Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 28)



Musikal 28



Audisi kedua pun akhirnya tiba. Semua anggota Love Musical baik dari SMA Chandra Kirana maupun SMA Panji Semirang diberikan dispensasi belajar hari itu. Selain karena sang Kepala Sekolah turut menjadi juri, Tifa ingin agar kedua peserta bisa mempersiapkan dirinya dengan baik, dan tidak diribetkan dengan urusan sekolah. Untunglah Hana mengiyakan permintaannya ini.

Para anggota Love Musical sudah memenuhi ruangan klub balet. Mereka juga mau menyaksikan siapa yang akan menjadi pemeran utama dalam pementasan ini. Satu persatu juri sudah duduk di tempatnya masing-masing. Selain Riani, Gloria, Tifa, dan Adrian, kedatangan Hana sebagai juri ternyata cukup mengejutkan anggota Love Musical. Mereka bertanya-tanya alasan kenapa Hana ditempatkan sebagai juri tambahan untuk audisi kedua.

Pukul sembilan acara itu dimulai. Ririn dan Fi mengambil undian untuk menentukan nomor urut tampil. Ternyata Fi akan tampil lebih dulu, dan Ririn setelahnya. Fi segera bersiap di hadapan para juri, sementara Ririn kembali bergabung dengan teman-temannya.

Tifa memberi kode pada Fi agar segera menampilkan tarian terbaiknya. Fi mengangguk, dan tak lama kemudian musik pun mengalun. Fi mengawali tariannya dengan senyuman penuh rasa percaya diri.

‘Terlalu sempurna,’ batin Tifa.

Fi memang tampil maksimal hari itu. Ia bahkan mempersiapkan kostum persis seperti gadis-gadis eropa di abad 19. Musik yang dipilih juga musik klasik yang entah apa namanya. Sangat sesuai dengan balet kontemporer yang ia tampilkan. Fi menampilkan kesempurnaan pada pertunjukkannya pagi itu.

Tifa menilik satu persatu rekannya sebagai juri. Mereka semua terkesima dengan penampilan Fi. Lalu ia mengedarkan pandangannya kepada para penonton. Ekspresi mereka sama, kagum dan terpukau. Namun, itu tak membuat gairahnya naik.

‘Terlalu sempurna itu membosankan.’

Tepuk tangan penonton mengakhiri penampilan Fi. Gadis itu menundukkan kepala sebagai simbolis salam. Mau tak mau Tifa harus memberikan tepuk tangannya. Bagaimana pun penampilan Fi memang bagus, meski tak sesuai dengan seleranya.

Di deretan bangku penonton ada seseorang yang sedang tersenyum jumawa. Priyanka memberikan appalause yang paling keras ketika Fi menyelesaikan tariannya. Ternyata semua mentoringnya selama ini berhasil. Fi berhasil memikat penonton hari ini. sebagai gurunya ia merasa bangga atas pencapaian muridnya.

Di sisi lain, ada seorang penonton yang menyaksikan penampilan Fi dengan tegang. Penonton sekaligus peserta terakhir itu tak lain adalah Ririn. Penampilan Fi yang begitu memukau membuatnya sangat gugup. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak, Fi tak hanya memanjakan penonton dengan tariannya, tapi juga lengkap dengan kostum dan make up yang cantik. Sementara ia hanya memakai tank top dan legging hitam yang saat ini masih tertutup oleh jaketnya. Ia menyesal kenapa ia tak mencari kostum terlebih dahulu sebelum tampil.

Tiba-tiba ia merasa kedua tangannya digenggam. Refleks ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ternyata Ben dan Kemal merasakan kekhawatiran gadis itu. Mereka membagi semangat lewat genggaman tangan itu.

“ Jangan cemas!” bisik Kemal.

“ Kita bantai mereka!” Ben berbisik dengan nada berapi-api.

Ririn terkekeh. Lalu ia menghembuskan napas yang panjang. Kata-kata Ben dan Kemal berhasil membuat semangatnya kembali berkobar. Tak lama kemudian, namanya pun dipanggil. Ia beserta Ben dan Kemal pun beranjak ke hadapan para juri. Sebelum ia bangkit dari tempat duduk, seseorang yang di belakangnya dengan menepuk pundaknya sekaligus berbisik.

“ Aku dan yang lain akan selalu mendukungmu.”

Ririn menyempatkan menoleh ke arah sumber suara. Ternyata suara bisikan itu berasal dari laki-laki yang setia dengan kacamata buram serta sisiran rapinya. Di samping laki-laki itu duduk Andani, kemudian Anjani, dan terakhir adalah Wenda. Mereka terlihat khawatir dan gugup, tapi senyuman hangat mereka seolah menyalurkan semangat yang mereka miliki. Seperti Ben dan Kemal, mereka juga percaya dengan kemampuan yang Ririn miliki. Mereka sudah memberikan banyak bantuan selama ini. Oleh karena itu, Ririn tak mau mengecewakan mereka. Ia menginginkan peran ini.

Namun, ia tak bisa mencegah bahwa ia tersanjung dengan semua dukungan dari teman-temannya. Ia tak bisa menahan senyumannya.

“ Eh, memangnya boleh bawa asisten?” bisik Riani pada Tifa saat Ririn beserta Kemal dan Ben sudah siap di hadapan mereka.

“ Rasanya aku tidak menuliskannya dalam peraturanku,” ujar Tifa sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala. “ Aku juga tidak melarangnya, yang penting hasilnya bagus.”

Riani hanya menganggukkan kepalanya. Pandangannya kini kembali fokus pada peserta yang akan segera tampil ini. seingatnya ketiga orang di depannya ini ketika audisi pertama tak ada yang menampilkan bakat menari. Fi juga sebenarnya, tapi entah kenapa Riani justru lebih meragukan peserta kedua ini.

Benar saja. Tak ada yang istimewa dari pesona awal dari gadis ini. Ia tak mengenakan kostum mewah seperti peserta sebelumnya. Ketika ia membuka jaketnya, ternyata tubuhnya hanya terbalut tank top dan legging hitam. Meski Riani harus akui kalau heels gladiator yang dikenakan gadis itu cukup keren, tapi masih tetap kalah dengan penampilan Fi. Kedua pendampingnya pun demikian. Mereka berdua hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana panjang yang warnanya sama-sama hitam. Pun dengan musik yang digunakan hanyalah lagu yang sudah sering terdengar di telinga semua orang. Entah kenapa gadis itu justru memilih lagu “Unconditional” milik Katy Perry. Tidak seperti Fi yang khusus menggunakan lagu klasik yang indah.

Namun, semua argumen Riani terbantahkan ketika gadis itu memulai tariannya. Di awal lagu ia memang menari solo, tapi tariannya itu seolah-olah memanggil Ben untuk berdansa dengannya. Ben menyambutnya, kemudian keduanya berdansa dengan penuh gairah.

Ternyata dansa keduanya justru seperti memancing Kemal untuk merebut Ririn. Kemal melakukannya. Sama seperti yang ia lakukan pada Ben, Ririn sama sekali tak mengurangi gairahnya ketika berdansa dengan Kemal.

Seolah tak terima, Ben mencoba merebut Ririn kembali. Namun, Kemal tak mau kehilangan kesempatan untuk berdansa. Mereka seolah saling mencuri kesempatan untuk berdansa dengan gadis itu. Seperti wanita yang penuh pesona, Ririn mengambil kesempatan itu untuk berdansa dengan keduanya. Ia benar-benar menampilkan sosok wanita penggodanya lewat dansa itu.

‘ Jadi begitu alurnya’, pikir Riani. ‘Gadis ini boleh juga.’

Mendekati puncak lagu, Ririn memilih untuk berdansa dengan Ben. Di sinilah ia mempraktekkan semua perintah yang Wenda pesankan dari jauh-jauh hari.

Berciuman dengan gestur tubuh…

 Keduanya saling terpaut. Mereka menciptakan jarak hanya beberapa senti. Tak peduli dengan desahan napas mereka yang saling memburu, tapi keduanya sama-sama tak mau melepaskan tatapan mereka. Ben menatap tajam, sementara Ririn mengeluarkan aura yang penuh hasrat lewat matanya. Mereka terpaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya mereka saling melepaskan diri.

Baik juri maupun penonton, mereka semua sama-sama melepaskan napas yang sempat tertahan. Mereka sangat tegang menyaksikan dansa antara Ben dan Ririn. Semua berpikir mereka berdua akan berciuman. Bagaimana tidak, sejak awal ia berdansa, Ririn seolah menebar pesona pada Ben dan Kemal. Semua setuju kalau Ririn tidak pantas disebut bagus, tapi dia seksi sekaliii.

Setelah adegan klimaks di puncak lagu, seharusnya Ririn melanjutkan tarian solonya. Namun, ada hal yang mengganggu pertunjukkan itu. Tidak merusak acara, tapi justru mengejutkan semua orang.

Tifa tersenyum saat kursi di sebelahnya bergerak. Ekor matanya mengikuti pergerakan orang tersebut. Ia menarik napas panjang.

‘ Ini baru seru. Kejutan yang aku tunggu ternyata datang juga.’

Orang yang duduk di samping Tifa adalah Adrian. Hal yang mengejutkan itu juga perbuatan Adrian. Entah mengapa tiba-tiba laki-laki itu menyeruak di antara dansa Ririn dan Ben, kemudian merebut gadis itu. Mereka pun berdansa hingga akhir lagu.

Melihat hal itu, Ben dan Kemal langsung mundur teratur. Ririn sudah mendapatkan tokoh utamanya. Itu berarati tugas mereka sudah selesai. Ada rasa bangga di hati mereka karena telah membuat Adrian terpukau dan berdansa dengan gadis itu.

“ Tarian yang penuh feromon,” komentar Gloria.

Tifa terkekeh, “ Feromon hanya ada pada serangga jantan, Glo.”

Gloria tahu itu, tapi ia tak tahu bagaimana menggambarkan gairah yang terpancar dari dansa gadis itu. Ketika bersama Adrian, gadis itu hanya berdansa waltz biasa. Meski begitu, Gloria menganggap bahwa ini adalah simbol kemenangan mutlak untuk Ririn.

Ketika semua orang larut dalam perasaan kagum, Fi justru tenggelam dalam perasaan iri dan cemburu. Ia iri Ririn bisa menari sedemikian seksinya. Ia juga cemburu karena Adrian bisa terpancing oleh gadis itu. Bagaimana mungkin pesona gadis itu bisa menjerat sang pangeran.

Priyanka pun merasakan hal yang serupa, hanya saja sedikit berbeda. Jika Fi cemburu pada gadis itu, Priyanka justru iri pada sang pelatih. Sejak awal Ririn menari, Priyanka memerhatikan seringai kemenangan yang terukir di wajah Wenda. Gadis itu sangat puas dengan hasil yang diberikan muridnya. Disitulah letak rasa iri Priyanka. Ia iri karena Wenda telah melampaui dirinya.

Standing applause diberikan penonton untuk penampilan Ririn yang telah memanaskan suasana. Bahkan Adrian yang tadi berdansa bersamanya ikut memberikan tepuk tangan. Ririn tersenyum gugup sambil berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Bersama Kemal dan Ben, gadis itu pun menutup penampilan mereka dengan memberi salam.

“ Baiklah, audisi ini akan kami tahan sejenak untuk kami, para juri, berunding,” ujar Tifa sambil menegakkan tubuhnya. Kemudian ia beserta keempat juri lainnya pergi meninggalkan ruangan.

ooOoo

‘ Siip, tinggal satu putaran lagi…’

Ririn sudah merasa menyelesaikan tugas berat yang diperintahkan Wenda. Sekarang ia tinggal menyelesaikan tarian terakhirnya hingga lagu ini berakhir. Memang seperti itulah alur cerita yang mereka buat. Ririn seolah-olah menjadi wanita yang berhasil menggoda Kemal dan Ben, hingga mereka saling memperbutkan dirinya untuk berdansa. Di dalam cerita itu, meski Ririn sudah berhasil menggoda Ben dan Kemal, tapi sebenarnya dansa itu ditujukan pada Adrian. Ririn menggoda Ben dan Kemal untuk membuktikkan bahwa dirinya adalah wanita hebat yang pantas untuk diperebutkan.

Semua itu hanya cerita. Ririn tak benar-benar bermaksud menggoda siapapun. Namun, siapa sangka, ternyata Adrian benar-benar tergoda untuk berdansa dengannya. Setelah ia memisahkan diri dari Ben, ia bersiap untuk melakukan tarian solonya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik pinggangnya hingga ia jatuh dalam pelukan orang tersebut. Ririn pikir orang itu adalah Kemal, tapi ternyata justru Adrian.

Pikiran Ririn blank seketika. Ia tak tahu harus melakukan apa ketika Adrian sudah ada di depannya. Ia bahkan lupa dengan segala tarian yang harus ia tunjukkan. Untunglah, Adrian pandai membawa Ririn dalam langkah-langkah dansanya. Hingga tepuk tangan dari penonton membuat Ririn kembali sadar ke alam pikirnya.

“ Kamu memang benar-benar berhasil menggodaku.”

Sial. Bisikan Adrian terdengar begitu seksi di telinga Ririn. Pikiran gadis itu kembali melayang. Kalau saja Ben dan Kemal tidak menggamit tangannya, mungkin sampai matahari terbenam ia akan terpaku di tempatnya.

Adrian telah mempesonanya.

Ririn merasa ada debaran aneh di jantungnya saat laki-laki itu memandu langkahnya dalam berdansa. Kemudian bisikkan laki-laki itu yang membuat jantungnya kembali bekerja ekstra. Heran, padahal ia melakukan kontak mata yang menggairahkan dengan Ben, tapi ia tak merasakan apa-apa ketika bersama pria itu. Beberapa hari yang lalu ia juga baru saja ditembak Kemal, dan lagi-lagi Ririn tak merasakan hal menakjubkan. Hanya dua menit waktu yang dibutuhkan Adrian untuk memporak-porandakan seluruh kerja sistem syarafnya.

Ririn terpesona pada sang pangeran.


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar