Musikal 110
Dave kembali memutar
stirnya. Mereka sudah mencari Adrian di tempat-tempat yang mungkin
didatanginya. Dari rumah ibunya Tifa sampai gedung teater sekolah. Semuanya
nihil, Adrian tak ditemukan dimana pun.
“
Ada kemungkinan siswa lain yang melihat kejadian tadi,” ujar Dave memecah
kebisuan. “ Dan kejadian tadi akan segera menjadi topik hangat yang untuk
dipergunjingkan.”
“
Sudahlah, cepat atau lambat semua orang juga akan tahu. Fokusku saat ini hanya
Adrian.”
Dave
melirik Tifa, “ Tapi kamu cukup tenang. Aku pikir kamu akan lebih emosi
daripada tadi.”
“
Bisa saja, tapi sudah kukatakan tadi, saat ini fokusku hanya Adrian. Selama
Adrian belum bisa kutemukan, aku tidak bisa memikirkan hal-hal yang lain.”
“
Kita pasti akan menemukannya dan aku yakin Adrian tidak akan berbuat senekad
itu.”
Dave
menyentuh bahu Tifa dengan lembut. Baru saja Tifa mau menepis tangan itu,
tiba-tiba perutnya menjerit minta diisi. Suasana tegang itu pun langsung pecah
akibat bunyi perut Tifa yang kelaparan.
Tanpa
banyak bicara, Dave langsung mengarahkan mobilnya untuk mampir di salah satu
kafe. Ia memesan dua roti isi, hot
cappuccino, dan Americano
tentunya.
Tifa
menunggu laki-laki itu di depan kap mobil. Perutnya semakin berontak saat Dave
menyerahkan gelas kertas berisi cairan hitam beraroma kuat.
“
Ternyata kita masih bisa bersantai di saat seperti ini,” ujar Tifa seraya
tertawa sakartis.
“
Jangan melawan hukum alam, Tif,” sahut Dave sambil menghirup kopinya. “ Kita
memang harus cepat menemukan Adrian, tapi pikirkan diri kita sendiri juga.”
Tifa
menarik napas panjang. Ia menyeruput cairan hitamnya. Perutnya semakin
bergejolak, tapi entah kenapa ia tak bernafsu untuk memasukkan roti lapis itu
ke dalam perutnya.
Tak
sengaja Tifa memerhatikan Dave yang menyantap roti dengan lahap. Tifa pun
tersenyum tanpa ia sadari.
“
Maaf ya, Dave. Rencana kencan kita jadi gagal.”
Dave
hampir tersedak kopi saat mendengar kata-kata Tifa. Ia tak menyangka kalau Tifa
akan membahas masalah kencan mereka. Padahal setelah insiden tadi Dave sendiri
sudah lupa tentang janjinya. Ia pun tertawa.
“ Ya
sudahlah, Tif. Mau bagaimana lagi. Toh, bukan
kamunya juga yang sengaja. Lagi pula….”
Dave
sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia menatap langit sejenak, lalu beralih pada
Tifa. Senyumnya mengembang.
“
Lagi pula makan berdua di bawah langit berbintang seperti ini sudah sama
seperti kencan. Meski dalam situasi darurat, tapi kupikir aku harus
pandai-pandai memanfaatkan waktuku ketika aku bersamamu.”
Tifa
ikut-ikutan tertawa, “ Heran deh, padahal saat ini seharusnya aku tegang atau
bagaimana, tapi yang ada aku malah tertawa bersamamu.”
“
Lho kamu duluan yang bahasannya keluar jalur,” kilah Dave.
Percakapan
mereka terhenti saat ponsel Dave berbunyi. Ia cukup kaget karena nama
keponakannya lagi tertulis di layar.
“
Ya, Rin?.... Apa? Kamu ikutan cari? Sama
siapa?.... Apa? GPS?”
Dave
menyampingkan ponselnya, lalu menatap Tifa,” Tif, apa GPS mobilmu itu
tersambung pada sebuah aplikasi pelacak di smartphone-mu?”
“ Smartphone? GPS?” kening Tifa berkerut
saat memikirkan kata-kata kajian itu di dalam kepalanya. Detik berikutnya ia
mengeluarkan suara persis orang tersedak.
“ Oh
iya, aku ingat! Aku pernah memasang alat pelacak di mobil dengan Hp-ku,” Tifa
menepuk keningnya. “ Ya ampun, kenapa tidak kepikiran dari tadi ya.”
Tifa
langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian mengaktifkan aplikasi yang
dimaksudkan tadi. Ia sempat melirik Dave yang baru akan memutuskan sambungan
teleponnya.
“
Jangan dimatikan, Dave! Kalau memang keponakanmu ikut mencari, siapa tahu
posisi mereka lebih dekat dengan kita.”
Tak
membutuhkan waktu lama Tifa segera menemukan posisi mobilnya. Ia berseru kuat.
“
Daerah paling ujung di Kenten Laut. Ya ampuuun, ternyata tidak jauh dari
sekolah,” Tifa menoleh pada Dave. “ Dave, dimana posisi keponakanmu?”
Dave
pun segera menanyakan pada Ririn, “ Lampu merah Jalan Jenderal Sudirman, tapi
belum sampai tengah kota. Sangat jauh, tapi posisi kita juga tidak bisa
dibilang dekat.”
Dave
benar. Saat ini mereka ada di sekitar daerah Bukit Besar. Mungkin mereka juga
tidak bisa lebih cepat daripada Ririn dan yang lainnya.
“
Suruh keponakanmu juga ke sana! Mungkin salah satu dari kita menemukan Adrian
lebih dulu.”
Dave
kembali menyampaikan pesan Tifa, “ Ririn bilang, dia minta screen capture posisi Adrian di Hp-mu.”
Tifa
mengangguk, lalu berlari ke kursi penumpang, “ Ayo, kita juga harus cepat!”
ooOoo
Ririn dan yang
lainnya harus bertemu lagi dengan lampu merah. Sebenarnya ia bisa saja lewat
jalan lain, tapi semua jalan alternatif malam ini sedang dipenuhi oleh
kemacetan. Terpaksa mereka menggunakan jalan utama yang lumayan lenggang.
Mengatasi
rasa bosannya, Ririn mengalihkan perhatian pada papan reklame yang menghiasi
jalanan. Papan itu berisi sebuah iklan smartphone
terbaru yang menggunakan bintang film Chelsea Islan sebagai brand ambassador-nya. Tiba-tiba ia
teringat sesuatu.
“
Mori-san, bisa kamu ambil lajur kiri.
Kita berhenti sejenak. Aku punya sesuatu yang harus kita bicarakan.”
Mori
segera membelokkan stirnya, lalu setelah mengambil posisi aman, ia baru
memarkirkan sementara mobilnya. Perhatian semua orang pun tertuju pada Ririn.
“
Ada apa, Rin?” tanya Alexi.
“
Begini, kalau tidak salah mobil Miss
Tifa itu buatan Eropa’kan?”
“
Ya, tepatnya Inggris. Mini Cooper
oranye seri S, keluaran tahun 2014. Kemungkinan Tifa-san membelinya di New York karena plat mobilnya bertuliskan ‘NEW
YORK EWK-7163 THE EMPIRE STATE’.”
Semua
orang berdecak kagum dengan daya ingat dari Mori. Lelaki tua ini jarang bicara,
tapi sekalinya bicara ia membuat semua bibir terkatup rapat. Namun, ia hanya
menanggapinya dengan santai.
“
Saya harus tahu siapa dan bagaimana orang yang membawa majikan saya.”
“ Sugoii, Mori-san!” Jiro mengacungkan jempolnya pada Mori. “ Nah, Ririn-chan, kupikir kamu sudah mendapatkan
lebih dari sekedar informasi yang kamu inginkan.”
Ririn
mengangguk, “ Terima kasih, Mori-san.
Hmm, kalau memang keluaran tahun 2014, berarti mobil itu mungkin sudah dipasang
aplikasi pelacak yang terhubung dengan smartphone.”
“
Jadi, maksudmu kita bisa melacak Adrian dengan ponsel kita?” sahut Hiro.
“Kupikir tidak sesederhana itu. Kecuali kamu punya kemampuan hacking setara dengan Anonymous.”
“
Bukan dengan Hp kita, tapi Hp-nya Miss
Tifa. Menurutku Miss Tifa adalah
orang yang cukup waspada dengan tindak pencurian, apalagi kendaraan miliknya
termasuk barang mewah. Aku pernah baca kalau aplikasi pelacak itu sudah banyak
digunakan oleh orang-orang yang menyayangi mobil miliknya. Mungkin saja Miss Tifa salah satunya.”
“
Bisa jadi,” sahut Alexi cepat. “ Kalau segera begitu hubungin Oom-mu, Rin.”
Ririn
segera menelepon Dave. Namun, baru saja ia bilang kalau sedang ikut mencari
Adrian, rentetan omelan Dave langsung menyangkut di telinganya.
“
Aku pergi bersama Jiro-Senpai, Hiro-senpai, Alexi, dan yang membawa mobilnya
adalah Mori-san,” Ririn buru-buru
menambahkan sebelum Oom-nya kembali mengomel. “ Om, kami teringat sesuatu. Coba
tanyakan pada Miss Tifa, apakah
mobilnya terpasang aplikasi pelacak yang terhubung dengan smartphone-nya?”
Dave
belum menyahut kembali. Namun, dari ujung sana , terdengar suara Tifa yang
berseru keras. Tak lama, Oom-nya menyampaikan kabar kalau posisi mobil Tifa
berada di daerah ujung Kenten Laut dan ia juga menanyakan posisi Ririn saat
ini.
“
Kami berada di perempatan lampu merah Jendral Sudirman. Ahh, tapi belum sampai
di tengah kota. Om sekarang dimana?.... Kami juga menyusul? Oh, baiklah. Kami
akan secepat mungkin ke sana. Oh ya, Om, tolong katakan pada Miss Tifa untuk meng-capture posisi mobilnya yang ada di
GPS.”
Ririn
menutup teleponnya, lalu menatap teman-temannya yang menantikan jawaban.
“
Kita kembali ke arah sekolah. Mobil Miss Tifa
ada di daerah ujung Kenten Laut. Mori-san,
bisa kita pergi ke sana dalam hitungan menit?”
Mori
tersenyum seraya menggerakkan persneling.
“
Serahkan saja padaku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar