Total Tayangan Halaman

Sabtu, 19 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 101)




Musikal 101

Ririn tak sabar membalik-balik Koran yang baru saja ia terima dari seorang loper. Ketemu! Ririn menemukan lembar yang ia cari. Satu lembar penuh. Ia sendiri tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ia tak dapat menahan senyuman lebar di wajahnya kala melihat berita mengenai pementasan Love Musical ditampilkan satu lembar penuh. Entah berapa uang yang disetorkan Tifa untuk menempatkan berita pementasan mereka sepanjang itu. Atau mungkin Tifa memiliki channel orang dalam?
Apa pun itu Ririn tetap saja bangga kalau nama dan fotonya tertera di sana. Tak hanya itu, sejak berita itu diturunkan tiba-tiba saja jumlah permintaan pertemanan di sejumlah media sosial yang ia punya meningkat. Dari yang sekedar penasaran, berkenalan, bahkan modus sana-sini. Ririn tak menyangka bahwa ia akan selebriti dalam waktu singkat.
Ririn melangkahkan ke sekolah dengan ringan. Ternyata kejutan tak hanya sampai disitu. Ketika ia di muka kelas, matanya langsung tertuju pada sosok gadis yang duduk di sebelah kursinya. Saat gadis itu menoleh, Ririn tak bisa menahan diri untuk tak memekikkan namanya.
“ Andani!!!”
Baik Ririn, maupun Andani keduanya tampak sangat senang. Mereka seperti sudah terpisah berabad-abad lamanya. Kedua gadis itu saling berpelukan melepas rindu.
“ Kamu serius udah boleh masuk sekolah?”
“ Aku bahkan sudah boleh bicara.”
“ Masa? Syukurlah…” Ririn kembali memeluk sahabatnya. “ Aku kangen banget sama kamuuu.”
“ Aku juga,” Andani balas mendekap.
“ Tapi jangan ajak dia bergosip dulu, Rin,” sahut Anjani yang tiba-tiba masuk. “ Dia boleh bicara, tapi jangan banyak-banyak dan terlalu keras.”
“ Jane? Lho, kalian datang berdua’kan? Kamu dari mana?” tanya Ririn bingung.
“ Kami memang datang berdua, tapi tadi ada barangku yang ketinggalan,” ujar Anjani seraya menaruh tas di bangkunya. " Saat aku kembali, kudengar ada ribut-ribut kupikir pasti kalian sedang bernostalgia. Ternyata benar.”
Andani dan Ririn saling bertukar pandang, lalu mereka tertawa. Tak lama kemudian siswa-siswa yang lain berdatangan. Mereka sama terkejutnya dengan Ririn, lalu mengucapkan selamat atas kesembuhan Andani.
“ Hei, kamu nanti ikut latihan gak?” tanya Alexi.
Andani mengangguk semangat, “ Boleh, lagi pula aku sudah lama gak merasakan suasana gedung teater. Ihh, kangeeen bangeeet. Sayang, aku juga masih belum boleh nyanyi.”
“ Gak masalah, yang penting kamu di sana. Ada seseorang yang kesepian banget ketika gak ada kamu,” Alexi memberi kode matanya pada Ririn. Ekspresi gadis itu pun langsung berubah cemberut.
“ Sialan!” makinya seraya mengetukkan ujung pulpennya di bahu Alexi. Laki-laki itu mengaduh, tetapi tetap tertawa.
“ Hai, An. Kamu sudah sembuh?”
Tawa Alexi seketika lenyap saat Wenda menyapa Andani. Ririn pun ikut-ikutan tegang. Entah kenapa mereka masih belum terbiasa bilang berada dalam satu kondisi yang bersamaan.
“ Ah ya, syukurlah aku tidak terlalu lama puasa bicaranya. Terima kasih ya, waktu itu sudah mau datang jenguk.”
Wenda mengangguk, “ Nanti datang ya pas latihan. Miss Tifa pasti senang kamu ada di sana.”
“ Pasti!” jawab Andani seraya tersenyum lebar.
Wenda balas tersenyum, lalu matanya berpindah pada Ririn dan Alexi yang dari tadi terlihat kaku. Dan senyumnya masih belum hilang.
“ Pagi, Al, Rin.”
Alexi dan Ririn sama-sama terkejut ketika Wenda menyapa mereka dengan ramah. Gadis itu tak menunggu untuk dibalas, ia langsung menuju tempat duduknya. Di sisi lain, Ririn masih tak percaya dengan apa yang di dengar barusan. Tanpa ia sadari, bola matanya mengikuti setiap pergerakan Wenda. Tiba-tiba mata mereka bertemu. Ada kecanggungan saat Ririn tertangkap basah sedang mengamati gadis itu.
“ Eh—eh, pagi juga.”
Wenda masih menatapnya beberapa saat. Kemudian seulas senyum tipis tergurat di wajahnya. Setelah itu ia langsung sibuk mengobrol dengan ketiga sahabat baiknya. Refleks, Ririn langsung menoleh pada Alexi. Laki-laki itu hanya mengangkat bahu. Namun, terlihat ekspresi amat lega terpancar dari wajah si kacamata.
Ririn kembali menatap Wenda. Gadis itu terlihat sedang asyik bertukar cerita dengan teman-temannya. Giliran Ririn yang tersenyum lega. Sebuah pagi yang penuh anugrah. Andani kembali masuk. Berakhirnya perselisihan antara ia, Wenda, dan Alexi. Ditambah dengan kemajuan pementasan yang semakin pesat. Rasanya hari ini Ririn bisa melewati hari-harinya dengan tenang.
Semuanya berjalan sama seperti dulu. Semuanya mulai baik-baik saja.
ooOoo
Saat itu para wartawan saling melontarkan pertanyaan yang akan membuat berita mereka makin panas. Mulai dari pertanyaan seputar pementasan, hingga merambah ke ranah gosip. Wartawan-wartawan itu seperti tahu persis bagaimana keadaan Love Musical di balik panggung.
“ Apa selama masa pelatihan ini sudah ada kejadian cinta lokasi? Dan bagaimana saudara Anda sebagai sutradara menanggapi hal itu?”
“ Saya tidak tahu mengenai rumor itu, tapi meskipun memang ada bagi saya tidak masalah. Pementasan ini memang menggabungkan antara siswa laki-laki dan perempuan, jadi bukan tidak mungkin hal semacam itu terjadi. Cinta adalah anugrah apalagi untuk mereka yang berjiwa muda. Bagi saya, biarlah mereka merasakan cinta masa muda mereka.”
Tenang dan diplomatis. Namun, tak seorang pun yang tahu kalau dalam hatinya Tifa benar-benar gondok ketika dilemparkan pertanyaan seperti itu. Baginya pertanyaan itu sangat tidak relevan dengan pembicaraan yang seharusnya.
“ Pertanyaan untuk Fi dan Adrian. Kalian berdua adalah pemeran utama dalam pementasan ini. Ada rumor yang mengatakan kalau kalian berdua terlibat cinta lokasi. Bisa berikan kami konfirmasi?”
Inilah yang membuat Tifa makin jengah. Ingin rasanya ia membubarkan konferensi pers ini. Namun, yang terlihat para wartawan justru lebih semangat mengutip jawaban yang akan dilontarkan oleh Fi atau pun Adrian.
Fi memang ingin memublikasikan hubungan mereka, tapi melihat kondisinya beberapa waktu lalu, ia berbalik arah. Ia tak mau kalau hubungannya justru menjadi bahan olok-olokkan media atau netizen.
“ Sebenarnya—“
Kata-kata Fi terhenti saat ada yang menggenggam tangannya di bawah meja. Refleks, Fi menoleh dan mendapati Adrian sedang mengambil alih jawaban.
“ Ya, kami berpacaran.”
Tak hanya Tifa dan semua anggota LM, tapi Fi ikut-ikutan kaget dengan jawaban Adrian yang begitu frontal. Sebagian dari mereka sudah tahu atau sekadar menduga kalau Fi dan Adrian memang pacaran. Hanya saja mereka tidak menyangka kalau Adrian akan mengungkapnnya di depan umum.
Para kuli tinta itu pun makin bersemangat. Fokus wawancara pun berubah menjadi ajang mengorek gosip.
“ Ya, tapi apa yang terjadi di balik panggung tidak akan memengaruhi yang ada di atas panggung. Di hadapan semua penonton nanti, kami berdua adalah sosok yang berbeda dari orang yang sedang berhadapan dengan kalian saat ini.”
Jawaban diplomatis Adrian berhasil membungkam pertanyaan receh yang dilontarkan wartawan. Wawancara pun kembali pada jalur yang seharusnya.
Fi mendapati wajah Adrian yang tetap tenang. Namun, genggaman tangan mereka semakin erat. Fi hanya bisa melempar senyuman tipis kepada para wartawan. Ia terlalu gugup untuk menanggapi pernyataan Adrian.
Atau mungkin ia terlalu senang karena dengan pengakuan Adrian tadi maka satu Indonesia ini akan tahu hubungan mereka. Mungkin akan ada komentar miring di sana-sini, tapi Fi tidak akan memikirkan hal itu. Baginya hal itu sudah menjadi resiko yang harus ia tempuh. Yang penting Adrian benar-benar mengakui kalau hubungan mereka tak hanya mereka berdua saja yang tahu. Dan yang penting genggaman tangan mereka akan tetap erat seperti saat ini.
Semuanya berjalan sama seperti dulu. Semuanya mulai baik-baik saja.
ooOoo
“ Andani! Senang bertemu denganmu! Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“ Sudah lebih baik, Miss. Tapi yaah… belum bisa seperti dulu.”
“ Tidak usah terlalu dipikirkan. Akan ada saatnya kamu kembali,” Tifa mengulurkan tangannya. “ Welcome back! Apa pun yang terjadi kamu tetap jadi bagian dari kami.”
Andani menjabat tangan Tifa dengan penuh rasa haru. Sutradara yang terkenal galak dan cuek ini, entah kenapa di satu sisi bisa terlihat sangat bijak dan manis. Tak peduli bagaimana keras dan pedasnya ketika sedang latihan, tapi ketika salah satu dari mereka tertimpa masalah, wanita ini selalu memosisikan dirinya seperti orang yang paling dekat. Andani benar-benar menyukai Tifa.
Latihan berlangsung seperti biasa. Hanya saja kali ini mereka sudah bisa mementaskan semua adegan dari awal hingga akhir. Meski sudah lengkap, tapi kesalahan masih banyak dilakukan di sana-sini.
Latihan mereka terganggu sejenak karena kedatangan tamu. Tifa segera menyambut orang-orang yang bertamu itu. Kemudian mengenalkan mereka pada para anggota.
“ Baiklah, semuanya, saya minta perhatian sebentar. Mari saya perkenalkan, mereka adalah tim penata lampu dan sound system. Mereka orang-orang yang saya sewa dari Fakultas Teknik Unsri. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan mereka.”
Meski penampilan mereka tampak urakan, tapi tetap saja kedatangan mereka mengundang perhatian dari gadis-gadis di sana. Kapan lagi coba bisa berkenalan dengan anak-anak teknik dari universitas terkemuka di Sumatra Selatan. Namun, dari semua kegembiraan itu ada satu wajah yang terlihat tidak senang. Orang itu adalah Kemal.
Sejak kedatangan mereka, Kemal langsung menunjukkan ketidaksukaan pada orang-orang itu. Tidak, tapi hanya satu orang dari lima orang itu. Hal itu karena Kemal sangat mengenal siapa orang yang ia tidak sukai itu.
Orang itu bernama Wahid Arrafi Ikhsan.
ooOoo
“ Ehhh, Abangnya Kemal?”
Ririn dan Andani berseru bersamaan ketika mendengar penjelasan dari Anjani dan Ben. Pantas saja, meski wajah Kemal terlihat cemberut, tapi sekarang ia dan laki-laki yang dipanggil Rafi itu langsung terlihat akrab.
“ Lho kupikir Kemal anak sulung,” ujar Ririn. “ Soalnya nama depannya Wahid.”
“ Memangnya kenapa kalo Wahid?” tanya Andani.
“ Wahid’kan dalam bahasa Arab artinya satu. Kupikir karena nama itu dia jadi anak pertama. Lagi pula waktu aku mampir ke rumahnya waktu itu aku gak pernah lihat ada orang lain.”
“ Wahid itu nama kakeknya, bahkan nama ayah Kemal pake Wahid juga,” jawab Ben. “ Bang Rafi ngekost di Indralaya, makanya pas kamu datang waktu itu gak ada orang lain.”
Ririn mengangguk paham. Tanpa sadar ia memandangi kedua kakak-beradik itu.
“ Iya juga ya, kalo pas dilihat-lihat mereka kelihatan mirip,” sambung Andani. “Tapi hubungan mereka gimana? Yaa, maksudku kita semua tahu’kan Kemal itu orangnya gimana. Terus abangnya sendiri orangnya gimana?”
Anjani dan Ben bertukar pandang, lalu mereka kompak tertawa. Kelakuan mereka membuat bingung Ririn dan Andani.
“ Hubungan mereka baik,” Anjani berdeham. “ Kalau kamu memang tahu Kemal, berarti kamu sudah tahu bagaimana abangnya.”
Andani dan Ririn tersentak, “ Maksudnya?”
“ Tuh, coba lihat gimana akrabnya mereka berdua,” Anjani memberi kode dengan dagunya. “ Kalau duo onta itu sudah berkumpul, pasti mereka sedang membicarakan sesuatu.”
“ Se—sesuatu?” tanya Andani.
Anjani mendesah panjang, “ Hunting lover.
ooOoo
“ Ada hubungan apa antara Abang dan Miss Tifa?”
Rafi menggeleng polos, “ Gak ada. Mungkin Miss Tifa-mu itu menyewa sound system berserta mekaniknya. Sebetulnya yang punya usaha itu teman Abang dan Abang cuma bantu-bantu dia aja.”
“ Hmm, kirain.”
“ Kenapa? Kamu pikir Abang mau ambil lahan kamu?” Rafi terkekeh. “ Wah, pantes aja kamu betah di sini. Ceweknya bening-bening. Kenalin sama Abang dong.”
Kemal tersenyum sinis.
“ Dari sekian banyak cewek di sini masa kamu belum nyomot satu, Mal? Lamban banget sih.”
Kemal menunjuk Ririn dengan dagunya, “ Tuh yang ikal di sana. Tapi langsung ditolak.”
“ Hah, ditolak? Seorang Kemal ditolak?” Rafi tanpa sadar mengatakannya dengan suara yang keras. Sampai-sampai Kemal meninju abangnya sendiri. “ Wah, tuh cewek kurang menikmati hidup.”
“ Tunggu sampai Abang kenal sama dia. Baru tahu susahnya pdkt sama cewek kutu buku.”
“ Alaah, cuma kutu buku doang. Kamu kurang pengalaman, Nak,” Rafi masih cekikikan. Namun, tawanya berhenti saat Fi melintas di depan mereka. Fi tak memperhatikan mereka, tapi mata Rafi tak henti mengikuti langkah gadis itu.
“ Jangan yang itu, Bang. Udah susah, ada yang punya pula,” sahut Kemal yang sepertinya dapat membaca pikiran sang kakak.
Raut kekecewaan langsung tergurat di wajah Rafi, “ Iya, ya? Yaah, sayang banget. Padahal mantap tuh cewek.”
“ Wajarlah, namanya juga artis.”
“ Artis? Ooh, jangan-jangan yang main sinetron waktu itu yah? Ada mantan Abang yang suka banget sama tuh sinetron. Lupa judulnya apa, tapi Abang inget sama tuh artisnya. Pantesan kayak gak asing,” Rafi mengangguk paham. “ Btw, pacarnya yang mana?”
Kemal menunjuk Adrian yang sedang berbicara dengan Gloria dan Tifa.
“ Waah, tipe pangeran. Mending gak usah diganggu deh.”
Kemal mengangguk setuju, “ Cari yang lain aja deh. Oh ya, anak IPS di sini kece-kece loh.”
Raut kekecewaan itu seketika berganti menjadi seringai serigala. Rafi segera merangkul pundak adiknya.
“ Mari kenalkan mereka, wahai adikku.”


2 komentar:

  1. wahhhhh~ gombalan Dave ehm banget...

    terus selamat ya ririn , sukses sama peran nya wkwkwk
    itu sebenernya mendalami peran apa melampiaskan amarah betulan kwkw

    nah kemal ada kakak , duo onta wkwkkw
    geli bagian ini , dan wow adrian ... gak nyangka dia yg publikasi hub nya ...

    yey badai belum terlihat , langit masih cerah yey yey yey la la la la

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, sebenarnya gitu. bisa dibilang si Ririn "Sambil menyelam minum air"
      ahahahaha

      Hapus