Musikal 115
Langkah Ririn
terhenti saat ia tak sengaja berpapasan dengan sosok Alexi yang baru saja
memarkir sepedanya. Entah kenapa bibirnya terkatup rapat sementara pupilnya
berkeliaran seperti sedang menyembunyikan dosa besar. Padahal Alexi hanya
menatapnya dengan cara yang biasa dan bahkan belum mengatakan apa-apa.
“
Pagi,” ujar Alexi.
Ririn
menelan ludahnya dengan susah payah, “ Pa—pagi.”
Ia
berusaha tersenyum, tapi Alexi hanya menanggapinya dengan datar. Hal itu
membuat nyali Ririn ciut. Jemarinya otomatis menggaruk ujung hidungnya. Alexi
akhirnya mendesah panjang.
“
Jangan bersikap aneh atau nanti semua orang tahu apa yang terjadi kemarin.”
Ririn
memberanikan diri menatap mata pemuda itu secara langsung, “ Aku tahu. Hanya
saja… hanya saja auramu membuatku gugup.”
“
Apa menurutmu aku ini Miss Tifa atau
sejenis hewan buas?” Alexi terkekeh. “Kenapa kamu harus gugup sama aku? Apa aku
sedang memelototimu?”
“
Ti—tidak,” Ririn tersenyum geli. Suasana yang menegangkan pun mulai mencair.
Tak
lama berselang, ada tiga motor yang datang berbarengan. Kedua insan ini pun
sengaja menunda niat untuk langsung ke kelas karena mereka akan berbarengan ke
sana dengan para penunggang kuda besi itu. Tepat seperti dugaan keduanya, wajah
para penunggang itu adalah teman-teman sekelas mereka. Siapa lagi kalau bukan
Ben, Kemal, Wenda, dan si kembar Bramastya.
“
Waktu yang pas sekali!” ujar Ben setelah merkea saling bertukar sapa. “ Aku
punya pengumuman untuk kalian.”
Semua
orang memperhatikan Ben.
“
Aku dapat kabar kalau Miss Tifa masuk
rumah sakit. Adrian dan Pak Dave sepertinya tidak akan datang lalu Bu Riani, Bu
Gloria, dan Bu Hana juga akan datang menjenguk siang ini. Jadi, kita tidak akan
latihan hari ini.”
“
Oh, yeey!” Kemal merentangkan tangannya ke atas. “ Aku bisa kencan buta hari
ini!”
“
Kencan buta gundulmu!” omel Ben seraya meninju lengan Kemal. “ Kegiatan kita
hari ini diganti dengan membuat properti. Ingat, jangan ada yang mencoba kabur
karena aku dan Kak Santi akan mengawasi kalian semua!”
Kemal
menunjukkan wajah kekecewaannya. Hal itu memancing tawa teman-temannya.
“
Tapi kira-kira apa ya yang membuat Miss
Tifa masuk rumah sakit? Bukannya dia selalu sehat?” ujar Andani.
“
Aku tidak tahu, tapi menurutku dia kelelahan,” jawab Ben. “ Tahu sendiri’kan
jam terbangnya sangat tinggi.”
“
Semoga bukan karena kecelakaan,” sambung Anjani seraya membetulkan tali
ranselnya. “ Dan semoga lekas sembuh.”
Ririn
dan Alexi bertukar pandang. Ada sedikit kelegaan di wajah mereka karena
teman-temannya tidak tahu apa yang menyebabkan Tifa masuk rumah sakit.
“
Kalau begitu ayo kita ke kelas!” ajak Wenda. Namun, baru beberapa langkah
tangannya tak sengaja meraba bagian retseliting tasnya, wajahnya seketika
menegang. “Astaga, dimana kuncinya?”
Langkah
teman-temannya terhenti. Perhatian mereka tertuju pada Wenda.
“
Kunci apa?” tanya Kemal.
“
Kunci motorku. Ya ampun, dimana ya?”
“
Tasmu?” sahut Anjani.
Wenda
menggeleng, “ Aku ingat aku belum memasukkannya dalam tas. Aduh, apa masih di
motor ya.”
Ia
langsung berbalik ke tempat parkir. Namun, baru saja ia hampir saja menabrak
seseorang saat membalikkan tubuhnya. Di saat yang sama, orang yang hampir
ditabraknya menyodorkan sebuah kunci yang dihiasi dengan gantungan kunci
bertuliskan “EXO”.
“
Aku menemukannya tergantung di motormu.”
Ucapan
terima kasih itu tergantung di lidah Wenda saat menyadari siapa yang memberikan
kunci motornya. Tangannya ragu-ragu saat menerima kunci dari tangan Priyanka.
Melihat
kedua gadis itu sama-sama bergeming, Kemal pun beringsut menjadi penengah di
antara keduanya.
“
Nah, pahlawan sudah datang. Kenapa tidak ucapkan terima kasih saja?”
Wenda
menarik napas lalu menatap Priyanka ragu, “ Te—terima kasih.”
“
Sama-sama,” jawab Priyanka tak kalah ragu.
Kemal
berdeham seraya merangkulkan tangannya di pundak kedua gadis itu, “Yap, kasus
terpecahkan. Waktunya kita ke kelas bersama-sama.”
Bahu
Wenda menepis tangan Kemal, “ Jangan sentuh aku!” kemudian Wenda melenggang
pergi lebih dulu.
Priyanka
juga menyingkirkan tangan Kemal tapi dengan cara yang lebih sopan, “Kamu juga
jangan taruh tangan seenaknya,” ujarnya seraya melangkah pergi.
Kemudian
Ben datang dan menaruh lengan Kemal di pundaknya, “ Jangan kecewa, kamu masih
bisa meletakannya di pundakku.”
Ekspresi
Kemal yang seperti baru saja dicampakkan oleh dua orang gadis langsung berubah
menjadi tatapan nafsu yang ia lemparkan pada Ben.
“
Kamu memang satu-satunya. Ayo beb, kita pergi bersama.”
“
Dasar gila,” Anjani tak dapat menahan tawanya yang kemudian disusul oleh tawa
Andani.
Mereka
pun melangkah bersama. Sekali lagi Ririn dan Alexi saling bertukar pandang.
Kali ini ekspresi lega itu lebih terpancar dari keduanya. Yah, setidaknya masih
ada angin tenang di sini.
ooOoo
Santi dan Ben
mengawasi teman-temannya yang bergotong-royong membuat set panggung dan properti
lainnya. Mereka berdua lalu membandingkan daftar hadir dari masing-masing
kelompok.
“
Anak kelas 11 semuanya masuk. Bagaimana denganmu?” tanya Santi.
“
Hanya Fi, tapi memang dari tadi dia memang tidak masuk.”
“
Sakit?”
Ben
mengangkat bahu, “ Entahlah, tidak ada surat izin atau kabar lainnya. Daftar
hadirnya di kelas juga ditulis alpa.”
“
Hmm, sesuatu sekali,” ujar Santi sambil bertopang dagu. “ Menurutmu apa suatu
kebetulan kalau dua pemeran utama kita sama-sama tidak hadir?”
“
Mana kutahu,” Ben mengangkat bahunya lagi. “ Sudahlah, kita sekarang bantu
mereka. Bisa-bisa kita disebut diktator kalau hanya ngerumpi di sini.”
Kedua
pemimpin kelas itu bergabung dengan teman-teman mereka. Tanpa mereka sadari
kalau percakapan mereka tadi terdengar jelas oleh Ririn. Namun, Ririn tak
menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya mendengarkan, tapi tetap fokus pada
kawat-kawat yang sedang ia potong. Tak hanya Ririn, ternyata Priyanka juga
menangkap pembicaraan Ben dan Santi. Ia pun mengambil posisi duduk di sebelah
Ririn seraya mencolek lengan gadis itu.
“
Jadi, bagaimana kemarin?” bisiknya.
Gerakan
tangan Ririn terhenti. kepalanya menoleh kesana-kemari untuk memastikan tidak
ada orang yang mendengar percakapan mereka. Dengan tangan yang masih fokus pada
kawat, ia balas berbisik.
“ Adrian
sempat menghilang, tapi kami sudah menemukannya.”
“
Kami?” alis Priyanka saling bertaut. “ Maksudmu ada orang lain selain kita yang
tahu tentang ini?”
Ririn
mengangguk kecil, “ Alexi, Hiro dan Jiro-senpai,
dan supirnya juga. Aku keceplosan, tapi mereka janji tidak akan membeberkan
masalah ini.”
Priyanka
menarik napas panjang lalu mengambil sebuah kawat dan memotongnya dengan tang,
“ Menurutmu ini ada hubungannya dengan sakitnya Miss Tifa?”
“
Ya, Miss Tifa terlalu lelah dan stres
akibat kejadian ini. Semalam dokter bilang dia terkena tukak lambung. Setahuku
tukak lambung itu akibat dari makanan yang tidak sehat dan stres juga salah
satu pemicunya.”
Tak
ada sahutan lagi dari Priyanka. Kesunyian di antara hanya diisi dengan
bunyi-bunyi kawat yang patah karena gigitan tang.
“
Kasihan Fi,” akhirnya Priyanka membuka suara kembali. “ Aku tidak bisa
membayangkan bagaimana jika aku ada di posisinya.”
Ririn
diam seribu bahasa.
“ Oh
ya, aku dengar dari yang lain, besok kita akan menjenguk Miss Tifa ke rumah sakit. Kamu sudah diberi tahu?”
Kepala
Ririn menggeleng, tapi ada seulas senyum di wajahnya.
“
Tapi sebelum itu aku mau ke rumah Fi dulu. Aku ingin tahu keadaannya.”
Mata
Ririn otomatis mengarah pada Priyanka. Ternyata gadis ini punya sifat yang
sangat baik. Dulu dia pernah dibuang oleh Fi, tapi sekarang justru gadis ini
yang ingin ada di sisi orang yang sekarang ikut terbuang. Harusnya Fi beruntung
punya teman seperti dia.
“
Apa?” Priyanka kaget saat ia sadar kalau mata Ririn terus-terusan mengarah
padanya.
“ Ah
tidak, aku hanya berpikir kalau Fi beruntung punya teman sepertimu.”
Ririn
mengembalikan perhatian pada pekerjaannya. Kemudian terdengar helaan napas
Priyanka.
“
Aku pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Fi dan waktu itu aku masih
ditolong oleh orang yang baik hati. Kupikir sudah saatnya aku berubah jadi
orang yang baik hati itu.”
“
Siapa orang yang baik hati itu?”
Priyanka
menatap Ririn, tapi gadis itu membalas dengan tatapan penuh tanda tanya.
Sepertinya ia benar-benar tak mengerti dengan kode pragmatik yang Priyanka
katakan. Melihat hal itu Priyanka terkekeh seraya mengetuk kepala Ririn dengan
sebuah kawat.
“
Lupakan saja. Aku tidak akan beri tahu kamu.”
Pipi
Ririn mengembung cemberut. Sebal karena Priyanka mengetuk kepalanya dengan
kawat dan terlebih karena Priyanka tak menjawab pertanyaannya. Ia paling kesal
kalau seseorang tidak langsung menjawab pertanyaannya.
Sebuah
senyuman tipis terukir di wajah Priyanka. Namun, sebisa mungkin ia tak
menampakkan senyumannya itu.
‘Dasar lugu. Orang itu tentu saja kamu, Rin.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar