Musikal 13
Tepat
satu minggu setelah audisi, pengumuman nama kandidat yang terpilih pun sudah
dipajang di papan pengumuman. Semua nama peserta baik dari SMA Chandra Kirana
maupun SMA Panji Semirang dipajang di dua sekolah tersebut dan di hari yang
sama. Tentu saja hal itu membuat gempar kedua sekolah tersebut.
Andani
adalah orang pertama yang meneriakkan euphoria. Namanya tertulis paling atas
dari sederet nama yang ada. Ia segera berlari menuju kelasnya dan menghampiri
Ririn yang baru saja datang.
“
Oh, hai,” ujar Ririn yang kaget karena tiba-tiba Andani menyergapnya. “ Ada
apa?”
“
Aku lulus, Ririn. Aku lulus!”
Ririn
menatap Andani dengan heran. Lulus apa?
Namun, setelah melihat ekspresi Andani yang begitu antusias, ia baru ingat
kalau beberapa hari yang lalu mereka baru saja mengikuti sebuah audisi. Aah, jadi itu.
“
Wow, selamat, teman! Aku sudah duga kamu pasti lulus.”
Mereka
berpelukan erat. Tiba-tiba Andani dengan cepat melepaskan pelukannya.
“
Eh, kamu gimana? Udah lihat papan pengumuman?”
“
Kamu gak lihat? Aku’kan baru sampai.”
“
Oh, ya udah. Aku temenin yuk,” Andani langsung menarik tangan Ririn, tapi gadis
itu justru menariknya kembali.
“
Gak usah deh, An. Aku tahu aku pasti gak lulus.”
Andani
menatap Ririn dengan cemberut, “ Kok gitu sih? Kenapa jadi pesimis gitu?”
“
Bukannya pesimis, tapi realistis,” ujar Ririn dengan tawa sakartisnya. “ Kamu
masih ingat dong gimana penampilan anak-anak kemarin. Keren-kerena semua, kamu
juga. Sementara aku, yaaa… aku sih biasa-biasa aja. Lagi pula aku ikut audisi
ini bukan karena aku mau, tapi kamu yang nyuruh. Jadi, terima gak terima aku
sih biasa aja.”
“
Tapi, Rin―”
Bel
masuk berbunyi. Ririn terselamatnya dari paksaan Andani berkat bel tersebut.
Baru kali ini ia sangat menyukai suara yang hampir seperti sirene ambulan.
ooOoo
Fi
tersenyum bangga, karena namanya turut serta tertera sebagai pemeran dalam
pentas Love Musical. Dengan begini ia
bisa membuktikan pada semua orang bahwa ia bukan artis kacangan. Ia mempunyai
bakat yang tidak boleh dianggap remeh.
“
Sepertinya kamu lulus.”
Fi
yang terlalu senang lantas tak memperhatikan jika Priyanka ada tepat di
sampingnya. Ia tak menjawab pertanyaan gadis itu, Fi justru balik bertanya.
“
Bagaimana denganmu?”
Priyanka
menunjuk namanya yang juga tertera di sana, “ Wah, sepertinya kita akan satu
panggung.”
“
Kamu benar. Kurasa aku harus bekerja keras.”
ooOoo
Ririn
masih membelalakan matanya. Ia tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar,
jadi ia menatap Andani dengan seksama.
“
A—aku lu—lus? L-U-L-U-S?”
Andani
mengangguk semangat, “ Iya kamu lulus, Rin. Sudah kuduga kamu juga bakalan satu
panggung sama aku.”
Namun,
Ririn tak seantusias Andani. Rasa-rasanya ia hanya menyanyikan lagu biasa
dengan gaya yang paling biasa. Ia tak pernah punya ambisi untuk turut andil
dalam pementasan ini. Sekarang begitu namanya lolos sebagai kandidat, ia justru
kebingungan.
“
Terus aku harus apa, An? Duuh, kamu kan tahu sendiri kalau aku gak pernah ikut
dalam hal-hal yang seperti ini.”
“
Yaa, latihan vokal dong, masih pake nanya pula,” jawab Andani. “ Kamu diterima
karena kamu nyanyi’kan, pasti kamu bakal jadi pengisi soundtrack pementasan nanti. Makanya kamu latihan vokalnya bareng
aku aja. Aku bisa jadi tentor kamu kok.”
“
Yah, aku rasa kamu benar,” ujar Ririn sambil mengangguk-anggukkan kepalanya,
kemudian ia memberikan salam hormat dengan kepalan tangannya. “ Tolong terima
aku sebagai muridmu, sensei.”
Andani
tertawa, “ Kamu apaan sih? Ya, udah pulang sekolah ini kamu mampir dulu aja ke
rumah aku. Kita latihan sekalian cek ketinggian nada oktaf kamu.”
“
Siap, sensei!” jawab Ririn bersemangat,
meski ia tak tahu apa yang akan ia lakukan nanti.
ooOoo
Anjani
dan Wenda saling bertukar high five.
Mereka begitu bersemangat karena nama mereka ada di baris teratas. Lebih senang
lagi karena mereka bisa tampil bersama-sama.
“
Ini kesempatan emas. Jangan kita sia-siakan!” Anjani mengatakannya dengan nada
berapi-api.
Wenda
terkekeh, “ Kamu terlalu terbakar, Jane. Tapi
yaaaah,
kamu benar. Ini kesempatan keduaku. Aku juga gak mau menyia-nyiakannya.
“
Wah, wah, wah, lihat di sini siapa yang benar-benar bersemangat?”
Euphoria
Anjani dan Wenda diinterupsi oleh kedatangan Ben dan Kemal. Kedua laki-laki itu
tersenyum penuh selidik. Senyuman yang paling dibenci oleh Anjani.
“
Jangan suka mengurusi urusan orang, Kemal. Kalian sendiri bagaimana?” ujar
Anjani.
“
Jadi, kalian mencemaskan kami?” Ben terkekeh. “ Tenang saja, nama kami sudah
terdaftar di sana.”
Anjani
tersenyum sinis, “ Huh, aku tak percaya.”
“
Astaga, Jane! Benar, mereka berdua lulus!”
Refleks
Anjani kembali menatap daftar nama peserta yang lulus. Ia terperanjat melihat
nama Ben dan Kemal juga turut hadir di sana. Tadi ia hanya fokus mencari
namanya sendiri, sehingga ia tak melihat ada nama dua orang itu di sana.
“
Benar’kan, kalian pikir kami bohong,” ujar Kemal seraya merangkul pundak Anjani
dan Wenda. “ Kalau begitu tolong kerja samanya ya.”
Wenda
menggerutu sambil menepis tangan Kemal. Namun, omelannya terhenti saat ada
seorang laki-laki lain mendekati mereka.
“
Yo, Al,” sapa Ben. “ Bagaimana audisimu?”
“
Ah, bukannya kalian lebih tahu,” jawabnya sambil membetulkan letak kacamata. “
Ngomong-ngomong selamat ya atas keberhasilan audisi kalian.”
Ben
dan Kemal tersenyum senang.
“
Ah, kalian juga.”
Wenda
dan Anjani saling bertukar pandang. Sepertinya ucapan selamat itu ditujukan
pada mereka.
“
Ah ya, terima kasih,” balas Wenda.
Selama
Ben dan Kemal bercakap-cakap dengan Alexi, Wenda menelusuri wajah laki-laki
itu. Penampilannya masih membosankan seperti kemarin. Kacamata tebal, sisiran
rapi, dan kerah baju yang dikancingkan,
tapi
entah kenapa ada inner
yang menarik perhatiannya. Mungkin karena bakat dari laki-laki itu. Wenda akui,
penampilan laki-laki itu memang yang paling memukau saat audisi kemarin.
“
Eh, siapa nama teman kalian itu tadi?” tanya Wenda setelah Alexi pergi.
“
Aku lupa nama panjangnya, yang aku tahu sih cuma Al,” jawab Ben. “ Ah ya,
Alexi. Eh tapi Alexi apa ya?”
Wenda
mengangguk. Ia kembali menatap papan pengumuman. Matanya dengan serius mencari
nama itu baris demi baris.
“
Apa namanya Alexi Agriawan?”
“
Ah, benar,” sahut Ben. “ Aku ingat, namanya itu mirip dengan istilah pertanian.
Agraris, Agar-agar, eh,
Agriawan.”
“
Kenapa, Wen?” tanya Anjani ketika mendengar desahan Wenda.
Gadis
itu tersenyum. Ia menunjuk sebuah nama yang tertulis di deret paling atas.
“
Teman kalian itu benar-benar jenius.”
please comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar