Total Tayangan Halaman

Jumat, 13 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 13)




Musikal 13 




Tepat satu minggu setelah audisi, pengumuman nama kandidat yang terpilih pun sudah dipajang di papan pengumuman. Semua nama peserta baik dari SMA Chandra Kirana maupun SMA Panji Semirang dipajang di dua sekolah tersebut dan di hari yang sama. Tentu saja hal itu membuat gempar kedua sekolah tersebut.

Andani adalah orang pertama yang meneriakkan euphoria. Namanya tertulis paling atas dari sederet nama yang ada. Ia segera berlari menuju kelasnya dan menghampiri Ririn yang baru saja datang.

“ Oh, hai,” ujar Ririn yang kaget karena tiba-tiba Andani menyergapnya. “ Ada apa?”

“ Aku lulus, Ririn. Aku lulus!”

Ririn menatap Andani dengan heran. Lulus apa? Namun, setelah melihat ekspresi Andani yang begitu antusias, ia baru ingat kalau beberapa hari yang lalu mereka baru saja mengikuti sebuah audisi. Aah, jadi itu.

“ Wow, selamat, teman! Aku sudah duga kamu pasti lulus.”

Mereka berpelukan erat. Tiba-tiba Andani dengan cepat melepaskan pelukannya.

“ Eh, kamu gimana? Udah lihat papan pengumuman?”

“ Kamu gak lihat? Aku’kan baru sampai.”

“ Oh, ya udah. Aku temenin yuk,” Andani langsung menarik tangan Ririn, tapi gadis itu justru menariknya kembali.

“ Gak usah deh, An. Aku tahu aku pasti gak lulus.”

Andani menatap Ririn dengan cemberut, “ Kok gitu sih? Kenapa jadi pesimis gitu?”

“ Bukannya pesimis, tapi realistis,” ujar Ririn dengan tawa sakartisnya. “ Kamu masih ingat dong gimana penampilan anak-anak kemarin. Keren-kerena semua, kamu juga. Sementara aku, yaaa… aku sih biasa-biasa aja. Lagi pula aku ikut audisi ini bukan karena aku mau, tapi kamu yang nyuruh. Jadi, terima gak terima aku sih biasa aja.”

“ Tapi, Rin―”

Bel masuk berbunyi. Ririn terselamatnya dari paksaan Andani berkat bel tersebut. Baru kali ini ia sangat menyukai suara yang hampir seperti sirene ambulan.

ooOoo

Fi tersenyum bangga, karena namanya turut serta tertera sebagai pemeran dalam pentas Love Musical. Dengan begini ia bisa membuktikan pada semua orang bahwa ia bukan artis kacangan. Ia mempunyai bakat yang tidak boleh dianggap remeh.

“ Sepertinya kamu lulus.”

Fi yang terlalu senang lantas tak memperhatikan jika Priyanka ada tepat di sampingnya. Ia tak menjawab pertanyaan gadis itu, Fi justru balik bertanya.

“ Bagaimana denganmu?”

Priyanka menunjuk namanya yang juga tertera di sana, “ Wah, sepertinya kita akan satu panggung.”

“ Kamu benar. Kurasa aku harus bekerja keras.”

ooOoo

Ririn masih membelalakan matanya. Ia tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar, jadi ia menatap Andani dengan seksama.

“ A—aku lulus? L-U-L-U-S?”

Andani mengangguk semangat, “ Iya kamu lulus, Rin. Sudah kuduga kamu juga bakalan satu panggung sama aku.”

Namun, Ririn tak seantusias Andani. Rasa-rasanya ia hanya menyanyikan lagu biasa dengan gaya yang paling biasa. Ia tak pernah punya ambisi untuk turut andil dalam pementasan ini. Sekarang begitu namanya lolos sebagai kandidat, ia justru kebingungan.

“ Terus aku harus apa, An? Duuh, kamu kan tahu sendiri kalau aku gak pernah ikut dalam hal-hal yang seperti ini.”

“ Yaa, latihan vokal dong, masih pake nanya pula,” jawab Andani. “ Kamu diterima karena kamu nyanyi’kan, pasti kamu bakal jadi pengisi soundtrack pementasan nanti. Makanya kamu latihan vokalnya bareng aku aja. Aku bisa jadi tentor kamu kok.”

“ Yah, aku rasa kamu benar,” ujar Ririn sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia memberikan salam hormat dengan kepalan tangannya. “ Tolong terima aku sebagai muridmu, sensei.”

Andani tertawa, “ Kamu apaan sih? Ya, udah pulang sekolah ini kamu mampir dulu aja ke rumah aku. Kita latihan sekalian cek ketinggian nada oktaf kamu.”

“ Siap, sensei!” jawab Ririn bersemangat, meski ia tak tahu apa yang akan ia lakukan nanti.

ooOoo

Anjani dan Wenda saling bertukar high five. Mereka begitu bersemangat karena nama mereka ada di baris teratas. Lebih senang lagi karena mereka bisa tampil bersama-sama.

“ Ini kesempatan emas. Jangan kita sia-siakan!” Anjani mengatakannya dengan nada berapi-api.

Wenda terkekeh, “ Kamu terlalu terbakar, Jane. Tapi yaaaah, kamu benar. Ini kesempatan keduaku. Aku juga gak mau menyia-nyiakannya.

“ Wah, wah, wah, lihat di sini siapa yang benar-benar bersemangat?”

Euphoria Anjani dan Wenda diinterupsi oleh kedatangan Ben dan Kemal. Kedua laki-laki itu tersenyum penuh selidik. Senyuman yang paling dibenci oleh Anjani.

“ Jangan suka mengurusi urusan orang, Kemal. Kalian sendiri bagaimana?” ujar Anjani.

“ Jadi, kalian mencemaskan kami?” Ben terkekeh. “ Tenang saja, nama kami sudah terdaftar di sana.”

Anjani tersenyum sinis, “ Huh, aku tak percaya.”

“ Astaga, Jane! Benar, mereka berdua lulus!”

Refleks Anjani kembali menatap daftar nama peserta yang lulus. Ia terperanjat melihat nama Ben dan Kemal juga turut hadir di sana. Tadi ia hanya fokus mencari namanya sendiri, sehingga ia tak melihat ada nama dua orang itu di sana.

“ Benar’kan, kalian pikir kami bohong,” ujar Kemal seraya merangkul pundak Anjani dan Wenda. “ Kalau begitu tolong kerja samanya ya.”

Wenda menggerutu sambil menepis tangan Kemal. Namun, omelannya terhenti saat ada seorang laki-laki lain mendekati mereka.

“ Yo, Al,” sapa Ben. “ Bagaimana audisimu?”

“ Ah, bukannya kalian lebih tahu,” jawabnya sambil membetulkan letak kacamata. “ Ngomong-ngomong selamat ya atas keberhasilan audisi kalian.”

Ben dan Kemal tersenyum senang.

“ Ah, kalian juga.”

Wenda dan Anjani saling bertukar pandang. Sepertinya ucapan selamat itu ditujukan pada mereka.

“ Ah ya, terima kasih,” balas Wenda.

Selama Ben dan Kemal bercakap-cakap dengan Alexi, Wenda menelusuri wajah laki-laki itu. Penampilannya masih membosankan seperti kemarin. Kacamata tebal, sisiran rapi, dan kerah baju yang dikancingkan, tapi entah kenapa ada  inner yang menarik perhatiannya. Mungkin karena bakat dari laki-laki itu. Wenda akui, penampilan laki-laki itu memang yang paling memukau saat audisi kemarin.

“ Eh, siapa nama teman kalian itu tadi?” tanya Wenda setelah Alexi pergi.

“ Aku lupa nama panjangnya, yang aku tahu sih cuma Al,” jawab Ben. “ Ah ya, Alexi. Eh tapi Alexi apa ya?”

Wenda mengangguk. Ia kembali menatap papan pengumuman. Matanya dengan serius mencari nama itu baris demi baris.

“ Apa namanya Alexi Agriawan?”

“ Ah, benar,” sahut Ben. “ Aku ingat, namanya itu mirip dengan istilah pertanian. Agraris, Agar-agar, eh, Agriawan.”

 “ Kenapa, Wen?” tanya Anjani ketika mendengar desahan Wenda.

Gadis itu tersenyum. Ia menunjuk sebuah nama yang tertulis di deret paling atas.

“ Teman kalian itu benar-benar jenius.”


please comment and share
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar