Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 18)








Musikal 18


Anjani keheranan melihat Ririn yang datang terengah-engah. Ia terlihat lelah, tapi sepertinya ia sangat senang saat bertemu dengan Anjani.

“ Kamu kenapa?”

“ Ahh, Anjani, syukurlah aku bertemu denganmu,” Ririn tampak kewalahan mengatur napasnya. “ Aku buru-buru datang ke sini, tapi malah tersesat. Ngomong-ngomong studio tempat Wenda suka latihan dimana ya?”

Anjani mengerti sekarang. Ia baru ingat kalau gadis ini meminta Wenda untuk melatihnya menari. Pantas saja ia terburu-buru ke sini.

“ Ikut saja aku. Kebetulan aku juga mau ke sana.”

Ririn tak pernah bernapas selega ini. Ia benar-benar beruntung bertemu Anjani di kala ia membutuhkan penunjuk jalan.

ooOoo

“ Kamu telat!”

Ririn sudah pasrah. Ia sudah tahu konsekuensinya. Meskipun ia punya alasan yang jujur, tapi mungkin tidak akan didengarkan. Oleh karena itu, satu-satunya jalan hanya dengan meminta maaf.

“ Ma-maaf aku membuatmu menunggu.”

Wenda menghela napas, “ Kuharap kamu punya alasan yang bagus.”

“ Ah, uh, itu karenaaa… aku harus minta izin dulu di klub Koran. Soalnya aku tidak baru minta izin cuti dari klub Koran hari ini. Jadi, setelah masalah di klubku selesai, aku langsung ke sini. Aku juga sempat kesasar, tapi untungnya bertemu dengan Jane”

“ Klub Koran? Kamu masuk klub yang begituan?” tanya Wenda keheranan.

Ririn hanya mengangguk. Ia juga sempat kebingungan karena Wenda mau mendengarkan alasannya. Ia pikir Wenda benar-benar sosok yang mengerikan.

“ Hmm, ya sudah. Untuk kali ini saja. Sekarang kamu ganti baju dulu. Di belakang ada toilet.”

Kepala Ririn kembali terangguk. Ia berlari menuju tempat yang dimaksud. Lima menit kemudian ia kembali dengan kaus dan legging hitam selutut. Begitu ia kembali, ternyata sudah ada Ben dan Kemal di sana.

“ Yo, manis. Kita bertemu lagi!” sapa Kemal.

Ririn hanya membalas dengan senyuman tipis. Ia tak mau banyak bicara dengan laki-laki yang satu ini. Meskipun ramah, tapi tampak berbahaya seperti serigala yang siap menerkam.

“ Hei, kalian latihan saja. Aku harus ke kafe,” ujar Anjani. “ Semuanya aku pergi dulu.”

Sepertinya selama ia berganti baju, keempat orang ini sudah mengobrol banyak. Terlihat mereka tidak terlalu kehilangan saat Anjani harus pergi, atau mungkin memang seperti ini tabiat mereka. Namun, justru Ririn yang merasa canggung. Selain Anjani, ia tidak benar-benar mengenal ketiga orang ini, apalagi ini bukan sekolahannya.

“ Nah, baiklah. Sebelum kita mulai, ada yang mau aku tanyakan,” ujar Wenda. “Apa kamu punya pengalaman menari? Tarian apa saja, bebas.”

“ Tidak. Tidak sama sekali.”

Wenda mendesah berat, “ Hmm, sepertinya ini akan sulit.” Ia memijat-mijat pangkal hidungnya, “ Ah ya, apa kamu bisa senam lantai?”

“ Maksudmu seperti split, kayang, koprol, atau semacamnya?” ujar Ririn. “ Kalau hanya itu aku bisa.”

Kali ini Wenda mendesah lega, “ Ahh, syukurlah kalau seperti itu. Baiklah, sebelum mulai kita pemanasan dulu. Kamu lakukan sendiri.”

Ririn menurut tanpa bantahan. Sampai lima belas menit kemudian Wenda pun menyuruhnya berhenti.

“ Nah, sekarang kita akan benar-benar mulai latihan,” ujarnya dengan tangan di pinggang. “ Aku sudah baca skenarionya. Di sana tertulis bahwa tokoh Nayu merayu Antony di pesta bujangnya dengan tariannya. Kalau di pesta seperti itu berarti kamu harus belajar dansa klasik. Semacam waltz begitu. Kamu paham sampai di sini?”

Ririn hanya mengangguk.

“ Tapi waltz tak akan memberikan efek gairah di dalamnya. Aku rasa kita butuh tarian yang menggoda seperti tango atau salsa. Masalahnya, kamu gak mungkin menguasai tarian seperti itu hanya dengan waktu dua minggu.”

‘ Lagian siapa juga yang mau badannya di lempar-lempar kayak penari salsa,’ Ririn menggerutu dalam hati.

“ Tapi ada tapinya lagi, tadi kamu bilang kamu bisa atletik. Menurutku itu cukup membantu. Makanya tadi aku sempat berpikir untuk mengajarkanmu waltz yang digabung dengan salsa.

Mata Ririn melebar seketika. Begitu lebarnya hingga ia merasa pupilnya bisa meloncat keluar. Bagaimana tidak, baru saja Wenda mengatakan bahwa mustahil baginya untuk menguasai salsa dalam waktu dua minggu. Dua detik kemudian ia mengatakan bahwa akan menggabungkan salsa dan waltz. Apa Wenda benar-benar memikirkan apa yang sudah ia katakan?

“ Kenapa? Kamu bingung?” Wenda sepertinya menangkap ekspresi Ririn yang terkejut. “ Tenang saja. Kamu akan belajar dasarnya saja. Tidak seperti salsa yang akan melempar-lempar penari wanitanya. Pokoknya akan cocok dengan konsep drama dan sesuai dengan kapasitasmu.”

Barulah Ririn mendesah lega. Namun, Wenda mengatakan hal aneh lainnya dan membuat Ririn kembali shock.

“ Aku akan mengajarimu waltz, tapi untuk salsa, Kemal dan Ben yang akan melatihmu.”

Ririn hanya menatap kedua laki-laki itu dengan tatapan horor. Apa benar kedua laki-laki ini bisa dipercaya?

“ Kamu tenang saja. Ibunya Kemal ini adalah instruktur salsa yang terkenal di kalangan ibu-ibu,” Wenda mengatakannya sambil menahan tawa. “ Kami berteman gara-gara ibu-ibu kami menjadi murid ibunya Kemal.”

“ Yaah, itulah sejak kecil kami juga diajari tarian itu,” sahut Ben sambil melirik Kemal. “ Makanya Kemal jadi perayu wanita, soalnya sejak kecil dia dikelilingi ibu-ibu.”

Kemal menyikut perut Ben, “ Sialan. Kalian membuatku terlihat aneh di matanya.”

“ Oke, oke, kita sudahi saja pembicaraan ini. Nah, sekarang kita mulai saja waltz-nya. Ben, kamu jadi partnernya dia.”

Ben langsung mengulurkan tangannya pada Ririn, dan gadis itu menyambutnya dengan ragu. Tiba-tiba Kemal menginterupsi.

“ Curang, kenapa Ben yang jadi pelatihnya?”

Wenda mendecak kesal, “ Gak sekarang, Kemal. Nanti ketika dia mulai belajar salsa. Ah, sudah, jangan ganggu dulu! Sekarang, Rin, tangan kanan kamu pegang tangan kiri Ben, lalu tangan kirimu taruh  di pundak Ben.”

Tadinya Ririn menurut, tapi ketika tangan kiri Ben merangkul pinggulnya, seketika ada getaran aneh menjalar hingga kepalanya.

Wenda kembali terkekeh, “ Hei, jangan kagok begitu. Memang seperti itulah aturannya. Tenang saja, Ben tidak semesum Kemal. Nah, mulai sekarang biasakanlah.”

 ‘ Ukh, entah kapan aku mulai terbiasa dengan ini?’


please comment and share

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar