Musikal 112
Tifa sempat melirik
mobil yang baru saja mereka lewati. Ia sudah menduga kalau anak-anak didiknya
ada di dalam mobil itu. Namun, fokusnya tak di sana. Jantungnya berdegup
kencang saat melihat sosok keponakannya yang duduk termenung di kap mobil.
Dave
bahkan belum sempat menarik rem tangan saat Tifa sudah melompat keluar mobil. Laki-laki itu sempat terkejut lalu buru-buru
turun menyusul wanita itu.
“
Adrian!”
Pemuda
itu terlihat terkejut karena tantenya berhasil menemukannya dengan cepat.
Namun, dengan cepat pula ia memasang wajah skeptisnya. Meski gelap, tapi sebisa
mungkin ia menghindari tatapan sang tante.
“
Tante tahu ini rumit, tapi Tante mohon pulanglah. Banyak yang mencemaskanmu.”
“
Aku tidak akan kemana-mana, Tante. Sekarang aku hanya butuh sendiri.”
“
Baik, tapi tidak bisakah di rumah saja atau di apartemen Tante? Tante akan
membiarkanmu sendiri dan kita akan bicarakan ini nanti.”
“
Tinggalkan aku sendiri.”
Tifa
bergeming.
“
Kubilang, pergilah!”
Teriakan
Adrian membuat emosi Tifa meledak. Sedari tadi ia mencoba untuk meredam
amarahnya, tapi kelakukan Adrian membuatnya tak bisa menahan lebih lama lagi.
“
Tak bisakah kamu tidak menyulitkan Tante, Adrian! Bukan cuma kamu di sini yang
stres, tapi Tante juga! Tante mengerti perasaanmu, tapi pikirkan juga bagaimana
perasaan Tante!”
Adrian
berbalik, ekspresinya tampak murka, “ Apa? Apa yang Tante mengerti? APAAA???”
Gigi
Tifa gemeletuk menahan emosi.
“
Kenyataan bahwa Fi adalah saudariku benar-benar membuatku gila, Tante! Setelah
Mama meninggal, Fi adalah satu-satunya sandaranku. Cinta pertamaku. Tapi dengan
kejamnya semua itu berakhir tragis hanya dalam hitungan menit. Apa Tante tahu
bagaimana hancurnya aku saat ini?”
Jemari
Tifa meremas pinggiran gaunnya. Ada sesuatu yang berusaha ia tahan. Sesuatu
dari pusaran perutnya lalu tersangkut di pangkal tenggorokannya. Tifa mengatur
napasnya agar sesuatu itu tidak menyembur keluar.
Melihat
tak ada respon dari tantenya, Adrian kembali membalikkan badannya. Bahkan
mengambil jarak yang cukup jauh. Sepertinya ia akan kembali kabur.
“
Tante hanya memintamu untuk pulang, Adrian.”
Adrian
masih bergeming. Namun, pendiriannya terusik saat mendengar suara Dave yang
berseru.
“
TIFA!!”
Ada
yang aneh. Suara Dave terdengar panik, disusul kemudian ada bunyi seperti benda
terjatuh. Saat ia berbalik, pemandangan yang mengejutkan ia dapati. Tantenya
tengah tergeletak tak berdaya dan Dave berusaha menolong Tifa.
“
Tif, Tifa, sadarlah. Tifaaa….”
Pantulan
lampu mobil memberikan warna pada sekeliling mereka. Entah kenapa tangan Tifa
seolah menutupi bagian mulutnya. Ketika Dave mengguncang tubuhnya, tangan itu
terkulai lemas dan menampilkan warna segar. Sangat merah, semerah…
….
Darah.
“
Adrian, apa yang kamu lakukan!” sergah Dave. “ Cepat bantu sini!”
Bukannya
tak mau membantu, tapi Adrian terlalu syok. Tantenya adalah sosok yang sangat
sehat lalu apa yang membuat wanita itu sampai memuntahkan darah seperti itu.
Andai Dave tak meneriakinya, mungkin saat ini ia ikut-ikutan terkulai seperti
tantenya.
Di
saat yang genting, bantuan datang. Adrian sempat kaget saat melihat beberapa
anggota Love Musical dengan cepat
datang, tapi bukan itu prioritasnya sekarang. Keselamatan Tantenya melebihi
segala kebetulan apa pun.
“
Apa yang terjadi?” tanya Ririn yang langsung beringsut menolong Tifa.
“ Om
tidak tahu. Tolong bantu Om membawa Tifa ke mobil!”
Ririn
tadinya mau ikut mengangkat, tapi Mori lebih sigap. Ia hanya memberikan kode
pada Ririn agar membukakan pintu mobil Om-nya saja. Sementara Hiro dan Jiro
membantu menyadarkan Adrian dari guncangan emosinya.
“
Baik-baik saja, Teman?” tegur Jiro.
Adrian
menelan ludahnya dengan sulit lalu ia mengangguk paksa, “ Ya, aku baik.”
Alexi
tiba-tiba mengadahkan tangannya pada Adrian, “ Kunci mobil. Biar aku saja yang
membawanya.”
“
Kamu bisa?” tanya Hiro. “ Bagaimana dengan surat-suratnya?”
“
Ini sudah malam, tidak akan ada yang menghiraukanku. Aku akan berhati-hati,”
ujar Alexi datar. “ Adrian, kamu lebih baik bersama Tantemu saja.”
Adrian
segera memberikan kunci mobil pada Alexi. Ia kembali mengangguk, “Terima kasih,”
ia pun segera menyusul Tifa.
“
Ka—kami juga akan ikut kalian ke rumah sakit,” ujar Jiro lalu ia menatap Ririn.
“Ririn-chan temani Aru-kun saja.”
“
Tidak usah,” sahut Alexi, cepat dan datar.
Meski
situasi saat ini sedang kritis, tapi Ririn sempat menangkap kesan berbeda dari
Alexi saat menolak dirinya untuk ikut bersama. Ada amarah terselubung dari nada
bicaranya yang terlalu datar.
“
Maksudku, kamu ikut dengan Om-mu saja. Om-mu pasti sibuk menyetir dan Adrian
masih tak bisa diandalkan. Kalau ada apa-apa kamu bisa membantu mereka.”
“ Benar juga,” ujar Hiro seraya mendorong
Ririn masuk mobil. “ Ayo, kita bergegas!”
Ririn
sudah berada di balik sabuk pengaman. Namun, tatapan masih beralih pada Alexi
yang sedang menyalakan mobil Tifa. Ada perasaan berkecamuk saat ia tak bersama
laki-laki itu. Ucapan Alexi seperti tengah mengusirnya secara halus.
‘ Tidak. Bukan itu. Saat ini bukan saat yang tepat
untuk memikirkan orang lain.’
Ririn
mendesah berat. Mobil om-nya melaju kencang. Malam ini akan menjadi malam yang
panjang.
wah.. 2 minggu kemarin update nya cetar membahana
BalasHapusier sampe kehilangan kata-kata
noh adrian... gatel sih genit pengen adek lah
tuh author kita yg baik beneran kasih kamu adek.
malah half-bro ....
terus di pilih yang paling tersayang :D
(tertawa dengan air mata)
kalau fi gak masuk RS atau ga depresi , aku meragukan dia masih manusia setelah semua kejadian ini
oh iya..
hiro kamu waspada ya sama author , ier malem ini gak sengaja jawab pertanyaan author yg bisa berakhir buruk atau baik untuk kamu
keep strong ya kalian semua
arghhhhhhhhhh tifa kenapa???
mana pake muntah darah...
gyahahaha....tungguin update selanjutnya
Hapus