Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 106)




Musikal 106

Mata Adrian langsung menjelajah setiap meja-meja ketika ia membuka pintu kafe. Saat tatapannya bertemu dengan wajah ayahnya, sang ayah melambaikan tangan padanya. Semakin langkah Adrian mendekat, maka semakin terlihat bahwa ayahnya sudah bersama orang lain. Seorang wanita yang usianya mungkin tak jauh berbeda dengan ayahnya. Seorang wanita yang dulu pernah menjadi bara yang membakar semua ketenangan keluarganya.
Wanita itu mengulurkan tangan hendak menyalami Adrian, tapi Adrian memilih untuk langsung duduk. Tak ada komentar. Wanita itu hanya tersenyum masam seraya menyimpan kembali tangannya yang menggantung di udara, kemudian kembali duduk.
“ Hanya berdua?” tanya Adrian seraya menyilangkan kaki.
“ Oh, anakku masih dalam perjalanan,” sahut wanita itu. “ Tadi pemberitahuannya mendadak. Jadi, dia masih mengurusi urusannya dulu.”
Adrian tersenyum miring, “ Maaf, soal itu. Aku tidak punya banyak waktu kosong. Semakin mendekati pementasan, latihan kami semakin intens. Kupikir karena sekarang sedang tidak latihan, jadinya aku langsung minta saja.”
“ Ah ya, tidak apa,” ujar ayahnya. “ Tapi apa menurutmu kafe ini tidak terlalu modern untuk kami. Maksud Papa, mungkin kita bisa ketemuan di restoran keluarga saja. Jadi, bisa sekalian makan siang atau makan malam.”
“ Hanya mengikuti saran teman-temanku. Lagi pula sebentar lagi mereka akan mengadakan acara di sini. Aku juga mau bertemu dengan mereka. Itulah yang kumaksudkan bahwa waktuku tak banyak.”
Adrian teringat akan undangan yang disampaikan oleh si kembar Bramastya untuk datang di acaran syukuran kesembuhan Andani. Sebenanrya ia lebih memilih untuk bergabung dengan anak-anak LM ketimbang harus bertemu dengan ayahnya. Namun, rencana yang sudah Dave dan Tifa susun tidak mungkin ia batalkan karena ia merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat.
Mungkin dia akan menyusul nanti.
Adrian melirik arlojinya. Kenapa tantenya lama sekali? Apa dia sedang bermesraan dengan mantannya si bule Dave itu? Memikirkan hal yang itu ia tak dapat menahan kegelian di wajahnya. Teringat bagaimana kejadian tadi pagi di apartemen. Begitu ia membuka pintu, ia mendengar ada suara orang mengobrol. Adrian pikir itu suara dari laptop Tifa, ternyata begitu ia masuk, ia disuguhkan pemandangan yang cukup mengejutkan. Tantenya yang selama ini terlihat menikmati masa lajangnya, kali ini ia tampak tak berdaya saat bibir Dave menjamah wajahnya. Seharusnya Adrian membiarkan sampai mereka benar-benar berciuman, tapi ia juga tak bisa menahan rasa terkejutnya. Ia benar-benar ingin tertawa saat itu.
“ Ada sesuatu yang lucu, Adrian?”
Adrian tersentak saat sang ayah menegurnya. Ia benar-benar tak sadar kalau kejadian tadi pagi membuatnya tak bisa menahan senyum.
“ Ah, gak apa-apa,” Adrian perlahan bangkit dari kursinya. “ Aku permisi ke toilet dulu.”
Ketika Adrian menuju toilet, matanya menangkap sosok teman-temannya sedang asyik bercengkrama sambil naik tangga. Adrian berpikir kalau acara itu akan mereka adakan di lantai dua kafe ini. Namun, ia tak berniat untuk menegur dan meneruskan ke toilet.
Ponselnya berbunyi saat Adrian sedang membasuh tangannya. Tak perlu waktu lama untuk mengangkat ketika nama tantenya tertulis di layar.
“ Ya, Tante?”
“ Kami sudah sampai. Kami masuk sekarang?”
“ Ah ya, lima menit lagi. Aku sedang di toilet sekarang.”
“ Baiklah. Oh, tadi aku bertemu dengan Ririn, Al, Hiro, dan Jiro. Mereka bilang akan ada acara di sini. Apa tidak apa-apa kita juga di sini?”
“ Sebenarnya aku sudah tahu dari awal. Sengaja. Siapa tahu kalau urusan sudah selesai kita bisa bergabung dengan mereka.”
“ Apa tidak apa?”
Adrian tersenyum seraya keluar dari toilet, “ Tidak apa. Ya sudah, aku kembali dulu. Sebentar lagi kalian masuklah.”
Sambungan telepon terputus ketika Tifa mengiyakan. Adrian pun kembali berkumpul dengan keluarganya. Baru saja sang ayah akan memulai pembicaraan, Tifa tiba-tiba datang menghampiri.
“ Oh, Adrian. Kamu di sini juga?”
Wajah sang ayah langsung menegang ketika mereka saling bertatapan dengan Tifa, lebih-lebih ibu tirinya. Namun, tak ada yang berubah dari paras Tifa. Wanita itu tetap tenang bahkan sempat-sempatnya menggandeng lengan Dave dengan mesra.
“ Wah, apa ada acara kumpul keluarga?”
Mata Tifa berpindah-pindah dari Adrian-ayahnya- lalu sang ibu tiri. Rasanya Adrian ingin tertawa melihat ekspresi tegang kedua orang itu saat Tifa mengintimidasi dengan kata-kata.
“ Begitulah. Tante sendiri ngapain di sini?”
Tifa semakin merangkul lengan Dave, “ Seperti tidak tahu kami saja,” ia tertawa kecil lalu menatap ayahnya Adrian. “ Apa kabar, Mas Ican?”
“ Ha-halo, Tif.”
Mata Tifa beralih pada wanita yang duduk di sebelah Ican, “ Halo, Mbak Selvi.”
Wanita bernama Selvi itu hanya tersenyum kaku. Tanpa dipersilakan lagi, Tifa langsung mengajak Dave duduk di kursi yang masih kosong.
“ Anak-anak Love Musical juga mengadakan acara di sini. Kupikir kami bisa menunggu sebentar di sini sampai mereka semua berkumpul. Sepertinya kami datang terlalu cepat.”
“ Ah, ya, ya, silakan,” sahut Ican kaku.
Sekali lagi Adrian menahan tawanya. Padahal tantenya baru saja tahu kalau anak-anak LM sedang mengadakan acara di tempat yang sama. Entah kenapa seolah-olah ia adalah orang yang sudah tahu segalanya. Benar-benar aktris kelas wahid.
“ Mau sekalian aku pesanin kopi?” ujar Adrian.
“ Tidak usah. Nanti saja, soalnya aku dan Dave masih banyak urusan,” Tifa tersenyum pada Ican. “ Mas, masih ingat sama Dave’kan?”
Mata Dave dan Ican saling bertemu. Dave tersenyum ramah, sementara Ican mencoba mengingat-ingat sosok Dave.
“ Ahh, iya, iya, Mas ingat,” Ican lalu mengulurkan tangannya. “ Lama tak jumpa, Dave.”
Dave membalas dengan hangat, “ Ya, sudah lama gak ketemu.”
Kali ini Adrian mendesah berat. Bisa-bisanya laki-laki beriris biru itu terlihat egitu hangat dengan ayahnya. Padahal justru dialah yang merancang rencana busuk ini. tak Tak salah kalau Dave selalu dikenang sebagai aktor kebanggaan Love Musical.
Tatapan Tifa mengarah kembali pada Selvi, “ Hanya bertiga saja?”
“ Ah, ya. Sebenarnya anakku masih dalam perjalanan kemari,” Selvi berdeham untuk menghilangkan kegugupannya. “ Adrian tiba-tiba mengajak kami semua berkumpul sore ini. Makanya kami tidak bisa datang bersama-sama.”
Tifa hanya ber- ‘oh’ seraya mengangguk. Ia merasa senang karena kedatangannya benar-benar mengganggu acara keluarga itu. Namun, Tifa masih ingin berada di sana sampai anak dari Selvi itu datang. Setelah itu ia langsung menarik Adrian pergi.
“ Maaf, aku terlambat.”
Tifa dan Adrian serempak menoleh. Mata mereka bertemu pada sosok tamu yang baru datang. Betapa terkejutnya mereka dengan sosok tamu itu.
“ Nak, kamu sudah datang?”
Tifa menoleh cepat pada Selvi lalu kembali menatap sosok tamu ini. Wajahnya berubah pucat. Ia memberanikan diri melirik Adrian. Namun, tatapan pemuda itu justru terlihat kosong.
“ Dia… putrimu?” desis Adrian.
Ican berdeham seraya berdiri di sisi putrinya.
“ Ya, namanya Firdayanti. Apa kalian sudah saling kenal?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar