Total Tayangan Halaman

Sabtu, 17 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 111)




Musikal 111

Jiro menepuk-nepuk dashboard, sementara tangan yang satunya melambai-lambai ke belakang. Kepalanya menoleh ke belakang, tetapi matanya tetap mengarah ke depan.
Minna-san, itu mobilnya Miss Tifa!”
Ketiga penumpang yang ada di belakang sontak terkejut. Ternyata mobil yang dikendari Ririn dan teman-teman sampai lebih dulu. Dari kejauhan terlihat jelas kotak besi beroda buatan Eropa milik Tifa. Di sana terlihat ada seorang pemuda yang sedang berdiri di depan mobil itu. Mereka menduga pemuda itu adalah Adrian.
“ Mori-san, matikan lampu mobilnya!” ujar Alexi.
Mereka pun berada di dalam kegelapan setelah Mori-san mematikan lampu mobil. Ririn melirik takut-takut. Jantungnya berdebar keras. Entah kenapa ia merasa lebih gugup saat ia dan Adrian sudah tak terpaut jarak jauh.
“ Sekarang apa?” sahut Hiro. “ Kita turun?
“ Jangan! Tunggu saja di sini sampai Miss Tifa datang. Kupikir mereka tidak akan lama lagi,” Alexi menoleh pada Ririn. “ Rin, telepon Oom-mu!”
Ririn mengangguk gugup. Bahkan saking gugupnya ia tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Ia pun buru-buru mengambil ponselnya kembali dan melaksanakan perintah Alexi.
“ Om, ya. Kami sudah sampai… oh, baiklah. Kami tunggu.”
Ririn menutup teleponnya, lalu menatap teman-temannya, “ Mereka sudah dekat sini. Kita diminta untuk mengawasi Adrian kalau-kalau dia berencana pergi lagi.”
Mereka pun menunggu. Selama menunggu, Ririn sama sekali tak melepaskan pandangannya pada sosok pemuda yang baru saja keberadaannya ditemukan. Ada sebuah perasaan empati yang lebih dalam lagi saat ia membayangkan jika sekarang posisinya menjadi Fi. Ririn tahu betul bagaimana perasaan kedua orang itu, dan ketika tiba-tiba mereka diberi tahu bahwa mereka bersaudara tentu seperti petir di siang bolong.  Sekarang bagaimana keadaan Adrian? Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah Fi sudah menghubunginya? Dan sejumlah pertanyaan lain seolah berputar-putar di kepalanya.
Ingin rasanya ia keluar dari mobil lalu berlari dan memeluk pemuda itu erat-erat. Tak bisa, saat ini ia adalah sosok yang harus tak terlihat. Kejadian ini masih sangat rahasia. Jika tiba-tiba ia muncul maka keadaan semakin tak terkendali. Belum lagi ia dan Adrian memang sudah tak pernah berkomunikasi lagi sejak kejadian waktu itu. Ririn hanya bisa meremas tangannya kuat-kuat untuk menahan perasaannya.
“ Ah, maaf.”
Lamunan Ririn buyar saat tangannya disentuh Alexi. Laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya saat Ririn refleks menatapnya. Entah sengaja atau tidak, tapi Ririn merasa kalau sentuhan itu memang ditujukan agar ia tak memikirkan pemuda yang ada di ujung sana.
Tak berapa lama kemudian, terlihat sebuah mobil lain dari arah belakang. Mereka sudah menduga kalau penumpang mobil itu adalah Dave dan Tifa. Ada sedikit kelegaan di hati mereka setelah melihat sosok Tifa dan Dave turun dari mobil. Dari kejauhan mereka menyaksikan bagaimana pertemuan Tifa dan Adrian pascakejadian. Meski suara mereka tida terdengar, tapi dari ekspresi tante-keponakan itu sangat dramatis. Benar-benar kemelut yang tak bisa ditebak.
“ Apa kita pulang saja?” ujar Hiro. “ Tak seharusnya kita melihat terlalu jauh.”
“ Setuju. Tujuan awal kita hanya untuk menemukan Adurian-san, bukan mencampuri urusan mereka,” sahut Jiro.
Ririn kembali meremas tangannya. Tidak. Ia belum mau pulang. Entah kenapa ia merasa kalau ia masih harus ada di sana. Namun, ia tak berani menolak usulan duo Hasegawa.
“ Sebentar lagi. Kita lihat dulu apakah ada perkembangan atau tidak.”
Ririn melirik Alexi. Laki-laki itu hanya bertopang dagu dengan siku menempel di kaca jendela. Namun, kata-kata yang keluar dari bibirnya persis seperti apa yang ada di benak Ririn. Apa sekarang pemuda itu sudah bisa membaca pikirannya?
“ Ririn-chan bagaimana? Apa tidak apa-apa pulang lebih larut?”
“ Ti—tidak apa,” sahut Ririn cepat. Tanpa sadar ia menggaruk-garuk ujung hidungnya.
Alexi meliriknya dengan ekspresi malas. Hanya sebentar, setelah itu ia kembali menatap ke arah luar.
“ Baiklah, 30 menit cukup,” sahut Hiro. “ Setelah itu apa pun yang terjadi, kita pulang.”
“ Tidak perlu 30 menit, Hiro-sama,” tiba-tiba Mori menyalakan mesin mobil dan mendekati tempat perkara.
“ Ada apa, Mori-san?” tanya Jiro yang tadi tak fokus melihat drama keluarga itu.
“ Tifa-san baru saja pingsan.”
Keempat anak muda ini menegang. Tirai masalah kembali dibuka. Babak baru pun dimulai.



Author's Note:
Minna-san : Semuanya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar