Musikal 131
Sebuah perahu tanpa
motor terayun-ayun oleh gulungan ombak ringan. Kemilau Sungai Musi begitu
cemerlang akibat pantulan mentari yang sebentar lagi akan menuju tempat
peristirahatannya. Semilir angin yang melintas seharusnya tak membuat tubuh
Ririn menggigil karena pelataran Benteng Kuto Besak saat itu terasa cukup
hangat.
Bukan.
Bukan karena hembusan angin, tapi karena sesosok pemuda yang berada di
sampingnya. Pemuda yang dulu ia puja karena mewarisi pesona sang raja langit.
Namun sekarang tak ubahnya bagaikan sebuah patung yang dipahat dari gumpalan es
Kutub Utara. Raganya masih sama seperti dulu, hanya hatinya saja yang terlanjur
membeku.
“Apa
yang mau kamu bicarakan? Bukannya kamu membawaku ke sini untuk membicarakan
sesuatu?”
Pemuda
itu masih diam. Sampai ia mengatakan sesuatu yang membuat Ririn teperanjat.
“Kamu
mau es krim?”
“Bukannya
kamu yang paling keukeuh melarangku
untuk memakan sesuatu yang dingin-dingin. Kenapa sekarang kamu malah yang
melanggar semua itu? Apa kamu membuat murka Tantemu?”
Adrian
tersenyum sinis, “Tidak akan. Tidak akan sempat dia mau mengurusi pelanggaran
yang dilakukan anggota. Kupikir pementasan ini juga tidak akan selesai sampai
akhir.”
“Apa
karena skandal video itu?” Ririn bertanya dengan hati-hati agar emosi Adrian
tak meledak. “Eh, maksudku, bukannya masalahnya sudah diselesaikan dengan
konferensi pers itu?”
Adrian
tak membalas. Lama tak mengeluarkan jawaban pasti, Ririn pun memutuskan untuk
tak bertanya lagi. Di luar dugaan Adrian justru mengatakan sesuatu.
“Kanker
perut stadium dua.”
Ririn
menoleh dengan sangat cepat, “Apa?”
“Tanteku
menderita kanker perut stadium dua.”
Kanker
perut stadium dua. Rasanya begitu lama otak Ririn mencerna empat kata yang
seharusnya langsung membuatnya terkejut. Entah kenapa Ririn justru menyambungkan
kejadian dimana ia menemukan Tifa pingsan disertai muntahan darah yang
membasahi baju Dave dengan empat kata yang baru saja Adrian ucapkan. Di saat
semua puzzle itu tersusun, barulah ia mengeluarkan seperti orang terkena asma.
“Ja—jadi
yang malam itu?”
Adrian
mengangguk lemah, “Dan ternyata Tanteku sudah menutupi rapat-rapat rahasianya
selama dua tahun ini. Hanya Nenek yang tahu.” Kemudian Adrian mendesah berat. “
Aku masih bisa mengerti kenapa mereka merahasiakan ini padaku, tapi aku masih
belum bisa terima kalau Tanteku masih bisa memikirkan ide gilanya untuk
membangun kembali Love Musical di
tengah kondisinya yang memprihatinkan.”
Ririn
diam sejenak kemudian melanjutkan, “Menurutmu apa Miss Tifa masih merahasiakan sesuatu lagi darimu?”
“Mungkin
iya dan aku yakin rahasia itu pasti akan menuntunku pada alasan Tante membangun
kembali tim teater ini.”
Semilir
angin kembali bertiup. Memberikan suara gemerisik di tengah-tengah kebisuan
mereka.
“Sepertinya
kamu penasaran dengan hubunganku dengan Fi yang sebenarnya.”
Ririn
melirik Adrian sekilas lalu mendesah pendek, “Jika aku boleh tahu.”
Adrian
melemparkan tatapannya pada arus lalu lintas di atas jembatan Ampera. Meski
terlihat kecil, tapi sangat padat. Entah sejak kapan mobilitas di sana menjadi
lambat.
“Selain
yang dikatakan Fi pada konferensi pers itu, semuanya adalah benar. Fi dan aku
memang memiliki hubungan darah. Ayahku memiliki istri lain dan Fi adalah anak
mereka. Kamu mengerti maksudku’kan?”
Ririn
mengangguk kecil.
“Sulit
rasanya membayangkan apa yang sudah terjadi. Padahal sejak dulu aku sudah
memimpikan kalau suatu saat nanti aku dan Fi bisa bersama. Dulu aku memang
menganggap Fi sebagai adikku saja, tapi setelah bertemu dengannya lagi ternyata
rasa sukaku lebih besar daripada yang dulu. Menjadi kekasihnya adalah saat-saat
yang membahagiakan dalam hidupku.
“Sayang
tidak berlangsung lama. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan selalu mengambil
wanita-wanita yang ada di sisiku sebelum aku bisa memberikan kasih sayangku
sepenuhnya. Dulu Ibuku, lalu Fi, dan aku sangat berharap semoga kali ini Tuhan
tidak mengambil Tanteku sebelum hubungan kami kembali membaik.”
Adrian
mendesah panjang. Terdengar sangat berat, sampai-sampai Ririn mengira kalau
laki-laki yang ada di sebelahnya ini sedang menangis. Tidak. Tak setetes pun
air mata yang berhasil menembus pertahanan pemuda itu. Hanya saja tatapannya
sudah jauh menelangsa ke seberang hulu.
“Padahal
yang aku harapkan menjadi adikku adalah kamu, Rin,” Adrian tertawa pahit.
“Mungkin aku terkena karma karena telah membuat zona kakak-adik denganmu.
Padahal gara-gara itu kamu malah jadi suka sama aku.”
Pipi
Ririn memerah menahan malu. Heran, di saat seperti ini kenapa Adrian malah
membahas hal itu. Seolah-olah yang melakukan itu bukan orang yang ada di
sampingnya.
Tawa
Adrian kembali terdengar. Namun, secepat kilat tawa itu berhenti dan kembali
pada tatapannya yang menelangsa.
“Tapi
mungkin lebih baik kamu saja yang menjadi adikku, Rin.”
Tapi mungkin lebih baik kamu saja yang menjadi adikku,
Rin…
Pandangan
Ririn teralih pada laki-laki yang ada di sampingnya. Meski Ririn sudah
menatapnya cukup lama, tapi ekspresi lelaki itu tak tergoyahkan. Matanya tetap
menatap lurus pada hamparan Sungai Musi yang membelah antara ulu dan ilir.
Sekali lagi kalimat itu berdengung di kepalanya.
Tapi mungkin lebih baik kamu saja yang menjadi adikku,
Rin….
Ririn
menundukkan kepalanya. Kali ini tanpa paksaan dan Ririn sangat yakin kata-kata
barusan benar-benar keluar dari relung hati.
Bahwa
Adrian benar-benar menolaknya.
wow bagian karma nya di sorot disini , dan adrian kamu ga sadar skrng masih nyakitin ririn =,=
BalasHapus