Musikal 23
Andani
mengutuki si pemencet bel pintu rumahnya. Padahal ia baru saja mengunci pintu,
dan sekarang harus kembali lagi ke ruang tamu untuk membukanya kembali. Sungguh
pekerjaan yang merepotkan.
Sejak sang ayah menjabat sebagai ketua RT
banyak sekali tamu yang berdatangan. Mulai dari urusan kecil sampai perkara
yang menghabiskan waktu semalam suntuk. Inilah kadang yang membuatnya, juga Anjani,
risih dengan kehadiran tamu-tamu tersebut. Untuk menyalurkan kekesalannya itu,
ia buka pintu rumahnya dengan kasar.
“ Selamat malam. Maaf kami menganggu. Pak RT-nya ada?”
Satu detik… dua… tiga…
“ Ah, maaf, Mbak?”
“ A—Ad—Adrian
Kusuma Nugraha?”
Andani dan tamu itu sama-sama mematung di
tempatnya masing-masing. Si tamu seolah sedang mengingat-ingat siapa gadis
pemilik rumah ini. sementara Andani sudah sangat yakin dengan ingatannya
sendiri mengenai tamunya ini.
“ Iya
benar, saya Adrian Kusuma Nugraha. Mbak tahu saya dari mana? Ahh, apa kita
pernah bertemu sebelumnya?”
Buru-buru Andani menyodorkan tangannya, “
Andani Bramastya. Aku tergabung di tim musik Love Musical.”
Laki-laki itu menjentikkan jarinya, “ Ahaa, Love Musical. Salam kenal”, Adrian pun
menjabat tangan Andani.
“ Ma—mari silahkan masuk.”
Ternyata Adrian tak sendiri. Di belakangnya
mengekor seorang wanita tua yang wajahnya mengingatkan Andani pada seseorang.
“ Eh, dia ibumu?” tanya Andani seraya
menyalami wanita tua itu.
“ Bukan, saya neneknya,” jawab wanita itu
dengan ramah.
Andani terkesiap, “ Eh, eh, jadi Anda ibunya Miss Tifa?”
Keramahan wanita itu seketika lenyap ketika
Andani menyebutkan nama anaknya. Tatapannya berubah menjadi sinis.
“ Menyesal saya harus mengakui kalau fakta
itu memang benar.”
Andani kebingungan. Ia menatap wanita itu dan
Adrian bergantian. Adrian pun buru-buru memberi kode supaya Andani tidak
bertanya lebih jauh lagi.
“ Hmm, jadi ketua RT di sini ayahmu ya?”
Adrian langsung mengalihkan pembicaraan. “ Kami ke sini untuk bertemu beliau.
Mau laporan, kalau nanti aku akan tinggal di sini sampai beberapa bulan ke
depan.”
“ Oh—oh, i—iya.
Ba—baiklah, tunggu sebentar.”
Andani segera mengambil jurus seribu langkah.
Segera setelah memanggil ayahnya, ia melesat ke lantai dua dan menggedor pintu
kamar Anjani.
Kembarannya ini sedang fokus mengerjakan
tugas matematikanya. Gedoran pintu kamarnya membuat gadis ini kehilangan
konsentrasi. Dengan kesal, ia membuka pintu dan siap-siap menerkam si
pengganggu itu.
“ Astaga, An! Gak bisa ketuk pelan-pelan aja
apa? Aku lagi buat PR nih!”
Andani memberikan isyarat agar Anjani tidak
mengeluarkan emosinya sekarang. Sebelum Anjani kembali meledak, ia langsung
menarik tangan Anjani keluar dari kamar, menuruni tangga, dan mengintip ke
ruang tamu dan balik dinding.
“ An, ap―”
Tangan Andani telah sigap membekap mulut
saudarinya. Telunjuk tangannya yang lain menempel pada mulutnya.
“ Jangan berisik dulu! Sekarang lihat siapa
tamu yang datang.”
Meski kesal, tapi Anjani menurut saja. Ia
mengintip dari balik tembok. Terlihat ayahnya sedang berbicara dengan dua orang
tamunya. Satu orang wanita dan seorang pemuda. Begitu ia amati, ia langsung
mengerti kenapa saudarinya itu berbuat aneh.
“ Itu Adrian’kan? Adrian Kusuma Nugraha
keponakannya Miss Tifa? Ngapain dia
ke sini sama Nenek July?”
“ Eh, kamu kenal sama nenek-nenek itu?” tanya
Andani yang dijawab dengan anggukan kembarannya. “ Itu nenek, neneknya Adrian.
Ibunya Miss Tifa.”
Anjani kembali terkejut, “ Apa? Maksud kamu
Adrian dan Miss Tifa sekarang tetangga
kita?”
“ Sepertinya begitu,” Andani merasa ragu. “
Kok kita baru tahu ya, kalau selama ini ada tetangga kita yang ternyata punya
hubungan dekat dengan para pesohor negeri?”
“ Entahlah, aku hanya tahu nenek itu dari
Mama, tapi Mama gak pernah cerita bagaimana keluarga nenek itu.”
Kedua saudara kembar ini sama-sama menghela
napas. Mungkin karena mereka terlahir kembar, tanpa sadar mereka melakukan
perbuatan yang sama. Melipat tangan di depan dada dan memikirkan kalimat yang
sama.
‘
Besok pagi akan ada berita heboh. Adrian Kusuma Nugraha adalah tetanggaku…’
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar