Musikal
11
Audisi
telah usai, tapi pekerjaan tiga orang juri ini masih belum selesai. Mereka
masih memilah-milah kandidat mana yang benar-benar pantas untuk mendapatkan
peran dalam pentas ini. Gloria dan Riani pun harus menginap di apartemen Tifa.
Mereka menonton rekaman audisi dan mencocokkan dengan nama yang mereka sudah
pilih.
“
Pokoknya aku minta orang ini, orang ini, dan yang tadi,” ujar Gloria sambil
menunjukkan daftar nama.
“
Aku setuju,” sahut Riani. “ Tapi mungkin ada beberapa tambahan sedikit orang
sebagai back dancer. Mungkin orang
ini dan yang ini.”
Kening
Tifa berkerut-kerut menatap daftar nama yang diberikan Gloria dan Riani.
Sepertinya ada hal yang ia tidak setujui.
“
Tapi aku tidak suka orang ini,” Tifa menunjuk sebuah nama yang sudah diberi
stabilo oleh Gloria, kemudian ia menyetel kembali rekaman audisi. “ Lihat,
orang ini punya bad attitude. Aku
tidak suka orang yang seperti ini. Me-nye-bal-kan!”
“
Tapi dia punya bakat yang bagus, Tif. Orang yang seperti ini sangat kita
butuhkan untuk pentas dalam jangka waktu yang mepet seperti ini,” sela Gloria.
“
Aku lebih suka orang ini,” Tifa memutar cepat rekaman audisi. “ Dia juga punya
bakat.”
“
Dia? Dia memang bagus, tapi biasa-biasa saja,” ujar Gloria.
“
Benar, dia tidak terlalu menonjol dibandingkan yang lain,” sahut Riani.
Tifa
menejetikkan jari-jarinya, “ Tepat sekali, tapi dia punya sesuatu yang bisa
ditampilkan. Sedikit saja diasah, pasti jadi hebat. Untunglah aku punya bakat
untuk mengasah orang-orang seperti itu.”
“
Kamu yakin? Waktu kita gak banyak loh,” ujar Riani.
“
Riani, Riani,” Tifa menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Kalo aku gak bisa,
barangkali sekarang aku cuma berakhir menjadi seorang penulis kacangan.”
Riani
dan Gloria saling bertukar pandang. Sebenarnya mereka meragukan kata-kata Tifa,
karena apa yang dikatakan wanita itu terdengar tidak masuk akal. Namun, Tifa
tidak pernah mengatakan hal yang mustahil. Jika ia bilang bisa, berarti bisa.
“
Lalu orang ini? Dia berbakat, tapi masa tidak dipakai ‘kan sayang sekali,”
desak Gloria.
“
Gloria benar, Tif. Aku juga tidak mau membuangnya. Lagi pula kepribadian’kan bisa
diubah seiring berjalannya waktu.”
Tifa
menyandarkan tubuhnya sambil menghela napas panjang. Ia hirup kopi hitamnya
seraya menatap nama kandidat yang diajukan oleh kedua temannya. Ia kembali
menghela napas.
“
Ah, baiklah. Kurasa tidak masalah, lagi pula bakatnya memang dibutuhkan.”
Gloria
dan Riani akhirnya tersenyum lega. Keduanya saling bertukar tos.
“
Akhirnyaaa…” ujar Riani sambil merenggangkan tubuhnya. “ Lama sekali kita
memutuskan. Ah, ini sudah jam berapa? Aku harus menelepon suami dan anakku.”
“
Benar, aku juga,” benar Gloria seraya mengambil ponsel di dalam tasnya.
Melihat
kedua temannya sibuk menelepon, Tifa menyaksikannya sambil tertawa. Tak lupa
kopi hitamnya selalu menemani.
“
Apa yang lucu sih, Tif?” ujar Riani.
“
Yaah, lucu aja. Padahal waktu kita kumpul terakhir kalian santai-santai aja
menginap di rumahku atau rumah siapa saja, tapi sekarang sudah sibuk dengan
suami dan anak-anak kalian. Well,
perbedaan itu terasa lucu saja.”
“
Siapa suruh di umur segini masih membujang?” ujar Gloria.
Tifa
kembali tertawa, “ Habisnya aku sibuk. Sibuk sekali. Sampai-sampai aku lupa
dengan kehidupan pribadiku. Bagiku bisa menampilkan karya terbaik di panggung
Broadway dengan sempurna sama saja dengan menikah. Jadi, kupikir aku sudah
menikah puluhan kali, hahahaha.”
Gloria
mendengus sebal, sementara Riani hanya memijat-mijat kepala. Sepertinya jawaban
Tifa membuat kepalanya bertambah pusing.
“
Lah kok malah sewot. Aku baik-baik saja menjadi single. Selama masih ada kopi, hidupku akan terasa menyenangkan.”
“
Cih, kamu nikah aja dengan kopi,” omel Gloria.
Tawa
Tifa kembali pecah, “ Kamu benar. Mungkin setelah ini aku akan mengajukan
proposal pernikahan di KUA.”
“
Sebaiknya kamu jangan banyak-banyak minum kopi, Tif. Gak baik untuk
kesehatanmu,” ujar Riani.
“
Iya, ibu guru. Tapi biarkan aku habiskan cangkir terakhir ini.”
Fast Post
-please comment and share-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar