Musikal 132
Hari pertama Fi masuk
sekolah pascaskandal. Jika ingin mengikuti kata hati, rasanya enggan untuk
melangkahkan kaki ke sekolah. Hanya saja masih banyak kewajiban yang
menuntutnya untuk tidak membiarkan daftar hadirnya terus-terusan kosong. Mau
tak mau ia harus menegakkan kepalanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Seperti
yang sudah ia prediksi, banyak siswa saling berbisik saat Fi melintas di depan
mereka. Tak perlu menguping karena Fi tahu apa yang mereka bicarakan. Dengan
wajah tenangnya ia tetap melenggang santai.
Begitu
pula ketika ia sampai di kelas. Suasana kelas yang ribut mendadak sepi kala
sosok Fi ada di ambang pintu. Untuk kesekian kali, Fi mencoba tidak
mengacuhkan. Semua gerakannya terlihat tenang dan teratur. Ia tak menyapa siapa
pun (karena biasanya dia juga tidak menyapa siapa pun) dan duduk tenang dengan
ponsel di tangan. Tak berapa lama kemudian Priyanka datang. Mereka hanya
bertukar pandang dan tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai pelajaran
dimulai.
Sampai
di tengah pelajaran Fi meminta izin ke toilet. Semua berjalan seperti biasa
hingga ia mendengar ada rombongan gadis yang sedang membolos pelajaran dan
bersembunyi di toilet.Dari dalam kubikel Fi mendengar
bagaimana anak-anak berceloteh tentang dirinya.
“ Tadi aku lihat si artis abal-abal itu sudah
masuk.”
“ Fi maksudmu?”
“ Tentu saja dia, menurutmu siapa lagi yang
dibicarakan.”
“ Waah, berani juga dia menampakkan diri.
Padahal satu sekolah ini sedang membicarakan dia.”
“ Bukan, tapi se-Indonesia! Wah, kalo aku sih
udah gak berani nampakkin diri.”
Suara-suara itu pun terus berlanjut. Sampai
akhirnya Fi tak tahan lagi hingga memutuskan untuk keluar dari kubikel
tersebut. Sontak hal itu membuat anak-anak yang membicarakannya terkejut.
Suasana tegang langsung menyelimuti ruangan itu.
Bukannya marah justru
Fi bersikap biasa saja. Seolah-olah dia bukan orang yang sedang dibicarakan.
Gadis-gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Bola mata mereka mengikuti
semua pergerakan Fi. Hingga Fi menatap mereka dari balik cermin.
“ Ada apa? Apa ada
yang salah denganku?”
Mereka tak menjawab.
Tak kunjung mendapat jawaban, Fi pun memutuskan untuk meninggalkan mereka.
“Pergi dari sini!
Kamu cuma buat aib untuk sekolah ini!”
Tangan Fi seketika
membeku pada knop pintu. Hatinya langsung panas mendengar perintah pengusiran
itu.
“Benar, sekolah ini
baik-baik saja sampai kamu ada di sini!” sahut anak-anak yang lain. “Seharusnya
kamu gak usah sekolah di sini aja sekalian!”
Fi berbalik kasar. Ia
ingin meluapkan emosinya, tapi tak bisa. Rasanya bukan emosi penuh amarah yang
akan keluar, melainkan ledakan air mata. Ia sudah terlalu lelah menahan amarah,
sampai-sampai semua kemarahannya berganti tangisan hebat. Tidak. Ia tidak mau
menangis di depan orang-orang yang merendahkannya. Namun, sepatah kata saja
yang keluar dari mulutnya akan berakhir dengan lelehan cairan asin.
Tepat di saat Fi akan
membuka mulut, pintu toilet terbuka. Semua terpana dengan kedatangan Priyanka,
lebih-lebih Fi. Namun, Fi tidak tahu apakah Priyanka ada di pihaknya atau
justru menjadi lawannya.
“Wah, ini namanya gak
adil. Masa orang satu dikeroyok oleh banyak orang.”
“Hoo, jadi kamu ke
sini untuk membantunya?”
Priyanka tersenyum
seraya lengan Fi, “Nggak, kami memilih mundur. Terima kasih.”
Priyanka cepat-cepat
menarik Fi keluar dari toilet. Fi mengira Priyanka akan segera membawanya ke
kelas. Tidak. Ternyata Priyanka lebih licik. Dengan cekatan Priyanka mengunci
pintu toilet dari luar. Sontak hal itu membuat gerombolan gadis yang mengganggu
Fi tadi panik. Mereka menggedor-gedor, meminta agar pintu segera dibukakan.
Fi menatap Priyanka
dengan tatapan horor. Namun, Priyanka menempelkan telunjuknya di bibir dengan
sebuah kedipan jahil. Ia kembali menarik lengan Fi.
“Mau kemana?
Kelas’kan ke arah sana!” Fi menunjuk arah yang berlawanan dengan arah ajakan
Priyanka.
“Kalau ke kelas kita
akan segera tertangkap,” Priyanka tersenyum usil. “Sudah kepalang basah menjadi
penjahat, kenapa tidak sekalian saja menceburkan diri menjadi buronan?”
Fi mendesah berat.
Perbuatan Priyanka bukan perbuatan yang baik, tapi bukan juga ide yang buruk.
Ya, lagi pula untuk apa bertahan di tempat yang tidak nyaman. Dengan jemari
yang saling bertaut, keduanya pun memulai debut sebagai daftar orang yang
dicari.
"memulai debut sebagai daftar orang yang dicari." :v
BalasHapus