Total Tayangan Halaman

Sabtu, 16 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 56)



Musikal 56


Kedua bis itu membawa seluruh anggota LM bertolak ke Palembang. Perjalanan antar kota yang bermil-mil jauhnya pun kembali mereka tempuh. Tidak seperti saat pergi, perjalanan kali ini terasa lebih ringan. Selain karena terlepas dari latihan yang berat, liburan singkat mereka ternyata membawa kesegaran baru.
Ririn hanya bisa meringis saat Alexi menatapi kursi di sebelahnya. Kali ini kursi itu sudah diisi oleh Andani. Kasihan juga laki-laki itu, sepertinya dari kemarin ia tak mendapatkan teman sebangku. Mungkin karena jumlah penumpang bis satu yang ganjil.
“ Di sini kosong?”
Wenda tersentak saat Alexi menegurnya. Ia mengangguk cepat. Kebetulan sekali, padahal sebelumnya ia sempat kesepian karena Anjani tidak ada di sebelahnya.
Tepat di saat Alexi mendudukan pantatnya, Ben tiba-tiba muncul. Wajah laki-laki itu terlihat bingung.
“ Wah, sudah ada Al toh?”
Alexi terkejut, “ Loh, kamu mau duduk di sini, Ben?”
“ Gak, gak apa. Aku bisa duduk di belakang aja,” jawab Ben sambil ngeloyor ke kursi paling belakang.
Byeee, Beeen!” seru Wenda.
Sorry ya, Beeen,” sahut Alexi sambil menengok Ben. Laki-laki itu hanya membalasnya dengan melambaikan tangan tanpa menoleh.
Alexi menghela napas, “ Wah, aku jadi gak enak sama Ben.”
“ Gak apa-apa kok, Al,” Wenda menyahut cepat, takut Alexi berubah pikiran. “Lagian kursi ini harusnya Anjani yang isi. Dia biasanya duduk sama Kemal, tapi dasar Kemalnya yang pengkhianat. Bisa-bisanya dia melobi Kak Santi supaya bisa pindah ke bis dua. Katanya sih ada kakak kelas yang lagi dia taksir.”
“ Temanmu itu parah,” Alexi terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Sayang, faktanya dia temanku juga.”
Wenda tertawa, “ Kayaknya kita berdua sama-sama sial.”
Lagi-lagi Alexi mengeluarkan iPod dan menawari musik pada teman sebangkunya. Wenda juga tak menolak karena ia saat ini butuh hiburan.
‘Cause I cant stop thinking about you girl
Wenda menoleh cepat. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“ Ka—kamu K-Popers?”
Alis Alexi terangkat,” Kenapa? Kamu gak suka?”
“ Bukaaan, cuma yaaa… baru kali ini aku ketemu sama cowok K-Popers juga. Kalau Kemal sama Ben sih suka banget hina-hina musik dari negeri sana. Padahal mereka keren loh, dari dance, musik, dan style-nya. Yah, sebenarnya aku juga K-Popers sih”
“ Aku suka musik mereka. Komposisinya keren seperti yang kamu bilang tadi, dan menurutku gak ada salahnya jadi K-Popers. Asal jangan alay aja.”
‘ Kamu baik, pengertian, dan tampan pula. Itulah kenapa aku suka kamu.’
Wenda tersenyum. Tanpa mereka sadari, mereka berdua sama-sama melantukan lirik lagu itu. Betapa senangnya Wenda menemukan seorang pria dengan komposisi yang sempurna seperti Alexi. Sekarang perjalanan enam jam lebih ini akan terasa lebih indah.
Sesekali ia mencuri-curi pandang pada laki-laki di sebelahnya. Aah, andai Alexi mau melepaskan kacamata pantat botol itu, mungkin suasananya akan menjadi lebih Korea. Wajah tampan seperti itu kenapa harus disembunyikan.
Kalau dulu Wenda menyukai lagu ini karena saat lagu ini rilis jumlah personel Super Junior masih lengkap 13 orang. Namun, sekarang ia punya personel tambahan. Wenda berpikir apakah ia boleh mengubah kata akhir pada lirik lagu tersebut.
‘Cause I can stop thinking about you boy….
ooOoo
Tifa tertidur pulas. Lucunya meski nyenyak, tapi kepalanya tak berhenti bergoyang-goyang. Riani hampi tak kuasa menaha tawanya. Wanita ini mau sadar ataupun tak sadar tetap saja aktif bergerak.
Riani melirik ponsel yang sedari tadi tak lepas dari genggamannya. Entah kenapa ia merasa sangat berdosa saat menatap benda kotak bewarna merah muda itu. Lalu perhatiannya beralih pada wanita di sebelahnya. Hanya dengan menatapnya saja, Riani seperti dihujani ribuan anak panah. Semua anak panah itu mengarah tepat ke ulu hatinya.
Sesak. Anak panah itu tak hanya menancap, tapi juga mengoyak-ngoyakkan perasaannya. Namun, ia tak bisa menghindari serangan itu dan hanya bisa menyesali perbuatanna. Andai kemarin ia lebih memilih akal sehat ketimbang perasaan, mungkin sekarang ia bisa duduk tenang di kursinya.
Semua bermula saat mereka asyik bercengkrama di pantai….
ooOoo

“ Iyaaa, tapi kamu yang mengajak mereka. Seharusnya kamu yang masuk neraka duluan.”

Riani dan kedua temannya ini tertawa saat Dave mengomel. Omelan laki-laki itu berhenti saat seseorang meneleponnya. Dave mengambil telepon dari saku celananya. Mungkin karena tergesa-gesa, ada sebuah benda yang ikut menyembul keluar.

Riani menangkap jelas benda bewarna merah itu. Bentuknya kotak dan berbahan beludru. Seketika napasnya tercekat. Ia sudah tahu benda apa itu. Namun, Dave buru-buru memasukkan ponselnya kembali sehingga kotak itu ikut terdorong masuk.

‘Mu—mungkinkah Dave akan melamar Tifa?’

Persentase kemungkinannya tentu saja sangat tinggi. Riani tak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi, tapi ia mau apalagi. Ia kini seorang istri beranak satu dan untuk apa ia mencegah semua itu terjadi. Bisa-bisa ia dianggap sebagai wanita yang tak tahu diri.

Lamunannya terbuyar saat mereka mendengar ada keributan dari beberapa muridnya. Mereka bergegas menuju tempat kejadian. Ternyata beberapa muridnya memang sedang bersiteru dengan segerombolan orang tak dikenal.

Di luar dugaan ternyata Tifa bisa meredam perseteruan itu. Ia sendiri juga kaget saat tahu Tifa bisa melakukan perlawanan pada laki-laki yang menjadi biang kerok. Amerika banyak mengubah kepribadian gadis itu.

Namun, hal buruk yang ia pikirkan terjadi setelah itu. Dave mengajak Tifa pergi ke suatu tempat. Entah angin apa yang menyeret kakinya untuk mengikuti mereka. Akal sehatnya seperti lenyap di telan bumi.

Riani mengendap-ngendap mengikuti langkah keduanya. Dave mengajak Tifa menaiki sebuah bukit. Riani merasa dirina mulai kelelahan. Tifa saja yang selalu bersemangat saja kewalahan, apalagi dia yang sudah jarang berolahraga. Dave memang kertelaluan, tapi perbuatannya justru memalukan.

Cahaya matahari semakin memerah, pertanda sebentar lagi sang raja siang akan tertidur. Riani bersenyembunyi di balik semak-semak. Jantunnya berdegup tak karuan menunggu detik-detik lamaran Dave. Tepat di saat sang surya meredupkan sinarnya, laki-laki itu berlutut seraya mengucapkan kalimat singkat yang penuh makna. Tak lupa kotak beludru bewarna merah itu ia persembahkan pada wanita pujaannya.

Napas Riani tertahan. Refleks Riani menutup mulutnya agar tak ada suara yang keluar. Namun, itu bukan bagian tersulit. Ia bahkan hampir kehilangan kendali saat berusaha menahan perasaannya yang bergejolak.

Ia kembali mengintip dua pasang insan itu. Sial, kenapa Tifa justru diam saja. Dia dan Dave kini sama-sama terlihat dungu. Meski begitu Riani tak mau mendengar Tifa mengiyakan permintaan laki-laki itu. Andai Tifa bisa menjadi bodoh seperti itu terus.

Rasa cemburu itu menggerogotinya sampai ia tak sadar kalau tangannya merogoh ponsel. Jemarinya sibuk mencari-cari sebuah nomor. Begitu ia temukan nomor tersebut tanpa ragu-ragu ia tekan tombol memanggil.

‘Maafkan aku, Tif.’

Riani buru-buru memacu langkahnya. Saking cepatnya ia berlari sampai-sampai ia lupa kalau ia menuruni bukit yang cukup terjal, untung saja ia tak terpeleset dan tamatlah riwayatnya di sana. Ia menarik napas panjang saat ia yakin kalau jaraknya sudah lumayan jauh.

Saat ia sibuk mengatur napasnya, sebuah pesan masuk. Tak pernah terpikir siapa pengirim pesan itu. Namun, isi dan nama si pengirim membuat Riani tak kuasa menahan air mata penyesalan.

[Terima kasih, Ri]
[From: Tifa]

ooOoo

Andai Riani punya sedikit kekuatan Hulk, mungkin sudah sejak tadi ia remukkan ponsel pintar itu.

Dia sudah melakukan kesalahan besar, tapi Tifa justru berterima kasih padanya. Semua ini terkesan tidak masuk akal. Akan lebih baik bila Tifa marah atau membencinya. Itu akan membuat dirinya lebih baik, tapi situasinya justru berbalik.

Sekarang apa? Tifa sepertinya tertidur pulas berkat perbuatannya kemarin, padahal ia melakukannya semata-mata hanya untuk melampiaskan rasa cemburunya. Tak ada yang menghukum dosanya, hanya hati nuraninya yang terus-menerus mengutuknya.

‘ Pantai itu, matahari itu, lamaran itu, kuharap aku bisa mengulanginya semua…’

ooOoo

Ririn yang sedari tadi berkutat pada ‘The Maze Runner’-nya akhirnya menyerah pada sinyal kantuk kiriman dari otak. Andani tak dapat menahan senyum geli saat melihat sahabatnya itu tertidur dengan cara yang lucu. Kepalanya tertunduk dalam dengan halaman buku yang tetap terbuka, seolah-olah gadis itu masih menekuri bukunya.

Andani berusaha menghabiskan waktunya untuk terlelap. Namun, syaraf-syaraf di kepalanya tak juga mengirimkan perintah untuk membuat matanya terpejam. Pikirannya melayang-layang pada pembicaraannya bersama salah seorang dari si kembar Hasegawa. Pemuda yang ia yakini beranama Jiro itu  berhasil memainkan perasaannya sampai pagi ini. Bukan perasaannya pada laki-laki itu, tapi pada Anjani.

 ooOoo

Andani merasa sedikit iri pada Ririn karena sahabatnya itu hanya bertugas menjadi pengangkut piring-piring kotor. Andai saja tadi ia menang suit, mungkin saat ini ia tidak harus berurusan dengan makanan sisa dan dinginnya air.

Ia memang tida sendiri. Banyak anggota yang bernasib sama dengannya, termasuk salah satu dari kembar Hasegawa, Jiro. Meskipun kembar tampaknya keberuntungan mashing-masing orang berbeda. Buktinya Hiro santai-santai saja dengan tugasnya, sementara Jiro harus berjibaku malam ini.

Namun, kehadiran Jiro justru membawa berkah bagi tim pencuci piring. Setidaknya mereka masih bisa cuci mata di tengah-tengah cucian piring yang menumpuk. Sebagian dari mereka justru lebih suka dekat-dekat dengan laki-laki ini ketimbang meneruskan pekerjaan. Tampaknya Jiro mulai risih dengan perlakuan mereka, ia pun lebih suka mendekati Andani yang terlihat fokus pada pekerjaannya.

“ Kupikir kamu lebih suka didekati oleh gadis-gadis,” ujar Andani saat Jiro mendekatinya.

“ Aku ini musisi bukan idol. Jadi, aku gak terbiasa dengan fans,” Jiro terkekeh. “Wah, gadis-gadis Indonesia sekarang mulai agresif ya.”

Andani terkekeh, “ Kami ini murid sekolah khusus wanita. Jarang melihat cowok ganteng. Mungkin karena itu mereka bersaing untuk mendapatkan cowok ganteng. Bisa dibilang kami ini putri raja kalau di sekolah, tapi putri singa pas lihat cowok ganteng.”

“ Waaah, murid macam apa itu?” tawa Jiro pecah. “ Lalu kamu sendiri ada di posisi mana?”

“ Tentu saja aku bukan di antara mereka,” Andani mengangkat bahunya. “ Aku ini musisi, bukan pemangsa pria.”

Percakapan dengan Andani ternyata mampu membuat perasaan Jiro lebih nyaman. Tidak seperti dengan gadis-gadis lain yang terus merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting.

“ Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kabar saudarimu? Apa dia berhasil dengan kontesnya?”

“ Belum tahu karena perjalanannya masih panjang. Dia baru lulus seleksi pertama, masih ada beberapa seleksi lagi untuk masuk sebagai finalis tetap. Setelah itu pun dia berjuang untuk memertahankan posisinya supaya tidak tereleminasi dan masuk final,” Andani menghela napas panjang. “ Aku yakin dia sedang berusaha keras sekarang dan aku berharap dia bisa terus lolos sampai ke final.”

Jiro tersenyum, “ Ucapanmu tidak seperti tatapan matamu waktu itu.”

Andani spontan menghentikan aktivitas mencuci piring, lalu menatap Jiro, “ Aku masih gak ngerti dengan ucapan kamu waktu itu. Memang kenapa dengan tatapanku waktu itu?”

“ Sudah kubilang’kan kalau tatapanmu itu penuh dengan rasa iri sekaligus bangga karena orang yang kamu lihat waktu itu sudah berhasil melampauimu. Tatapan seperti itu hanya ada pada orang yang bersaing sehat atau saudara kandungnya sendiri.”

Andani kembali menghela napas, “ Aku gak tahu darimana kamu menyimpulkannya, tapi yaaa aku memang merasa begitu. Aku senang dia bisa masuk kontes itu, di sisi lain aku juga merasa tersaingi, tapi sumpah aku tak pernah berpikir kalau aku harus bersaing dengannya. Hanya saja―”

“ Hanya apa?”

Andani menggeleng, “ Sudahlah, kamu gak perlu mengorek-ngorek hidupku lebih jauh lagi. Aku gak minat membahasnya dengan orang yang baru dikenal.”

Jiro bersiul, “ Waah, aku patah hati mendengarnya,” lalu ia tertawa. “ Baiklah, mungkin aku juga sudah melanggar batas privasimu. Aku tak akan bertanya lagi. Oh ya, ngomong-ngomong, Hiro titip salam sama saudarimu. Siapa namanya? Andani ya?”

“ Anjani! Kalau Andani itu aku!” jawab Andani sambil berdecak. Ia suka kesal kalau orang salah mengeja nama mereka. Padahal mereka dengan mudah bisa dibedakan. Laki-laki itu pun tertawa.

“ Maaf, maaf, aku lupa anak kembar memang suka sensitif kalau salah sebut nama.”

Andani hanya mendumal dalam hati. Namun, dialog singkatnya dengan laki-laki ini membuatnya kenangannya bersama Anjani perlahan membanyangi. Ia merindukan saudarinya sekarang, tapi apakah saudarinya juga merasakan hal yang sama?
  

ooOoo

‘ Aku berharap dia bisa sedikit memikirkan perasaanku’

Lamunan Andani sontak terbuyar saat bis mereka melewati lubang yang sedikit dalam. Bis mereka bergoyang hebat, bahkan Ririn yang sedang tertidur pulas pun sampai terbangun. Bukan karena goncangannya, tetapi karena kepalanya terantuk keras di jendela.

“ Awww, sial,” gadis itu meringis sambil mengusap-usap kepalanya. “ Kenapa aku sial amat sih!”

Andani tak dapat menahan tawanya. Kasihan juga gadis itu. Pasti tadi ia sedang bertarung di dalam labirin bersama Thomas dan Minho, tapi tiba-tiba ditarik ke dunia nyata dengan cara yang tidak menyenangkan.

“ Ya udah, tidur lagi gih sana. Gak usah menggerutu gitu,” ujar Andani.

“ Nyut-nyutan tahu!” omel Ririn.

Tak peduli dengan gerutuan penumpang, bis itu terus melaju kencang. Menembus jalanan berdebu dengan sejuta resiko yang bisa muncul kapan saja. Membawa semua anggota Love Musical untuk kembali pada alur kehidupan mereka. Masa bersenang-senang telah selesai, masalah besar pun sudah menunggu mereka di sana. Satu persatu rahasia pun akan terbongkar.


Author’s Note:

Heyaaah… gimana? Udah kerasa belum percikan-percikan api atau gesekan konflik. Ikiiiieeeewww….

Oh ya, Auhtor mau ralat untuk musikal 54. Tifa dan Dave terpisah selama 13 tahun bukan 23 tahun. Author typo…

Mau tau kelanjutannya? Tungguin update minggu depan, ciaooo….


                                                                please comment and share





 

1 komentar:

  1. wew author , ier suka sama adegan pacar nya di priyanka hahaha
    *lagi doyan adegan yg gitu*
    sama bagian "surga dunia arah jam lima" hahaha

    ditunggu selanjut nya *__*

    eh tunggu tapi gak tahu kenapa si Dave gak tahu malu banget ya berani ngelamar gitu , kyak gak inget tingkah di masa lalu.
    *emosi cerita nya*

    BalasHapus