Musikal
15
Pagi
itu semua peserta yang lulus audisi dikumpulkan di aula SMA Chandra Kirana.
Tentu saja pertemuan dengan semua peserta membuat kejutan di sana-sini.
Terutama siswa-siswa SMA Chandra Kirana yang semuanya adalah wanita tentu saja
merasa asing dengan kahadiran lelaki di sana. Belum lagi yang ada pemasalahan
pribadi di antara mereka.
Anjani
tidak terkejut saat ia bertemu dengan kembarannya di sana. Bertolak belakang
dengan Andani. Ia justru tak menyangka kalau saudaranya itu juga ikut audisi
semacam ini. Sepanjang ingatannya Anjani tidak menyukai pertunjukkan musikal
semacam ini.
“
Terkejut aku ada di sini?”
“
Aaah, yaaa kurasa,” ujar Andani sambil mengalihkan perhatian. “ Aku pikir kamu
gak tertarik dengan dunia ini. Makanya
aku gak nyangka kamu ada di sini.”
Anjani
tersenyum sinis. Ia berjalan seperti hendak melewati Andani. Namun, ia justru
membisiki sesuatu.
“
Aku tidak tertarik pada pertunjukkan ini, tapi aku tertarik untuk
mengalahkanmu.”
Andani
refleks menatap saudarinya. Sorot matanya terlihat bingung bercampur kaget. Ia
tak baru tahu kalau selama ini kembarannya itu menganggapnya sebagai rival.
“
Kita di sini untuk bekerja sama, bukan untuk bertanding,” ujar Andani.
“
Terserah. Aku harap kita bertanding secara adil.”
Anjani
tersenyum sinis. Sebelum pergi, dengan sengaja ia menyenggol bahu saudaranya
sampai gadis itu mundur beberapa langkah. Andani masih memperhatikan punggung
Anjani yang semakin menjauh. Ia merasa
semakin jauh langkah kaki Anjani, maka semakin jauh pula jarak yang ada di
antara mereka. Entah itu sekarang atau nanti.
ooOoo
Di
sisi lain, ada dua rival lama yang kembali bertemu. Priyanka dan Wenda. Hanya
sedikit orang yang tahu bagaimana mereka bisa menjadi rival di kisah mereka
yang sebelumnya, yang jelas mereka sama-sama tak menyangka bisa bertemu dalam
waktu secepat ini.
“
Aku pikir kamu sudah nggak di Indonesia lagi.”
“
Terlalu panjang ceritanya untuk mengganti sapaan halo,” ujar Priyanka dengan
tenang. “ Apa kita bisa saling sapa seperti orang pada umumnya?”
Wenda
tersenyum, “ Ya, aku tahu kamu bersekolah di sini, tapi aku benar-benar tidak
memprediksi kamu akan ikut pertunjukkan seperti ini. Kupikir kamu lebih memilih
audisi balet di Jakarta.”
“
Entahlah, tapi aku rasa pilihan yang aku ambil tidak salah.”
“
Ya, semoga,” Wenda mengulurkan tangannya. “ Senang bertemu denganmu lagi,
rival.”
Priyanka
membalas jabat tangan itu seraya tersenyum tipis. Namun, ada guratan penuh
keyakinan dari senyuman itu.
“
Ya, kuharap kali ini kita bisa bekerja sama,
rival”
ooOoo
Seperti
goresan tinta Tuhan yang akan menggiring manusia pada kisah yang tak pernah ia
duga sebelumnya. Entah kenapa takdir mengharuskan Ririn dan Fi saling
berselisih jalan. Meski keduanya tidak pernah saling mengenal, tapi aura yang
mereka pancarkan sungguh bertolak belakang.
Ririn
dengan tatapan polos
mencoba meminta Fi untuk memberinya jalan. Berbeda dengan Fi yang memang
terlahir dengan tatapan sinis, tapi ia juga menunggu Ririn untuk memberinya
jalan. Mereka pun saling bertukar pandang untuk beberapa detik. Saling
menganalisis kekuatan. Hingga pada akhirnya keduanya sama-sama mundur dan
memilih jalan yang lain.
Takdir
baru kembali muncul seiring dengan langkah Tifa memasuki ruangan. Hentakan
sepatunya seirama dengan jarum jam yang terus bergerak. Di belakangnya mengekor Riani dan Gloria.
Seperti utusan suci yang akan memberikan lembaran baru pada setiap manusia.
Detik
jam melewati angka dua belas. Tirai takdir telah dibuka. Irama pertunjukkan
dimulai dari sekarang.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar