Musikal
28
Audisi
kedua pun akhirnya tiba. Semua anggota Love
Musical baik dari SMA Chandra Kirana maupun SMA Panji Semirang diberikan
dispensasi belajar hari itu. Selain karena sang Kepala Sekolah turut menjadi
juri, Tifa ingin agar kedua peserta bisa mempersiapkan dirinya dengan baik, dan
tidak diribetkan dengan urusan sekolah. Untunglah Hana mengiyakan permintaannya
ini.
Para
anggota Love Musical sudah memenuhi
ruangan klub balet. Mereka juga mau menyaksikan siapa yang akan menjadi pemeran
utama dalam pementasan ini. Satu persatu juri sudah duduk di tempatnya
masing-masing. Selain Riani, Gloria, Tifa, dan Adrian, kedatangan Hana sebagai
juri ternyata cukup mengejutkan anggota Love
Musical. Mereka bertanya-tanya alasan kenapa Hana ditempatkan sebagai juri
tambahan untuk audisi kedua.
Pukul
sembilan acara itu dimulai. Ririn dan Fi mengambil undian untuk menentukan
nomor urut tampil. Ternyata Fi akan tampil lebih dulu, dan Ririn setelahnya. Fi
segera bersiap di hadapan para juri, sementara Ririn kembali bergabung dengan
teman-temannya.
Tifa
memberi kode pada Fi agar segera menampilkan tarian terbaiknya. Fi mengangguk,
dan tak lama kemudian musik pun mengalun. Fi mengawali tariannya dengan
senyuman penuh rasa percaya diri.
‘Terlalu sempurna,’
batin Tifa.
Fi
memang tampil maksimal hari itu. Ia bahkan mempersiapkan kostum persis seperti
gadis-gadis eropa di abad 19. Musik yang dipilih juga musik klasik yang entah
apa namanya. Sangat sesuai dengan balet kontemporer yang ia tampilkan. Fi
menampilkan kesempurnaan pada pertunjukkannya pagi itu.
Tifa
menilik satu persatu rekannya sebagai juri. Mereka semua terkesima dengan
penampilan Fi. Lalu ia mengedarkan pandangannya kepada para penonton. Ekspresi
mereka sama, kagum dan terpukau. Namun, itu tak membuat gairahnya naik.
‘Terlalu sempurna itu membosankan.’
Tepuk
tangan penonton mengakhiri penampilan Fi. Gadis itu menundukkan kepala sebagai
simbolis salam. Mau tak mau Tifa harus memberikan tepuk tangannya. Bagaimana
pun penampilan Fi memang bagus, meski tak sesuai dengan seleranya.
Di
deretan bangku penonton ada seseorang yang sedang tersenyum jumawa. Priyanka
memberikan appalause yang paling
keras ketika Fi menyelesaikan tariannya. Ternyata semua mentoringnya selama ini
berhasil. Fi berhasil memikat penonton hari ini. sebagai gurunya ia merasa
bangga atas pencapaian muridnya.
Di
sisi lain, ada seorang penonton yang menyaksikan penampilan Fi dengan tegang.
Penonton sekaligus peserta terakhir itu tak lain adalah Ririn. Penampilan Fi
yang begitu memukau membuatnya sangat gugup. Jantungnya berdegup kencang.
Bagaimana tidak, Fi tak hanya memanjakan penonton dengan tariannya, tapi juga
lengkap dengan kostum dan make up
yang cantik. Sementara ia hanya memakai tank
top dan legging hitam yang saat
ini masih tertutup oleh jaketnya. Ia menyesal kenapa ia tak mencari kostum
terlebih dahulu sebelum tampil.
Tiba-tiba
ia merasa kedua tangannya digenggam. Refleks ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
Ternyata Ben dan Kemal merasakan kekhawatiran gadis itu. Mereka membagi
semangat lewat genggaman tangan itu.
“
Jangan cemas!” bisik Kemal.
“
Kita bantai mereka!” Ben berbisik dengan nada berapi-api.
Ririn
terkekeh. Lalu ia menghembuskan napas yang panjang. Kata-kata Ben dan Kemal
berhasil membuat semangatnya kembali berkobar. Tak lama kemudian, namanya pun
dipanggil. Ia beserta Ben dan Kemal pun beranjak ke hadapan para juri. Sebelum
ia bangkit dari tempat duduk, seseorang yang di belakangnya dengan menepuk
pundaknya sekaligus berbisik.
“
Aku dan yang lain akan selalu mendukungmu.”
Ririn
menyempatkan menoleh ke arah sumber suara. Ternyata suara bisikan itu berasal
dari laki-laki yang setia dengan kacamata buram serta sisiran rapinya. Di
samping laki-laki itu duduk Andani, kemudian Anjani, dan terakhir adalah Wenda.
Mereka terlihat khawatir dan gugup, tapi senyuman hangat mereka seolah
menyalurkan semangat yang mereka miliki. Seperti Ben dan Kemal, mereka juga
percaya dengan kemampuan yang Ririn miliki. Mereka sudah memberikan banyak
bantuan selama ini. Oleh karena itu, Ririn tak mau mengecewakan mereka. Ia
menginginkan peran ini.
Namun,
ia tak bisa mencegah bahwa ia tersanjung dengan semua dukungan dari
teman-temannya. Ia tak bisa menahan senyumannya.
“
Eh, memangnya boleh bawa asisten?” bisik Riani pada Tifa saat Ririn beserta
Kemal dan Ben sudah siap di hadapan mereka.
“
Rasanya aku tidak menuliskannya dalam peraturanku,” ujar Tifa sambil melipat
kedua tangannya di belakang kepala. “ Aku juga tidak melarangnya, yang penting
hasilnya bagus.”
Riani
hanya menganggukkan kepalanya. Pandangannya kini kembali fokus pada peserta
yang akan segera tampil ini. seingatnya ketiga orang di depannya ini ketika
audisi pertama tak ada yang menampilkan bakat menari. Fi juga sebenarnya, tapi
entah kenapa Riani justru lebih meragukan peserta kedua ini.
Benar
saja. Tak ada yang istimewa dari pesona awal dari gadis ini. Ia tak mengenakan
kostum mewah seperti peserta sebelumnya. Ketika ia membuka jaketnya, ternyata
tubuhnya hanya terbalut tank top dan legging hitam. Meski Riani harus akui
kalau heels gladiator yang dikenakan
gadis itu cukup keren, tapi masih tetap kalah dengan penampilan Fi. Kedua
pendampingnya pun demikian. Mereka berdua hanya mengenakan kaus tanpa lengan
dan celana panjang yang warnanya sama-sama hitam. Pun dengan musik yang
digunakan hanyalah lagu yang sudah sering terdengar di telinga semua orang.
Entah kenapa gadis itu justru memilih lagu “Unconditional”
milik Katy Perry. Tidak seperti Fi yang khusus menggunakan lagu klasik yang
indah.
Namun,
semua argumen Riani terbantahkan ketika gadis itu memulai tariannya. Di awal
lagu ia memang menari solo, tapi tariannya itu seolah-olah memanggil Ben untuk
berdansa dengannya. Ben menyambutnya, kemudian keduanya berdansa dengan penuh
gairah.
Ternyata
dansa keduanya justru seperti memancing Kemal untuk merebut Ririn. Kemal melakukannya.
Sama seperti yang ia lakukan pada Ben, Ririn sama sekali tak mengurangi
gairahnya ketika berdansa dengan Kemal.
Seolah
tak terima, Ben mencoba merebut Ririn kembali. Namun, Kemal tak mau kehilangan
kesempatan untuk berdansa. Mereka seolah saling mencuri kesempatan untuk
berdansa dengan gadis itu. Seperti wanita yang penuh pesona, Ririn mengambil
kesempatan itu untuk berdansa dengan keduanya. Ia benar-benar menampilkan sosok
wanita penggodanya lewat dansa itu.
‘ Jadi begitu alurnya’,
pikir Riani. ‘Gadis ini boleh juga.’
Mendekati
puncak lagu, Ririn memilih untuk berdansa dengan Ben. Di sinilah ia
mempraktekkan semua perintah yang Wenda pesankan dari jauh-jauh hari.
Berciuman dengan gestur
tubuh…
Keduanya saling terpaut. Mereka menciptakan
jarak hanya beberapa senti. Tak peduli dengan desahan napas mereka yang saling
memburu, tapi keduanya sama-sama tak mau melepaskan tatapan mereka. Ben menatap
tajam, sementara Ririn mengeluarkan aura yang penuh hasrat lewat matanya.
Mereka terpaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya mereka saling melepaskan
diri.
Baik
juri maupun penonton, mereka semua sama-sama melepaskan napas yang sempat
tertahan. Mereka sangat tegang menyaksikan dansa antara Ben dan Ririn. Semua
berpikir mereka berdua akan berciuman. Bagaimana tidak, sejak awal ia berdansa,
Ririn seolah menebar pesona pada Ben dan Kemal. Semua setuju kalau Ririn tidak
pantas disebut bagus, tapi dia seksi sekaliii.
Setelah
adegan klimaks di puncak lagu, seharusnya Ririn melanjutkan tarian solonya.
Namun, ada hal yang mengganggu pertunjukkan itu. Tidak merusak acara, tapi
justru mengejutkan semua orang.
Tifa
tersenyum saat kursi di sebelahnya bergerak.
Ekor matanya mengikuti pergerakan orang tersebut. Ia menarik napas panjang.
‘ Ini baru seru. Kejutan
yang aku tunggu ternyata datang juga.’
Orang
yang duduk di samping Tifa adalah Adrian. Hal yang mengejutkan itu juga
perbuatan Adrian. Entah mengapa tiba-tiba laki-laki itu menyeruak di antara
dansa Ririn dan Ben, kemudian merebut gadis itu. Mereka pun berdansa hingga
akhir lagu.
Melihat
hal itu, Ben dan Kemal langsung mundur teratur. Ririn sudah mendapatkan tokoh
utamanya. Itu berarati tugas mereka sudah selesai. Ada rasa bangga di hati
mereka karena telah membuat Adrian terpukau dan berdansa dengan gadis itu.
“
Tarian yang penuh feromon,” komentar Gloria.
Tifa
terkekeh, “ Feromon hanya ada pada serangga jantan, Glo.”
Gloria
tahu itu, tapi ia tak tahu bagaimana menggambarkan gairah yang terpancar dari
dansa gadis itu. Ketika bersama Adrian, gadis itu hanya berdansa waltz biasa. Meski begitu, Gloria
menganggap bahwa ini adalah simbol kemenangan mutlak untuk Ririn.
Ketika
semua orang larut dalam perasaan kagum, Fi justru tenggelam dalam perasaan iri
dan cemburu. Ia iri Ririn bisa menari sedemikian seksinya. Ia juga cemburu
karena Adrian bisa terpancing oleh gadis itu. Bagaimana mungkin pesona gadis
itu bisa menjerat sang pangeran.
Priyanka
pun merasakan hal yang serupa, hanya saja sedikit berbeda. Jika Fi cemburu pada
gadis itu, Priyanka justru iri pada sang pelatih. Sejak awal Ririn menari,
Priyanka memerhatikan seringai kemenangan yang terukir di wajah Wenda. Gadis
itu sangat puas dengan hasil yang diberikan muridnya. Disitulah letak rasa iri
Priyanka. Ia iri karena Wenda telah melampaui dirinya.
Standing applause
diberikan penonton untuk penampilan Ririn yang telah memanaskan suasana. Bahkan
Adrian yang tadi berdansa bersamanya ikut memberikan tepuk tangan. Ririn
tersenyum gugup sambil berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Bersama
Kemal dan Ben, gadis itu pun menutup penampilan mereka dengan memberi salam.
“
Baiklah, audisi ini akan kami tahan sejenak untuk kami, para juri, berunding,”
ujar Tifa sambil menegakkan tubuhnya. Kemudian ia beserta keempat juri lainnya
pergi meninggalkan ruangan.
ooOoo
‘ Siip, tinggal satu putaran
lagi…’
Ririn
sudah merasa menyelesaikan tugas berat yang diperintahkan Wenda. Sekarang ia
tinggal menyelesaikan tarian terakhirnya hingga lagu ini berakhir. Memang
seperti itulah alur cerita yang mereka buat. Ririn seolah-olah menjadi wanita
yang berhasil menggoda Kemal dan Ben, hingga mereka saling memperbutkan dirinya
untuk berdansa. Di dalam cerita itu, meski Ririn sudah berhasil menggoda Ben
dan Kemal, tapi sebenarnya dansa itu ditujukan pada Adrian. Ririn menggoda Ben
dan Kemal untuk membuktikkan bahwa dirinya adalah wanita hebat yang pantas
untuk diperebutkan.
Semua
itu hanya cerita. Ririn tak benar-benar bermaksud menggoda siapapun. Namun,
siapa sangka, ternyata Adrian benar-benar tergoda untuk berdansa dengannya.
Setelah ia memisahkan diri dari Ben, ia bersiap untuk melakukan tarian solonya.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik pinggangnya hingga ia jatuh dalam
pelukan orang tersebut. Ririn pikir orang itu adalah Kemal, tapi ternyata
justru Adrian.
Pikiran
Ririn blank seketika. Ia tak tahu
harus melakukan apa ketika Adrian sudah ada di depannya. Ia bahkan lupa dengan
segala tarian yang harus ia tunjukkan. Untunglah, Adrian pandai membawa Ririn
dalam langkah-langkah dansanya. Hingga tepuk tangan dari penonton membuat Ririn
kembali sadar ke alam pikirnya.
“
Kamu memang benar-benar berhasil menggodaku.”
Sial.
Bisikan Adrian terdengar begitu seksi di telinga Ririn. Pikiran gadis itu
kembali melayang. Kalau saja Ben dan Kemal tidak menggamit tangannya, mungkin
sampai matahari terbenam ia akan terpaku di tempatnya.
Adrian
telah mempesonanya.
Ririn
merasa ada debaran aneh di jantungnya saat laki-laki itu memandu langkahnya
dalam berdansa. Kemudian bisikkan laki-laki itu yang membuat jantungnya kembali
bekerja ekstra. Heran, padahal ia melakukan kontak mata yang menggairahkan
dengan Ben, tapi ia tak merasakan apa-apa ketika bersama pria itu. Beberapa
hari yang lalu ia juga baru saja ditembak Kemal, dan lagi-lagi Ririn tak
merasakan hal menakjubkan. Hanya dua menit waktu yang dibutuhkan Adrian untuk
memporak-porandakan seluruh kerja sistem syarafnya.
Ririn
terpesona pada sang pangeran.
please comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar