Musikal
21
“
Aku cinta kamu, Hanaaa…”
Hana
terpaksa menoyor kepala Tifa. Gila, pagi-pagi seperti ini wanita itu sudah
memeluknya seperti sedang memeluk Teddy Bear kesayangan. Bisa-bisa hilang
wibawanya.
Wajar
saja bila Tifa memeluknya dengan gembira. Pasalnya, ia baru saja memberikan
sebuah kebijakan yang sangat membantu keberlangsungan pementasan Love Musical. Kebijakan itu adalah
memindahkan sementara siswa-siswi dari SMA Panji Semirang ke SMA Chandra
Kirana, tapi hanya untuk mereka yang lolos audisi. Hana mengambil kebijakan
tersebut, karena mengingat semua aktivitas akan dilakukan di SMA Chandra
Kirana. Ia pikir siswa-siswi dari SMA Panji Semirang akan kesulitan untuk
menyesuaikan waktu belajar mereka dengan latihan. Oleh karena itu, ia
menggabungkan beberapa siswa SMA Panji Semirang ke SMA Chandra Kirana.
“
Lepaskan aku, Tifa! Jangan membuat siswa berpikir yang aneh-aneh tentang kita.”
Tifa
melepaskan pelukannya, tapi wajahnya masih penuh dengan senyum cengengesan.
“
Ah, kamu seperti bidadari, Hana. Nah, sekarang apa yang harus aku lakukan
supaya aku bisa membalas budi baikmu ini?”
“
Tidak usah, tidak usah,” Hana melambaikan tangannya. “ Yang penting pementasan
ini sukses, dan selama berjalannya proses, tolong jangan repotkan aku lagi.
Mengerti?”
“
Yes, Sir!” Tifa menjawab penuh
semangat, bahkan ia berdiri tegap dan memberi hormat pada Hana. “ Tapi
ngomong-ngomong, kapan akan dilaksanakan pemindahannya?”
“
Mungkin tiga minggu lagi. Aku harus mengurus beberapa hal, jadi baru bisa
sekitar beberapa minggu ke depan.”
“
Oh, bagus!” Tifa menjentikkan jarinya. “ Berarti itu setelah audisi pemeran
utama.”
Dahi
Hana mengerenyit, “ Audisi lagi? Masa kamu belum dapat pemeran utama sih?”
“
Sebenarnya sudah, tapi Glo dan Riani sepertinya tidak suka dengan pilihanku.”
“
Hmm, sepertinya kamu dapat intan yang belum terasah ya?” Hana bertanya seraya
menyesap tehnya.
“
Begitulah,” sahut Tifa. “ Tapi mereka lebih suka batu yang sudah mengkilat,
padahal belum tentu dengan keasliannya.”
Hana
tertawa sinis, “ Kamu selalu idealis, Tif. Ah yah, sudahlah, itu urusanmu.
Semoga batu intanmu itu benar-benar jadi berlian ya.”
“
Hei, Han. Aku harap kamu bisa jadi juri tambahan untuk audisi kedua ini.”
“
Kenapa aku?” kening Hana kembali mengerenyit.
“
Loh, kamu’kan pemeran utama,” Tifa menjawab dengan tawa cengengesannya. Tanpa
menunggu jawaban lagi ia langsung ke luar dari ruangan. Meninggalkan Hana yang
masih geram kepadanya.
“
Uuukh, dia pikir dia siapa.”
Author’s note:
Weleeeh…
kayaknya author kebanyakan menye-menye di postingan kali ini. Gomen, mianhe,
maaf eaaak…
*peluk
cium author-chan*
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar