Musikal 111
Jiro menepuk-nepuk dashboard, sementara tangan yang satunya
melambai-lambai ke belakang. Kepalanya menoleh ke belakang, tetapi matanya
tetap mengarah ke depan.
“ Minna-san, itu mobilnya Miss
Tifa!”
Ketiga penumpang yang
ada di belakang sontak terkejut. Ternyata mobil yang dikendari Ririn dan
teman-teman sampai lebih dulu. Dari kejauhan terlihat jelas kotak besi beroda
buatan Eropa milik Tifa. Di sana terlihat ada seorang pemuda yang sedang
berdiri di depan mobil itu. Mereka menduga pemuda itu adalah Adrian.
“ Mori-san, matikan lampu mobilnya!” ujar
Alexi.
Mereka pun berada di
dalam kegelapan setelah Mori-san mematikan lampu mobil. Ririn melirik
takut-takut. Jantungnya berdebar keras. Entah kenapa ia merasa lebih gugup saat
ia dan Adrian sudah tak terpaut jarak jauh.
“ Sekarang apa?”
sahut Hiro. “ Kita turun?
“ Jangan! Tunggu saja
di sini sampai Miss Tifa datang.
Kupikir mereka tidak akan lama lagi,” Alexi menoleh pada Ririn. “ Rin, telepon
Oom-mu!”
Ririn mengangguk
gugup. Bahkan saking gugupnya ia tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Ia pun
buru-buru mengambil ponselnya kembali dan melaksanakan perintah Alexi.
“
Om, ya. Kami sudah sampai… oh, baiklah. Kami tunggu.”
Ririn
menutup teleponnya, lalu menatap teman-temannya, “ Mereka sudah dekat sini.
Kita diminta untuk mengawasi Adrian kalau-kalau dia berencana pergi lagi.”
Mereka
pun menunggu. Selama menunggu, Ririn sama sekali tak melepaskan pandangannya
pada sosok pemuda yang baru saja keberadaannya ditemukan. Ada sebuah perasaan
empati yang lebih dalam lagi saat ia membayangkan jika sekarang posisinya
menjadi Fi. Ririn tahu betul bagaimana perasaan kedua orang itu, dan ketika
tiba-tiba mereka diberi tahu bahwa mereka bersaudara tentu seperti petir di
siang bolong. Sekarang bagaimana keadaan
Adrian? Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah Fi sudah menghubunginya? Dan
sejumlah pertanyaan lain seolah berputar-putar di kepalanya.
Ingin
rasanya ia keluar dari mobil lalu berlari dan memeluk pemuda itu erat-erat. Tak
bisa, saat ini ia adalah sosok yang harus tak terlihat. Kejadian ini masih
sangat rahasia. Jika tiba-tiba ia muncul maka keadaan semakin tak terkendali.
Belum lagi ia dan Adrian memang sudah tak pernah berkomunikasi lagi sejak
kejadian waktu itu. Ririn hanya bisa meremas tangannya kuat-kuat untuk menahan
perasaannya.
“
Ah, maaf.”
Lamunan
Ririn buyar saat tangannya disentuh Alexi. Laki-laki itu langsung memalingkan
wajahnya saat Ririn refleks menatapnya. Entah sengaja atau tidak, tapi Ririn
merasa kalau sentuhan itu memang ditujukan agar ia tak memikirkan pemuda yang
ada di ujung sana.
Tak
berapa lama kemudian, terlihat sebuah mobil lain dari arah belakang. Mereka
sudah menduga kalau penumpang mobil itu adalah Dave dan Tifa. Ada sedikit
kelegaan di hati mereka setelah melihat sosok Tifa dan Dave turun dari mobil.
Dari kejauhan mereka menyaksikan bagaimana pertemuan Tifa dan Adrian
pascakejadian. Meski suara mereka tida terdengar, tapi dari ekspresi
tante-keponakan itu sangat dramatis. Benar-benar kemelut yang tak bisa ditebak.
“
Apa kita pulang saja?” ujar Hiro. “ Tak seharusnya kita melihat terlalu jauh.”
“
Setuju. Tujuan awal kita hanya untuk menemukan Adurian-san, bukan mencampuri urusan mereka,” sahut Jiro.
Ririn
kembali meremas tangannya. Tidak. Ia belum mau pulang. Entah kenapa ia merasa
kalau ia masih harus ada di sana. Namun, ia tak berani menolak usulan duo
Hasegawa.
“
Sebentar lagi. Kita lihat dulu apakah ada perkembangan atau tidak.”
Ririn
melirik Alexi. Laki-laki itu hanya bertopang dagu dengan siku menempel di kaca
jendela. Namun, kata-kata yang keluar dari bibirnya persis seperti apa yang ada
di benak Ririn. Apa sekarang pemuda itu sudah bisa membaca pikirannya?
“
Ririn-chan bagaimana? Apa tidak
apa-apa pulang lebih larut?”
“
Ti—tidak apa,” sahut Ririn cepat. Tanpa sadar ia menggaruk-garuk ujung
hidungnya.
Alexi
meliriknya dengan ekspresi malas. Hanya sebentar, setelah itu ia kembali
menatap ke arah luar.
“
Baiklah, 30 menit cukup,” sahut Hiro. “ Setelah itu apa pun yang terjadi, kita
pulang.”
“
Tidak perlu 30 menit, Hiro-sama,”
tiba-tiba Mori menyalakan mesin mobil dan mendekati tempat perkara.
“
Ada apa, Mori-san?” tanya Jiro yang
tadi tak fokus melihat drama keluarga itu.
“
Tifa-san baru saja pingsan.”
Keempat
anak muda ini menegang. Tirai masalah kembali dibuka. Babak baru pun dimulai.
Author's Note:
Minna-san : Semuanya
Author's Note:
Minna-san : Semuanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar