Total Tayangan Halaman

Sabtu, 08 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 85)




Musikal 85

[Dia sudah lebih baik, tapi besok dia akan absen sekolah dan latihan. Surat dokternya ada padaku]
[From: Priyanka]

Alexi bernapas lega saat membaca pesan singkat Priyanka. Ia menuliskan balasan terima kasih sebelum ia menyimpan ponselnya.
“ Dari tadi kamu intip-intip ponsel melulu,” keluh Nadia. “ Pacarmu?”
“ Bukan, ini dari teman.”
“ Hanya teman?”
“ Beneran teman,” desah Alexi. “ Tapi pesan dari temanku ini yang aku tunggu.”
“ Begitu. Baiklah, kalau begitu kamu sudah bisa konsentrasi latihan’kan?”
Alexi mengangguk. Ia kembali mengharmonisasikan melodinya dengan permainan Nadia. Keduanya bermain dengan sangat baik, bahkan mereka memainkannya sampai dua kali nonstop. Sebelum permainan ketiga, Nadia meminta waktu istirahat.
“ Permainanmu sudah lebih baik dari yang kemarin, tapi tetap saja aku merasa jiwamu sedang tidak ada di sini.”
“ Maaf ya, Nad. Aku janji nanti tidak akan mempermalukanmu di depan undangan.”
“ Kupegang janjimu,” Nadia tertawa, lalu menyesap air mineralnya. “ Ngomong-ngomong pacarmu sekarang sedang apa? Kamu yakin dia tidak tahu?”
Alexi mengangkat bahu, “ Mungkin saat ini dia sedang menghabiskan waktu bersama teman-temannya.”
ooOoo
Meski Alexi hanya asal bicara, tapi tebakannya tidak meleset. Saat ini Wenda sedang berkeliling mall bersama Anjani, Ben, dan Kemal. Keempat sahabat ini sedang bersenang-senang menghabiskan waktu senggangg mereka.
Ralat. Mungkin hanya Wenda yang menyukai jalan-jalan mereka kali ini.
Bila biasanya keempat sahabat ini menghabiskan waktu dengan menonton, karaoke, atau sekadar numpang wifi gratis di kafe, kali ini mereka harus mau menemani Wenda berbelanja kosmetik. Ben dan Kemal menolak untuk masuk ke salah satu toko kosmetik yang kental dengan warna merah muda. Akhinya, Wenda hanya bersama Anjani yang tinggal di sana.
“ Kalau aku pakai kira-kira mana yang cocok, Jane? Peach atau pink?”
Anjani menggaruk-garuk tengkuknya. Mana dia tahu soal kosmetik. Sepanjang hidupnya ia hanya mengenakan bedak tipis. Kalau pun ia pernah bermake up ketika mengikuti kompetisi menyanyi, itu karena bantuan dari penata rias yang sudah disediakan oleh panitia.
“ Memangnya baju kamu warnanya apa?”
“ Hmm, hijau tosca.”
“ Kenapa gak pakai lipstik yang kamu pakai kemarin pas ke sekolah?”
Liptin,” koreksi Wenda.
“ Iya deh, apa pun itu,” keluh Anjani. “ Nah, kenapa gak pakai yang itu aja?”
“ Masa pergi ke pesta formal pakai liptin? Gak kinclong dong. Harus pakai yang matte biar cantik.”
Anjani mendesah berat. Harusnya ia ikut Ben dan Kemal menunggu di luar.
“ Jadi, kamu ngajakin kita semua ke sini cuma nemenin kamu belanja beginian?” omel Anjani. “ Bahkan kamu gak ngajak-ngajak kami.”
Wenda tertawa, “ Undangannya cuma satu sih. Kalau aku sudah jadi pacar Alexi, baru deh aku minta untuk kalian juga. Makanya kalian doain aku supaya beneran jadian dengan dia.”
Anjani mendumal kesal. Ia tak mengerti kenapa temannya ini begitu terjebak dalam mimpinya yang fana. Ia memang tak tahu apa yang membuat Wenda begitu tergila-gila pada si kacamata, tapi satu hal yang Wenda tak sadar. Gadis itu tak tahu apakah Alexi juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan.
“ Jadi, yang mana? Pink or peach?”
Saat mata Anjani tertuju pada lipstik yang ada di tangan kanan Wenda, ia teringat akan warna wortel. Nah, kebetulan sekali baju Wenda warnanya hijau. Anjani pun menunjuk warna peach sebagai pilihannya. Mungkin akan mirip dengan wortel dengan daunnya, meski warna yang dimaksudkan Wenda adalah hijau tosca dan peach.
“ Ah, sudah kuduga. Baiklah, aku pilih yang ini. Hebat juga pilihanmu, Jane,” Wenda pun memasukkan lipstik itu ke keranjang belanja. “ Oke, sekarang kita beli parfum. Aku mau yang aroma vanilla.”
‘ Apa? Jadi, penderitaanku masih panjang?’
ooOoo
“ Haduuuh, lama banget sih. Makanya aku paling males kalau disuruh nemenin cewek belanja.”
“ Sabaaar, gitulah cewek. Kalo gini aja kamu menggerutu, masa jomblomu akan bertambah panjang.”
Ben mendesah panjang. Kepalanya tengadah malas. Ia memang kesal karena harus menunggu lama. Namun, ada hal lain yang membuatnya lebih kesal. Sayang, ia tak bisa memastikan apa yang membuatnya lebih kesal.
“ Kenapa sih, Ben? Kamu kayak kehilangan semangat hidup gitu.”
Ben mengangkat bahunya acuh tak acuh.
“ Jangan bilang kamu masih mikirin Wenda.”
Kepala Ben terangkat, lalu ia mendengus kesal.
“ Gimana gak dongkol coba? Kita lama-lama nungguin dia belanja, tapi dia belanja buat ketemuan sama orang lain. Enak juga kalau orang itu beneran pacar dia, lah ini? Ah, gak tahu deh!”
Kemal tersenyum sinis, “ Jealous?”
“ Lebih tepatnya kasihan.”
Kemal mengangguk-anggukkan kepalanya, “ Wenda itu orangnya keras. Percuma aja kita ngomongin dia sekarang. Lebih baik kita tunggu aja hasil akhirnya. Yah, aku sih cuma bisa berharap kalau Alexi juga punya rasa sama Wenda. Jadi, apa yang dia harapkan seenggaknya bisa terwujud.”
“ Bukannya Alexi itu sukanya sama Ririn, ya?”
“ Tapi Ririnnya gak suka sama Alexi. Dia sukanya sama orang lain.”
Kening Ben mengkerut, “ Loh, bukannya mereka berdua deket banget ya? Memangnya Ririn suka sama siapa?”
“ Aku.”
Ben menatap Kemal tak percaya. Saat Kemal terkekeh, Ben pun melemparkan tawa sakartisnya.
Bullshit.”
Kemal masih tertawa, “ Itu sih harapan aku, tapi ternyata dia sukanya sama Adrian.”
“ Adrian? Sejak kapan?” kening Ben kembali terlipat.
“ Hmm, mungkin sejak audisi pemeran utama. Gak tahu kenapa tuh cewek tatapan bersinar banget kalau udah melihat Adrian. Mungkin itu alasannya kenapa dia menolakku.”
“ Whooa, udah ditembak, Mal? Cepat juga kamu.”
“ Iya dong, bro. Kalo kelamaan entar udah diambil orang lain. Kalau pun ditolak seenggaknya kita udah ada usaha, jadi gak ada penyesalan nantinya.”
Ben kembali mendengus. Apa yang dikatan Kemal memang benar. Sayang, ia tak punya keberanian dan rasa percaya diri sehebat sahabatnya itu. Andai saja ia bisa meminjam secuil saja apa yang dimiliki Kemal, mungkin saat ini ia sudah….
“ Hei, guys. Kita udah belanjanya. Sekarang mau kemana?”
Mata Ben teralih pada kantung belanja Wenda. Terlihat cukup sesak di sana. Entah barang apa saja yang ia beli.
“ Katanya tadi mau nonton,” Kemal melirik arlojinya. “ Yuk ah, nanti tiketnya keburu habis.”
Please comment and share

1 komentar:

  1. kurangggggggggggggggggggg~

    cie si ben udah ada pertanda , makin ke sini makin kasihan lihat wenda nya

    BalasHapus