Total Tayangan Halaman

Sabtu, 07 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 12)



Musikal 12 


Audisi SMA Panji Semirang

Pagi ini SMA Panji Semirang terlihat heboh. Tentu saja karena audisi Love Musical akhirnya dilaksanakan juga. Euphoria yang terjadi di sini melebihi audisi yang pernah dilaksanakan di SMA Chandra Kirana. Mungkin karena heterogenitas siswa yang ada di sini membuat kehebohan lebih terasa.

Selain pesertanya yang lebih beraneka ragam, tidak ada yang berubah dari audisi sebelumnya. Audisi masih direkam dan disiarkan secara live seantero sekolah, masih banyak wartawan berkumpul, dan jurinya pun tidak ada yang berubah.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Satu persatu nomor peserta dipanggil. Mereka masuk ke dalam ruang audisi dan menampilkan bakat mereka. Tifa, Riani, dan Gloria pun mulai dipusingkan dengan bakat-bakat yang ditunjukkan. Mulai dari yang luar biasa sampai yang bisa membuat orang muntah.

Tak jauh dari ruang audisi itu, beberapa orang remaja sedang berkumpul. Mereka memang berkumpul tetapi tidak dalam satu kelompok. Malah salah satu dari mereka merasa heran karena ketiga temannya tidak jadi berkumpul di satu kelompok.

“ Aku tak mengerti, bukannya kalian yang mengajak Wenda untuk bergabung dalam kelompok kalian?”

“ Sebenarnya kami mendapat bocoran kalau pemeran prianya belum didapatkan,” ujar laki-laki yang bernama Ben. “ Yah, kau tahu sendiri’kan SMA Chandra Kirana itu isinya perempuan semua. Jadi, kesempatan aku dan Kemal untuk bergabung dalam pementasan akan semakin besar.”

“ Itu benar. Lagi pula sepertinya Wenda punya ambisi sendiri,” sahut Kemal sambil melirik gadis di sebelahnya, gadis itu hanya membalasnya dengan senyuman sinis.

“ Ah, kepalaku jadi pusing mendengar jawaban kalian,” Anjani memijat-mijat kepalanya. “ Kalau Wenda aku tahu apa yang akan ia tampilkan, tapi kalian? Kalian akan melakukan apa di dalam nanti?”

“ Kami akan berduet di dalam, iya’kan, Ben?” tanya Kemal yang disahut dengan anggukan Ben. “ Pokoknya kamu saksikan saja kami di dalam. Kalian pasti akan terpesona, dan kami harap kalian tidak jatuh cinta pada kami.”

“ Ciiih…” Anjani dan Wenda menyahut berbarengan. Kedua laki-laki itu pun tertawa.

Tidak lama kemudian salah satu staf kembali keluar dan menyebutkan sebuah nomor. Angka yang disebutkan sama dengan yang tertempel di dada kiri Wenda. Gadis itu pun akan diuji bakatnya oleh ketiga juri di dalam.

“ Sepertinya waktuku tiba. Doakan aku ya.”

“ Masuklah, semoga berhasil!” ujar Anjani.

Wenda mengangguk dan tersenyum. Ia juga tersenyum pada Kemal dan Ben yang melambaikan tangan padanya.

ooOoo


“ Selamat pagi.”

“ Pagi,” jawab Tifa dan kedua temannya hampir bersamaan. “ Sebutkan nama dan bakat yang akan kamu tunjukkan.”

“ Saya Wenda Permana. Pagi ini saya akan menari balet kontemporer.”

Terdengar siulan kecil dari bibir Riani. Tifa melirik Riani sambil terkekeh, lalu ia mempersilahkan Wenda untuk segera menunjukkan bakatnya.

Musik mulai mengalun. Awalnya terdengat sangat cepat, Wenda pun menyesuaikan gerakan dengan alunan musik. Tubuhnya bergerak sangat lentur dan cepat. Semakin lama musik semakin lambat. Gerakan Wenda yang cepat perlahan-lahan mulai terlihat kaku. Semua ketukan musik ia sesuaikan dengan tempo gerakannya.

Ketiga juri, terutama Riani, sangat menikmati pertunjukkan Wenda. Gadis itu menampilkan keindahan dari semua gerakannya. Tiap perubahan tempo dari tubuhnya seolah mengisahkan sebuah cerita yang tersirat di dalamnya.

Musik berhenti. Wenda pun serta merta mengakhiri gerakannya dengan salam penutup. Riani begitu terpukau dengan gerakan gadis itu, sampai-sampai ia memberikan sebuah tepuk tangan untuknya.

“ Apa itu tarian kreasimu sendiri?” tanya Riani.

Wenda mengangguk, “ Ya, kuberi nama ‘Broken Wings’”.

Broken wings? I think ‘broken legs’”, ujar Tifa sambil terkekeh. “ Oh maaf, aku hanya bercanda. Penampilanmu bagus, kok. Baiklah, terima kasih sudah berpartisipasi.”

You just broken her heart,” omel Riani setelah Wenda keluar dari ruang audisi.  “Gak seharusnya kamu bilang gitu, Tif.”

“ Keceplosaaan…” ujar Tifa dengan puppy eyes-nya.

“ Gak sopan,” Riani mengakhiri omelannya dengan tatapan tajam pada temannya itu. “ Ya, selanjutnya.”

ooOoo

“ Jadi bagaimana?”

Wenda mengangkat bahu, “ Mereka menakutkan.”

Ketiga sahabat Wenda saling bertukar pandang. Mereka heran dengan jawaban gadis ini.

“ Maksudmu menakutkan?” tanya Ben.

“ Yaah, mereka seperti memiliki mata elang. Itulah yang membuat mereka terlihat menakutkan.”

“ Mata elang yang bagaimana?” sahut Anjani.

Wenda mendesah panjang. “ Nanti kalian juga akan tahu.”

Anjani menatap Ben dan Kemal, tapi keduanya juga memiliki keheranan yang sama. Jawaban Wenda yang rancu membuat suasana lebih tegang.

ooOoo

Peserta selanjutnya adalah seorang laki-laki. Penampilannya bisa dibilang “menyebalkan”. Lihat saja bajunya yang terlalu rapi, bahkan dikancing sampai kerah. Rambut yang disisir rapi, serta kacamata yang tebalnya sudah seperti pantat gelas. Wajar bila dibilang menyebalkan.

Tifa sampai membenarkan cara duduknya saat melihat siswa ini masuk. Ia lirik kedua kawannya yang sudah mulai bosan bahkan hanya dengan melihat anak laki-laki ini.

“ Halo, sebutkan nama dan bakat apa yang akan kamu tunjukkan.”

“ Nama saya Alexi Agriawan,” ujarnya, lalu ia menunjuk sebuah piano yang sedari tadi hanya menjadi penghias ruangan. “ Saya akan memainkan musik dengan piano itu.”

“ Oh…” Tifa mengangguk-angguk. “ Beethoven?

“ Boleh ciptaan saya sendiri?”

Tifa hanya memberi kode dengan tangannya. Laki-laki bernama Alexi itu pun mulai mendetingkan piano tersebut. Hanya terdengar satu dentingan. Beberapa detik kemudian terdengar alunan musik yang cepat dan pendek-pendek. Jari-jari pun Alexi menari lincah di atas tuts-tuts piano itu.

Ketiga juri ini dibuat kaget. Tampang laki-laki ini memang menipu. Siapa sangka lelaki culun ini ternyata seorang pianis master. Alexi sepertinya tidak perlu berpikir untuk menghasilkan nada-nada yang indah dari piano itu.

Tepat pada nada klimaks, Alexi mengakhiri permainan pianonya. Terlihat ekspresi kagum dari ketiga juri. Alexi tersenyum dan membungkukan badannya sebagai penghormatan.

“ Woow, fantastic!” Tifa terlihat puas sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Seharusnya kamu jangan ikut audisi di sini. Coba kamu kirim video padaku saat aku berada di Broadway. Mungkin sekarang kamu sudah punya resital sendiri.”

Alexi tersenyum kecil, “ Terima kasih.”

“ Apa lagu barusan punya judul?” tanya Gloria.

Staccato,” ujar Alexi kalem.

“ Ya, itu memang benar-benar stakato,” sahut Tifa sambil terkekeh. “ Baiklah, terima kasih sudah mau berpartisipasi.”

“ Stakato itu apa sih?” tanya Riani setelah Alexi meninggalkan ruangan.

“ Stakato adalah nada yang dimainkan secara pendek-pendek, persis yang dimainkan oleh anak itu tadi,” jelas Gloria.

Dahi Riani berkerut bingung, “ Lho, untuk apa anak itu memberi nama stakato dengan staccato? Bukannya itu sama.”

“ Makanya aku tertawa,” ujar Tifa. “ Dia memang jenius, tapi tidak kreatif. Yak, peserta selanjutnya!”

ooOoo

Kemal dan Ben menghampiri Alexi yang baru saja keluar dari ruang audisi. Mereka bercakap-cakap dan sesekali tertawa. Anjani dan Wenda yang tidak mengenal Alexi pun bingung kenapa Ben dan Kemal bisa kenal orang itu. Mereka pun menyiapkan pertanyaan begitu Ben dan Kemal kembali.

“ Kalian kenal pianis itu?” tanya Anjani.

Ben mengangguk, “ Teman lama. Dia anak kelas X.C.”

“ Huu, kalian tidak pernah cerita punya teman hebat seperti dia,” sahut Wenda. “Selain itu, anak itu tadi juga tidak menonjol. Seharusnya kalau dia punya bakat hebat, namanya pasti sudah terdengar seantero sekolah.”

“ Dia memang bukan tukang pamer. Kepribadiannya pun unik”, jawab Kemal. “Dia lebih suka dikenal orang-orang tertentu ketimbang dikenal banyak orang.”

“ Tentunya orang-orang itu yang berkecimpung di dunia musik,” timpal Ben.

“ Tapi kalian bukan orang-orang di dunia musik,” ujar Wenda.

Ben dan Kemal terkekeh, “ Kami ini memang spesial,” ucap Ben yang disusul tawa Kemal.

Ben dan Kemal masih tertawa. Tidak lama berselang salah satu staf menyebutkan nomor Ben dan Kemal. Staf itu menginstruksikan agar kedua orang itu segera bersiap-siap.

“ Oh, show will begin. Ayo, Ben,” ujar Kemal.

Mereka berdua saling mengadu kepalan tangan, lalu tersenyum pada Anjani dan Wenda.

“ Sudah kuperingatkan, ya. Kalian jangan jatuh cinta pada kami setelah apa yang akan kami lakukan nanti,” ujar Kemal.

Wenda mendecih, sementara Anjani kembali memijat keningnya. Tiba-tiba sakit kepalanya kumat.

“ Sudah sana pergilah. Terlalu lama di sini bisa membuat kalian didiskualifikasi,” ujar Anjani.

“ Oke, girls. Kami pergi dulu,” sahut Ben dan disusul lambaian tangan keduanya.

Anjani kembali memijat kepalanya, “ Dasar gila.”

ooOoo

 “ Jadi, apa bakat yang akan kalian tunjukkan?”

Gloria menyambut Ben dan Kemal dengan perasaan malas. Ia menduga bahwa kedua laki-laki ini akan menari atau bernyanyi, karena kebanyakan kontestan laki-laki melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, ia mulai jengah menjadi juri kali ini.

“ Kami bisa berakting,” jawab Kemal.

“ Oh, baiklah kalau begitu,” Gloria hendak menyerahkan sebuah skrip yang ada di atas meja. Namun, tiba-tiba Tifa menahan skrip tersebut.

“ Kalian berakting menjadi sepasang kekasih.”

Baik Gloria maupun Riani sama-sama terkejut mendengar perintah temannya ini. Untuk apa Tifa memerintahkan hal gila dalam audisi ini.

“ Tanpa dialog. Berikan kami kesan bahwa kalian adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.”

“ Gila kamu, Tif,” bisik Riani.

Diluar dugaan Ben dan Kemal menyanggupi perintah dari Tifa. Ben langsung mengambil jarak, sementara Kemal memunggungi Ben. Lalu perlahan-lahan Ben mendekati Kemal, menepuk punggungnya, dan menatapnya dengan intens. Kemal membalas tatapan Ben. Mereka bertukar pandang cukup lama. Kemudian Ben meletakkan tangannya di pipi Kemal, matanya terpejam. Ben memiringkan wajahnya, dan seperti sudah dikomandokan, Kemal pun melakukan hal yang sama. Dalam hitungan detik mereka akan berciuman.

CUT!!!”

Teriakan Tifa membuat Gloria dan Riani kembali bernapas. Mereka bersyukur karena Tifa menghentikan adegan itu tepat pada waktunya. Tentu saja mereka tidak mau adegan menjijikan itu menyebar seantero sekolah.

“ Bagus, bagus, kalian melakukannya dengan sangat baik,” ujar Tifa sambil tertawa. “ Kalian berhasil membuat kedua temanku ingin muntah. Terima kasih sudah berpatisipasi.”

Ben dan Kemal membungkukkan badan, kemudian mereka keluar dari ruang audisi. Sesaat setelah kedua orang itu pergi, Tifa merasa ada tatapan tajam tengah mengarah kepadanya.

“ Kamu gila, Tif!” seru Riani.

“ Iya, kamu udah bilang gitu tadi,” jawab Tifa santai.

“ Aku gak nyangka kamu bakal menyuruh mereka melakukan hal itu. Mana mereka mau lagi,” ujar Gloria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Untung kamu berhentikan tepat pada waktunya.”

Tawa Tifa pecah, “ Yeaaah, kalau nggak besok aku pasti udah masuk Koran dengan headline ‘seorang sutradara kawakan dituduh melakukan pelecehan seksual dengan menyuruh dua siswa laki-laki berciuman’. Ya ampuuun, aku’kan bukan ‘pelangi’.”

Gloria pun ikut-ikutan tertawa, “ Ya, seenggaknya itu membunuh rasa bosanku. Baiklah, peserta selanjutnya!”

ooOoo

“ Gak bisa dipercaya…”

“ Setuju, Wen. Kalau bukan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri aku juga pasti gak bisa percaya.”

Ben dan Kemal tertawa terbahak-bahak mendengar komentar dari kedua temannya.

“ Kurasa kalian berbakat jadi ‘pelangi’,” ujar Wenda.

“ Enak saja,” sahut Kemal. “ Ben tuh yang keenakan. Aku udah kayak masokis dia aja.”

Tawa Ben makin keras, “ Jadi, kalian sudah jatuh cinta pada akting kami.”

“ Bah, menjijikan!” omel Anjani.

Tawa kedua lelaki itu kembali pecah. Salah satu staf tiba-tiba  menginterupsi keseruan cerita mereka. Staf tersebut memanggil nomor Anjani, dan memintanya untuk segera bersiap-siap.

“ Saatmu tiba. Semangat, Jane!” ujar Wenda.

Anjani mengangguk, “ Terima kasih.”

Kemal dan Ben memberikan dukungan dengan melambaikan tangan. Anjani membalasnya dengan senyuman kecil. Sejurus kemudian ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.

‘ Tenang, Anjani. Kamu pasti bisa…’

ooOoo

“ Nama saya Anjani Bramastya. Siang ini saya akan bernyanyi di hadapan juri sekalian.”

Tifa mengangguk-anggukkan kepalanya, “ Lagu siapa?”

“ Miley Cyrus yang ‘Wrecking Ball’,” ujar Anjani. “ Tapi akan saya bawakan secara akustik.”

“ Dengan gitar?” tanya Tifa dengan alis terangkat.

“ Tidak, tapi piano yang ada di sana.”

Tifa kembali mengangguk-anggukan kepalanya, “ Baiklah, silahkan.”

Anjani mulai memainkan piano tersebut. Dentingan piano mulai mengalun, seiring dengan lirik yang ia lafalkan. Ternyata “Wrecking Ball” yang liriknya sudah terkenal menyayat hati ketika dibawakan secara akustik oleh Anjani terdengar lebih menyakitkan. Para juri serta orang-orang yang menonton seolah-olah ikut merasakan apa yang ditulis dalam syair lagu itu.

Gloria senang salah satu muridnya ternyata bisa menampilkan sesuatu yang hebat. Ia sangat berharap kalau Anjani bisa menjadi salah satu kandidat yang akan lolos.

“ Bagus, bagus sekali,” puji Tifa. “ Kamu membuat orang-orang di sini menjadi galau tak karuan, hahaha. Baiklah, terima kasih sudah berpartispasi.”

“ Selamat siang,” ujar Anjani sebelum meninggalkan ruangan.

ooOoo

“ Hebat, Jane. Kamu bikin aku jadi mellow,” ujar Kemal begitu Anjani kembali berkumpul.

“ Terima kasih,” suara Anjani terdengar sangat riang. “ Aku sangat senang dan lega. Aah, bagaimana kalau kita rayakan saja?”

“ Aku setuju!” sahut Ben yang disusul dengan anggukan Kemal.

“ Hei, hei, apa ini tidak terlalu cepat? Pengumumannya’kan masih minggu depan,” sela Wenda.

“ Aah, kamu terlalu khawatir,” sahut Ben sambil merangkul Wenda. “ Anjani benar, kita harus merayakan ini.”

“ Dan kamu harus ikut,” timpal Kemal. “ Ayo berpesta!”

ooOoo

 “ Peserta di sini lebih banyak. Bakat-bakatnya pun lebih terasa heterogen,” Riani membuka percakapan saat mereka makan siang. “ Mereka membawa lebih banyak kejutan.”

“ Benar, dari beberapa bakat yang ditunjukkan kita mulai mendapatkan pencerahan untuk kelanjutan pertunjukkan kita nanti,” jawab Tifa.

Gloria hanya mengangguk saja. Ada satu hal yang lebih menarik perhatiannya ketimbang pembicaran mereka, yaitu kopi yang sedang diminum oleh Tifa. Entah kenapa sejak acara audisi di mulai rasanya Tifa tidak pernah kehabisan kopi.

“ Itu cangkir ke berapa, Tif?”

Tifa yang sedang memegang cangkir kopinya tiba-tiba tersentak dengan pertanyaan Gloria. Ia memandang cangkir kopinya dan mencoba mengingat-ingat, tapi sayangnya ia sendiri lupa.

“ Gak tahu. Aku gak ingat.”

“ Kamu gak bisa lepas dari cairan hitam itu ya?” tanya Gloria.

“ Begitulah,” Tifa mengangkat bahunya. “ Kopi itu sudah seperti obat penenang, bir, atau rokok. Pokoknya kalau gak minum ini sehari tuh rasanyaaa… ah gak bisa dibayangin. Habisnya tiap hari aku pasti minum.”

“ Sejak kapan sih kamu jadi pengopi?” Riani ikut-ikutan nimbrung.

“ Kapan yaa? Hmm… mungkin SD. Soalnya pertama kali aku coba kopi langsung tergila-gila, dan sejak saat itu hidupku gak pernah lepas dari kopi.”

Gloria menghela napas, “ Riani benar, Tif. Gak baik kalau kamu sampai kecanduan kopi, bisa berbahaya untuk kesehatan. Mungkin kamu gak bisa mengurangi kadarnya, tapi seenggaknya banyak-banyak minum air putih biar bisa menetralisir kafein dalam tubuhmu.”

Tawa Tifa seketika pecah, “ Ya ampun, Glo. Sejak kapan kamu jadi ahli gizi kayak gitu sih? Hahaha, oke, oke, saran kamu bakal aku dengerin kok.”

“ Jangan cuma didengerin!” Gloria langsung merajuk karena nasehatnya ditertawakan. “ Tapi dijalankan!” 
“ Iya, iya deh, ibu guru,” jawab Tifa dengan cengiran usil di wajahnya. “ Ayo kembali bekerja. Audisi masih berjalan.

 to be continued...

author's note: minggu depan pengumuman, yuhuuu...siap-siap yah

please comment and share
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar