Musikal 114
Kegelisahan gadis itu
masih terlihat. Sedari tadi ia tak berhenti menggaruk ujung hidungnya. Tidak,
siapa pun yang melihat tindak-tanduknya akan beramsumsi bahwa gadis itu sedang
mencakar bagian hidungnya yang mencuat ke atas. Entah apa yang sedang
dipikirkannya, tapi Alexi cukup ternganggu dengan kelakuannya. Tanpa menatap
wajahnya, Alexi menjauhkan kuku-kuku terawat itu dari lapisan tulang rawannya
yang sudah hampir lecet.
Gadis
itu tersentak lalu menatap Alexi. Ia hanya menatap gadis itu sekilas, tapi ia
lupa melepaskan genggaman tangannya. Gadis itu menatap jemari yang saling
bertaut kemudian seperti sedang memegang air panas, Alexi buru-buru
melepaskannya.
Dave
dan Adrian kembali. Bersamaan dengan itu Tifa yang masih terbaring lemah segera
didorong keluar dari ruang UGD. Gadis itu benar-benar melupakan rasa gatal pada
ujung hidungnya karena rasa penasaran yang meluap-luap dari benaknya. Namun,
entah kenapa begitu pita suaranya akan bergetar, lidahnya menjadi seberat besi.
Gadis itu hanya bisa memaku dengan mulut separuh terbuka.
Alexi
kembali melihat fenomena aneh dari gadis itu. Kali ini ia tahu apa yang ada di
pikiran gadis itu sehingga membuatnya seperti patung bodoh. Alexi menghembuskan
napas. Namun, hembusan napasnya terdengar seperti kekesalan yang tak terucap.
Dengan kesal, Alexi membuang pandanganya.
“ Miss Tifa akan dibawa kemana?”
Suasana
yang menyebalkan itu sedikit menguap setelah Jiro membuka suara. Alexi dan
gadis itu akhirnya menyadari kembali alasan kenapa mereka bisa ada di sini.
Mereka sama-sama kembali dari pikiran masing-masing.
“
Kamar inap tentu saja,” sahut Dave. “ Hasil lab memang baru akan keluar besok,
tapi kalian tenang saja, dia sudah ada dalam penanganan yang tepat.”
Ada
sedikit kelegaan di wajah tiga orang pemuda yang baru saja datang. Dave menatap
satu-persatu anak didiknya. Matanya terakhir jatuh pada keponakannya lalu ia
tersenyum.
“
Kalian pulang saja. Ini sudah sangat larut dan kamu, Rin…” Dave melebarkan
senyumnya pada si gadis, “ Om sudah telepon Ibumu tadi. Dia mungkin akan
sedikit mengomelimu, tapi itu tidak akan terlalu lama. Om janji.”
Gadis
ikal itu mengangguk. Terdengar desahan panjang darinya.
“ Kalau
begitu kami pulang saja,” ujar Hiro. “ Sudah sangat larut dan besok kami masih
harus sekolah.”
Dave
mengangguk, “ Keberatan bila mengantarkan keponakanku pulang?”
“
Tentu tidak,” Jiro melingkarkan tangannya di bahu keponakan Dave. “ Kami ke
yang mengajaknya, tentu kami akan memulangkannya seperti sedia kala. Anda tidak
perlu khawatir, dia akan pulang tanpa lecet.”
“
Terima kasih,” Dave tersenyum lagi. “ Aku harus menemani Adrian malam ini.”
“
Terima kasih,” tiba-tiba Adrian bersuara. Terdengar parau karena terlalu banyak
tekanan di dalamnya. “ Terima kasih karena kalian peduli dan—“
“
Dan kami tidak akan membocorkan apa pun yang kami dengar dan kami lihat,” sahut
Alexi cepat, datar, tanpa emosi. “ Dan jika kamu mendengar sesuatu keluar dari
sini, aku menjamin itu bukan dari mulut kami berempat.”
Adrian
menatapnya beberapa saat lalu mengangguk, “ Ya, terima kasih untuk itu. Maaf
sudah melibatkan kalian.”
Hiro
berdeham, “ Kurasa sudah waktunya pulang. Kami akan ke sini lagi besok atau
lusa. Selamat malam.”
Dave
menghembuskan napas yang panjang saat keponakannya serta ketiga remaja
laki-laki itu lenyap dari pandangannya. Ia menepuk bahu Adrian agar pemuda itu
sadar dari lamunannya.
“ Kamu
langsung ke kamar saja. Pastikan kamu membersihkan diri sebelum menyentuh
Tantemu.”
Mata
Dave mengarah pada baju Adrian yang terkena noda darah dan tanah. Dave juga
memiliki noda yang sama. Adrian pun mengangguk paham.
“
Aku pergi sebentar mencari salinan untuk kita. Oh ya, ngomong-ngomong apa kamu
sudah makan?”
ooOoo
“ Dan kami tidak akan membocorkan apa pun yang kami
dengar dan kami lihat. Dan jika kamu mendengar sesuatu keluar dari sini, aku
menjamin itu bukan dari mulut kami berempat.”
Nada
itu lagi. Kenapa ia semalaman ini Alexi selalu menyahut cepat dengan wajah
tanpa ekspresi dan tekanan nada yang datar? Ini seperti bukan Alexi yang
biasanya. Bukan Alexi yang lembut, hangat, sedikit kikuk, tapi ini Alexi yang….
Alexi
yang marah.
Ririn
mengigit bibir sebagai ganti kukunya yang tak bisa menjamah tulang rawan yang
paling tinggi pada wajahnya. Ia juga tak bisa melirik Alexi karena pemuda itu
seakan mengeluarkan tatapan membakar jika mata mereka nanti bertemu. Baru kali
ini ia menciut di sebelah Alexi biasanya selalu membesarkan hatinya.
“
Aku turun di sini saja, Mori-san.”
Mori
terkejut. Mereka baru saja melewati lampu merah pertama mereka dan masih ada
dua lampu merah lagi yang harus mereka lalui untuk sampai ke daerah perumahan
mereka. Tak hanya Mori, tapi seisi mobil pun ikut terkejut dengan keputusan
Alexi yang tiba-tiba.
“
Bisa kamu jelaskan kenapa kamu mau berhenti sekarang padahal perjalanan kita
masih jauh?” ujar Jiro.
“
Kalian akan melewati rumahku dulu sebelum rumah Ririn. Akan terlalu lama bagi
Ririn untuk sampai ke rumah jika kalian mengantarku dulu. Jadi, lebih baik aku
turun saja ke sini saja karena aku bisa sampai ke rumah dengan sepeda.”
“
Tapi’kan kami bisa—“
“
Mengantar Ririn terlebih dahulu kemudian baru mengantarku akan memakan waktu
yang lama. Aku kasihan melihat Mori-san yang
dari tadi berputar-putar dengan stirnya.”
Nada
itu lagi. Ririn hanya bisa menundukkan wajahnya dengan memajukan sedikit
bibirnya. Cemberut.
Mori
menghela napas lalu menghentikan mobilnya di tepian, “ Bagasi sudah saya buka.
Silakan ambil sepeda Anda. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Hati-hati
di jalan.”
Alexi
mengangguk. Ia turun dari mobil kemudian menurunkan sepedanya. Setelah
sepedanya siap, ia berpamitan pada teman-temannya lewat pintu mobil yang belum
ditutup.
“
Selamat malam. Sampai jumpa besok.”
Sepeda
Alexi meluncur lebih dulu. Ririn pun harus menggeser tubuhnya agar bisa
menjangkau pintu. Mobil itu kembali meluncur setelah pintu kembali terkunci.
“
Aneh-aneh saja,” Hiro melipat kedua tangannya di belakang kepala lalu
meluruskan tubuhnya. Matanya melirik Ririn, “ Ririn-chan, tahu sesuatu?”
Ririn
menggeleng pelan dengan senyuman kecil menghiasi wajahnya. Kemudian terdengar
suara klakson yang ditekan Mori saat mobil mereka berpapasan dengan Alexi.
Laki-laki itu hanya melambai sekilas seraya kembali mengayuh pedalnya.
Saat
mobil mereka bersisian dengan sepeda pemuda itu, mata Ririn tak bisa melepaskan
diri pada sosok yang berkacamata itu. Bahkan ketika mobil mereka sudah
mendahuluinya, Ririn masih berusaha menatap pemuda itu meski bayangnya semakin
lenyap. Hanya ada satu hal yang ingin tanyakan pada laki-laki itu. Namun,
lidahnya menggeliat, benaknya menahan, sementara hatinya menjerit.
Kenapa kamu marah padaku?
akhirya si ririn ...
BalasHapusrada kasihan juga sama Al , tp gak apa author tolong siksa Al sedikit lebih lama lagi ..
hitung-hitung balasan karma udah nyakirin wenda kmren wkwkw
wah... gak mau dan gak bisa komentar tentang keadaan keluarga tifa berikut anggota lain nya...
:v badai badai .. pasti berlalu ....
yah berlalu nya tapi kapan :D
hehehe.... maafin kekejaman author yaah
Hapus