Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 107)




Musikal 107

Priyanka mematikan mesin motornya. Ia bernapas lega karena mamanya tak jadi minta jemput. Buru-buru ia putar haluan menuju tempat nongkrongnya sore ini. Saat ia sedang merapikan rambutnya yang berantankan karena helm, perhatiannya tertuju pada sebuah taksi yang berhenti tak jauh dari motornya. Begitu si penumpang turun, Priyanka langsung mengenalinya.
“ Fi?”
Gadis itu terkejut saat namanya disebut. Priyanka pun segera menghampirinya.
“ Lho, aku pikir kamu gak jadi ikut.”
“ Ikut apa?” tanya Fi dengan kening berkerut.
“ Ikut ngerayain syukuran Andani,” ujar Priyanka heran. “ Acaranya’kan di sini.”
“ Ooh, bukan. Aku bukannya mau pergi,” Fi berdeham. “ Keluargaku mengadakan sebuah pertemuan kecil di sini. Mana kutahu kalau Andani juga mengadakan acara di sini.”
Priyanka mengangguk kecil, “ Kebetulan sekali. Mau masuk bareng?”
Fi menarik napas panjang, “ Hmm, boleh juga.”
ooOoo
Alexi memerhatikan Ririn yang dari tadi gelisah. Gadis itu terlihat membongkar-bongkar tasnya lalu celingak-celinguk ke sana kemari. Sesekali sibuk dengan ponsel yang sepertinya bukan ponsel miliknya.
“ Ada apa, Rin?”
“ Eh, ini loh. Hp-ku kok gak ada ya. Dari tadi aku telepon kok suaranya gak kedengeran.”
“ Apa ketinggalan di mobil? Rasanya selama di jalan kamu main-main Hp terus deh.”
Kening Ririn berkerut memikirkan kata-kata Alexi. Tiba-tiba ia terkejut saat sambungan teleponnya disahut oleh seseorang.
Ha-haro?”
Logat yang aneh, tapi tidak asing. Ada jeda beberapa saat ketika Ririn berusaha menebak siapa yang mengangkat teleponnya. Suara terdengar seperti pria yang sudah berumur dengan dialek yang mirip dengan Hasegawa bersaudara.
“ Mo—Mori-san?”
Ya, benar. Apakah Anda pemilik ponsel ini?”
Ririn mendesah lega, “ Ya, saya Ririn, Mori-san. Sepertinya Hp saya ketinggalan di dalam mobil.”
Ahh, Ririn-chan. Dari tadi saya mendengar ada bunyi ponsel di sini. Saya pikir hanya halusinasi saya saja. Mau saya antarkan ke atas?”
“ Tidak usah. Saya nanti turun saja. Terima kasih, Mori-san.”
Ririn menutup teleponnya lalu menatap Alexi dengan senyuman senang.
“ Kamu benar. Hp-ku tinggal di mobil. Aku turun dulu ya.”
“ Aku temani?”
Ririn melambaikan tangannya, “ Tidak usah. Cuma sebentar kok.”
Setelah mengembalikan ponsel Andani, Ririn pun bergegas turun ke bawah. Begitu ia sampai di ujung tangga, matanya tak sengaja menangkap pemandangan yang tidak biasa. Ada salah satu meja yang ditempati oleh lima orang. Dua dari mereka Ririn tidak tahu, tapi sisanya Ririn sangat mengenalinya.
‘ Adrian, Miss Tifa, Om Dave? Kenapa mereka semua berkumpul? Lalu siapa dua orang itu?’
Ririn lebih terkejut lagi ketika Fi datang dan menghampiri meja itu. Ririn tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, tapi entah kenapa kedatangan Fi seperti mengubah atmosfir di sana.
Rasa penasaran semakin menguasai diri Ririn. Pelan-pelan ia mendekat dan menyadap pembicaraan mereka. Seketika jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia mengetahui sebuah kebenaran yang tersembunyi selama ini.
Fi dan Adrian bersaudara.
ooOoo
Sebenarnya Fi juga ingin ikut datang ke acara syukuran Andani, tapi apa mau dikata, tiba-tiba saja mamanya mengabari bahwa ia harus ikut acara keluarga. Bukan acara keluarga yang biasa. Kali ini ia akan bertemu dengan seseorang yang tak pernah ia temui, tetapi justru memiliki ikatan darah yang kuat dengannya.
Sudah sejak lama Fi tahu kalau ia bukanlah satu-satunya anak dari sang papa. Mamanya pernah bercerita kalau papanya sudah memiliki anak dari istri yang sebelumnya. Hanya saja anak tersebut dibawa oleh keluarganya dan tidak pernah menampakkan diri di depan papanya. Papanya dengan keluarga istrinya yang dulu memang memiliki masalah sehingga si anak tersebut tidak diperbolehkan bertemu.
Belasan tahun berlalu, dan sekarang sang anak sendiri yang memutuskan untuk bertemu. Entah kenapa si anak memintanya mendadak. Sehingga di sinilah Fi sekarang. Di dalam sebuah taksi yang membawanya ke sebuah kafe tempat pertemuan mereka nanti.
Saat ia turun dari taksi, tiba-tiba saja ada yang memanggilnya. Fi kaget karena orang yang memanggilnya adalah sosok yang tak asing.
“ Fi?”
Priyanka?
Fi sendiri tak mengerti kenapa gadis itu bisa ada di tempat yang sama. Masih memikirkan jawaban tersebut, gadis itu menghampirinya seraya mengatakan sesuatu yang membuat keningnya berkerut.
“ Lho, aku pikir kamu gak jadi ikut.”
“ Ikut apa?”
“ Ikut ngerayain syukuran Andani,” ujar Priyanka heran. “ Acaranya’kan di sini.”
Fi tersentak kaget saat mengetahui kalau tempat yang mereka tuju sama, hanya saja dengan tujuan yang berbeda. Ia berdeham untuk menutupi rasa terkejutnya.
“ Ooh, bukan. Aku bukannya mau pergi. Keluargaku mengadakan sebuah pertemuan kecil di sini. Mana kutahu kalau Andani juga mengadakan acara di sini.”
Gadis itu terlihat sama terkejutnya. Namun, ia mengangguk percaya.
“ Kebetulan sekali. Mau masuk bareng?”
“ Hmm, boleh juga.”
Yah, tidak ada salahnya. Sebenarnya Fi tak bermaksud memusuhi gadis ini lama-lama. Hanya saja ia ternyata lebih suka hidup sendiri. Lagi pula rasanya gengsi untuk minta maaf duluan dan sepertinya Priyanka sudah lebih dulu menyambung pertemanan mereka.
Begitu mereka masuk ke dalam, mata Fi langsung tertuju pada sosok papa dan mamanya yang ada di sudut ruangan. Namun, Fi merasa heran dengan tiga orang yang duduk membelakanginya. Rasanya anak papanya hanya ada satu, lalu siapa dua orang itu? Apa wali dari si anak? Mungkin saja, tapi Fi tak mau memikirkan semua itu. Buru-buru ia memisahkan diri dari Priyanka lalu menghampiri meja tersebut.
“ Maaf, aku terlambat.”
Kedua orangnya tersenyum saat menyambut kedatangannya. Namun, Fi hampir terlompat saat melihat tiga orang tamunya. Ketiga orang itu pun tak kalah terkejutnya dengan Fi, terutama wanita yang berbaju hitam dan seorang pemuda. Kedua orang itu seketika berdiri.
Ada jeda yang cukup panjang untuk mereka saling bertatap-tatapan. Seketika ada sebuah dugaan yang membuat Fi cukup merinding hanya dengan memikirkannya saja. Sepertinya pikiran itu sudah mulai menjalari seluruh tubuhnya, sehingga jemari dan bibirnya bergetar hebat.
“ Dia… putrimu?” ujar pemuda itu terbata-bata.
Papanya yang merasa heran dengan cara pertemuan mereka, segera berdiri. Ia merangkul Fi yang terlihat seperti baru saja melihat hantu.
“ Ya, namanya Firdayanti. Apa kalian sudah saling kenal?”
Wanita bergaun hitam itu langsung menggenggam tangan si pemuda. Namun, dengan cepat si pemuda melepaskan genggaman itu.
“ Ya, kami sudah saling kenal.”
Papanya terlihat sedikit terkejut, “ Oh ya, dimana?”
“ Di Jakarta, di sanggar.”
“ Ahh, ya. Fi memang pernah menempa ilmu di sana. Itu sekitar―”
“ Lima tahun lalu,” potong pemuda itu. “ Sekarang dia juga ikut pementasan Love Musical.”
“ Oh, benarkah itu, Fi?” tanya papanya sambil menoleh pada Fi. “ Wah, suatu kebetulan sekali kalau kalian―”
“ Kalau kami juga berpacaran.”
Wanita bergaun hitam itu terduduk lemas. Napasnya tersengal-sengal. Wajah super terkejut ditujukan oleh kedua orang tuanya serta seorang pria bermata biru. Saking terkejutnya ketiga orang itu sampai tak sanggup lagi untuk berbicara.
Di sisi lain, mata Fi mulai berkaca-kaca saat menatap pemuda yang baru saja membuat pernyataan yang mengejutkan. Raut wajahnya terlihat kecewa, tapi dengan tenang ia menghampiri Fi.
“ Aku tanya padamu, apa benar mereka adalah orang tuamu?”
Bibir Fi bergetar hebat. Ia tak sanggup mengatakan sepatah kata pun.
“ Fi, jawab aku!”
Fi hanya merunduk menyembunyikan air matanya. Dan pemuda itu mengartikannya sebagai jawaban iya, kemudian terdengar helaan napas yang panjang nan berat.
“ Kenapa Tuhan benar-benar tak adil,” desahnya kecewa, lalu ia menatap Fi. “ Tak ada cara lain selain mengakhiri semua ini. Aku benar-benar tak suka keluarga ini dan aku tidak suka kalau kamu yang jadi adik tiriku.”
Tanpa permisi, pemuda itu langsung meninggalkan semua orang yang ada di sana.
“ Adrian!” seru wanita bergaun hitam. Kemudian wanita itu segera menyusul pergi.
Fi merasa kakinya bergoyang seperti agar-agar. Hampir saja ia terjatuh andai pria bermata biru itu tak memeganginya. Napasnya ikut tersengal padahal ia tak melakukan apa pun.
“ Pa, aku mau tanya sesuatu,” Fi mengatakannya dengan susah payah. “ Ada hubungan apa antara Papa, Adrian, dan Miss Tifa?”
Papa Fi menarik napas panjang. Terasa sangat sulit seperti oksigen di sekitarnya sudah semakin menipis.
“ Dulu Papa punya istri bernama Laksmi dan Tifa adalah adiknya Laksmi,” Papanya kembali menarik napas. “ Dan Adrian adalah anak Papa dengan perempuan bernama Laksmi. Dengan kata lain―”
“ Dengan kata lain dia kakakku!” tangis Fi pecah. Tangan pria bermata biru itu belum ia lepaskan, justru semakin diremasnya. Fi tak tahu harus berpegangan dimana, kalau tidak ia benar-benar merosot di lantai.
“ Kenapa harus dia, Pa? Kenapa harus dia?”
“ Ya, kenapa harus Adrian?” tiba-tiba wanita bergaun hitam itu kembali. Wajahnya merah padam menahan amarah.
“ Tifa, Fi, ini tidak seperti yang―”
“ Dulu, Mas Ican sudah membunuh Kak Laksmi,” wanita itu marah dengan suara bergetar. “ Dan sekarang Adrian. Kenapa, Mas? Kenapa Adrian juga harus terseret dalam lingkaran iblis Mas Ican?”
“ Tif, tenanglah,” pria bermata biru itu berdiri seraya memegangi wanita bergaun hitam itu. Perhatian pengunjung lain mulai mengarah pada mereka dan pria ini berusaha meredam emosi orang-orang ini.
“ Tif, Mas juga gak tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini,” ujar Papa Fi frustasi.
Tatapan tajam wanita bergaun hitam itu mengarah pada Fi dan mamanya, “ Ini juga berkat kehadiran kalian. Terima kasih sudah memporak-porandakan keluarga kami. Kalian adalah pasangan ibu dan anak yang kompak.”
Wanita bergaun hitam itu menarik si pria bermata biru agar mendekat padanya. Hampir saja Fi terjatuh karena ikut tertarik. Untung ia segera ditangkap oleh papanya.
“ Kita harus susul Adrian, Dave. Dia tadi kabur dengan mobilku.”
Fi tersentak. Ia segera meraih lengan wanita bergaun hitam itu, “ Ad—Adrian pergi ke mana, Miss? Aku ikut dengan kalian, kumohon.”
Namun, wanita itu mengibaskan tangan Fi dengan kasar, “ Jangan sentuh aku! Dan jangan pernah memanggilku dengan nada seakrab itu! Kamu tidak berhak ikut campur dalam urusan keluargaku. Urus saja keluargamu yang di sana!”
Fi benar-benar terjatuh saat kedua orang itu meninggalkannya. Tak peduli dengan tatapan semua orang, ia sudah tak bisa menahan air matanya. Isakannya semakin kuat kala sang ibu merangkulnya dari belakang.
“ Kita pulang saja, Nak.”
Tidak. Ia tidak mau pulang. Ia ingin menemui Adrian dan membicarakan ini semua. Ingin ia katakan bahwa semua yang terjadi ini hanya ilusi semata. Adrian dan dirinya tidak memiliki ikatan darah seperti yang papanya bilang.
Tapi apa mau dikata. Jangankan berlari menyusul Adrian, menolak tarikan mamanya untuk pulang pun ia bisa. Tubuhnya benar-benar lemas akibat syok yang ia alami barusan. Tenaga terakhir yang punya sudah ia habiskan untuk mengeluarkan semua tetesan air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar