Total Tayangan Halaman

Sabtu, 09 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 53)



Musikal 53


Pelatihan sudah memasuki hari ketiga. Tifa merasa senang karena anak-anak didiknya sudah terbiasa dengan gaya latihan seperti ini dan tidak tepar sebelum waktunya. Ketiga tim LM pun sudah menunjukkan perkembangan. Tifa tidak bisa lebih senang daripada ini.

Malam yang melelahkan. Setelah latihan selesai, Tifa memutuskan untuk mandi air hangat. Punggungnya terasa lebih baik setelah mendapat guyuran air dari shower. Akhirnya ia bisa sedikit memanjakan diri.

Ia mengenakan gaun tidur tanpa lengan bewarna merah. Bentuknya lebih menyerupai daster ketimbang lingerie. Tentu saja ia tidak mengenakan pakaian aneh-aneh karena ia tahu banyak laki-laki di sini. Selepas berpakaian ia menuju dapur untuk mengambil air.

“ Tif!”

Tifa menoleh. Ia mendapati Dave melemparkan sebuah kaleng padanya. Untung ia sigap menangkap kaleng tersebut. Ternyata kaleng itu adalah kopi instan siap minum.

“ Aku masih punya lagi. Oh ya, aku juga punya popcorn. Sepertinya aku juga punya film bagus, balkon yang luas, pemandangan malam yang indah, dan ada wanita cantik di depanku. Waaah, bagaimana kalau kita satukan semunya?”

Tifa nyengir, “ Bagaimana ya, hmm. Mungkin tergantung filmnya. Romance? Action?

“ Baiklah, coba kita lihat. Hmm, aku punya genre komedi di tangan kananku dan ada slasher di tangan kiriku. Mau pilih yang mana?”

“ Sepertinya komedi bagus untuk hiburan setelah bekerja berat. Oke, aku taruh handukku dulu, nanti aku menyusul ke atas. No romance kan?”

Dave mengangguk yakin, “ No romance.”

“ Bagus, kita nonton slasher.

Dave terkekeh saat Tifa melewatinya. 23 tahun tak bertemu ternyata selera wanita itu tidak berubah.

ooOoo

“ Waaah, kopi dingin memang cocok diminum setelah mandi air hangat,” Tifa kembali menyesap kopinya. “ Kalau begini terus aku rasa aku bisa hidup seribu tahun lagi.”

Dave hanya tersenyum. Perhatiannya lebih fokus pada laptop.

“ Waah, bintang-bintang malam ini terang sekali. Aku tidak yakin ini langit di bulan Desember. Jangan-jangan kamu memasang semacam alat seperti di planetarium itu yah?”

“ Kalau aku punya alat seperti itu lebih baik kita menonton bintang saja tidak usah film horor,” Dave menekan tombol play pada laptopnya. “ Here we go. Ayo kita nonton.”

Seperti film-film horor pada umumnya, di awal cerita akan menjadi alur yang membosankan. Dave mengambil kesempatan ini untuk mengajak Tifa berbicara.

“ Dari pertama kita bertemu aku belum bertanya bagaimana kabarmu. Aku juga belum bertanya apakah kamu rindu padaku.”

“ Kamu bisa lihat kondisiku saat ini dan bagiku itu sudah menjadi jawaban.”

“ Dan pertanyaan kedua?”

Tifa termenung cukup lama.

“ Aku merindukan semua yang sudah aku tinggalkan dulu,” jawabnya.

Dave hanya menggumamkan kata “Oh”. Tifa kembali menyesap kopinya. Giliran dia yang curi-curi pandang pada pemilik mata biru itu.

“ Kamu sudah menikah, Dave?”

“ Kamu bukannya nanya kabar atau apa. Malah nanya sudah nikah atau belum. Apa Amerika tidak mengajarkanmu kalau pertanyaan itu bukan pertanyaan yang sopan?”

“ Buat apa? Aku yakin kamu dalam keadaan sehat dan sempurna. Bisnismu lancar dan wajahmu belum keriput. Jadi, kutanyakan langsung saja pertanyaan yang mungkin tidak terlihat langsung,” Tifa mengunyah berondong jagungnya. “ Lagi pula ini Indonesia bukan Amerika. Di sini pertanyaan itu lumrah.”

Dave menarik napas panjang, “ Belum. Bisnis membuatku sibuk.”

“ Sulit dipercaya. Padahal di sekitarmu selalu banyak gadis-gadis cantik.”

“ Cantik belum tentu cocok,” jawab Dave sambil meluruskan kakinya. “ Oh iya, Tif. Kamu tidak marah’kan kalau aku tiba-tiba langsung menyatakan kalau aku bagian dari Love Musical saat ini?”

Tifa memasukkan popcorn ke dalam mulut, “ Buat apa? Toh ditolak pun kamu juga pasti akan memaksa. Lagi pula sekali anggota tetap anggota. Tidak ada yang dulu atau sekarang.”

“ Senang mendengarnya,” ujar Dave seraya tersenyum.

Mereka berdua pun kembali fokus pada film. Sepertinya alur cerita ini sudah sampai di bagian yang seru, yaitu dimana si pembunuh mulai membunuh satu-persatu tokoh yang ada di film tersebut. Bagia sebagian besar orang, ini adalah adegan yang membuat perhatian mereka tak bisa dialihkan, tapi berbeda dengan Dave. Ia justru lebih suka melihat ekspresi serius dari wajah Tifa ketika menonton film.

“ Aku sangat merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu.”

Tifa merasa Dave hanya memerhatikan dirinya. Ia pun ikut kehilangan fokus dari film dan lebih memilih untuk membalas tatapan Dave. Sorot dari warna safir itu seolah menghipnotisnya. Ia baru sadar kalau Dave yang sekarang jauh lebih tampan dari Dave yang ia kenal ketika SMA.

Mereka tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya dengan bertukar pandang, mereka bisa saling membaca pikiran satu sama lain. Dave perlahan bergerak maju. Semakin lama wajah mereka semakin dekat. Tifa menelan ludah dengan susah payah.  Dalam hitungan detik mereka akan saling menempelkan bibir satu sama lain.

Tiba-tiba keduanya tersentak saat mendengar suara jeritan. Mereka pikir suara anak-anak LM, tapi ternyata hanya suara teriakan gadis yang ada di dalam film. Sepertinya gadis itu akan segera dibunuh.

Dave dan Tifa saling membuang muka. Hilang sudah hasrat menggebu-gebu mereka. Timbullah perasaan canggung di antara keduanya.

Tifa mencoba mengatur detak jantungnya yang melewati batas normal. Entah apa karena teriakan itu atau karena ia hampir saja berciuman dengan Dave. Namun, ia merasa sangat beruntung telah memilih film slasher karena jika tidak, mungkin ia tidak tahu berapa lama Dave menumpahkan kerinduan di bibirnya.

Malam yang aneh…

please comment and share



Auhtor’s Note:
Kyaaah… si Mr. X udah keluaaar…
Yuhuuu.. see you next week!!!

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. hahaha ditunggu chapter selanjutnya
    semoga nasb nya gak ada yang tragis ya #KasihAuthorSesajen

    BalasHapus