Musikal 107
Priyanka mematikan
mesin motornya. Ia bernapas lega karena mamanya tak jadi minta jemput.
Buru-buru ia putar haluan menuju tempat nongkrongnya sore ini. Saat ia sedang
merapikan rambutnya yang berantankan karena helm, perhatiannya tertuju pada
sebuah taksi yang berhenti tak jauh dari motornya. Begitu si penumpang turun,
Priyanka langsung mengenalinya.
“
Fi?”
Gadis
itu terkejut saat namanya disebut. Priyanka pun segera menghampirinya.
“
Lho, aku pikir kamu gak jadi ikut.”
“
Ikut apa?” tanya Fi dengan kening berkerut.
“
Ikut ngerayain syukuran Andani,” ujar Priyanka heran. “ Acaranya’kan di sini.”
“
Ooh, bukan. Aku bukannya mau pergi,” Fi berdeham. “ Keluargaku mengadakan sebuah
pertemuan kecil di sini. Mana kutahu kalau Andani juga mengadakan acara di
sini.”
Priyanka
mengangguk kecil, “ Kebetulan sekali. Mau masuk bareng?”
Fi
menarik napas panjang, “ Hmm, boleh juga.”
ooOoo
Alexi memerhatikan
Ririn yang dari tadi gelisah. Gadis itu terlihat membongkar-bongkar tasnya lalu
celingak-celinguk ke sana kemari. Sesekali sibuk dengan ponsel yang sepertinya
bukan ponsel miliknya.
“
Ada apa, Rin?”
“
Eh, ini loh. Hp-ku kok gak ada ya. Dari tadi aku telepon kok suaranya gak
kedengeran.”
“
Apa ketinggalan di mobil? Rasanya selama di jalan kamu main-main Hp terus deh.”
Kening
Ririn berkerut memikirkan kata-kata Alexi. Tiba-tiba ia terkejut saat sambungan
teleponnya disahut oleh seseorang.
“ Ha-haro?”
Logat
yang aneh, tapi tidak asing. Ada jeda beberapa saat ketika Ririn berusaha
menebak siapa yang mengangkat teleponnya. Suara terdengar seperti pria yang
sudah berumur dengan dialek yang mirip dengan Hasegawa bersaudara.
“
Mo—Mori-san?”
“ Ya, benar. Apakah Anda pemilik ponsel ini?”
Ririn
mendesah lega, “ Ya, saya Ririn, Mori-san. Sepertinya Hp saya ketinggalan di
dalam mobil.”
“ Ahh, Ririn-chan. Dari tadi saya mendengar ada bunyi ponsel di sini. Saya pikir hanya
halusinasi saya saja. Mau saya antarkan ke atas?”
“
Tidak usah. Saya nanti turun saja. Terima kasih, Mori-san.”
Ririn
menutup teleponnya lalu menatap Alexi dengan senyuman senang.
“
Kamu benar. Hp-ku tinggal di mobil. Aku turun dulu ya.”
“
Aku temani?”
Ririn
melambaikan tangannya, “ Tidak usah. Cuma sebentar kok.”
Setelah
mengembalikan ponsel Andani, Ririn pun bergegas turun ke bawah. Begitu ia
sampai di ujung tangga, matanya tak sengaja menangkap pemandangan yang tidak
biasa. Ada salah satu meja yang ditempati oleh lima orang. Dua dari mereka
Ririn tidak tahu, tapi sisanya Ririn sangat mengenalinya.
‘ Adrian, Miss
Tifa, Om Dave? Kenapa mereka semua berkumpul? Lalu
siapa dua orang itu?’
Ririn
lebih terkejut lagi ketika Fi datang dan menghampiri meja itu. Ririn tak bisa
mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, tapi entah kenapa kedatangan
Fi seperti mengubah atmosfir di sana.
Rasa
penasaran semakin menguasai diri Ririn. Pelan-pelan ia mendekat dan menyadap
pembicaraan mereka. Seketika jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia
mengetahui sebuah kebenaran yang tersembunyi selama ini.
Fi
dan Adrian bersaudara.
ooOoo
Sebenarnya Fi juga
ingin ikut datang ke acara syukuran Andani, tapi apa mau dikata, tiba-tiba saja
mamanya mengabari bahwa ia harus ikut acara keluarga. Bukan acara keluarga yang
biasa. Kali ini ia akan bertemu dengan seseorang yang tak pernah ia temui,
tetapi justru memiliki ikatan darah yang kuat dengannya.
Sudah
sejak lama Fi tahu kalau ia bukanlah satu-satunya anak dari sang papa. Mamanya
pernah bercerita kalau papanya sudah memiliki anak dari istri yang sebelumnya. Hanya
saja anak tersebut dibawa oleh keluarganya dan tidak pernah menampakkan diri di
depan papanya. Papanya dengan keluarga istrinya yang dulu memang memiliki
masalah sehingga si anak tersebut tidak diperbolehkan bertemu.
Belasan
tahun berlalu, dan sekarang sang anak sendiri yang memutuskan untuk bertemu.
Entah kenapa si anak memintanya mendadak. Sehingga di sinilah Fi sekarang. Di
dalam sebuah taksi yang membawanya ke sebuah kafe tempat pertemuan mereka
nanti.
Saat
ia turun dari taksi, tiba-tiba saja ada yang memanggilnya. Fi kaget karena
orang yang memanggilnya adalah sosok yang tak asing.
“
Fi?”
Priyanka?
Fi
sendiri tak mengerti kenapa gadis itu bisa ada di tempat yang sama. Masih
memikirkan jawaban tersebut, gadis itu menghampirinya seraya mengatakan sesuatu
yang membuat keningnya berkerut.
“
Lho, aku pikir kamu gak jadi ikut.”
“
Ikut apa?”
“
Ikut ngerayain syukuran Andani,” ujar Priyanka heran. “ Acaranya’kan di sini.”
Fi
tersentak kaget saat mengetahui kalau tempat yang mereka tuju sama, hanya saja dengan
tujuan yang berbeda. Ia berdeham untuk menutupi rasa terkejutnya.
“
Ooh, bukan. Aku bukannya mau pergi. Keluargaku mengadakan sebuah pertemuan
kecil di sini. Mana kutahu kalau Andani juga mengadakan acara di sini.”
Gadis
itu terlihat sama terkejutnya. Namun, ia mengangguk percaya.
“
Kebetulan sekali. Mau masuk bareng?”
“
Hmm, boleh juga.”
Yah,
tidak ada salahnya. Sebenarnya Fi tak bermaksud memusuhi gadis ini lama-lama.
Hanya saja ia ternyata lebih suka hidup sendiri. Lagi pula rasanya gengsi untuk
minta maaf duluan dan sepertinya Priyanka sudah lebih dulu menyambung
pertemanan mereka.
Begitu
mereka masuk ke dalam, mata Fi langsung tertuju pada sosok papa dan mamanya
yang ada di sudut ruangan. Namun, Fi merasa heran dengan tiga orang yang duduk
membelakanginya. Rasanya anak papanya hanya ada satu, lalu siapa dua orang itu?
Apa wali dari si anak? Mungkin saja, tapi Fi tak mau memikirkan semua itu.
Buru-buru ia memisahkan diri dari Priyanka lalu menghampiri meja tersebut.
“
Maaf, aku terlambat.”
Kedua
orangnya tersenyum saat menyambut kedatangannya. Namun, Fi hampir terlompat
saat melihat tiga orang tamunya. Ketiga orang itu pun tak kalah terkejutnya
dengan Fi, terutama wanita yang berbaju hitam dan seorang pemuda. Kedua orang
itu seketika berdiri.
Ada
jeda yang cukup panjang untuk mereka saling bertatap-tatapan. Seketika ada
sebuah dugaan yang membuat Fi cukup merinding hanya dengan memikirkannya saja. Sepertinya
pikiran itu sudah mulai menjalari seluruh tubuhnya, sehingga jemari dan
bibirnya bergetar hebat.
“
Dia… putrimu?” ujar pemuda itu terbata-bata.
Papanya
yang merasa heran dengan cara pertemuan mereka, segera berdiri. Ia merangkul Fi
yang terlihat seperti baru saja melihat hantu.
“
Ya, namanya Firdayanti. Apa kalian sudah saling kenal?”
Wanita
bergaun hitam itu langsung menggenggam tangan si pemuda. Namun, dengan cepat si
pemuda melepaskan genggaman itu.
“
Ya, kami sudah saling kenal.”
Papanya
terlihat sedikit terkejut, “ Oh ya, dimana?”
“ Di
Jakarta, di sanggar.”
“
Ahh, ya. Fi memang pernah menempa ilmu di sana. Itu sekitar―”
“
Lima tahun lalu,” potong pemuda itu. “ Sekarang dia juga ikut pementasan Love Musical.”
“
Oh, benarkah itu, Fi?” tanya papanya sambil menoleh pada Fi. “ Wah, suatu
kebetulan sekali kalau kalian―”
“
Kalau kami juga berpacaran.”
Wanita
bergaun hitam itu terduduk lemas. Napasnya tersengal-sengal. Wajah super
terkejut ditujukan oleh kedua orang tuanya serta seorang pria bermata biru.
Saking terkejutnya ketiga orang itu sampai tak sanggup lagi untuk berbicara.
Di
sisi lain, mata Fi mulai berkaca-kaca saat menatap pemuda yang baru saja
membuat pernyataan yang mengejutkan. Raut wajahnya terlihat kecewa, tapi dengan
tenang ia menghampiri Fi.
“
Aku tanya padamu, apa benar mereka adalah orang tuamu?”
Bibir
Fi bergetar hebat. Ia tak sanggup mengatakan sepatah kata pun.
“
Fi, jawab aku!”
Fi
hanya merunduk menyembunyikan air matanya. Dan pemuda itu mengartikannya
sebagai jawaban iya, kemudian terdengar helaan napas yang panjang nan berat.
“
Kenapa Tuhan benar-benar tak adil,” desahnya kecewa, lalu ia menatap Fi. “ Tak
ada cara lain selain mengakhiri semua ini. Aku benar-benar tak suka keluarga
ini dan aku tidak suka kalau kamu yang jadi adik tiriku.”
Tanpa
permisi, pemuda itu langsung meninggalkan semua orang yang ada di sana.
“ Adrian!”
seru wanita bergaun hitam. Kemudian wanita itu segera menyusul pergi.
Fi
merasa kakinya bergoyang seperti agar-agar. Hampir saja ia terjatuh andai pria
bermata biru itu tak memeganginya. Napasnya ikut tersengal padahal ia tak
melakukan apa pun.
“ Pa,
aku mau tanya sesuatu,” Fi mengatakannya dengan susah payah. “ Ada hubungan apa
antara Papa, Adrian, dan Miss Tifa?”
Papa
Fi menarik napas panjang. Terasa sangat sulit seperti oksigen di sekitarnya
sudah semakin menipis.
“
Dulu Papa punya istri bernama Laksmi dan Tifa adalah adiknya Laksmi,” Papanya
kembali menarik napas. “ Dan Adrian adalah anak Papa dengan perempuan bernama
Laksmi. Dengan kata lain―”
“
Dengan kata lain dia kakakku!” tangis Fi pecah. Tangan pria bermata biru itu
belum ia lepaskan, justru semakin diremasnya. Fi tak tahu harus berpegangan
dimana, kalau tidak ia benar-benar merosot di lantai.
“
Kenapa harus dia, Pa? Kenapa harus dia?”
“
Ya, kenapa harus Adrian?” tiba-tiba wanita bergaun hitam itu kembali. Wajahnya
merah padam menahan amarah.
“
Tifa, Fi, ini tidak seperti yang―”
“
Dulu, Mas Ican sudah membunuh Kak Laksmi,” wanita itu marah dengan suara
bergetar. “ Dan sekarang Adrian. Kenapa, Mas? Kenapa Adrian juga harus terseret
dalam lingkaran iblis Mas Ican?”
“
Tif, tenanglah,” pria bermata biru itu berdiri seraya memegangi wanita bergaun
hitam itu. Perhatian pengunjung lain mulai mengarah pada mereka dan pria ini
berusaha meredam emosi orang-orang ini.
“
Tif, Mas juga gak tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini,” ujar Papa Fi
frustasi.
Tatapan
tajam wanita bergaun hitam itu mengarah pada Fi dan mamanya, “ Ini juga berkat
kehadiran kalian. Terima kasih sudah memporak-porandakan keluarga kami. Kalian
adalah pasangan ibu dan anak yang kompak.”
Wanita
bergaun hitam itu menarik si pria bermata biru agar mendekat padanya. Hampir
saja Fi terjatuh karena ikut tertarik. Untung ia segera ditangkap oleh papanya.
“
Kita harus susul Adrian, Dave. Dia tadi kabur dengan mobilku.”
Fi
tersentak. Ia segera meraih lengan wanita bergaun hitam itu, “ Ad—Adrian pergi
ke mana, Miss? Aku ikut dengan
kalian, kumohon.”
Namun,
wanita itu mengibaskan tangan Fi dengan kasar, “ Jangan sentuh aku! Dan jangan
pernah memanggilku dengan nada seakrab itu! Kamu tidak berhak ikut campur dalam
urusan keluargaku. Urus saja keluargamu yang di sana!”
Fi
benar-benar terjatuh saat kedua orang itu meninggalkannya. Tak peduli dengan
tatapan semua orang, ia sudah tak bisa menahan air matanya. Isakannya semakin
kuat kala sang ibu merangkulnya dari belakang.
“
Kita pulang saja, Nak.”
Tidak.
Ia tidak mau pulang. Ia ingin menemui Adrian dan membicarakan ini semua. Ingin
ia katakan bahwa semua yang terjadi ini hanya ilusi semata. Adrian dan dirinya
tidak memiliki ikatan darah seperti yang papanya bilang.
Tapi
apa mau dikata. Jangankan berlari menyusul Adrian, menolak tarikan mamanya
untuk pulang pun ia bisa. Tubuhnya benar-benar lemas akibat syok yang ia alami
barusan. Tenaga terakhir yang punya sudah ia habiskan untuk mengeluarkan semua
tetesan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar