Musikal 140
Fi
memeluk lututnya. Ruangan sudah tak ada orang selain dirinya. Kesepian semakin
menambah dingin hatinya. Perlahan air mata membasahi pipinya.
Kenapa tak ada yang membelanya? Kenapa semua
orang justru menyalahkannya? Dia hanya melakukan sesuatu yang harusnya memang
ia lakukan. Hanya karena sedikit arogan maka semua orang berhak merundungnya.
Cukup. Fi sudah tak tahan lagi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ia
buru-buru menghapus air matanya. Ruangan cukup gelap karena sepertinya tak ada
seorang pun yang berbaik hati untuk menyalakan lampu. Dari suara pintu yang
terbuka terdengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan. Fi langsung
waspada, ia khawatir kalau-kalau penjahat sedang beraksi.
“Permisiii, ada orang di sini?”
Fi agak meragukan kalau orang itu adalah
penjahat karena tidak mungkin seorang penjahat beraksi dengan memberi salam
terlebih dahulu. Meski begitu Fi belun lepas dari perasaan curiga. Mana tahu ia
berurusan dengan sosiopat. Apalagi nada suaranya terdengar seperti laki-laki
“Halooo, permisiii!”
Fi pun menampakkan diri. Seketika laki-laki
itu melompat kaget. Untung dia tidak sampai berteriak.
“Astaganaga, bikin kaget aja! Kirain gak ada
orang!”
Laki-laki itu memperhatikan kaki Fi dengan
seksama. Kemudian ia tersenyum mantap.
“Bagus, ternyata kamu cewek asli.”
“Sialan, kamu pikir aku hantu apa?” omel Fi.
“Eh, kamu ini siapa?”
“Wah, masa kamu gak tahu siapa aku. Padahal
aku tahu loh siapa kamu.”
“Bukannya tadi kamu kira aku ini hantu?”
Lelaki itu tertawa, “Bercanda, aku tahu siapa
kamu. Si cantik pemeran utama’kan? Kemarin aku titip salam sama Kemal buat
kamu.”
Fi tersentak, “Eh, jadi kamu kakaknya Kemal?
Ngapain kamu ke sini?”
“Haduuuh, kamu ini pikun akut yah. Masa kamu
lupa sama petugas lighting kamu
sendiri?”
“Oh, maaf. Aku gak memerhatikan,” jawab Fi
sambil bersedekap.
“Eh, kenapa Cuma kamu yang ada di sini? Mana
yang lain? Tadi pagi aku ditelepo, katanya ada lampu yang rusak. Aku datang ke
sini buat benerin lampunya, tapi pas datang kok malah sepi. Aku kira salah
hari.”
“Tadi ada insiden. Jadi, latihan dipercepat.”
Rafi mengangguk, “Terus kenapa kamu sendirian
di sini? Mana gelap lagi. Nanti kalo kamu diculik kolong wewe loh.”
Fi terkekeh, “Apaan tuh kolong wewe? Hantu
jenis baru ya?”
Rafi tak lantas menjawab. Ia hanya tersenyum
sambil menatap Fi. Gadis itu pun menjadi salah tingkah.
“Kenapa senyum-senyum gak jelas gitu?”
“Aku senyum karena lihat kamu senyum.
Ternyata lebih manis dari yang aku kira.”
Sial, Fi malah jadi merona. Padahal saat ini
bukan waktu yang tepat untuk tersipu.
“Kamu kayaknya lagi ada masalah,” Rafi
menunjuk pipinya. “Tuh, air mata kamu belum kering.”
Buru-buru Fi menghapus sisa air matanya yang
tadi tak sempat ia lap, “Percuma, aku gak bakal cerita sama kamu,” ujar Fi
sambil memalingkan wajah.
“Aku juga gak nuntut kok.”
Rafi tertawa sementara bibir Fi makin manyun.
“Ya udah deh, aku balik lagi besok,” Rafi
melirik arlojinya. “Kamu masih mau di sini? Udah malam loh.”
Fi mendesah pendek. Laki-laki kembali terlihat senang.
“Aku bersedia
menawarkan jasa antar ke rumah.”
“Gak perlu. Aku bisa
sendiri.”
Tepat setelah Fi
keluar dari gedung, petir besar mengagetkannya. Kalau sudah terdengar letusan
dari langit seperti ini maka tak akan diragukan lagi akan turun hujan besar
sebentar lagi.
Melihat Fi mundur
kembali, Rafi tertawa renyah.
“Aku bawa mobil loh,”
Rafi mulai melancarkan aksinya. “Tenang aja, aku bukan pedagang organ tubuh
atau mucikari pencari gadis di bawah umur.”
“Ya udah, awas kalau
nyimpang jauh ya!”
Rafi terkekeh. Seram
juga ternyata membawa tuan putri. Namun, selama perjalanan keduanya lebih
banyak diam. Gadis itu banyak menghabiskan waktunya untuk memandangi ke luar
jendela.
“Ada yang mau
katakan?”
Jangankan menjawab,
melirik pun tidak. Namun, bukan Rafi jika tidak berhasil mendapatkan perhatian
wanita.
“Kalau gitu bicara
apa saja. Rasanya bosan diam-diam saja seperti ini. Radioku sedang rusak.”
“Aku sedang tidak
minat.”
Dan Rafi masih terus
berusaha.
“Kalau begitu aku
boleh tanya. Kapan aku bisa memperbaiki lampu kalian yang rusak itu? Kapan
kalian latihan lagi?”
“Kenapa tidak tanya
adikmu saja?”
“Kan ada kamu di
sini. Kemal di rumah. Mending aku tanya duluan ke kamu.”
Fi mendesah pendek,
“Harusnya lusa, tapi karena insiden tadi kupikir kami tidak akan latihan lagi.”
“Lagi? Maksudmu
insiden ini pernah terjadi sebelumnya?”
“Bukan insiden
macam-macam,” akhirnya perhatian Fi dari jendela sedikit teralih. “Sutradara
kami sakit dan tadi dia pingsan. Makanya latihan kami dipercepat.”
“Sakit apa?”
Fi berpikir sejenak
sebelum langsung menjawab pertanyaan Rafi. Meski Adrian tidak pernah mengatakan
untuk merahasiakan mengenai penyakit Tifa, tapi ia yakin jika ia menyebarkan
berita tentang penyakit Tifa maka skandal besar kedua akan kembali merebak.
Jika itu terjadi maka akan kembali menjadi tersangka.
“Pokoknya cukup
mengkhawatirkan.”
Rafi mengangguk
paham, “Tapi kalau cuma begitu, kenapa kamu malah sendirian di sana? Kamu
ditinggalin teman-temanmu? Atau kamu lagi dikerjain?”
Fi kembali diam. Ia
tak yakin mengatakan pada orang asing, tapi Rafi mungkin bukan tipikal mulut
ember meski bibirnya penuh dengan kata-kata manis.
“Tidak ada keduanya.
Mereka cuma salah paham saja. Aku hanya berniat baik, tapi mereka memandangnya
sebagai sesuatu yang arogan.”
“Hoo, gitu,” Rafi
mengangguk. “Tapi kamu suka kucing’kan?”
Fi menatap Rafi
bingung, “Kenapa tiba-tiba jadi ke kucing sih?”
“Ya, aku cuma tanya
kamu suka kucing gak? Semua kucing ya, termasuk kucing liar yang doyan di
sampahan.”
“Hmm, iya. Aku suka
kucing. Terus apa hubungannya?”
Rafi tersenyum puas,
“Itu artinya kamu bukan penjahat. Ya, kecuali kamu psikopat yang suka kucing.
Hahahaha…”
“Aku masih gak ngerti.”
“Maksudku kamu bukan
orang jahat dan kalau kamu orang jahat kamu gak bakal berbuat jahat. Salah bisa
jadi, tapi kita tentu gak mau menyakiti orang lain, bukan? So, biarkan saja orang benci kita, selama apa yang kita lakukan
adalah murni untuk menolong orang lain.”
Mungkin terdengar
seperti candaan, tapi itu sudah lebih cukup untuk Fi. Orang ini sepertinya
lebih paham dengan apa yang Fi inginkan. Fi hanya butuh sedikit pembelaan
karena ia yakin ia tak melakukan kesalahan.
“Benar rumahmu yang
di depan itu?”
Fi tersentak.
Ternyata cukup lama ia melamun setelah percakapan terakhir mereka. Heran,
kenapa Rafi tak menganggunya di saat lamunan terakhir.
“Kamu ada tamu?”
Sosok Priyanka yang
sedang menunggunya di depan rumah membuat Fi heran. Untuk apa malam-malam
begini gadis itu ada di sana.
“Maaf, aku duluan,”
ujar Fi seraya beringsut turun. Kemudian ia berseru, “Priyanka!”
Priyanka yang tadi
sibuk dengan ponselnya langsung buru-buru menghampiri Fi. Wajahnya terlihat
lega saat Fi memanggil namanya.
“Kamu pulang, Fi? Oh,
syukurlah.”
“Kamu pikir aku
bakalan kabur dari rumah?”
Priyanka mendesah
pendek, “Kamu ini, aku cemas banget sama kamu. Kok kamu malah jutek gitu?”
“Maaf, maaf,” Fi
tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah khawatir.”
Perhatian Priyanka
langsung teralih tatkala Rafi turun dari mobil. Ia sama sekali tak menyangka
kalau Fi bisa diantar pulang dengan laki-laki itu.
“Jangan bilang kamu
pulang sama cowok itu?”
“Sayangnya, aku
bilang,” Fi mendesah panjang.
Priyanka tersengat kaget,
“Oh my God, kok bisa?”
“Cuma kebetulan dan
kamu gak usah mikir macam-macam!”
Priyanka melirik Rafi
sekilas. Pemuda itu langsung mengeluarkan seringai khas Casanova. Mengingatkan
pada playboy cap jempol dari
kelasnya. Priyanka pun jadi bergidik melihatnya.
“Yang jelas aku
baik-baik aja. Sekarang kamu pulang ya, sudah malam. Nanti orang tuamu malah
yang cemas.”
Priyanka mengangguk
lalu memeluk Fi, “Hubungi aku kalau kamu butuh bantuan. Aku bakal selalu ada di
pihak kamu. Maaf ya, tadi aku gak bisa belain kamu.
Fi tersenyum kecil.
Ia balas pelukan itu dengan menepuk pundak sahabatnya.
“Terima kasih.”
Kemudian Fi juga
menoleh pada Rafi, “Terima kasih, eng….”
“Rafi. Ingat namaku!”
“Terima kasih, Kak
Rafi.”
Rafi tersenyum
jumawa. Kemudian ketiga orang itu pun berpisah. Namun, sebelum masuk ke dalam,
Fi masih memerhatikan laju mobil Rafi yang meninggalkan kepulan asap di
depannya. Entah kenapa Fi bisa tersenyum di penutup harinya.
‘Tidak. Aku benar-benar berterima kasih….’
ow w ow.....
BalasHapusakhirnya yg di nanti kan