Musikal 109
Ririn tersenyum kecil
saat menyapa Mori yang sudah menunggunya di depan mobil. Ia mengangguk lalu
menerima ponsel yang dari tadi ia cari-cari. Ketika ia akan kembali ke dalam,
Mori mengatakan sesuatu yang memaksanya kembali berbalik.
“
Tadi saya melihat Adurian-san dan
Tifa-san. Kalau saya mendengar dari
percakapan mereka sepertinya terjadi masalah."
“
Apa saja yang sudah Anda dengar, Mori-san?”
“
Saya dengar semuanya dan saya yakin Ririn-chan
akan terkejut bila saya ceritakan.”
Senyuman
Ririn berubah menjadi kecut, “ Saya juga sudah tahu. Saya harap ini menjadi
rahasia Mori-san saja. Ini menyangkut
aib orang-orang penting di pertunjukkan kami.”
Di
luar dugaan Mori justru tersenyum hangat. Ia mengangguk mantap.
“
Saya mengerti. Saya tidak akan menceritakan pada siapa pun, termasuk pada Jiro-sama dan Hiro-sama.”
“
Terima kasih. Mori-san benar-benar
bijak.”
ooOoo
Meski Mori dan
Priyanka sudah tutup mulut, tapi kegelisahan justru terlihat dari Ririn
sendiri. Memikirkan kejadian tadi, membuat Ririn jadi tak tenang. Berkali-kali
ia melirik ponsel, lalu beralih pada kaca spion. Selama perjalanan, Ririn dan
Mori saling bertukar pandang lewat kaca spion.
“
Lama-lama kamu bisa jatuh cinta sama Mori-san
kalau curi-curi pandang kayak gitu, Ririn-chan.”
Gelagat
aneh Ririn terbaca oleh Hiro. Sontak, kata-kata Hiro membuat Ririn melepaskan matanya
dari kaca spion. Ia menyesali posisi duduknya yang diapit oleh Hiro dan Alexi.
“
Mungkin memang saya lebih menawan daripada Hiro-sama,” sahut Mori santai.
Hiro
dan Jiro serempak tertawa. Mori sengaja mengatakan lelucon seperti itu agar
perhatian mereka teralihkan. Selain itu, leluconnya juga sebagai kode pada
Ririn agar tidak terus-terusan menatapnya. Itu sama saja memberi isyarat bahwa
telah terjadi sesuatu.
Ririn
memang berhenti menatap kaca spion, tapi lagi-lagi kegelisahannya masih tak
dapat ia sembunyikan. Tanpa sadar kakinya bergoyang-goyang seperti orang yang
tak sabar menunggu. Ia juga berkali-kali menggaruk-garuk ujung hidungnya,
bahkan sampai memerah. Kali ini Alexi pun juga bisa membaca gelagat itu.
Dengan
lembut Alexi menyentuh lutut Ririn. Gerakan kaki gadis itu pun berhenti. Ia pun
menatap si kacamata.
“
Tidakkah kamu sadar kalau kakimu bisa melubangi mobil ini?”
Jiro
melirik ke belakang, “ Ririn-chan, doushite?”
“
Benar, pasti ada sesuatu,” Hiro ikut-ikutan menatap Ririn seraya bersandar
dengan satu tangannya. “ Dari tadi kamu gelisah banget.”
Ririn
kembali menatap kaca spion. Mori hanya meliriknya sekilas.
“
Nah, nah, sepertinya Mori-san juga
tahu sesuatu,” ujar Hiro.
Mori
tak mengatakan apa pun. Ia hanya tersenyum seraya terus fokus menyetir.
“
Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Ririn
menggigit bibirnya. Tak tahan lagi, akhirnya ia menelepon Dave.
“
Halo, Om. Apa semua baik-baik saja?”
Suara
Dave terdengar heran, “ Baik-baik saja
maksudmu?”
“
Aku tadi lihat semuanya.”
Ada
jeda yang cukup lama. Kemudian terdengar percakapan Dave dengan seseorang.
Ririn menduga kalau orang yang duduk di sebelahnya adalah Tifa.
“ Adrian pergi entah kemana dan sekarang kami
masih mencarinya.”
Ririn
menarik napas panjang, “ Baiklah, kalau begitu.”
Setelah
Ririn menutup telepon, ia tahu tatapan orang-orang di sekitarnya semakin
mengintrograsinya. Sekali lagi ia menatap Mori lewat kaca spion, dan kali ini
Mori memberikan jawaban bijak.
“
Saya hanya berharap kalau Jiro-sama,
Hiro-sama, dan Aru-kun bisa menjaga rahasia. Ririn-chan, mau diceritakan atau tidak itu
adalah keputusanmu.”
Ririn
berdeham, “ Yah, tadinya aku pikir aku bisa menjaga rahasia ini, tapi ternyata
tidak. Aku terlalu memikirkan orang-orang yang terlibat di dalamnya sehingga
tanpa sadar aku justru terlihat sangat gelisah.”
Ririn
menatap temannya satu-persatu, “ Seperti yang dikatakan Mori-san, aku harap kalian semua tidak
mengatakannya pada siapa pun,” ia kembali menarik napas panjang, “ Jadi,
sebenarnya tadi itu….”
Rahasia
itu mulai terurai sedikit demi sedikit. Ririn menceritakan semua hal yang ia
lihat dan ia dengar. Ekspresi ketiga temannya yang penasaran berubah menjadi
kaget yang luar biasa. Semua hal yang rumit itu justru terjadi dalam waktu yang
sangat singkat. Selesai bercerita, tak ada satu pun dari mereka yang mau
berkomentar. Mereka terlalu syok untuk mengatakan apa pun seputar kejadian
tadi.
“
Ini mimpi buruk,” akhirnya Jiro yang pertama kali buka suara.
Hiro
mendesah berat, “ Lalu apa Adurian-san
sudah ketemu?”
Ririn
menggeleng pelan.
“
Mencarinya juga bukan hal yang mudah,” Alexi berkomentar sambil bersedekap. “
Kita tidak tahu kemana Adrian pergi. Selain itu, polisi juga tidak mau menerima
laporan dari kita karena Adrian menghilang belum lebih dari 24 jam.”
“
Tapi aku sangat khawatir,” lirih Ririn. “ Kejadian tadi pasti membuatnya syok.
Tahu sendiri’kan kalau orang putus asa seperti itu bisa saja berbuat nekad.”
“
Sebaiknya kita jangan berpikir yang macam-macam,” sahut Jiro, lalu ia
menggaruk-garuk tengkuknya. “ Eh, tapi kok aku ikut gelisah ya.”
“
Ririn-chan benar. Kita harus segera
menemukan Adurian-san, tapi kata-kata
Aru-kun juga tidak salah,” ujar Hiro.
“ Apa kita mengabarkan teman-teman kita yang lain supaya mencari bersama-sama?”
“
Jangan!” seru Ririn. “ Begini, memberitahu kalian saja sudah pelanggaran
untukku. Apalagi kalau sampai semua anggota tahu. Mereka belum tentu sepenuhnya
mengerti, dan yang akan menanggung malunya tentu saja Miss Tifa dan Fi.”
Mobil
mereka berhenti di salah satu perempatan lampu merah. Tak ada yang berkomentar
lagi selama detik-detik pergantian lampu.
“
Setelah lampu hijau ini menyala kita akan langsung menuju rumah Ririn-chan,” ujar Mori memecah keheningan. “
Apa kalian semua yakin kita langsung segera pulang?”
Ririn
menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasa bimbang semakin menekannya. Matanya
menatap lurus pada pemandangan di luar sana. Langit sudah mulai menggelap.
Mencari Adrian akan semakin sulit ketika malam tiba. Ditambah lagi ia memiliki
aturan jam malam yang tak bisa ia langgar. Di sisi lain, ia gelisah kalau
Adrian belum juga diemukan.
Batas
lampu merah tinggal satu detik lagi. Mori segera melepas rem tangan. Di saat
itulah Ririn semakin kehilangan harapan.
“
Pukul delapan. Sampai pukul delapan dan setelah itu kita antar Ririn pulang
lebih dulu.”
Ririn
menoleh cepat. Ia tak menyangka kalau Alexi langsung membuat ketika detik-detik
terakhir. Mori tersenyum. Ia memutar stir seraya melihat arlojinya.
“
Kita hanya punya waktu satu setengah jam. Kalau begitu kita harus benar-benar
menuju ke tempat yang mungkin akan didatangi Adurian-san di saat seperti ini.”
Alexi
merasa tatapan Ririn padanya terlalu lama dan itu membuat duduknya tak tenang.
“
Pasti kamu mau tanya kenapa, iya’kan? Sederhana saja, itu karena aku pikir akan
ada seseorang yang tidurnya tidak nyenyak malam ini jika kita tidak melakukan
usaha sedikit pun. Makanya aku ambil keputusan itu supaya orang itu berhenti
gelisah.”
Ririn
tersenyum penuh haru, “ Terima kasih,” bisiknya.
“
Ah, kita coba pergi ke sekolahan,” Jiro berseru memecah suasana merah muda
barusan. “ Mungkin saja dia sedang menenangkan pikiran di gedung teater.”
“
Kupikir Miss Tifa dan Dave-san sudah pergi ke sana,” sahut Hiro. “
Mungkin dia sedang pergi ke gedung teater lain. Nee, Ririn-chan, apa ada
gedung teater di Palembang selain di sekolah?”
“
Hmm, hanya satu yang besar. Di Jakabaring.”
“
Bagaimana kalau kita coba ke sana?” ujar Jiro. “ Nee Mori-san, berapa lama
waktu yang perlukan untuk menuju ke sana?”
“
Mungkin sekitar 45 menit, andai tidak macet,” sahut Mori seraya melihat GPS
mobilnya. “ Untuk sekarang kita bisa lewat jalur alternatif, tapi nanti kita
pasti akan terjebak macet di tengah kota. Mau tidak mau kita harus melewati
tengah kota.”
“
Baik, Mori-san. Kami serahkan padamu.
Selagi kita menuju ke sana, ayo kita pikirkan kemungkinan lain. Siapa tahu kita
punya ide atau perkiraan lain tentang Adrian,” tutup Alexi.
Author's Note:
Uwaaah.... gimana badainya??? Okeeeh... Author kejam. Kalian semua suci, Author penuh bisa, hwehehehehe....
wudow kaget sumpah..
BalasHapustapi sekarang tinggal menguak kabut di antara kabut ,
tu half-bro apa cuma step-bro
half blood eh half bro
BalasHapusintinya Adrian dan Fi satu ayah
nah loooh