Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 17)



Musikal 17



“…. Audisinya akan dilaksanakan dua minggu lagi. Kalian bisa gunakan waktu dua minggu ini untuk berlatih. Nah, semangatlah!”

Tifa membubarkan pertemuan setelah ia selesai memberikan pengarahan. Di saat itulah Ririn sedang diliputi kebingungan. Audisi kali ini akan benar-benar sulit. Ia sempat berpikir untuk langsung saja menyerahkan pemeran utama itu pada Fi. Namun, ia sudah sampai sejauh ini, ia tidak bisa mundur lagi. Kepalang basah, sekalian saja menyelam.

Terlintas ide di kepalanya saat ia melihat Priyanka. Ia memang tak mengenal gadis itu, tapi dengan sedikit permohonan mungkin gadis itu mau membantu. Lagi pula sepertinya ia gadis yang baik.

Baru saja ia akan menyapa Priyanka, tiba-tiba saja langkahnya didahului oleh Fi. Priyanka melebarkan senyumannya saat Fi menyapa. Sempat terdengar di telinga Ririn kalau Fi meminta bantuan Priyanka untuk melatihnya menari. Tubuh Ririn terasa kaku seketika. Apa lagi ketika Fi sadar akan maksud Ririn, karena mereka berdua berdiri tidak terlalu jauh. Seakan membaca pikiran gadis itu, Fi dengan sengaja melemparkan tatapan sinis padanya. Ririn hanya bisa mendesah berat. Ia berjalan gontai keluar ruangan dan menyambut Andani dengan tatapan lesu.

ooOoo

“ Iyaaa… jadi begitulah ceritanya, dan sepertinya aku juga tidak bisa meminta bantuan Bu Riani, karena dia sibuk.”

Wenda masih bergeming. Namun, Wenda sudah menjauhkan wajahnya dari wajah Ririn. Mereka sudah berdiri normal.

Terima saja permintaannya, Wen,” Anjani ikut bicara seraya melompat dari tempat duduknya. “ Bukannya kamu bersaing dengan Priyanka. Nah, ini kesempatanmu untuk menunjukkan siapa yang lebih baik. Produkmu atau dia.”

Ucapan Anjani sepertinya benar-benar ampuh. Wenda mengiyakan dan menjadikan kata-kata itu sebagai motivasinya.

“ Baiklah, aku bukan mau menolongmu tapi karena aku punya tujuan lain. Ingat-ingat ya, aku ini bukan guru yang sabar.”

Wajah Ririn seketika langsung berbinar. Hampir saja ia memeluk Wenda, tapi ia urungkan dan hanya menyalami gadis itu. Ia lemparkan senyuman lebar pada Alexi, dan laki-laki itu hanya tersenyum simpul.

“ Ah ya, ya, aku mengerti. Terima kasih, terima kasih banyak,” seru Ririn. “ Kapan kita bisa latihan?”

“ Hmm, kalau dua minggu lagi berarti kita mulai besok. Baiklah, besok pukul tiga aku tunggu kamu di studio sekolahku.”

Ririn mengangguk cepat, “ Siap!”

“ Ohohoho, tunggu dulu. Kamu pikir hidup akan happy ending secepat ini,” tiba-tiba Kemal memotong pembicaraan dan menarik Wenda ke belakang. “ Tak semudah itu. Ada syarat yang berlaku di sini.”

Ririn langsung bengong. Ia menoleh pada Alexi, tapi laki-laki itu hanya mengangkat bahunya.

“ Berikan kami satu tarianmu, bisa?” tanya Kemal.

Ririn mengangguk polos, “ Nggak.”

“ Kalau beri aku nomor ponselmu, bisa?”

Ririn masih setengah bengong, tapi segera hilang setelah tawa Anjani dan yang lainnya pecah. Bahkan Alexi ikut tertawa. Seketika itulah Ririn baru sadar kalau ia sedang dikerjai. Ia mendesah kesal.

Dasar cowok modus!

ooOoo

“ Senang mendengarnya kalau kamu masih mengingatku, Adrian.”

Adrian mendesah panjang, “ Kita pernah ikut sanggar selama lima tahun. Lagi pula kamu nggak operasi plastik.”

Fi tertawa ringan. Ia senang bisa betermu kembali dengan teman lamanya. Mereka berdua dulu bertemu ketika sama-sama tergabung dalam sanggar akting di Jakarta. Fi tak terlalu memiliki banyak teman di sana, tapi Adrian adalah sahabat terdekatnya.

“ Ah ya, kenalkan ini Priyanka. Dia ada di tim tari.”

Adrian dan Priyanka saling bersalaman, tapi Priyanka tak mengira kalau laki-laki ini tersenyum hangat kepadanya. Semula ia mengira kalau laki-laki ini adalah orang yang sombong. Namun, setelah ia mendapat senyuman itu dan mendengar bagaimana laki-laki itu bercakap-cakap dengan Fi, sosok Adrian telah berubah di matanya. Mungkin Adrian memang bukan pangeran kegelapan seperti imajinasinya. Adrian hanya dianugrahi wajah tampan dengan kharisma keangkuhan.

“ Apa yang membuatmu kembali ke sini, Fi?” tanya Adrian.

“ Kupikir kamu tahu,” Fi membuang wajahnya. Ia tak mau membahas masalah panjang yang membawanya hingga ke sini.

“ Ah, maaf. Aku baru saja kembali dari London,” ujar Adrian sambil melirik Tifa dari kejauhan. “ Kalau bukan karena Tanteku yang picik itu menyeretku kemari, mungkin aku akan segera berangkat ke Jepang.”

“ Picik? Picik bagaimana?” Priyanka mencoba bergabung dalam obrolan mereka.

Adrian mendengus kesal, “ Kalian akan tahu nanti.”

“ Ah, tapi bukannya itu bagus. Kamu dan aku bisa bertemu lagi setelah sekian lama,” lerai Fi. “ Bagaimana kalau nanti kita jalan bareng. Banyak yang aku ingin ceritakan padamu.”

“ Kurasa akhir pekan ini aku tidak sibuk,” jawab Adrian. “ Kamu saja yang tentukan dimana.”

Fi mengangguk semangat. Sudah lama sekali ia tak pernah sesenang ini. Adrian yang dulu dikenalnya dengan yang sekarang ia temui ternyata tak pernah berubah.


please comment and share


Author's note:
Cieeeh... yang mau audisi kedua. yohooo...pantengin terus Love Musical Extraordinary yahhh, see you next week... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar