Musikal 56
Kedua bis itu membawa seluruh anggota LM bertolak ke
Palembang. Perjalanan antar kota yang bermil-mil jauhnya pun kembali mereka
tempuh. Tidak seperti saat pergi, perjalanan kali ini terasa lebih ringan.
Selain karena terlepas dari latihan yang berat, liburan singkat mereka ternyata
membawa kesegaran baru.
Ririn hanya bisa meringis saat
Alexi menatapi kursi di sebelahnya. Kali ini kursi itu sudah diisi oleh Andani.
Kasihan juga laki-laki itu, sepertinya dari kemarin ia tak mendapatkan teman
sebangku. Mungkin karena jumlah penumpang bis satu yang ganjil.
“ Di sini kosong?”
Wenda tersentak saat Alexi
menegurnya. Ia mengangguk cepat. Kebetulan sekali, padahal sebelumnya ia sempat
kesepian karena Anjani tidak ada di sebelahnya.
Tepat di saat Alexi mendudukan
pantatnya, Ben tiba-tiba muncul. Wajah laki-laki itu terlihat bingung.
“ Wah, sudah ada Al toh?”
Alexi terkejut, “ Loh, kamu mau
duduk di sini, Ben?”
“ Gak, gak apa. Aku bisa duduk di
belakang aja,” jawab Ben sambil ngeloyor ke kursi paling belakang.
“ Byeee, Beeen!” seru Wenda.
“ Sorry ya, Beeen,” sahut Alexi sambil menengok Ben. Laki-laki itu
hanya membalasnya dengan melambaikan tangan tanpa menoleh.
Alexi menghela napas, “ Wah, aku
jadi gak enak sama Ben.”
“ Gak apa-apa kok, Al,” Wenda
menyahut cepat, takut Alexi berubah pikiran. “Lagian kursi ini harusnya Anjani
yang isi. Dia biasanya duduk sama Kemal, tapi dasar Kemalnya yang pengkhianat.
Bisa-bisanya dia melobi Kak Santi supaya bisa pindah ke bis dua. Katanya sih
ada kakak kelas yang lagi dia taksir.”
“ Temanmu itu parah,” Alexi
terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Sayang, faktanya dia temanku
juga.”
Wenda tertawa, “ Kayaknya kita
berdua sama-sama sial.”
Lagi-lagi Alexi mengeluarkan iPod
dan menawari musik pada teman sebangkunya. Wenda juga tak menolak karena ia
saat ini butuh hiburan.
‘Cause I cant stop thinking about you girl
Wenda menoleh cepat. Ia seolah
tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“ Ka—kamu K-Popers?”
Alis Alexi terangkat,” Kenapa?
Kamu gak suka?”
“ Bukaaan, cuma yaaa… baru kali
ini aku ketemu sama cowok K-Popers juga. Kalau Kemal sama Ben sih suka banget
hina-hina musik dari negeri sana. Padahal mereka keren loh, dari dance, musik, dan style-nya. Yah, sebenarnya aku juga K-Popers sih”
“ Aku suka musik mereka.
Komposisinya keren seperti yang kamu bilang tadi, dan menurutku gak ada
salahnya jadi K-Popers. Asal jangan alay aja.”
‘ Kamu baik, pengertian, dan tampan pula. Itulah kenapa aku suka kamu.’
Wenda tersenyum. Tanpa mereka
sadari, mereka berdua sama-sama melantukan lirik lagu itu. Betapa senangnya
Wenda menemukan seorang pria dengan komposisi yang sempurna seperti Alexi.
Sekarang perjalanan enam jam lebih ini akan terasa lebih indah.
Sesekali ia mencuri-curi pandang
pada laki-laki di sebelahnya. Aah, andai Alexi mau melepaskan kacamata pantat
botol itu, mungkin suasananya akan menjadi lebih Korea. Wajah tampan seperti
itu kenapa harus disembunyikan.
Kalau dulu Wenda menyukai lagu
ini karena saat lagu ini rilis jumlah personel Super Junior masih lengkap 13
orang. Namun, sekarang ia punya personel tambahan. Wenda berpikir apakah ia
boleh mengubah kata akhir pada lirik lagu tersebut.
‘Cause I can stop thinking about you boy….
ooOoo
Tifa tertidur pulas. Lucunya meski nyenyak, tapi
kepalanya tak berhenti bergoyang-goyang. Riani hampi tak kuasa menaha tawanya.
Wanita ini mau sadar ataupun tak sadar tetap saja aktif bergerak.
Riani melirik ponsel yang sedari
tadi tak lepas dari genggamannya. Entah kenapa ia merasa sangat berdosa saat
menatap benda kotak bewarna merah muda itu. Lalu perhatiannya beralih pada
wanita di sebelahnya. Hanya dengan menatapnya saja, Riani seperti dihujani
ribuan anak panah. Semua anak panah itu mengarah tepat ke ulu hatinya.
Sesak. Anak panah itu tak hanya
menancap, tapi juga mengoyak-ngoyakkan perasaannya. Namun, ia tak bisa
menghindari serangan itu dan hanya bisa menyesali perbuatanna. Andai kemarin ia
lebih memilih akal sehat ketimbang perasaan, mungkin sekarang ia bisa duduk
tenang di kursinya.
Semua bermula saat mereka asyik
bercengkrama di pantai….
ooOoo
“ Iyaaa, tapi
kamu yang mengajak mereka. Seharusnya kamu yang masuk neraka duluan.”
Riani dan kedua
temannya ini tertawa saat Dave mengomel. Omelan laki-laki itu berhenti saat
seseorang meneleponnya. Dave mengambil telepon dari saku celananya. Mungkin
karena tergesa-gesa, ada sebuah benda yang ikut menyembul keluar.
Riani menangkap
jelas benda bewarna merah itu. Bentuknya kotak dan berbahan beludru. Seketika
napasnya tercekat. Ia sudah tahu benda apa itu. Namun, Dave buru-buru
memasukkan ponselnya kembali sehingga kotak itu ikut terdorong masuk.
‘Mu—mungkinkah Dave akan melamar Tifa?’
Persentase
kemungkinannya tentu saja sangat tinggi. Riani tak bisa membayangkan kalau itu
benar-benar terjadi, tapi ia mau apalagi. Ia kini seorang istri beranak satu
dan untuk apa ia mencegah semua itu terjadi. Bisa-bisa ia dianggap sebagai
wanita yang tak tahu diri.
Lamunannya
terbuyar saat mereka mendengar ada keributan dari beberapa muridnya. Mereka
bergegas menuju tempat kejadian. Ternyata beberapa muridnya memang sedang
bersiteru dengan segerombolan orang tak dikenal.
Di luar dugaan
ternyata Tifa bisa meredam perseteruan itu. Ia sendiri juga kaget saat tahu
Tifa bisa melakukan perlawanan pada laki-laki yang menjadi biang kerok. Amerika
banyak mengubah kepribadian gadis itu.
Namun, hal buruk
yang ia pikirkan terjadi setelah itu. Dave mengajak Tifa pergi ke suatu tempat.
Entah angin apa yang menyeret kakinya untuk mengikuti mereka. Akal sehatnya
seperti lenyap di telan bumi.
Riani
mengendap-ngendap mengikuti langkah keduanya. Dave mengajak Tifa menaiki sebuah
bukit. Riani merasa dirina mulai kelelahan. Tifa saja yang selalu bersemangat
saja kewalahan, apalagi dia yang sudah jarang berolahraga. Dave memang
kertelaluan, tapi perbuatannya justru memalukan.
Cahaya matahari
semakin memerah, pertanda sebentar lagi sang raja siang akan tertidur. Riani
bersenyembunyi di balik semak-semak. Jantunnya berdegup tak karuan menunggu
detik-detik lamaran Dave. Tepat di saat sang surya meredupkan sinarnya,
laki-laki itu berlutut seraya mengucapkan kalimat singkat yang penuh makna. Tak
lupa kotak beludru bewarna merah itu ia persembahkan pada wanita pujaannya.
Napas Riani
tertahan. Refleks Riani menutup mulutnya agar tak ada suara yang keluar. Namun,
itu bukan bagian tersulit. Ia bahkan hampir kehilangan kendali saat berusaha
menahan perasaannya yang bergejolak.
Ia kembali
mengintip dua pasang insan itu. Sial, kenapa Tifa justru diam saja. Dia dan
Dave kini sama-sama terlihat dungu. Meski begitu Riani tak mau mendengar Tifa
mengiyakan permintaan laki-laki itu. Andai Tifa bisa menjadi bodoh seperti itu
terus.
Rasa cemburu itu
menggerogotinya sampai ia tak sadar kalau tangannya merogoh ponsel. Jemarinya
sibuk mencari-cari sebuah nomor. Begitu ia temukan nomor tersebut tanpa
ragu-ragu ia tekan tombol memanggil.
‘Maafkan aku, Tif.’
Riani buru-buru
memacu langkahnya. Saking cepatnya ia berlari sampai-sampai ia lupa kalau ia
menuruni bukit yang cukup terjal, untung saja ia tak terpeleset dan tamatlah
riwayatnya di sana. Ia menarik napas panjang saat ia yakin kalau jaraknya sudah
lumayan jauh.
Saat ia sibuk
mengatur napasnya, sebuah pesan masuk. Tak pernah terpikir siapa pengirim pesan
itu. Namun, isi dan nama si pengirim membuat Riani tak kuasa menahan air mata
penyesalan.
[Terima kasih, Ri]
[From: Tifa]
ooOoo
Andai Riani punya sedikit kekuatan Hulk, mungkin sudah
sejak tadi ia remukkan ponsel pintar itu.
Dia sudah melakukan kesalahan besar, tapi Tifa justru
berterima kasih padanya. Semua ini terkesan tidak masuk akal. Akan lebih baik
bila Tifa marah atau membencinya. Itu akan membuat dirinya lebih baik, tapi
situasinya justru berbalik.
Sekarang apa? Tifa sepertinya tertidur pulas berkat
perbuatannya kemarin, padahal ia melakukannya semata-mata hanya untuk
melampiaskan rasa cemburunya. Tak ada yang menghukum dosanya, hanya hati
nuraninya yang terus-menerus mengutuknya.
‘ Pantai itu,
matahari itu, lamaran itu, kuharap aku bisa mengulanginya semua…’
ooOoo
Ririn yang sedari tadi berkutat pada ‘The Maze Runner’-nya akhirnya menyerah
pada sinyal kantuk kiriman dari otak. Andani tak dapat menahan senyum geli saat
melihat sahabatnya itu tertidur dengan cara yang lucu. Kepalanya tertunduk
dalam dengan halaman buku yang tetap terbuka, seolah-olah gadis itu masih
menekuri bukunya.
Andani berusaha menghabiskan waktunya untuk terlelap.
Namun, syaraf-syaraf di kepalanya tak juga mengirimkan perintah untuk membuat
matanya terpejam. Pikirannya melayang-layang pada pembicaraannya bersama salah
seorang dari si kembar Hasegawa. Pemuda yang ia yakini beranama Jiro itu berhasil memainkan perasaannya sampai pagi
ini. Bukan perasaannya pada laki-laki itu, tapi pada Anjani.
ooOoo
Andani merasa
sedikit iri pada Ririn karena sahabatnya itu hanya bertugas menjadi pengangkut
piring-piring kotor. Andai saja tadi ia menang suit, mungkin saat ini ia tidak
harus berurusan dengan makanan sisa dan dinginnya air.
Ia memang tida sendiri.
Banyak anggota yang bernasib sama dengannya, termasuk salah satu dari kembar
Hasegawa, Jiro. Meskipun kembar tampaknya keberuntungan mashing-masing orang
berbeda. Buktinya Hiro santai-santai saja dengan tugasnya, sementara Jiro harus
berjibaku malam ini.
Namun, kehadiran
Jiro justru membawa berkah bagi tim pencuci piring. Setidaknya mereka masih
bisa cuci mata di tengah-tengah cucian piring yang menumpuk. Sebagian dari
mereka justru lebih suka dekat-dekat dengan laki-laki ini ketimbang meneruskan
pekerjaan. Tampaknya Jiro mulai risih dengan perlakuan mereka, ia pun lebih
suka mendekati Andani yang terlihat fokus pada pekerjaannya.
“ Kupikir kamu
lebih suka didekati oleh gadis-gadis,” ujar Andani saat Jiro mendekatinya.
“ Aku ini musisi
bukan idol. Jadi, aku gak terbiasa dengan fans,” Jiro terkekeh. “Wah, gadis-gadis
Indonesia sekarang mulai agresif ya.”
Andani terkekeh,
“ Kami ini murid sekolah khusus wanita. Jarang melihat cowok ganteng. Mungkin
karena itu mereka bersaing untuk mendapatkan cowok ganteng. Bisa dibilang kami
ini putri raja kalau di sekolah, tapi putri singa pas lihat cowok ganteng.”
“ Waaah, murid
macam apa itu?” tawa Jiro pecah. “ Lalu kamu sendiri ada di posisi mana?”
“ Tentu saja aku
bukan di antara mereka,” Andani mengangkat bahunya. “ Aku ini musisi, bukan
pemangsa pria.”
Percakapan
dengan Andani ternyata mampu membuat perasaan Jiro lebih nyaman. Tidak seperti
dengan gadis-gadis lain yang terus merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan
tidak penting.
“ Oh ya,
ngomong-ngomong bagaimana kabar saudarimu? Apa dia berhasil dengan kontesnya?”
“ Belum tahu karena
perjalanannya masih panjang. Dia baru lulus seleksi pertama, masih ada beberapa
seleksi lagi untuk masuk sebagai finalis tetap. Setelah itu pun dia berjuang
untuk memertahankan posisinya supaya tidak tereleminasi dan masuk final,”
Andani menghela napas panjang. “ Aku yakin dia sedang berusaha keras sekarang
dan aku berharap dia bisa terus lolos sampai ke final.”
Jiro tersenyum,
“ Ucapanmu tidak seperti tatapan matamu waktu itu.”
Andani spontan
menghentikan aktivitas mencuci piring, lalu menatap Jiro, “ Aku masih gak
ngerti dengan ucapan kamu waktu itu. Memang kenapa dengan tatapanku waktu itu?”
“ Sudah
kubilang’kan kalau tatapanmu itu penuh dengan rasa iri sekaligus bangga karena
orang yang kamu lihat waktu itu sudah berhasil melampauimu. Tatapan seperti itu
hanya ada pada orang yang bersaing sehat atau saudara kandungnya sendiri.”
Andani kembali
menghela napas, “ Aku gak tahu darimana kamu menyimpulkannya, tapi yaaa aku
memang merasa begitu. Aku senang dia bisa masuk kontes itu, di sisi lain aku
juga merasa tersaingi, tapi sumpah aku tak pernah berpikir kalau aku harus
bersaing dengannya. Hanya saja―”
“ Hanya apa?”
Andani
menggeleng, “ Sudahlah, kamu gak perlu mengorek-ngorek hidupku lebih jauh lagi.
Aku gak minat membahasnya dengan orang yang baru dikenal.”
Jiro bersiul, “
Waah, aku patah hati mendengarnya,” lalu ia tertawa. “ Baiklah, mungkin aku
juga sudah melanggar batas privasimu. Aku tak akan bertanya lagi. Oh ya,
ngomong-ngomong, Hiro titip salam sama saudarimu. Siapa namanya? Andani ya?”
“ Anjani! Kalau
Andani itu aku!” jawab Andani sambil berdecak. Ia suka kesal kalau orang salah
mengeja nama mereka. Padahal mereka dengan mudah bisa dibedakan. Laki-laki itu
pun tertawa.
“ Maaf, maaf,
aku lupa anak kembar memang suka sensitif kalau salah sebut nama.”
Andani hanya
mendumal dalam hati. Namun, dialog singkatnya dengan laki-laki ini membuatnya
kenangannya bersama Anjani perlahan membanyangi. Ia merindukan saudarinya
sekarang, tapi apakah saudarinya juga merasakan hal yang sama?
ooOoo
‘ Aku berharap
dia bisa sedikit memikirkan perasaanku’
Lamunan Andani sontak terbuyar saat bis mereka
melewati lubang yang sedikit dalam. Bis mereka bergoyang hebat, bahkan Ririn
yang sedang tertidur pulas pun sampai terbangun. Bukan karena goncangannya,
tetapi karena kepalanya terantuk keras di jendela.
“ Awww, sial,” gadis itu meringis sambil mengusap-usap
kepalanya. “ Kenapa aku sial amat sih!”
Andani tak dapat menahan tawanya. Kasihan juga gadis
itu. Pasti tadi ia sedang bertarung di dalam labirin bersama Thomas dan Minho,
tapi tiba-tiba ditarik ke dunia nyata dengan cara yang tidak menyenangkan.
“ Ya udah, tidur lagi gih sana. Gak usah menggerutu
gitu,” ujar Andani.
“ Nyut-nyutan tahu!” omel Ririn.
Tak peduli dengan gerutuan penumpang, bis itu terus
melaju kencang. Menembus jalanan berdebu dengan sejuta resiko yang bisa muncul
kapan saja. Membawa semua anggota Love Musical untuk kembali pada alur
kehidupan mereka. Masa bersenang-senang telah selesai, masalah besar pun sudah
menunggu mereka di sana. Satu persatu rahasia pun akan terbongkar.
Author’s Note:
Heyaaah… gimana? Udah kerasa belum percikan-percikan api
atau gesekan konflik. Ikiiiieeeewww….
Oh ya, Auhtor mau ralat untuk musikal 54. Tifa dan Dave
terpisah selama 13 tahun bukan 23 tahun. Author typo…
Mau tau kelanjutannya? Tungguin update minggu depan, ciaooo….
please comment and share
wew author , ier suka sama adegan pacar nya di priyanka hahaha
BalasHapus*lagi doyan adegan yg gitu*
sama bagian "surga dunia arah jam lima" hahaha
ditunggu selanjut nya *__*
eh tunggu tapi gak tahu kenapa si Dave gak tahu malu banget ya berani ngelamar gitu , kyak gak inget tingkah di masa lalu.
*emosi cerita nya*