Musikal 101
Ririn tak sabar membalik-balik Koran yang baru saja ia
terima dari seorang loper. Ketemu! Ririn menemukan lembar yang ia cari. Satu
lembar penuh. Ia sendiri tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ia tak dapat menahan
senyuman lebar di wajahnya kala melihat berita mengenai pementasan Love Musical ditampilkan satu lembar
penuh. Entah berapa uang yang disetorkan Tifa untuk menempatkan berita
pementasan mereka sepanjang itu. Atau mungkin Tifa memiliki channel orang dalam?
Apa pun itu Ririn
tetap saja bangga kalau nama dan fotonya tertera di sana. Tak hanya itu, sejak
berita itu diturunkan tiba-tiba saja jumlah permintaan pertemanan di sejumlah
media sosial yang ia punya meningkat. Dari yang sekedar penasaran, berkenalan,
bahkan modus sana-sini. Ririn tak menyangka bahwa ia akan selebriti dalam waktu
singkat.
Ririn melangkahkan ke
sekolah dengan ringan. Ternyata kejutan tak hanya sampai disitu. Ketika ia di
muka kelas, matanya langsung tertuju pada sosok gadis yang duduk di sebelah
kursinya. Saat gadis itu menoleh, Ririn tak bisa menahan diri untuk tak
memekikkan namanya.
“ Andani!!!”
Baik Ririn, maupun
Andani keduanya tampak sangat senang. Mereka seperti sudah terpisah
berabad-abad lamanya. Kedua gadis itu saling berpelukan melepas rindu.
“ Kamu serius udah
boleh masuk sekolah?”
“ Aku bahkan sudah
boleh bicara.”
“ Masa? Syukurlah…”
Ririn kembali memeluk sahabatnya. “ Aku kangen banget sama kamuuu.”
“ Aku juga,” Andani
balas mendekap.
“ Tapi jangan ajak
dia bergosip dulu, Rin,” sahut Anjani yang tiba-tiba masuk. “ Dia boleh bicara,
tapi jangan banyak-banyak dan terlalu keras.”
“ Jane? Lho, kalian
datang berdua’kan? Kamu dari mana?” tanya Ririn bingung.
“ Kami memang datang
berdua, tapi tadi ada barangku yang ketinggalan,” ujar Anjani seraya menaruh
tas di bangkunya. " Saat aku kembali, kudengar ada ribut-ribut kupikir
pasti kalian sedang bernostalgia. Ternyata benar.”
Andani dan Ririn
saling bertukar pandang, lalu mereka tertawa. Tak lama kemudian siswa-siswa
yang lain berdatangan. Mereka sama terkejutnya dengan Ririn, lalu mengucapkan
selamat atas kesembuhan Andani.
“ Hei, kamu nanti
ikut latihan gak?” tanya Alexi.
Andani mengangguk
semangat, “ Boleh, lagi pula aku sudah lama gak merasakan suasana gedung
teater. Ihh, kangeeen bangeeet. Sayang, aku juga masih belum boleh nyanyi.”
“ Gak masalah, yang
penting kamu di sana. Ada seseorang yang kesepian banget ketika gak ada kamu,”
Alexi memberi kode matanya pada Ririn. Ekspresi gadis itu pun langsung berubah
cemberut.
“ Sialan!” makinya
seraya mengetukkan ujung pulpennya di bahu Alexi. Laki-laki itu mengaduh,
tetapi tetap tertawa.
“ Hai, An. Kamu sudah
sembuh?”
Tawa Alexi seketika
lenyap saat Wenda menyapa Andani. Ririn pun ikut-ikutan tegang. Entah kenapa
mereka masih belum terbiasa bilang berada dalam satu kondisi yang bersamaan.
“ Ah ya, syukurlah
aku tidak terlalu lama puasa bicaranya. Terima kasih ya, waktu itu sudah mau
datang jenguk.”
Wenda mengangguk, “
Nanti datang ya pas latihan. Miss Tifa
pasti senang kamu ada di sana.”
“ Pasti!” jawab
Andani seraya tersenyum lebar.
Wenda balas
tersenyum, lalu matanya berpindah pada Ririn dan Alexi yang dari tadi terlihat
kaku. Dan senyumnya masih belum hilang.
“ Pagi, Al, Rin.”
Alexi dan Ririn
sama-sama terkejut ketika Wenda menyapa mereka dengan ramah. Gadis itu tak
menunggu untuk dibalas, ia langsung menuju tempat duduknya. Di sisi lain, Ririn
masih tak percaya dengan apa yang di dengar barusan. Tanpa ia sadari, bola
matanya mengikuti setiap pergerakan Wenda. Tiba-tiba mata mereka bertemu. Ada
kecanggungan saat Ririn tertangkap basah sedang mengamati gadis itu.
“ Eh—eh, pagi juga.”
Wenda masih
menatapnya beberapa saat. Kemudian seulas senyum tipis tergurat di wajahnya.
Setelah itu ia langsung sibuk mengobrol dengan ketiga sahabat baiknya. Refleks,
Ririn langsung menoleh pada Alexi. Laki-laki itu hanya mengangkat bahu. Namun,
terlihat ekspresi amat lega terpancar dari wajah si kacamata.
Ririn kembali menatap
Wenda. Gadis itu terlihat sedang asyik bertukar cerita dengan teman-temannya.
Giliran Ririn yang tersenyum lega. Sebuah pagi yang penuh anugrah. Andani
kembali masuk. Berakhirnya perselisihan antara ia, Wenda, dan Alexi. Ditambah
dengan kemajuan pementasan yang semakin pesat. Rasanya hari ini Ririn bisa
melewati hari-harinya dengan tenang.
Semuanya berjalan
sama seperti dulu. Semuanya mulai baik-baik saja.
ooOoo
Saat
itu para wartawan saling melontarkan pertanyaan yang akan membuat berita mereka
makin panas. Mulai dari pertanyaan seputar pementasan, hingga merambah ke ranah
gosip. Wartawan-wartawan itu seperti tahu persis bagaimana keadaan Love Musical di
balik panggung.
“ Apa selama masa pelatihan ini sudah ada kejadian
cinta lokasi? Dan bagaimana saudara Anda sebagai sutradara menanggapi hal itu?”
“ Saya tidak tahu mengenai rumor itu, tapi meskipun
memang ada bagi saya tidak masalah. Pementasan ini memang menggabungkan antara
siswa laki-laki dan perempuan, jadi bukan tidak mungkin hal semacam itu
terjadi. Cinta adalah anugrah apalagi untuk mereka yang berjiwa muda. Bagi
saya, biarlah mereka merasakan cinta masa muda mereka.”
Tenang dan diplomatis. Namun, tak seorang pun yang
tahu kalau dalam hatinya Tifa benar-benar gondok ketika dilemparkan pertanyaan
seperti itu. Baginya pertanyaan itu sangat tidak relevan dengan pembicaraan
yang seharusnya.
“ Pertanyaan untuk Fi dan Adrian. Kalian berdua adalah
pemeran utama dalam pementasan ini. Ada rumor yang mengatakan kalau kalian
berdua terlibat cinta lokasi. Bisa berikan kami konfirmasi?”
Inilah yang membuat Tifa makin jengah. Ingin rasanya
ia membubarkan konferensi pers ini. Namun, yang terlihat para wartawan justru
lebih semangat mengutip jawaban yang akan dilontarkan oleh Fi atau pun Adrian.
Fi memang ingin memublikasikan hubungan mereka, tapi
melihat kondisinya beberapa waktu lalu, ia berbalik arah. Ia tak mau kalau
hubungannya justru menjadi bahan olok-olokkan media atau netizen.
“ Sebenarnya—“
Kata-kata Fi terhenti saat ada yang menggenggam
tangannya di bawah meja. Refleks, Fi menoleh dan mendapati Adrian sedang
mengambil alih jawaban.
“ Ya, kami berpacaran.”
Tak hanya Tifa dan semua anggota LM, tapi Fi
ikut-ikutan kaget dengan jawaban Adrian yang begitu frontal. Sebagian dari mereka
sudah tahu atau sekadar menduga kalau Fi dan Adrian memang pacaran. Hanya saja
mereka tidak menyangka kalau Adrian akan mengungkapnnya di depan umum.
Para kuli tinta itu pun makin bersemangat. Fokus
wawancara pun berubah menjadi ajang mengorek gosip.
“ Ya, tapi apa yang terjadi di balik panggung tidak
akan memengaruhi yang ada di atas panggung. Di hadapan semua penonton nanti,
kami berdua adalah sosok yang berbeda dari orang yang sedang berhadapan dengan
kalian saat ini.”
Jawaban diplomatis Adrian berhasil membungkam
pertanyaan receh yang dilontarkan wartawan. Wawancara pun kembali pada jalur
yang seharusnya.
Fi mendapati wajah Adrian yang tetap tenang. Namun,
genggaman tangan mereka semakin erat. Fi hanya bisa melempar senyuman tipis
kepada para wartawan. Ia terlalu gugup untuk menanggapi pernyataan Adrian.
Atau mungkin ia terlalu senang karena dengan pengakuan
Adrian tadi maka satu Indonesia ini akan tahu hubungan mereka. Mungkin akan ada
komentar miring di sana-sini, tapi Fi tidak akan memikirkan hal itu. Baginya
hal itu sudah menjadi resiko yang harus ia tempuh. Yang penting Adrian
benar-benar mengakui kalau hubungan mereka tak hanya mereka berdua saja yang
tahu. Dan yang penting genggaman tangan mereka akan tetap erat seperti saat
ini.
Semuanya berjalan sama seperti dulu. Semuanya mulai
baik-baik saja.
ooOoo
“ Andani! Senang bertemu denganmu! Bagaimana keadaanmu
sekarang?”
“ Sudah lebih baik, Miss. Tapi yaah… belum bisa seperti
dulu.”
“ Tidak usah terlalu
dipikirkan. Akan ada saatnya kamu kembali,” Tifa mengulurkan tangannya. “ Welcome back! Apa pun yang terjadi kamu
tetap jadi bagian dari kami.”
Andani menjabat
tangan Tifa dengan penuh rasa haru. Sutradara yang terkenal galak dan cuek ini,
entah kenapa di satu sisi bisa terlihat sangat bijak dan manis. Tak peduli
bagaimana keras dan pedasnya ketika sedang latihan, tapi ketika salah satu dari
mereka tertimpa masalah, wanita ini selalu memosisikan dirinya seperti orang
yang paling dekat. Andani benar-benar menyukai Tifa.
Latihan berlangsung
seperti biasa. Hanya saja kali ini mereka sudah bisa mementaskan semua adegan
dari awal hingga akhir. Meski sudah lengkap, tapi kesalahan masih banyak
dilakukan di sana-sini.
Latihan mereka
terganggu sejenak karena kedatangan tamu. Tifa segera menyambut orang-orang
yang bertamu itu. Kemudian mengenalkan mereka pada para anggota.
“ Baiklah, semuanya,
saya minta perhatian sebentar. Mari saya perkenalkan, mereka adalah tim penata
lampu dan sound system. Mereka
orang-orang yang saya sewa dari Fakultas Teknik Unsri. Saya harap kalian semua
bisa bekerja sama dengan mereka.”
Meski penampilan
mereka tampak urakan, tapi tetap saja kedatangan mereka mengundang perhatian
dari gadis-gadis di sana. Kapan lagi coba bisa berkenalan dengan anak-anak
teknik dari universitas terkemuka di Sumatra Selatan. Namun, dari semua
kegembiraan itu ada satu wajah yang terlihat tidak senang. Orang itu adalah
Kemal.
Sejak kedatangan
mereka, Kemal langsung menunjukkan ketidaksukaan pada orang-orang itu. Tidak,
tapi hanya satu orang dari lima orang itu. Hal itu karena Kemal sangat mengenal
siapa orang yang ia tidak sukai itu.
Orang itu bernama Wahid
Arrafi Ikhsan.
ooOoo
“ Ehhh, Abangnya Kemal?”
Ririn dan Andani
berseru bersamaan ketika mendengar penjelasan dari Anjani dan Ben. Pantas saja,
meski wajah Kemal terlihat cemberut, tapi sekarang ia dan laki-laki yang
dipanggil Rafi itu langsung terlihat akrab.
“ Lho kupikir Kemal
anak sulung,” ujar Ririn. “ Soalnya nama depannya Wahid.”
“ Memangnya kenapa
kalo Wahid?” tanya Andani.
“ Wahid’kan dalam bahasa
Arab artinya satu. Kupikir karena nama itu dia jadi anak pertama. Lagi pula
waktu aku mampir ke rumahnya waktu itu aku gak pernah lihat ada orang lain.”
“ Wahid itu nama
kakeknya, bahkan nama ayah Kemal pake Wahid juga,” jawab Ben. “ Bang Rafi
ngekost di Indralaya, makanya pas kamu datang waktu itu gak ada orang lain.”
Ririn mengangguk
paham. Tanpa sadar ia memandangi kedua kakak-beradik itu.
“ Iya juga ya, kalo
pas dilihat-lihat mereka kelihatan mirip,” sambung Andani. “Tapi hubungan
mereka gimana? Yaa, maksudku kita semua tahu’kan Kemal itu orangnya gimana. Terus
abangnya sendiri orangnya gimana?”
Anjani dan Ben
bertukar pandang, lalu mereka kompak tertawa. Kelakuan mereka membuat bingung
Ririn dan Andani.
“ Hubungan mereka
baik,” Anjani berdeham. “ Kalau kamu memang tahu Kemal, berarti kamu sudah tahu
bagaimana abangnya.”
Andani dan Ririn
tersentak, “ Maksudnya?”
“ Tuh, coba lihat
gimana akrabnya mereka berdua,” Anjani memberi kode dengan dagunya. “ Kalau duo
onta itu sudah berkumpul, pasti mereka sedang membicarakan sesuatu.”
“ Se—sesuatu?” tanya
Andani.
Anjani mendesah
panjang, “ Hunting lover.”
ooOoo
“ Ada hubungan apa antara Abang dan Miss Tifa?”
Rafi menggeleng
polos, “ Gak ada. Mungkin Miss
Tifa-mu itu menyewa sound system
berserta mekaniknya. Sebetulnya yang punya usaha itu teman Abang dan Abang cuma
bantu-bantu dia aja.”
“ Hmm, kirain.”
“ Kenapa? Kamu pikir
Abang mau ambil lahan kamu?” Rafi terkekeh. “ Wah, pantes aja kamu betah di
sini. Ceweknya bening-bening. Kenalin sama Abang dong.”
Kemal tersenyum
sinis.
“ Dari sekian banyak
cewek di sini masa kamu belum nyomot satu, Mal? Lamban banget sih.”
Kemal menunjuk Ririn
dengan dagunya, “ Tuh yang ikal di sana. Tapi langsung ditolak.”
“ Hah, ditolak?
Seorang Kemal ditolak?” Rafi tanpa sadar mengatakannya dengan suara yang keras.
Sampai-sampai Kemal meninju abangnya sendiri. “ Wah, tuh cewek kurang menikmati
hidup.”
“ Tunggu sampai Abang
kenal sama dia. Baru tahu susahnya pdkt sama cewek kutu buku.”
“ Alaah, cuma kutu
buku doang. Kamu kurang pengalaman, Nak,” Rafi masih cekikikan. Namun, tawanya
berhenti saat Fi melintas di depan mereka. Fi tak memperhatikan mereka, tapi
mata Rafi tak henti mengikuti langkah gadis itu.
“ Jangan yang itu,
Bang. Udah susah, ada yang punya pula,” sahut Kemal yang sepertinya dapat
membaca pikiran sang kakak.
Raut kekecewaan
langsung tergurat di wajah Rafi, “ Iya, ya? Yaah, sayang banget. Padahal mantap
tuh cewek.”
“ Wajarlah, namanya
juga artis.”
“ Artis? Ooh,
jangan-jangan yang main sinetron waktu itu yah? Ada mantan Abang yang suka
banget sama tuh sinetron. Lupa judulnya apa, tapi Abang inget sama tuh
artisnya. Pantesan kayak gak asing,” Rafi mengangguk paham. “ Btw, pacarnya yang mana?”
Kemal menunjuk Adrian
yang sedang berbicara dengan Gloria dan Tifa.
“ Waah, tipe
pangeran. Mending gak usah diganggu deh.”
Kemal mengangguk
setuju, “ Cari yang lain aja deh. Oh ya, anak IPS di sini kece-kece loh.”
Raut kekecewaan itu
seketika berganti menjadi seringai serigala. Rafi segera merangkul pundak adiknya.
“ Mari kenalkan
mereka, wahai adikku.”
wahhhhh~ gombalan Dave ehm banget...
BalasHapusterus selamat ya ririn , sukses sama peran nya wkwkwk
itu sebenernya mendalami peran apa melampiaskan amarah betulan kwkw
nah kemal ada kakak , duo onta wkwkkw
geli bagian ini , dan wow adrian ... gak nyangka dia yg publikasi hub nya ...
yey badai belum terlihat , langit masih cerah yey yey yey la la la la
iyaa, sebenarnya gitu. bisa dibilang si Ririn "Sambil menyelam minum air"
Hapusahahahaha