Total Tayangan Halaman

Minggu, 19 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 137)




Musikal 137

“Kamu suka banget ya sama sungai Musi?”
Adrian tersenyum seraya menyeruput kopinya. Kemarin ia memang mengajak Ririn ke pelataran BKB dan sekarang ia menikmati keindahan sore Sungai Musi di sebuah restoran terapung. Entah kenapa spot ini telah menjadi kesukaannya.
“Gak tahu, mungkin karena bunyi air yang menenangkan,” Adrian tersenyum menggoda. “Dan mungkin karena sama kamu juga.”
Ririn mendengus, “Tempat ini malah jauh dari tenang. Kamu gak dengar apa bunyi klakson yang dari tadi sahut-sahutan? Kayaknya di atas Ampera lagi macet deh.”
“Jadi, kamu mau aku ajak ke perpustakaan yang bau apek itu?”
“Maunya sih gitu,” Ririn kembali mendengus. “Sekarang balik ke persoalan deh. Kenapa kamu ajak aku ke sini lagi?”
“Fi apa kabar?”
Ririn sedikit kaget karena jawaban Adrian jauh dari yang ia duga. Ia tidak menyangka kalau Adrian langsung pada poinnya.
“Yaah, dia baik. Dia belajar dengan baik dan tadi sepintas aku lihat dia makan di kantin bareng Priyanka. Kupikir dia akan baik-baik saja selama nutrisinya terpenuhi.”
 “Begitu…” suara Adrian terdengar kosong. “Tapi maksudku—“
“Ya, aku mengerti apa maksudmu. Sayangnya, aku bukan sahabat Fi. Jadi, aku hampir tidak pernah bicara dengannya. Apa lagi setelah masalah yang terjadi akhir-akhir ini.”
Adrian menyadarkan punggungnya di kursi, “Sepertinya aku salah ajak kencan orang.”
Ririn tersenyum kecil sembari menyesap es kacang.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah bicara pada Fi lagi?”
“Terakhir yang kulakukan adalah menyakitinya dan sekarang aku malah tidak bisa bicara lagi dengannya.”
“Maksudmu setelah kejadian di kafe itu? Memangnya kalian berantem setelah itu?”
“Ada kelanjutannya setelah itu,” pipi Adrian menggembung saat menghembuskan napas. “Tepatnya setelah konferensi pers itu. Aku tahu apa yang dia katakan semua untuk melindungi orang-orang yang terlibat dalam masalah.
“Masalahnya, aku nggak terima dia bilang begitu. Gak tahu kenapa rasanya Fi memutuskanku secara sepihak gitu.”
“Meskipun kalian….”
“Meskipun pada kenyataannya kami memang sudah tidak boleh bersama dalam hubungan ini.”
Ada nada tinggi pada kalimat terakhir Adrian. Meski begitu Adrian belum bisa menumpahkan semua emosi. Tidak. Ia masih bisa menahan yang satu itu.
“Jadi… bantuan apa yang bisa aku tawarkan padamu?”
Jemari Adrian saling bertaut lalu ia sandarkan dahinya di sana. Ia seperti sedang berharap pada Ririn.
“Temani aku. Aku tak bisa menjalaninya sendirian.”
Hati Ririn mulai goyah.
“Aku minta maafkan semua perlakuanku kemarin, tapi untuk saat ini aku benar-benar memohon padamu. Cuma kamu yang bisa mengerti posisiku saat ini.”
Ririn mengumpat dalam hati.
‘Tolak, Rin! Tolak! Ini bukan urusanmu!’
“Baik, kamu bisa mengandalkanku.”
Senyuman yang terpancar di wajah Adrian bagaikan pisau bermata dua untuk Ririn. Mungkin suatu hari nanti ia akan terluka lagi karena senyuman itu.

1 komentar:

  1. karma buat AL yg dulu nyakitin wenda :D ,
    dan adrian kamu gak ada kapok-kapok nya wkwkkw
    mau minta karma susulan? kasihan ririn nya

    BalasHapus