Musikal 106
Mata Adrian langsung
menjelajah setiap meja-meja ketika ia membuka pintu kafe. Saat tatapannya
bertemu dengan wajah ayahnya, sang ayah melambaikan tangan padanya. Semakin
langkah Adrian mendekat, maka semakin terlihat bahwa ayahnya sudah bersama
orang lain. Seorang wanita yang usianya mungkin tak jauh berbeda dengan
ayahnya. Seorang wanita yang dulu pernah menjadi bara yang membakar semua
ketenangan keluarganya.
Wanita
itu mengulurkan tangan hendak menyalami Adrian, tapi Adrian memilih untuk
langsung duduk. Tak ada komentar. Wanita itu hanya tersenyum masam seraya
menyimpan kembali tangannya yang menggantung di udara, kemudian kembali duduk.
“
Hanya berdua?” tanya Adrian seraya menyilangkan kaki.
“
Oh, anakku masih dalam perjalanan,” sahut wanita itu. “ Tadi pemberitahuannya
mendadak. Jadi, dia masih mengurusi urusannya dulu.”
Adrian
tersenyum miring, “ Maaf, soal itu. Aku tidak punya banyak waktu kosong.
Semakin mendekati pementasan, latihan kami semakin intens. Kupikir karena
sekarang sedang tidak latihan, jadinya aku langsung minta saja.”
“ Ah
ya, tidak apa,” ujar ayahnya. “ Tapi apa menurutmu kafe ini tidak terlalu
modern untuk kami. Maksud Papa, mungkin kita bisa ketemuan di restoran keluarga
saja. Jadi, bisa sekalian makan siang atau makan malam.”
“
Hanya mengikuti saran teman-temanku. Lagi pula sebentar lagi mereka akan
mengadakan acara di sini. Aku juga mau bertemu dengan mereka. Itulah yang
kumaksudkan bahwa waktuku tak banyak.”
Adrian
teringat akan undangan yang disampaikan oleh si kembar Bramastya untuk datang
di acaran syukuran kesembuhan Andani. Sebenanrya ia lebih memilih untuk
bergabung dengan anak-anak LM ketimbang harus bertemu dengan ayahnya. Namun,
rencana yang sudah Dave dan Tifa susun tidak mungkin ia batalkan karena ia
merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat.
Mungkin
dia akan menyusul nanti.
Adrian
melirik arlojinya. Kenapa tantenya lama sekali? Apa dia sedang bermesraan
dengan mantannya si bule Dave itu? Memikirkan hal yang itu ia tak dapat menahan
kegelian di wajahnya. Teringat bagaimana kejadian tadi pagi di apartemen.
Begitu ia membuka pintu, ia mendengar ada suara orang mengobrol. Adrian pikir
itu suara dari laptop Tifa, ternyata begitu ia masuk, ia disuguhkan pemandangan
yang cukup mengejutkan. Tantenya yang selama ini terlihat menikmati masa
lajangnya, kali ini ia tampak tak berdaya saat bibir Dave menjamah wajahnya.
Seharusnya Adrian membiarkan sampai mereka benar-benar berciuman, tapi ia juga
tak bisa menahan rasa terkejutnya. Ia benar-benar ingin tertawa saat itu.
“
Ada sesuatu yang lucu, Adrian?”
Adrian
tersentak saat sang ayah menegurnya. Ia benar-benar tak sadar kalau kejadian
tadi pagi membuatnya tak bisa menahan senyum.
“
Ah, gak apa-apa,” Adrian perlahan bangkit dari kursinya. “ Aku permisi ke toilet
dulu.”
Ketika
Adrian menuju toilet, matanya menangkap sosok teman-temannya sedang asyik
bercengkrama sambil naik tangga. Adrian berpikir kalau acara itu akan mereka
adakan di lantai dua kafe ini. Namun, ia tak berniat untuk menegur dan
meneruskan ke toilet.
Ponselnya
berbunyi saat Adrian sedang membasuh tangannya. Tak perlu waktu lama untuk
mengangkat ketika nama tantenya tertulis di layar.
“
Ya, Tante?”
“ Kami sudah sampai. Kami masuk sekarang?”
“ Ah
ya, lima menit lagi. Aku sedang di toilet sekarang.”
“ Baiklah. Oh, tadi aku bertemu dengan Ririn, Al,
Hiro, dan Jiro. Mereka bilang akan ada acara di sini. Apa tidak apa-apa kita
juga di sini?”
“
Sebenarnya aku sudah tahu dari awal. Sengaja. Siapa tahu kalau urusan sudah
selesai kita bisa bergabung dengan mereka.”
“ Apa tidak apa?”
Adrian
tersenyum seraya keluar dari toilet, “ Tidak apa. Ya sudah, aku kembali dulu.
Sebentar lagi kalian masuklah.”
Sambungan
telepon terputus ketika Tifa mengiyakan. Adrian pun kembali berkumpul dengan
keluarganya. Baru saja sang ayah akan memulai pembicaraan, Tifa tiba-tiba
datang menghampiri.
“
Oh, Adrian. Kamu di sini juga?”
Wajah
sang ayah langsung menegang ketika mereka saling bertatapan dengan Tifa,
lebih-lebih ibu tirinya. Namun, tak ada yang berubah dari paras Tifa. Wanita
itu tetap tenang bahkan sempat-sempatnya menggandeng lengan Dave dengan mesra.
“
Wah, apa ada acara kumpul keluarga?”
Mata
Tifa berpindah-pindah dari Adrian-ayahnya- lalu sang ibu tiri. Rasanya Adrian
ingin tertawa melihat ekspresi tegang kedua orang itu saat Tifa mengintimidasi
dengan kata-kata.
“
Begitulah. Tante sendiri ngapain di sini?”
Tifa
semakin merangkul lengan Dave, “ Seperti tidak tahu kami saja,” ia tertawa
kecil lalu menatap ayahnya Adrian. “ Apa kabar, Mas Ican?”
“
Ha-halo, Tif.”
Mata
Tifa beralih pada wanita yang duduk di sebelah Ican, “ Halo, Mbak Selvi.”
Wanita
bernama Selvi itu hanya tersenyum kaku. Tanpa dipersilakan lagi, Tifa langsung
mengajak Dave duduk di kursi yang masih kosong.
“
Anak-anak Love Musical juga
mengadakan acara di sini. Kupikir kami bisa menunggu sebentar di sini sampai
mereka semua berkumpul. Sepertinya kami datang terlalu cepat.”
“
Ah, ya, ya, silakan,” sahut Ican kaku.
Sekali
lagi Adrian menahan tawanya. Padahal tantenya baru saja tahu kalau anak-anak LM
sedang mengadakan acara di tempat yang sama. Entah kenapa seolah-olah ia adalah
orang yang sudah tahu segalanya. Benar-benar aktris kelas wahid.
“
Mau sekalian aku pesanin kopi?” ujar Adrian.
“
Tidak usah. Nanti saja, soalnya aku dan Dave masih banyak urusan,” Tifa
tersenyum pada Ican. “ Mas, masih ingat sama Dave’kan?”
Mata
Dave dan Ican saling bertemu. Dave tersenyum ramah, sementara Ican mencoba
mengingat-ingat sosok Dave.
“
Ahh, iya, iya, Mas ingat,” Ican lalu mengulurkan tangannya. “ Lama tak jumpa,
Dave.”
Dave
membalas dengan hangat, “ Ya, sudah lama gak ketemu.”
Kali
ini Adrian mendesah berat. Bisa-bisanya laki-laki beriris biru itu terlihat
egitu hangat dengan ayahnya. Padahal justru dialah yang merancang rencana busuk
ini. tak Tak salah kalau Dave selalu dikenang sebagai aktor kebanggaan Love Musical.
Tatapan
Tifa mengarah kembali pada Selvi, “ Hanya bertiga saja?”
“
Ah, ya. Sebenarnya anakku masih dalam perjalanan kemari,” Selvi berdeham untuk
menghilangkan kegugupannya. “ Adrian tiba-tiba mengajak kami semua berkumpul
sore ini. Makanya kami tidak bisa datang bersama-sama.”
Tifa
hanya ber- ‘oh’ seraya mengangguk. Ia merasa senang karena kedatangannya
benar-benar mengganggu acara keluarga itu. Namun, Tifa masih ingin berada di
sana sampai anak dari Selvi itu datang. Setelah itu ia langsung menarik Adrian
pergi.
“
Maaf, aku terlambat.”
Tifa
dan Adrian serempak menoleh. Mata mereka bertemu pada sosok tamu yang baru
datang. Betapa terkejutnya mereka dengan sosok tamu itu.
“
Nak, kamu sudah datang?”
Tifa
menoleh cepat pada Selvi lalu kembali menatap sosok tamu ini. Wajahnya berubah
pucat. Ia memberanikan diri melirik Adrian. Namun, tatapan pemuda itu justru
terlihat kosong.
“
Dia… putrimu?” desis Adrian.
Ican
berdeham seraya berdiri di sisi putrinya.
“
Ya, namanya Firdayanti. Apa kalian sudah saling kenal?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar