Musikal
17
“…. Audisinya akan
dilaksanakan dua minggu lagi. Kalian bisa gunakan waktu dua minggu ini untuk
berlatih. Nah, semangatlah!”
Tifa membubarkan pertemuan
setelah ia selesai memberikan pengarahan. Di saat itulah Ririn sedang diliputi
kebingungan. Audisi kali ini akan benar-benar sulit. Ia sempat berpikir untuk
langsung saja menyerahkan pemeran utama itu pada Fi. Namun, ia sudah sampai
sejauh ini, ia tidak bisa mundur lagi. Kepalang basah, sekalian saja menyelam.
Terlintas ide di kepalanya
saat ia melihat Priyanka. Ia memang tak mengenal gadis itu, tapi dengan sedikit
permohonan mungkin gadis itu mau membantu. Lagi pula sepertinya ia gadis yang
baik.
Baru saja ia akan menyapa
Priyanka, tiba-tiba saja langkahnya didahului oleh Fi. Priyanka melebarkan
senyumannya saat Fi menyapa. Sempat terdengar di telinga Ririn kalau Fi meminta
bantuan Priyanka untuk melatihnya menari. Tubuh Ririn terasa kaku seketika. Apa
lagi ketika Fi sadar akan maksud Ririn, karena mereka berdua berdiri tidak
terlalu jauh. Seakan membaca pikiran gadis itu, Fi dengan sengaja melemparkan
tatapan sinis padanya. Ririn hanya bisa mendesah berat. Ia berjalan gontai
keluar ruangan dan menyambut Andani dengan tatapan lesu.
ooOoo
“
Iyaaa… jadi begitulah ceritanya, dan sepertinya aku juga tidak bisa meminta bantuan
Bu Riani, karena dia sibuk.”
Wenda
masih bergeming. Namun, Wenda sudah menjauhkan wajahnya dari wajah Ririn.
Mereka sudah berdiri normal.
“
Terima saja permintaannya,
Wen,” Anjani ikut bicara seraya melompat dari tempat duduknya. “ Bukannya kamu
bersaing dengan Priyanka. Nah, ini kesempatanmu untuk menunjukkan siapa yang
lebih baik. Produkmu atau dia.”
Ucapan
Anjani sepertinya benar-benar ampuh. Wenda mengiyakan dan menjadikan kata-kata
itu sebagai motivasinya.
“
Baiklah, aku bukan mau menolongmu tapi karena aku punya tujuan lain.
Ingat-ingat ya, aku
ini bukan guru yang sabar.”
Wajah
Ririn seketika langsung berbinar. Hampir saja ia memeluk Wenda, tapi ia
urungkan dan hanya menyalami gadis itu. Ia lemparkan senyuman lebar pada Alexi,
dan laki-laki itu hanya tersenyum simpul.
“
Ah ya, ya, aku mengerti. Terima kasih, terima kasih banyak,” seru Ririn. “
Kapan kita bisa latihan?”
“
Hmm, kalau dua minggu lagi berarti kita mulai besok. Baiklah, besok pukul tiga
aku tunggu kamu di studio sekolahku.”
Ririn
mengangguk cepat, “ Siap!”
“
Ohohoho, tunggu dulu. Kamu pikir hidup akan happy
ending secepat ini,” tiba-tiba Kemal memotong pembicaraan dan menarik Wenda
ke belakang. “ Tak semudah itu. Ada syarat yang berlaku di sini.”
Ririn
langsung bengong. Ia menoleh pada Alexi, tapi laki-laki itu hanya mengangkat
bahunya.
“
Berikan kami satu tarianmu, bisa?” tanya Kemal.
Ririn
mengangguk polos, “ Nggak.”
“
Kalau beri aku nomor ponselmu, bisa?”
Ririn
masih setengah bengong, tapi segera hilang setelah tawa Anjani dan yang lainnya
pecah. Bahkan Alexi ikut tertawa. Seketika itulah Ririn baru sadar kalau ia
sedang dikerjai. Ia mendesah kesal.
Dasar cowok modus!
ooOoo
“
Senang mendengarnya kalau kamu masih mengingatku, Adrian.”
Adrian
mendesah panjang, “ Kita pernah ikut sanggar selama lima tahun. Lagi pula kamu
nggak operasi plastik.”
Fi
tertawa ringan. Ia senang bisa betermu kembali dengan teman lamanya. Mereka
berdua dulu bertemu ketika sama-sama tergabung dalam sanggar akting di Jakarta.
Fi tak terlalu memiliki banyak teman di sana, tapi Adrian adalah sahabat
terdekatnya.
“
Ah ya, kenalkan ini Priyanka. Dia ada di tim tari.”
Adrian
dan Priyanka saling bersalaman, tapi Priyanka tak mengira kalau laki-laki ini
tersenyum hangat kepadanya. Semula ia mengira kalau laki-laki ini adalah orang
yang sombong. Namun, setelah ia mendapat senyuman itu dan mendengar bagaimana
laki-laki itu bercakap-cakap dengan Fi, sosok Adrian telah berubah di matanya.
Mungkin Adrian memang bukan pangeran kegelapan seperti imajinasinya. Adrian
hanya dianugrahi wajah tampan dengan kharisma keangkuhan.
“
Apa yang membuatmu kembali ke sini, Fi?” tanya Adrian.
“
Kupikir kamu tahu,” Fi membuang wajahnya. Ia tak mau membahas masalah panjang
yang membawanya hingga ke sini.
“
Ah, maaf. Aku baru saja kembali dari London,” ujar Adrian sambil melirik Tifa
dari kejauhan. “ Kalau bukan karena Tanteku yang picik itu menyeretku kemari,
mungkin aku akan segera berangkat ke Jepang.”
“
Picik? Picik bagaimana?” Priyanka mencoba bergabung dalam obrolan mereka.
Adrian
mendengus kesal, “ Kalian akan tahu nanti.”
“
Ah, tapi bukannya itu bagus. Kamu dan aku bisa bertemu lagi setelah sekian
lama,” lerai Fi. “ Bagaimana kalau nanti kita jalan bareng. Banyak yang aku
ingin ceritakan padamu.”
“
Kurasa akhir pekan ini aku tidak sibuk,” jawab Adrian. “ Kamu saja yang
tentukan dimana.”
Fi
mengangguk semangat. Sudah lama sekali ia tak pernah sesenang ini. Adrian yang
dulu dikenalnya dengan yang sekarang ia temui ternyata tak pernah berubah.
please comment and share
Author's note:
Cieeeh... yang mau audisi kedua. yohooo...pantengin terus Love Musical Extraordinary yahhh, see you next week...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar