Musikal
26
Ririn
harus mengakui kalau paranoidnya terhadap Kemal memang masih berlebihan.
Laki-laki ini hanya mengajaknya ke mall
yang letaknya berseberangan dengan gedung DPRD. Ia dan Kemal menghabiskan makan
malam mereka di salah satu kafe yang ada di mall tersebut.
“
Kamu gak capek apa ngajak aku makan malam di sini?”
Kemal
tersenyum menanggapi pertanyaan lugu gadis itu, “ Nggak ah, biasa aja kok. Lagi
pula siapa yang bisa capek meladeni gadis semanis kamu.”
Untunglah
Ririn sudah mulai terbiasa dengan gombalan Kemal. Ia hanya melempar senyuman
sinis pada laki-laki itu.
“
Loh, tumben kamu cuma senyam-senyum. Biasanya langsung parno gitu kalau aku
gombalin.”
“
Kayaknya aku udah kapalan sama gombalan kamu,” Ririn terkekeh.
Kemal
ikut tertawa, “ Oh gitu, baguslah. Jadi aku gak perlu jaga jarak lagi sama
kamu, iya’kan?”
Tawa
Ririn kembali pecah.
“
Eh, audisinya lima hari lagi’kan? Jadi, gimana perkembangan kamu?”
“
Yaah, aku rasa kamu juga tahu sendiri. Tapi mungkin kalau boleh sombong, aku
merasa sudah lebih baik dari pada di awal latihan.”
“
Pastinya, kamu’kan giat berlatih.”
Ririn
mengangguk. Mereka pun kembali melanjutkan makan malam.
“
Tapi serius loh, Rin. Aku gombalin kamu selama ini bukan gak ada maksud. Aku benar-benar
suka sama kamu.”
Ririn
mengurungkan niat untuk menyendokkan nasi. Nada bicara Kemal yang tak biasa itu
membuat Ririn penasaran. Apa benar laki-laki sedang menyatakan cintanya?
“
Aku serius dan aku minta
kepastian,” ujarnya lagi.
Ririn
kehilangan kata-kata. Lucunya, ia sama sekali tidak merasakan debaran aneh
ketika Kemal menyatakan perasaannya. Di sisi lain, ada sebuah perasaan yang
tidak nyaman melanda hati kecilnya. Ia bingung. Apakah saat ini jatuh cinta
atau tidak dengan pria ini.
“
Umm, well, tapi, Kemal, kita ini baru
aja saling kenal.”
“
Gak ada masalah buatku. Cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya
waktu,” Kemal menatap Ririn tanpa berkedip. “ Dan kalau kamu mau, aku bisa buat
kamu jatuh cinta sama aku.”
Ririn
berdeham, “ Dan apa aku juga harus buat kamu jatuh cinta padaku?”
“
Nope, because I have falling in love with
you at the first sight.”
Ririn
kembali berdeham. Entah kenapa kali ini bulu kuduknya kembali merinding. Kemal
terlalu percaya diri, dan hal ini membuatnya sedikit takut.
Lalu
apa ia harus menolak Kemal? Ahh, rasanya rugi bandar juga. Kemal terlalu seksi
untuk dilewatkan.
Ririn
benci ketika hatinya saling berkontradiksi.
“
Hei, kok kamu melamun?” Kemal melambaik-lambaikan tangannya di depan wajah
Ririn. “ Jadi, aku diterima atau nggak nih?”
Terdengar
hembusan napas yang panjang dari Ririn. Gadis itu terlihat kesulitan menelan
air ludahnya sendiri.
“
Hmm, kalau aku punya persyaratan gimana?”
“
Asal kamu gak nyuruh aku buat seribu candi beserta dua sumur dalam satu malam.”
Ririn
tersenyum sekenanya, “ Well, emmm… syaratnya
adalah audisi nanti. Kalau aku lolos sebagai pemeran utama, aku bakal pacaran
sama kamu. Kalau nggak yaaa… yaaaa… berarti kita cuma temenan aja.”
Kemal
merasa pernyataan cintanya sedang dipertaruhkan di meja judi. Keningnya
berkerut-kerut saat menatap Ririn. Beberapa menit kemudian ia tampak
mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali tersenyum.
“
Tapi kamu gak bakal sengaja ngalah’kan?”
Ririn
menggeleng cepat, “ Aku sudah berusaha sejauh ini. Masa iya aku mau ngalah.”
“
Good!” Kemal tersenyum lebih lebar
dari biasanya. “ Aku tunggu jawaban kamu lima hari lagi!”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar