Musikal 108
Tifa berlari menyusul
Adrian. Ia harus cepat karena ia tahu Adrian pasti akan kabur dengan mobilnya.
Bukan masalah mobilnya, tapi Adrian.
Tifa
berhasil menutup pintu mobil yang baru saja Adrian buka. Meski panik, tapi Tifa
masih bisa melihat jelas ekspresi keponakannya saat itu. Tak pernah ia melihat
ekspresi Adrian sedemikian kecewa dan sedih, selain ketika kematian Laksmi.
“
Adrian, Tante mohon jangan pergi dulu. Kamu harus dengan dulu penjelasan―”
“
Aku sudah dengar!” Adrian berteriak penuh emosi. “ Semua sudah jelas, Tante.
Apa lagi yang harus dijelaskan?”
“
Adrian, Tante minta kamu tenang dulu.”
“
Tenang? Tante pikir aku bisa tenang setelah tahu bahwa gadis yang selama ini
kupacari adalah adikku sendiri? Apa aku bisa tenang setelah tahu kalau orang
yang kupikir belahan jiwaku ternyata sedarah denganku? Apa Tante pikir aku
bisa?”
Tak
pernah. Tifa tak pernah melihat Adrian begitu dikuasai oleh amarah, bahkan
ketika Laksmi meninggal, Adrian tak pernah emosional seperti ini. Keponakannya
itu benar-benar sampai ke titik frustasinya. Tifa pun sampai kena dampratnya
saat ini.
“
Maafkan aku,” tiba-tiba suara Adrian melunak. Ia menarik napas beberapa kali
agar amarahnya mereda. Perlahan ia rangkul tubuh tantenya.
“
Aku tak bermaksud berteriak seperti itu sama Tante. Tante adalah satu-satunya
orang yang gak boleh aku marahi seperti tadi. Tapi maaf, aku harus pergi saat
ini.”
Sepertinya
Tifa terlena dengan perlakuan lembut Adrian. Ia pikir Adrian sudah tak berniat
pergi. Namun, ketika Tifa baru akan membalas pelukannya, Adrian menggunakan
kesempatan itu untuk membuka kembali pintu mobil dan segera pergi. Tifa
berusaha menggedor-gedor kaca mobil, tapi Adrian tak peduli. Yang tersisa kini
hanya kepulan asap mobilnya.
“
Astagaaa, kenapa jadi seperti ini…”
Tifa
meremas rambutnya kuat-kuat. Ia bergegas kembali ke dalam, menghampiri
orang-orang bermasalah itu dan melabraknya.
“
Ya, kenapa harus Adrian?” ujarnya dengan suara lantang. Tifa tahu efeknya
adalah membuat perhatian pengunjung yang lain tertuju pada mereka.
“
Tifa, Fi, ini tidak seperti yang―”
Ican
berusaha membela diri, tapi Tifa sudah memotong kata-katanya. Ia berusaha untuk
tidak berteriak lebih keras lagi. Akibatnya, suaranya terdengar bergetar.
“
Dulu, Mas Ican sudah membunuh Kak Laksmi. Dan sekarang Adrian. Kenapa, Mas?
Kenapa Adrian juga harus terseret dalam lingkaran iblis Mas Ican?”
“
Tif, tenanglah,” Dave berusaha menenangkannya. Tifa sempat melirik tangan
Adrian yang merangkul lengannya, sementara tangan Dave yang satunya lagi
memegangi Fi.
“
Tif, Mas juga gak tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini,” suara Ican
terdengar tak kalah frustasi.
Tifa
menatap tajam Selvi, lalu berganti pada Fi. Amarahnya kembali bergejolak.
“
Ini juga berkat kehadiran kalian. Terima kasih sudah memporak-porandakan
keluarga kami. Kalian adalah pasangan ibu dan anak yang kompak.”
Sebenarnya
Tifa ingin saja menjambak Selvi dan Ican seraya memaki-maki mereka sampai puas,
tapi ia tak punya waktu untuk itu. Ia harus segera menyusul Adrian. Ia tak tahu
kemana keponakannya itu pergi. Bisa saja Adrian berbuat nekad dan semuanya akan
berakhir dengan cara yang benar-benar tidak menyenangkan.
Tifa
segera menarik Dave yang terlihat masih bingung dengan keadaan. Tak peduli
dengan Fi yang hampir terjungkal karena masih memegangi tangan si pria bermata
biru itu.
“ Kita harus susul Adrian, Dave. Dia tadi
kabur dengan mobilku.”
Mendengar
kata ‘kabur’, Fi segera menahannya pergi. Tifa kaget ketika Fi memelas padanya.
“ Ad—Adrian pergi ke mana, Miss? Aku ikut dengan kalian, kumohon.”
Sayang,
Tifa sudah terlanjur dibutakan oleh amarah. Dengan kasar ia lepaskan tangan Fi.
Ia benar-benar lupa kalau Fi adalah anak didiknya.
“
Jangan sentuh aku! Dan jangan pernah memanggilku dengan nada seakrab itu! Kamu
tidak berhak ikut campur dalam urusan keluargaku. Urus saja keluargamu yang di
sana!”
Dave
terlihat buru-buru menekan tombol pembuka pintu mobil. Cepat-cepat ia
menyalakan mobilnya sebelum Tifa kembali meledak.
Ketika
mobil menyala, tiba-tiba saja Tifa meremas tangannya. Dave pun terpaksa menunda
untuk segera menjalankan mobil. Wanita itu terlihat sedang menenangkan dirinya.
“
Sebentar, Dave.”
Tifa
berkali-kali menarik napas. Matanya terpejam sampai akhirnya ia membuka kembali
setelah ia yakin dirinya cukup tenang.
“
Tidak usah terburu-buru, lagi pula kita tidak tahu kemana Adrian pergi.”
Dave
mengusap tangan Tifa dengan lembut. Berharap wanita itu lebih tenang.
“
Baiklah, kita akan mulai dari mana?”
“
Aku juga tidak tahu,” kening Tifa berkerut. “ Kita coba ke rumah Ibu, lalu ke
apartemenku. Siapa tahu dia ada di sana, tapi jangan sampai ketahuan Ibu. Bisa
gawat kalau Ibu tahu.”
“
Aku mengerti,” Dave menggenggam tangan Tifa cukup kuat. “ Kamu baik-baik saja?”
“
Aku masih bisa mengendalikan diriku,” Tifa tersenyum kecil seraya melepaskan
genggaman tangan Dave. “ Ayo jalan!”
ooOoo
Priyanka menyaksikan
semua yang terjadi secara langsung. Tadinya ia masih ingin mengatakan sesuatu
pada Fi, tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Adrian, Tifa, dan Dave
duduk di meja yang ia tuju.
Semua
terjadi sangat cepat. Semua hal yang ia tak pernah sangka sebelumnya. Semua
kata-kata yang tak mungkin ia dengar. Namun, ternyata semua itu terjadi.
Priyanka tak tahu bagaimana jika berada di posisi Fi karena berada di posisinya
sendiri pun terasa sangat sulit. Ia ikut syok saat menyaksikan semua itu.
Matanya
tak sengaja menangkap sosok Ririn yang ternyata juga hadir di sana. Ia tak tahu
kenapa gadis itu juga bisa ada di sana. Namun, ia yakin gadis itu pun sama
syoknya dengan dirinya. Priyanka pun segera menghampirinya.
“
Rin, kamu… kamu lihat semuanya?” ujar Priyanka dengan suara pelan.
Gadis
itu mengangguk kaku.
“
Aku benar-benar—“
“
Sebaiknya kita tutup mulut atas kejadian ini. Jangan sampai ada anggota lain
yang tahu. Bagaimana pun juga ini aib keluarga Miss Tifa dan Fi.”
Giliran
Priyanka yang mengangguk kaku.
“
Sebenarnya aku turun karena Hp-ku ketinggalan di mobil Hasegawa-senpai. Kamu langsung naik ke atas aja,
nanti aku menyusul setelah aku ambil Hp.”
Ririn
segera melewatinya. Gadis itu tampak seperti menyimpan sesuatu. Namun, Priyanka
setuju dengannya. Jangan sampai berita ini terbongkar. Mengingat bagaimana
reputasi orang-orang yang terlibat di dalamnya, bisa-bisa pementasan ini akan
gagal.
Sulit
bagi Priyanka untuk pura-pura tersenyum. Meski begitu ia juga bagian dari
pementasan. Poker face adalah
keahlian utama seseorang yang akan beraksi di atas panggung. Dan sekarang
adalah waktunya ia menggunakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar