Total Tayangan Halaman

Sabtu, 24 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 114)




Musikal 114

Kegelisahan gadis itu masih terlihat. Sedari tadi ia tak berhenti menggaruk ujung hidungnya. Tidak, siapa pun yang melihat tindak-tanduknya akan beramsumsi bahwa gadis itu sedang mencakar bagian hidungnya yang mencuat ke atas. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi Alexi cukup ternganggu dengan kelakuannya. Tanpa menatap wajahnya, Alexi menjauhkan kuku-kuku terawat itu dari lapisan tulang rawannya yang sudah hampir lecet.
Gadis itu tersentak lalu menatap Alexi. Ia hanya menatap gadis itu sekilas, tapi ia lupa melepaskan genggaman tangannya. Gadis itu menatap jemari yang saling bertaut kemudian seperti sedang memegang air panas, Alexi buru-buru melepaskannya.
Dave dan Adrian kembali. Bersamaan dengan itu Tifa yang masih terbaring lemah segera didorong keluar dari ruang UGD. Gadis itu benar-benar melupakan rasa gatal pada ujung hidungnya karena rasa penasaran yang meluap-luap dari benaknya. Namun, entah kenapa begitu pita suaranya akan bergetar, lidahnya menjadi seberat besi. Gadis itu hanya bisa memaku dengan mulut separuh terbuka.
Alexi kembali melihat fenomena aneh dari gadis itu. Kali ini ia tahu apa yang ada di pikiran gadis itu sehingga membuatnya seperti patung bodoh. Alexi menghembuskan napas. Namun, hembusan napasnya terdengar seperti kekesalan yang tak terucap. Dengan kesal, Alexi membuang pandanganya.
Miss Tifa akan dibawa kemana?”
Suasana yang menyebalkan itu sedikit menguap setelah Jiro membuka suara. Alexi dan gadis itu akhirnya menyadari kembali alasan kenapa mereka bisa ada di sini. Mereka sama-sama kembali dari pikiran masing-masing.
“ Kamar inap tentu saja,” sahut Dave. “ Hasil lab memang baru akan keluar besok, tapi kalian tenang saja, dia sudah ada dalam penanganan yang tepat.”
Ada sedikit kelegaan di wajah tiga orang pemuda yang baru saja datang. Dave menatap satu-persatu anak didiknya. Matanya terakhir jatuh pada keponakannya lalu ia tersenyum.
“ Kalian pulang saja. Ini sudah sangat larut dan kamu, Rin…” Dave melebarkan senyumnya pada si gadis, “ Om sudah telepon Ibumu tadi. Dia mungkin akan sedikit mengomelimu, tapi itu tidak akan terlalu lama. Om janji.”
Gadis ikal itu mengangguk. Terdengar desahan panjang darinya.
“ Kalau begitu kami pulang saja,” ujar Hiro. “ Sudah sangat larut dan besok kami masih harus sekolah.”
Dave mengangguk, “ Keberatan bila mengantarkan keponakanku pulang?”
“ Tentu tidak,” Jiro melingkarkan tangannya di bahu keponakan Dave. “ Kami ke yang mengajaknya, tentu kami akan memulangkannya seperti sedia kala. Anda tidak perlu khawatir, dia akan pulang tanpa lecet.”
“ Terima kasih,” Dave tersenyum lagi. “ Aku harus menemani Adrian malam ini.”
“ Terima kasih,” tiba-tiba Adrian bersuara. Terdengar parau karena terlalu banyak tekanan di dalamnya. “ Terima kasih karena kalian peduli dan—“
“ Dan kami tidak akan membocorkan apa pun yang kami dengar dan kami lihat,” sahut Alexi cepat, datar, tanpa emosi. “ Dan jika kamu mendengar sesuatu keluar dari sini, aku menjamin itu bukan dari mulut kami berempat.”
Adrian menatapnya beberapa saat lalu mengangguk, “ Ya, terima kasih untuk itu. Maaf sudah melibatkan kalian.”
Hiro berdeham, “ Kurasa sudah waktunya pulang. Kami akan ke sini lagi besok atau lusa. Selamat malam.”
Dave menghembuskan napas yang panjang saat keponakannya serta ketiga remaja laki-laki itu lenyap dari pandangannya. Ia menepuk bahu Adrian agar pemuda itu sadar dari lamunannya.
“ Kamu langsung ke kamar saja. Pastikan kamu membersihkan diri sebelum menyentuh Tantemu.”
Mata Dave mengarah pada baju Adrian yang terkena noda darah dan tanah. Dave juga memiliki noda yang sama. Adrian pun mengangguk paham.
“ Aku pergi sebentar mencari salinan untuk kita. Oh ya, ngomong-ngomong apa kamu sudah makan?”
ooOoo
“ Dan kami tidak akan membocorkan apa pun yang kami dengar dan kami lihat. Dan jika kamu mendengar sesuatu keluar dari sini, aku menjamin itu bukan dari mulut kami berempat.”
Nada itu lagi. Kenapa ia semalaman ini Alexi selalu menyahut cepat dengan wajah tanpa ekspresi dan tekanan nada yang datar? Ini seperti bukan Alexi yang biasanya. Bukan Alexi yang lembut, hangat, sedikit kikuk, tapi ini Alexi yang….
Alexi yang marah.
Ririn mengigit bibir sebagai ganti kukunya yang tak bisa menjamah tulang rawan yang paling tinggi pada wajahnya. Ia juga tak bisa melirik Alexi karena pemuda itu seakan mengeluarkan tatapan membakar jika mata mereka nanti bertemu. Baru kali ini ia menciut di sebelah Alexi biasanya selalu membesarkan hatinya.
“ Aku turun di sini saja, Mori-san.”
Mori terkejut. Mereka baru saja melewati lampu merah pertama mereka dan masih ada dua lampu merah lagi yang harus mereka lalui untuk sampai ke daerah perumahan mereka. Tak hanya Mori, tapi seisi mobil pun ikut terkejut dengan keputusan Alexi yang tiba-tiba.
“ Bisa kamu jelaskan kenapa kamu mau berhenti sekarang padahal perjalanan kita masih jauh?” ujar Jiro.
“ Kalian akan melewati rumahku dulu sebelum rumah Ririn. Akan terlalu lama bagi Ririn untuk sampai ke rumah jika kalian mengantarku dulu. Jadi, lebih baik aku turun saja ke sini saja karena aku bisa sampai ke rumah dengan sepeda.”
“ Tapi’kan kami bisa—“
“ Mengantar Ririn terlebih dahulu kemudian baru mengantarku akan memakan waktu yang lama. Aku kasihan melihat Mori-san yang dari tadi berputar-putar dengan stirnya.”
Nada itu lagi. Ririn hanya bisa menundukkan wajahnya dengan memajukan sedikit bibirnya. Cemberut.
Mori menghela napas lalu menghentikan mobilnya di tepian, “ Bagasi sudah saya buka. Silakan ambil sepeda Anda. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Hati-hati di jalan.”
Alexi mengangguk. Ia turun dari mobil kemudian menurunkan sepedanya. Setelah sepedanya siap, ia berpamitan pada teman-temannya lewat pintu mobil yang belum ditutup.
“ Selamat malam. Sampai jumpa besok.”
Sepeda Alexi meluncur lebih dulu. Ririn pun harus menggeser tubuhnya agar bisa menjangkau pintu. Mobil itu kembali meluncur setelah pintu kembali terkunci.
“ Aneh-aneh saja,” Hiro melipat kedua tangannya di belakang kepala lalu meluruskan tubuhnya. Matanya melirik Ririn, “ Ririn-chan, tahu sesuatu?”
Ririn menggeleng pelan dengan senyuman kecil menghiasi wajahnya. Kemudian terdengar suara klakson yang ditekan Mori saat mobil mereka berpapasan dengan Alexi. Laki-laki itu hanya melambai sekilas seraya kembali mengayuh pedalnya.
Saat mobil mereka bersisian dengan sepeda pemuda itu, mata Ririn tak bisa melepaskan diri pada sosok yang berkacamata itu. Bahkan ketika mobil mereka sudah mendahuluinya, Ririn masih berusaha menatap pemuda itu meski bayangnya semakin lenyap. Hanya ada satu hal yang ingin tanyakan pada laki-laki itu. Namun, lidahnya menggeliat, benaknya menahan, sementara hatinya menjerit.
Kenapa kamu marah padaku?


2 komentar:

  1. akhirya si ririn ...
    rada kasihan juga sama Al , tp gak apa author tolong siksa Al sedikit lebih lama lagi ..
    hitung-hitung balasan karma udah nyakirin wenda kmren wkwkw

    wah... gak mau dan gak bisa komentar tentang keadaan keluarga tifa berikut anggota lain nya...
    :v badai badai .. pasti berlalu ....
    yah berlalu nya tapi kapan :D

    BalasHapus