mengembung cemberut. Sebal karena Priyanka mengetuk kepalanya dengan kawat dan terlebih karena Priyanka tak menjawab pertanyaannya. Ia paling kesal kalau seseorang tidak langsung menjawab pertanyaannya.
Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Priyanka. Namun, sebisa mungkin ia tak menampakkan senyumannya itu.
‘Dasar lugu. Orang itu tentu saja kamu, Rin.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar