Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 109)




Musikal 109

Ririn tersenyum kecil saat menyapa Mori yang sudah menunggunya di depan mobil. Ia mengangguk lalu menerima ponsel yang dari tadi ia cari-cari. Ketika ia akan kembali ke dalam, Mori mengatakan sesuatu yang memaksanya kembali berbalik.
“ Tadi saya melihat Adurian-san dan Tifa-san. Kalau saya mendengar dari percakapan mereka sepertinya terjadi masalah."
“ Apa saja yang sudah Anda dengar, Mori-san?”
“ Saya dengar semuanya dan saya yakin Ririn-chan akan terkejut bila saya ceritakan.”
Senyuman Ririn berubah menjadi kecut, “ Saya juga sudah tahu. Saya harap ini menjadi rahasia Mori-san saja. Ini menyangkut aib orang-orang penting di pertunjukkan kami.”
Di luar dugaan Mori justru tersenyum hangat. Ia mengangguk mantap.
“ Saya mengerti. Saya tidak akan menceritakan pada siapa pun, termasuk pada Jiro-sama dan Hiro-sama.
“ Terima kasih. Mori-san benar-benar bijak.”
ooOoo
Meski Mori dan Priyanka sudah tutup mulut, tapi kegelisahan justru terlihat dari Ririn sendiri. Memikirkan kejadian tadi, membuat Ririn jadi tak tenang. Berkali-kali ia melirik ponsel, lalu beralih pada kaca spion. Selama perjalanan, Ririn dan Mori saling bertukar pandang lewat kaca spion.
“ Lama-lama kamu bisa jatuh cinta sama Mori-san kalau curi-curi pandang kayak gitu, Ririn-chan.”
Gelagat aneh Ririn terbaca oleh Hiro. Sontak, kata-kata Hiro membuat Ririn melepaskan matanya dari kaca spion. Ia menyesali posisi duduknya yang diapit oleh Hiro dan Alexi.
“ Mungkin memang saya lebih menawan daripada Hiro-sama,” sahut Mori santai.
Hiro dan Jiro serempak tertawa. Mori sengaja mengatakan lelucon seperti itu agar perhatian mereka teralihkan. Selain itu, leluconnya juga sebagai kode pada Ririn agar tidak terus-terusan menatapnya. Itu sama saja memberi isyarat bahwa telah terjadi sesuatu.
Ririn memang berhenti menatap kaca spion, tapi lagi-lagi kegelisahannya masih tak dapat ia sembunyikan. Tanpa sadar kakinya bergoyang-goyang seperti orang yang tak sabar menunggu. Ia juga berkali-kali menggaruk-garuk ujung hidungnya, bahkan sampai memerah. Kali ini Alexi pun juga bisa membaca gelagat itu.
Dengan lembut Alexi menyentuh lutut Ririn. Gerakan kaki gadis itu pun berhenti. Ia pun menatap si kacamata.
“ Tidakkah kamu sadar kalau kakimu bisa melubangi mobil ini?”
Jiro melirik ke belakang, “ Ririn-chan, doushite?”
“ Benar, pasti ada sesuatu,” Hiro ikut-ikutan menatap Ririn seraya bersandar dengan satu tangannya. “ Dari tadi kamu gelisah banget.”
Ririn kembali menatap kaca spion. Mori hanya meliriknya sekilas.
“ Nah, nah, sepertinya Mori-san juga tahu sesuatu,” ujar Hiro.
Mori tak mengatakan apa pun. Ia hanya tersenyum seraya terus fokus menyetir.
“ Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Ririn menggigit bibirnya. Tak tahan lagi, akhirnya ia menelepon Dave.
“ Halo, Om. Apa semua baik-baik saja?”
Suara Dave terdengar heran, “ Baik-baik saja maksudmu?”
“ Aku tadi lihat semuanya.”
Ada jeda yang cukup lama. Kemudian terdengar percakapan Dave dengan seseorang. Ririn menduga kalau orang yang duduk di sebelahnya adalah Tifa.
Adrian pergi entah kemana dan sekarang kami masih mencarinya.”
Ririn menarik napas panjang, “ Baiklah, kalau begitu.”
Setelah Ririn menutup telepon, ia tahu tatapan orang-orang di sekitarnya semakin mengintrograsinya. Sekali lagi ia menatap Mori lewat kaca spion, dan kali ini Mori memberikan jawaban bijak.
“ Saya hanya berharap kalau Jiro-sama, Hiro-sama, dan Aru-kun bisa menjaga rahasia. Ririn-chan, mau diceritakan atau tidak itu adalah keputusanmu.”
Ririn berdeham, “ Yah, tadinya aku pikir aku bisa menjaga rahasia ini, tapi ternyata tidak. Aku terlalu memikirkan orang-orang yang terlibat di dalamnya sehingga tanpa sadar aku justru terlihat sangat gelisah.”
Ririn menatap temannya satu-persatu, “ Seperti yang dikatakan Mori-san, aku harap kalian semua tidak mengatakannya pada siapa pun,” ia kembali menarik napas panjang, “ Jadi, sebenarnya tadi itu….”
Rahasia itu mulai terurai sedikit demi sedikit. Ririn menceritakan semua hal yang ia lihat dan ia dengar. Ekspresi ketiga temannya yang penasaran berubah menjadi kaget yang luar biasa. Semua hal yang rumit itu justru terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Selesai bercerita, tak ada satu pun dari mereka yang mau berkomentar. Mereka terlalu syok untuk mengatakan apa pun seputar kejadian tadi.
“ Ini mimpi buruk,” akhirnya Jiro yang pertama kali buka suara.
Hiro mendesah berat, “ Lalu apa Adurian-san sudah ketemu?”
Ririn menggeleng pelan.
“ Mencarinya juga bukan hal yang mudah,” Alexi berkomentar sambil bersedekap. “ Kita tidak tahu kemana Adrian pergi. Selain itu, polisi juga tidak mau menerima laporan dari kita karena Adrian menghilang belum lebih dari 24 jam.”
“ Tapi aku sangat khawatir,” lirih Ririn. “ Kejadian tadi pasti membuatnya syok. Tahu sendiri’kan kalau orang putus asa seperti itu bisa saja berbuat nekad.”
“ Sebaiknya kita jangan berpikir yang macam-macam,” sahut Jiro, lalu ia menggaruk-garuk tengkuknya. “ Eh, tapi kok aku ikut gelisah ya.”
“ Ririn-chan benar. Kita harus segera menemukan Adurian-san, tapi kata-kata Aru-kun juga tidak salah,” ujar Hiro. “ Apa kita mengabarkan teman-teman kita yang lain supaya mencari bersama-sama?”
“ Jangan!” seru Ririn. “ Begini, memberitahu kalian saja sudah pelanggaran untukku. Apalagi kalau sampai semua anggota tahu. Mereka belum tentu sepenuhnya mengerti, dan yang akan menanggung malunya tentu saja Miss Tifa dan Fi.”
Mobil mereka berhenti di salah satu perempatan lampu merah. Tak ada yang berkomentar lagi selama detik-detik pergantian lampu.
“ Setelah lampu hijau ini menyala kita akan langsung menuju rumah Ririn-chan,” ujar Mori memecah keheningan. “ Apa kalian semua yakin kita langsung segera pulang?”
Ririn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasa bimbang semakin menekannya. Matanya menatap lurus pada pemandangan di luar sana. Langit sudah mulai menggelap. Mencari Adrian akan semakin sulit ketika malam tiba. Ditambah lagi ia memiliki aturan jam malam yang tak bisa ia langgar. Di sisi lain, ia gelisah kalau Adrian belum juga diemukan.
Batas lampu merah tinggal satu detik lagi. Mori segera melepas rem tangan. Di saat itulah Ririn semakin kehilangan harapan.
“ Pukul delapan. Sampai pukul delapan dan setelah itu kita antar Ririn pulang lebih dulu.”
Ririn menoleh cepat. Ia tak menyangka kalau Alexi langsung membuat ketika detik-detik terakhir. Mori tersenyum. Ia memutar stir seraya melihat arlojinya.
“ Kita hanya punya waktu satu setengah jam. Kalau begitu kita harus benar-benar menuju ke tempat yang mungkin akan didatangi Adurian-san di saat seperti ini.”
Alexi merasa tatapan Ririn padanya terlalu lama dan itu membuat duduknya tak tenang.
“ Pasti kamu mau tanya kenapa, iya’kan? Sederhana saja, itu karena aku pikir akan ada seseorang yang tidurnya tidak nyenyak malam ini jika kita tidak melakukan usaha sedikit pun. Makanya aku ambil keputusan itu supaya orang itu berhenti gelisah.”
Ririn tersenyum penuh haru, “ Terima kasih,” bisiknya.
“ Ah, kita coba pergi ke sekolahan,” Jiro berseru memecah suasana merah muda barusan. “ Mungkin saja dia sedang menenangkan pikiran di gedung teater.”
“ Kupikir Miss Tifa dan Dave-san sudah pergi ke sana,” sahut Hiro. “ Mungkin dia sedang pergi ke gedung teater lain. Nee, Ririn-chan, apa ada gedung teater di Palembang selain di sekolah?”
“ Hmm, hanya satu yang besar. Di Jakabaring.”
“ Bagaimana kalau kita coba ke sana?” ujar Jiro. “ Nee Mori-san, berapa lama waktu yang perlukan untuk menuju ke sana?”
“ Mungkin sekitar 45 menit, andai tidak macet,” sahut Mori seraya melihat GPS mobilnya. “ Untuk sekarang kita bisa lewat jalur alternatif, tapi nanti kita pasti akan terjebak macet di tengah kota. Mau tidak mau kita harus melewati tengah kota.”
“ Baik, Mori-san. Kami serahkan padamu. Selagi kita menuju ke sana, ayo kita pikirkan kemungkinan lain. Siapa tahu kita punya ide atau perkiraan lain tentang Adrian,” tutup Alexi.

Author's Note:
Uwaaah.... gimana badainya??? Okeeeh... Author kejam. Kalian semua suci, Author penuh bisa, hwehehehehe.... 

2 komentar:

  1. wudow kaget sumpah..
    tapi sekarang tinggal menguak kabut di antara kabut ,
    tu half-bro apa cuma step-bro

    BalasHapus
  2. half blood eh half bro
    intinya Adrian dan Fi satu ayah
    nah loooh

    BalasHapus