Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 15)



Musikal 15


Pagi itu semua peserta yang lulus audisi dikumpulkan di aula SMA Chandra Kirana. Tentu saja pertemuan dengan semua peserta membuat kejutan di sana-sini. Terutama siswa-siswa SMA Chandra Kirana yang semuanya adalah wanita tentu saja merasa asing dengan kahadiran lelaki di sana. Belum lagi yang ada pemasalahan pribadi di antara mereka.

Anjani tidak terkejut saat ia bertemu dengan kembarannya di sana. Bertolak belakang dengan Andani. Ia justru tak menyangka kalau saudaranya itu juga ikut audisi semacam ini. Sepanjang ingatannya Anjani tidak menyukai pertunjukkan musikal semacam ini.

“ Terkejut aku ada di sini?”

“ Aaah, yaaa kurasa,” ujar Andani sambil mengalihkan perhatian. “ Aku pikir kamu gak tertarik dengan dunia ini.  Makanya aku gak nyangka kamu ada di sini.”

Anjani tersenyum sinis. Ia berjalan seperti hendak melewati Andani. Namun, ia justru membisiki sesuatu.

“ Aku tidak tertarik pada pertunjukkan ini, tapi aku tertarik untuk mengalahkanmu.”

Andani refleks menatap saudarinya. Sorot matanya terlihat bingung bercampur kaget. Ia tak baru tahu kalau selama ini kembarannya itu menganggapnya sebagai rival.

“ Kita di sini untuk bekerja sama, bukan untuk bertanding,” ujar Andani.

“ Terserah. Aku harap kita bertanding secara adil.”

Anjani tersenyum sinis. Sebelum pergi, dengan sengaja ia menyenggol bahu saudaranya sampai gadis itu mundur beberapa langkah. Andani masih memperhatikan punggung Anjani  yang semakin menjauh. Ia merasa semakin jauh langkah kaki Anjani, maka semakin jauh pula jarak yang ada di antara mereka. Entah itu sekarang atau nanti.

ooOoo

Di sisi lain, ada dua rival lama yang kembali bertemu. Priyanka dan Wenda. Hanya sedikit orang yang tahu bagaimana mereka bisa menjadi rival di kisah mereka yang sebelumnya, yang jelas mereka sama-sama tak menyangka bisa bertemu dalam waktu secepat ini.

“ Aku pikir kamu sudah nggak di Indonesia lagi.”

“ Terlalu panjang ceritanya untuk mengganti sapaan halo,” ujar Priyanka dengan tenang. “ Apa kita bisa saling sapa seperti orang pada umumnya?”

Wenda tersenyum, “ Ya, aku tahu kamu bersekolah di sini, tapi aku benar-benar tidak memprediksi kamu akan ikut pertunjukkan seperti ini. Kupikir kamu lebih memilih audisi balet di Jakarta.”

“ Entahlah, tapi aku rasa pilihan yang aku ambil tidak salah.”

“ Ya, semoga,” Wenda mengulurkan tangannya. “ Senang bertemu denganmu lagi, rival.”

Priyanka membalas jabat tangan itu seraya tersenyum tipis. Namun, ada guratan penuh keyakinan dari senyuman itu.

“ Ya, kuharap kali ini kita bisa bekerja sama, rival

ooOoo

Seperti goresan tinta Tuhan yang akan menggiring manusia pada kisah yang tak pernah ia duga sebelumnya. Entah kenapa takdir mengharuskan Ririn dan Fi saling berselisih jalan. Meski keduanya tidak pernah saling mengenal, tapi aura yang mereka pancarkan sungguh bertolak belakang.

Ririn dengan tatapan polos mencoba meminta Fi untuk memberinya jalan. Berbeda dengan Fi yang memang terlahir dengan tatapan sinis, tapi ia juga menunggu Ririn untuk memberinya jalan. Mereka pun saling bertukar pandang untuk beberapa detik. Saling menganalisis kekuatan. Hingga pada akhirnya keduanya sama-sama mundur dan memilih jalan yang lain.

Takdir baru kembali muncul seiring dengan langkah Tifa memasuki ruangan. Hentakan sepatunya seirama dengan jarum jam yang terus bergerak. Di belakangnya mengekor Riani dan Gloria. Seperti utusan suci yang akan memberikan lembaran baru pada setiap manusia.

Detik jam melewati angka dua belas. Tirai takdir telah dibuka. Irama pertunjukkan dimulai dari sekarang.


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar