Total Tayangan Halaman

Sabtu, 17 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 112)




Musikal 112

Tifa sempat melirik mobil yang baru saja mereka lewati. Ia sudah menduga kalau anak-anak didiknya ada di dalam mobil itu. Namun, fokusnya tak di sana. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok keponakannya yang duduk termenung di kap mobil.
Dave bahkan belum sempat menarik rem tangan saat Tifa sudah melompat keluar mobil.  Laki-laki itu sempat terkejut lalu buru-buru turun menyusul wanita itu.
“ Adrian!”
Pemuda itu terlihat terkejut karena tantenya berhasil menemukannya dengan cepat. Namun, dengan cepat pula ia memasang wajah skeptisnya. Meski gelap, tapi sebisa mungkin ia menghindari tatapan sang tante.
“ Tante tahu ini rumit, tapi Tante mohon pulanglah. Banyak yang mencemaskanmu.”
“ Aku tidak akan kemana-mana, Tante. Sekarang aku hanya butuh sendiri.”
“ Baik, tapi tidak bisakah di rumah saja atau di apartemen Tante? Tante akan membiarkanmu sendiri dan kita akan bicarakan ini nanti.”
“ Tinggalkan aku sendiri.”
Tifa bergeming.
“ Kubilang, pergilah!”
Teriakan Adrian membuat emosi Tifa meledak. Sedari tadi ia mencoba untuk meredam amarahnya, tapi kelakukan Adrian membuatnya tak bisa menahan lebih lama lagi.
“ Tak bisakah kamu tidak menyulitkan Tante, Adrian! Bukan cuma kamu di sini yang stres, tapi Tante juga! Tante mengerti perasaanmu, tapi pikirkan juga bagaimana perasaan Tante!”
Adrian berbalik, ekspresinya tampak murka, “ Apa? Apa yang Tante mengerti? APAAA???”
Gigi Tifa gemeletuk menahan emosi.
“ Kenyataan bahwa Fi adalah saudariku benar-benar membuatku gila, Tante! Setelah Mama meninggal, Fi adalah satu-satunya sandaranku. Cinta pertamaku. Tapi dengan kejamnya semua itu berakhir tragis hanya dalam hitungan menit. Apa Tante tahu bagaimana hancurnya aku saat ini?”
Jemari Tifa meremas pinggiran gaunnya. Ada sesuatu yang berusaha ia tahan. Sesuatu dari pusaran perutnya lalu tersangkut di pangkal tenggorokannya. Tifa mengatur napasnya agar sesuatu itu tidak menyembur keluar.
Melihat tak ada respon dari tantenya, Adrian kembali membalikkan badannya. Bahkan mengambil jarak yang cukup jauh. Sepertinya ia akan kembali kabur.
“ Tante hanya memintamu untuk pulang, Adrian.”
Adrian masih bergeming. Namun, pendiriannya terusik saat mendengar suara Dave yang berseru.
“ TIFA!!”
Ada yang aneh. Suara Dave terdengar panik, disusul kemudian ada bunyi seperti benda terjatuh. Saat ia berbalik, pemandangan yang mengejutkan ia dapati. Tantenya tengah tergeletak tak berdaya dan Dave berusaha menolong Tifa.
“ Tif, Tifa, sadarlah. Tifaaa….”
Pantulan lampu mobil memberikan warna pada sekeliling mereka. Entah kenapa tangan Tifa seolah menutupi bagian mulutnya. Ketika Dave mengguncang tubuhnya, tangan itu terkulai lemas dan menampilkan warna segar. Sangat merah, semerah…
…. Darah.
“ Adrian, apa yang kamu lakukan!” sergah Dave. “ Cepat bantu sini!”
Bukannya tak mau membantu, tapi Adrian terlalu syok. Tantenya adalah sosok yang sangat sehat lalu apa yang membuat wanita itu sampai memuntahkan darah seperti itu. Andai Dave tak meneriakinya, mungkin saat ini ia ikut-ikutan terkulai seperti tantenya.
Di saat yang genting, bantuan datang. Adrian sempat kaget saat melihat beberapa anggota Love Musical dengan cepat datang, tapi bukan itu prioritasnya sekarang. Keselamatan Tantenya melebihi segala kebetulan apa pun.
“ Apa yang terjadi?” tanya Ririn yang langsung beringsut menolong Tifa.
“ Om tidak tahu. Tolong bantu Om membawa Tifa ke mobil!”
Ririn tadinya mau ikut mengangkat, tapi Mori lebih sigap. Ia hanya memberikan kode pada Ririn agar membukakan pintu mobil Om-nya saja. Sementara Hiro dan Jiro membantu menyadarkan Adrian dari guncangan emosinya.
“ Baik-baik saja, Teman?” tegur Jiro.
Adrian menelan ludahnya dengan sulit lalu ia mengangguk paksa, “ Ya, aku baik.”
Alexi tiba-tiba mengadahkan tangannya pada Adrian, “ Kunci mobil. Biar aku saja yang membawanya.”
“ Kamu bisa?” tanya Hiro. “ Bagaimana dengan surat-suratnya?”
“ Ini sudah malam, tidak akan ada yang menghiraukanku. Aku akan berhati-hati,” ujar Alexi datar. “ Adrian, kamu lebih baik bersama Tantemu saja.”
Adrian segera memberikan kunci mobil pada Alexi. Ia kembali mengangguk, “Terima kasih,” ia pun segera menyusul Tifa.
“ Ka—kami juga akan ikut kalian ke rumah sakit,” ujar Jiro lalu ia menatap Ririn. “Ririn-chan temani Aru-kun saja.”
“ Tidak usah,” sahut Alexi, cepat dan datar.
Meski situasi saat ini sedang kritis, tapi Ririn sempat menangkap kesan berbeda dari Alexi saat menolak dirinya untuk ikut bersama. Ada amarah terselubung dari nada bicaranya yang terlalu datar.
“ Maksudku, kamu ikut dengan Om-mu saja. Om-mu pasti sibuk menyetir dan Adrian masih tak bisa diandalkan. Kalau ada apa-apa kamu bisa membantu mereka.”
 “ Benar juga,” ujar Hiro seraya mendorong Ririn masuk mobil. “ Ayo, kita bergegas!”
Ririn sudah berada di balik sabuk pengaman. Namun, tatapan masih beralih pada Alexi yang sedang menyalakan mobil Tifa. Ada perasaan berkecamuk saat ia tak bersama laki-laki itu. Ucapan Alexi seperti tengah mengusirnya secara halus.
‘ Tidak. Bukan itu. Saat ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan orang lain.’
Ririn mendesah berat. Mobil om-nya melaju kencang. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.

2 komentar:

  1. wah.. 2 minggu kemarin update nya cetar membahana
    ier sampe kehilangan kata-kata
    noh adrian... gatel sih genit pengen adek lah
    tuh author kita yg baik beneran kasih kamu adek.
    malah half-bro ....
    terus di pilih yang paling tersayang :D
    (tertawa dengan air mata)

    kalau fi gak masuk RS atau ga depresi , aku meragukan dia masih manusia setelah semua kejadian ini

    oh iya..
    hiro kamu waspada ya sama author , ier malem ini gak sengaja jawab pertanyaan author yg bisa berakhir buruk atau baik untuk kamu

    keep strong ya kalian semua

    arghhhhhhhhhh tifa kenapa???
    mana pake muntah darah...

    BalasHapus