Musikal
18
Anjani
keheranan melihat Ririn yang datang terengah-engah. Ia terlihat lelah, tapi
sepertinya ia sangat senang saat bertemu dengan Anjani.
“
Kamu kenapa?”
“
Ahh, Anjani, syukurlah aku bertemu denganmu,” Ririn tampak kewalahan mengatur
napasnya. “ Aku buru-buru datang ke sini, tapi malah tersesat. Ngomong-ngomong
studio tempat Wenda suka latihan dimana ya?”
Anjani
mengerti sekarang. Ia baru ingat kalau gadis ini meminta Wenda untuk melatihnya
menari. Pantas saja ia terburu-buru ke sini.
“
Ikut saja aku. Kebetulan aku juga mau ke sana.”
Ririn
tak pernah bernapas selega ini. Ia benar-benar beruntung bertemu Anjani di kala
ia membutuhkan penunjuk jalan.
ooOoo
“
Kamu telat!”
Ririn
sudah pasrah. Ia sudah tahu konsekuensinya. Meskipun ia punya alasan yang
jujur, tapi mungkin tidak akan didengarkan. Oleh karena itu, satu-satunya jalan
hanya dengan meminta maaf.
“
Ma-maaf aku membuatmu menunggu.”
Wenda
menghela napas, “ Kuharap kamu punya alasan yang bagus.”
“
Ah, uh, itu karenaaa… aku harus minta izin dulu di klub Koran. Soalnya aku
tidak baru minta izin cuti dari klub Koran hari ini. Jadi, setelah masalah di
klubku selesai, aku langsung ke sini. Aku juga sempat kesasar, tapi untungnya
bertemu dengan Jane”
“
Klub Koran? Kamu masuk klub yang begituan?” tanya Wenda keheranan.
Ririn
hanya mengangguk. Ia juga sempat kebingungan karena Wenda mau mendengarkan
alasannya. Ia pikir Wenda benar-benar sosok yang mengerikan.
“
Hmm, ya sudah. Untuk kali ini saja. Sekarang kamu ganti baju dulu. Di belakang
ada toilet.”
Kepala
Ririn kembali terangguk. Ia berlari menuju tempat yang dimaksud. Lima menit
kemudian ia kembali dengan kaus dan legging
hitam selutut. Begitu ia kembali, ternyata sudah ada Ben dan Kemal di sana.
“
Yo, manis. Kita bertemu lagi!” sapa Kemal.
Ririn
hanya membalas dengan senyuman tipis. Ia tak mau banyak bicara dengan laki-laki
yang satu ini. Meskipun ramah, tapi tampak berbahaya seperti serigala yang siap
menerkam.
“
Hei, kalian latihan saja. Aku harus ke kafe,” ujar Anjani. “ Semuanya aku pergi
dulu.”
Sepertinya
selama ia berganti baju, keempat orang ini sudah mengobrol banyak. Terlihat
mereka tidak terlalu kehilangan saat Anjani harus pergi, atau mungkin memang
seperti ini tabiat mereka. Namun, justru Ririn yang merasa canggung. Selain
Anjani, ia tidak benar-benar mengenal ketiga orang ini, apalagi ini bukan
sekolahannya.
“
Nah, baiklah. Sebelum kita mulai, ada yang mau aku tanyakan,” ujar Wenda. “Apa
kamu punya pengalaman menari? Tarian apa saja, bebas.”
“
Tidak. Tidak sama sekali.”
Wenda
mendesah berat, “ Hmm, sepertinya ini akan sulit.” Ia memijat-mijat pangkal
hidungnya, “ Ah ya, apa kamu bisa senam lantai?”
“
Maksudmu seperti split, kayang, koprol, atau
semacamnya?” ujar Ririn. “ Kalau hanya itu aku bisa.”
Kali
ini Wenda mendesah lega, “ Ahh, syukurlah kalau seperti itu. Baiklah, sebelum
mulai kita pemanasan dulu. Kamu lakukan sendiri.”
Ririn
menurut tanpa bantahan. Sampai lima belas menit kemudian Wenda pun menyuruhnya
berhenti.
“
Nah, sekarang kita akan benar-benar mulai latihan,” ujarnya dengan tangan di
pinggang. “ Aku sudah baca skenarionya. Di sana tertulis bahwa tokoh Nayu
merayu Antony di pesta bujangnya dengan tariannya. Kalau di pesta seperti itu
berarti kamu harus belajar dansa klasik. Semacam waltz begitu. Kamu paham sampai di sini?”
Ririn
hanya mengangguk.
“
Tapi waltz tak akan memberikan efek
gairah di dalamnya. Aku rasa kita butuh tarian yang menggoda seperti tango atau salsa. Masalahnya, kamu gak mungkin menguasai tarian seperti itu
hanya dengan waktu dua minggu.”
‘ Lagian siapa juga yang mau
badannya di lempar-lempar kayak penari salsa,’
Ririn menggerutu dalam hati.
“
Tapi ada tapinya lagi, tadi kamu bilang kamu bisa atletik. Menurutku itu cukup
membantu. Makanya tadi aku sempat berpikir untuk mengajarkanmu waltz yang digabung dengan salsa.”
Mata
Ririn melebar seketika. Begitu lebarnya hingga ia merasa pupilnya bisa meloncat
keluar. Bagaimana tidak, baru saja Wenda mengatakan bahwa mustahil baginya
untuk menguasai salsa dalam waktu dua
minggu. Dua detik kemudian ia mengatakan bahwa akan menggabungkan salsa dan waltz. Apa Wenda benar-benar memikirkan apa yang sudah ia katakan?
“
Kenapa? Kamu bingung?” Wenda sepertinya menangkap ekspresi Ririn yang terkejut.
“ Tenang saja. Kamu akan belajar dasarnya saja. Tidak seperti salsa yang akan melempar-lempar penari
wanitanya. Pokoknya akan cocok dengan konsep drama dan sesuai dengan
kapasitasmu.”
Barulah
Ririn mendesah lega. Namun, Wenda mengatakan hal aneh lainnya dan membuat Ririn
kembali shock.
“
Aku akan mengajarimu waltz, tapi
untuk salsa, Kemal dan Ben yang akan
melatihmu.”
Ririn
hanya menatap kedua laki-laki itu dengan tatapan horor. Apa benar kedua
laki-laki ini bisa dipercaya?
“
Kamu tenang saja. Ibunya Kemal ini adalah instruktur salsa yang terkenal di kalangan ibu-ibu,” Wenda mengatakannya
sambil menahan tawa. “ Kami berteman gara-gara ibu-ibu kami menjadi murid
ibunya Kemal.”
“
Yaah, itulah sejak kecil kami juga diajari tarian itu,” sahut Ben sambil
melirik Kemal. “ Makanya Kemal jadi perayu wanita, soalnya sejak kecil dia
dikelilingi ibu-ibu.”
Kemal
menyikut perut Ben, “ Sialan. Kalian membuatku terlihat aneh di matanya.”
“
Oke, oke, kita sudahi saja pembicaraan ini. Nah, sekarang kita mulai saja waltz-nya. Ben, kamu jadi partnernya
dia.”
Ben
langsung mengulurkan tangannya pada Ririn, dan gadis itu menyambutnya dengan
ragu. Tiba-tiba Kemal menginterupsi.
“
Curang, kenapa Ben yang jadi pelatihnya?”
Wenda
mendecak kesal, “ Gak sekarang, Kemal. Nanti ketika dia mulai belajar salsa. Ah, sudah, jangan ganggu dulu!
Sekarang, Rin, tangan kanan kamu pegang tangan kiri Ben, lalu tangan kirimu
taruh di pundak Ben.”
Tadinya
Ririn menurut, tapi ketika tangan kiri Ben merangkul pinggulnya, seketika ada
getaran aneh menjalar hingga kepalanya.
Wenda
kembali terkekeh, “ Hei, jangan kagok begitu. Memang seperti itulah aturannya.
Tenang saja, Ben tidak semesum Kemal. Nah, mulai sekarang biasakanlah.”
‘ Ukh,
entah kapan aku mulai terbiasa dengan ini?’
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar