Total Tayangan Halaman

Sabtu, 17 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 110)




Musikal 110

Dave kembali memutar stirnya. Mereka sudah mencari Adrian di tempat-tempat yang mungkin didatanginya. Dari rumah ibunya Tifa sampai gedung teater sekolah. Semuanya nihil, Adrian tak ditemukan dimana pun.
“ Ada kemungkinan siswa lain yang melihat kejadian tadi,” ujar Dave memecah kebisuan. “ Dan kejadian tadi akan segera menjadi topik hangat yang untuk dipergunjingkan.”
“ Sudahlah, cepat atau lambat semua orang juga akan tahu. Fokusku saat ini hanya Adrian.”
Dave melirik Tifa, “ Tapi kamu cukup tenang. Aku pikir kamu akan lebih emosi daripada tadi.”
“ Bisa saja, tapi sudah kukatakan tadi, saat ini fokusku hanya Adrian. Selama Adrian belum bisa kutemukan, aku tidak bisa memikirkan hal-hal yang lain.”
“ Kita pasti akan menemukannya dan aku yakin Adrian tidak akan berbuat senekad itu.”
Dave menyentuh bahu Tifa dengan lembut. Baru saja Tifa mau menepis tangan itu, tiba-tiba perutnya menjerit minta diisi. Suasana tegang itu pun langsung pecah akibat bunyi perut Tifa yang kelaparan.
Tanpa banyak bicara, Dave langsung mengarahkan mobilnya untuk mampir di salah satu kafe. Ia memesan dua roti isi, hot cappuccino, dan Americano tentunya.
Tifa menunggu laki-laki itu di depan kap mobil. Perutnya semakin berontak saat Dave menyerahkan gelas kertas berisi cairan hitam beraroma kuat.
“ Ternyata kita masih bisa bersantai di saat seperti ini,” ujar Tifa seraya tertawa sakartis.
“ Jangan melawan hukum alam, Tif,” sahut Dave sambil menghirup kopinya. “ Kita memang harus cepat menemukan Adrian, tapi pikirkan diri kita sendiri juga.”
Tifa menarik napas panjang. Ia menyeruput cairan hitamnya. Perutnya semakin bergejolak, tapi entah kenapa ia tak bernafsu untuk memasukkan roti lapis itu ke dalam perutnya.
Tak sengaja Tifa memerhatikan Dave yang menyantap roti dengan lahap. Tifa pun tersenyum tanpa ia sadari.
“ Maaf ya, Dave. Rencana kencan kita jadi gagal.”
Dave hampir tersedak kopi saat mendengar kata-kata Tifa. Ia tak menyangka kalau Tifa akan membahas masalah kencan mereka. Padahal setelah insiden tadi Dave sendiri sudah lupa tentang janjinya. Ia pun tertawa.
“ Ya sudahlah, Tif. Mau bagaimana lagi. Toh, bukan kamunya juga yang sengaja. Lagi pula….”
Dave sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia menatap langit sejenak, lalu beralih pada Tifa. Senyumnya mengembang.
“ Lagi pula makan berdua di bawah langit berbintang seperti ini sudah sama seperti kencan. Meski dalam situasi darurat, tapi kupikir aku harus pandai-pandai memanfaatkan waktuku ketika aku bersamamu.”
Tifa ikut-ikutan tertawa, “ Heran deh, padahal saat ini seharusnya aku tegang atau bagaimana, tapi yang ada aku malah tertawa bersamamu.”
“ Lho kamu duluan yang bahasannya keluar jalur,” kilah Dave.
Percakapan mereka terhenti saat ponsel Dave berbunyi. Ia cukup kaget karena nama keponakannya lagi tertulis di layar.
“ Ya, Rin?....  Apa? Kamu ikutan cari? Sama siapa?.... Apa? GPS?”
Dave menyampingkan ponselnya, lalu menatap Tifa,” Tif, apa GPS mobilmu itu tersambung pada sebuah aplikasi pelacak di smartphone-mu?”
Smartphone? GPS?” kening Tifa berkerut saat memikirkan kata-kata kajian itu di dalam kepalanya. Detik berikutnya ia mengeluarkan suara persis orang tersedak.
“ Oh iya, aku ingat! Aku pernah memasang alat pelacak di mobil dengan Hp-ku,” Tifa menepuk keningnya. “ Ya ampun, kenapa tidak kepikiran dari tadi ya.”
Tifa langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian mengaktifkan aplikasi yang dimaksudkan tadi. Ia sempat melirik Dave yang baru akan memutuskan sambungan teleponnya.
“ Jangan dimatikan, Dave! Kalau memang keponakanmu ikut mencari, siapa tahu posisi mereka lebih dekat dengan kita.”
Tak membutuhkan waktu lama Tifa segera menemukan posisi mobilnya. Ia berseru kuat.
“ Daerah paling ujung di Kenten Laut. Ya ampuuun, ternyata tidak jauh dari sekolah,” Tifa menoleh pada Dave. “ Dave, dimana posisi keponakanmu?”
Dave pun segera menanyakan pada Ririn, “ Lampu merah Jalan Jenderal Sudirman, tapi belum sampai tengah kota. Sangat jauh, tapi posisi kita juga tidak bisa dibilang dekat.”
Dave benar. Saat ini mereka ada di sekitar daerah Bukit Besar. Mungkin mereka juga tidak bisa lebih cepat daripada Ririn dan yang lainnya.
“ Suruh keponakanmu juga ke sana! Mungkin salah satu dari kita menemukan Adrian lebih dulu.”
Dave kembali menyampaikan pesan Tifa, “ Ririn bilang, dia minta screen capture posisi Adrian di Hp-mu.”
Tifa mengangguk, lalu berlari ke kursi penumpang, “ Ayo, kita juga harus cepat!”
ooOoo
Ririn dan yang lainnya harus bertemu lagi dengan lampu merah. Sebenarnya ia bisa saja lewat jalan lain, tapi semua jalan alternatif malam ini sedang dipenuhi oleh kemacetan. Terpaksa mereka menggunakan jalan utama yang lumayan lenggang.
Mengatasi rasa bosannya, Ririn mengalihkan perhatian pada papan reklame yang menghiasi jalanan. Papan itu berisi sebuah iklan smartphone terbaru yang menggunakan bintang film Chelsea Islan sebagai brand ambassador-nya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“ Mori-san, bisa kamu ambil lajur kiri. Kita berhenti sejenak. Aku punya sesuatu yang harus kita bicarakan.”
Mori segera membelokkan stirnya, lalu setelah mengambil posisi aman, ia baru memarkirkan sementara mobilnya. Perhatian semua orang pun tertuju pada Ririn.
“ Ada apa, Rin?” tanya Alexi.
“ Begini, kalau tidak salah mobil Miss Tifa itu buatan Eropa’kan?”
“ Ya, tepatnya Inggris. Mini Cooper oranye seri S, keluaran tahun 2014. Kemungkinan Tifa-san membelinya di New York karena plat mobilnya bertuliskan ‘NEW YORK EWK-7163 THE EMPIRE STATE’.”
Semua orang berdecak kagum dengan daya ingat dari Mori. Lelaki tua ini jarang bicara, tapi sekalinya bicara ia membuat semua bibir terkatup rapat. Namun, ia hanya menanggapinya dengan santai.
“ Saya harus tahu siapa dan bagaimana orang yang membawa majikan saya.”
Sugoii, Mori-san!” Jiro mengacungkan jempolnya pada Mori. “ Nah, Ririn-chan, kupikir kamu sudah mendapatkan lebih dari sekedar informasi yang kamu inginkan.”
Ririn mengangguk, “ Terima kasih, Mori-san. Hmm, kalau memang keluaran tahun 2014, berarti mobil itu mungkin sudah dipasang aplikasi pelacak yang terhubung dengan smartphone.
“ Jadi, maksudmu kita bisa melacak Adrian dengan ponsel kita?” sahut Hiro. “Kupikir tidak sesederhana itu. Kecuali kamu punya kemampuan hacking setara dengan Anonymous.
“ Bukan dengan Hp kita, tapi Hp-nya Miss Tifa. Menurutku Miss Tifa adalah orang yang cukup waspada dengan tindak pencurian, apalagi kendaraan miliknya termasuk barang mewah. Aku pernah baca kalau aplikasi pelacak itu sudah banyak digunakan oleh orang-orang yang menyayangi mobil miliknya. Mungkin saja Miss Tifa salah satunya.”
“ Bisa jadi,” sahut Alexi cepat. “ Kalau segera begitu hubungin Oom-mu, Rin.”
Ririn segera menelepon Dave. Namun, baru saja ia bilang kalau sedang ikut mencari Adrian, rentetan omelan Dave langsung menyangkut di telinganya.
“ Aku pergi bersama Jiro-Senpai, Hiro-senpai, Alexi, dan yang membawa mobilnya adalah Mori-san,” Ririn buru-buru menambahkan sebelum Oom-nya kembali mengomel. “ Om, kami teringat sesuatu. Coba tanyakan pada Miss Tifa, apakah mobilnya terpasang aplikasi pelacak yang terhubung dengan smartphone-nya?”
Dave belum menyahut kembali. Namun, dari ujung sana , terdengar suara Tifa yang berseru keras. Tak lama, Oom-nya menyampaikan kabar kalau posisi mobil Tifa berada di daerah ujung Kenten Laut dan ia juga menanyakan posisi Ririn saat ini.
“ Kami berada di perempatan lampu merah Jendral Sudirman. Ahh, tapi belum sampai di tengah kota. Om sekarang dimana?.... Kami juga menyusul? Oh, baiklah. Kami akan secepat mungkin ke sana. Oh ya, Om, tolong katakan pada Miss Tifa untuk meng-capture posisi mobilnya yang ada di GPS.”
Ririn menutup teleponnya, lalu menatap teman-temannya yang menantikan jawaban.
“ Kita kembali ke arah sekolah. Mobil Miss Tifa ada di daerah ujung Kenten Laut. Mori-san, bisa kita pergi ke sana dalam hitungan menit?”
Mori tersenyum seraya menggerakkan persneling.
“ Serahkan saja padaku.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar