Musikal
29
Lima
belas menit berlalu. Kelima juri pun kembali dari tempat perundingannya. Fi dan
Ririn diminta untuk berdiri di depan teman-temannya. Mereka berdua menunggu
hasil perundingan dengan jantung yang dag dig dug. Begitu pun teman-teman
mereka. Seketika ruangan terasa senyap.
“
Sebenarnya mereka berdua memiliki bakat yang hebat. Kita semua mengakui hal
tersebut,” ujar Tifa membuka hasil pengumumannya. “ Tapi pemeran utama hanya
ada satu.”
“
Dan dia adalah….”
Tifa
sengaja mengulur waktu untuk melihat ekspresi orang-orang yang ada di sana.
Perasaan gugup tak hanya menjalari kedua peserta, tetapi juga penonton yang
lain. Semakin lama Tifa mengulur waktu, perasaan mereka semakin tak jelas.
“
Selamat kepada… Firdayanti. Kamu terpilih sebagai pemeran utama!”
Dewi
Fortuna saat itu benar-benar berada di pihak Fi. Ia meloncat kegirangan saat
namanya disebut sebagai pemeran utama. Ia mengucapkan banyak terima kasih
kepada juri sekaligus mentornya nanti. Lalu ia alihkan pandangannya pada
Priyanka. Gadis itu juga bersorak riang.
Di
sisi lain awan mendung menyelimuti perasaan Ririn. Ia tak berani mengangkat
wajahnya lagi. Ia merasa malu. Malu pada teman-temannya dan juga malu kepada
dirinya sendiri. padahal tadi ia sudah sangat percaya diri, apalagi ketika
Adrian juga ikut berdansa bersamanya. Sayang ternyata harapannya musnah. Rasa
percaya diri itu justru menelannya ke dalam jurang penuh cacian.
“
Kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Suara
itu. Suara yang selalu memberikannya semangat. Perlahan-lahan Ririn mengangkat
wajahnya. Ternyata benar, suara itu berasal dari laki-laki yang selalu
menggunakan kacamata tebal. Senyuman tulus darinya seperti menyiram dahaga
Ririn setelah kehausan yang panjang.
Belum
sempat Ririn membalas kata-kata itu, ia langsung diserbu oleh Andani.
Sahabatnya itu memeluknya dengan rentetetan kalimatnya.
“
Huaaa… kamu hebat kok, Rin. Kamu jangan sedih karena kalah, tapi kamu boleh
nangis kok.”
Ririn
sebenarnya mau tertawa. Bagaimana mungkin ia bisa menangis, sementara Andani
duluan yang sudah berurai air mata.
“
Aku setuju. Kamu beneran hebat kok,” ujar Anjani. “ Tapi ternyata keputusan
berbeda dari yang diharapkan.”
“
Padahal si Adrian tadi sudah ikutan dansa,” sahut Ben. “ Apa itu gak menambah
nilai bonus ya buat Ririn?”
“
Mungkin juri punya penilaian sendiri,” ujar Wenda, lalu ia mengulurkan
tangannya. “ Yah, setidaknya kamu sudah berhasil mengerjakan PRmu. Aku akui
kamu tadi sangat memukau.”
Ririn
menyambut tangan Wenda, “ Terima kasih.”
“
Hanya dapat pemeran kedua. Kamu tetap bagian dari Love Musical kok,” ujar Kemal.
Ririn
tersenyum. Ia pandangi teman-temannya satu persatu, “ Semuanya, terima kasih
ya. Yaah, sebenarnya aku malu karena tidak bisa memenuhi harapan kalian.
Padahal kalian sudah bekerja keras membantuku,” Ririn lalu menghapus air mata
Andani. “ An, udah dong. Aku yang kalah, masa kamu yang nangis bombay.”
“
Ha—habisnya kamu
sih…” Andani ikut menghapus air matanya sambil sesegukan.
“
Gimana kalau kita sekarang jalan-jalan atau makan? Hitung-hitung buat menghibur
Ririn. Lagi pula kita sudah dapat dispensasi belajar’kan?” ujar Ben. “ Gimana?”
Mereka
pun langsung menyetujui usulan Ben. Seperti telah melupakan kesedihannya, Ririn
pun langsung ikut menentukan tempat mereka hang
out.
“
Eh, teman-teman kalian duluan aja ya. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Ririn.
Ririn
pun segera memisahkan diri. Namun, ia ragu saat akan melewati pintu keluar,
karena di sana Fi, Priyanka, dan Adrian sedang bercakap-cakap. Sayang, pintu
keluar cuma satu. Akhirnya mau tak mau ia harus melewati ketiga orang itu.
“
Hei, wanita penggoda!”
Tak
hanya Ririn, tapi Fi pun ikut kaget saat Adrian memanggil Ririn dengan sebutan
itu. Fi langsung memasang tatapan sinisnya ketika Adrian menghampiri gadis itu
“
Ma—maksud
kamu, aku?” tanya Ririn sambil menunjuk
hidungnya.
“
Siapa lagi yang berhasil menggodaku berdansa?” ujar Adrian sambil terkekeh.
“Kamu tadi memang luar biasa. Kalau sampai aku tak berdansa denganmu tadi,
rasa-rasanya aku akan menjadi manusia paling merugi di dunia ini.”
‘ Sekarang siapa menggoda
siapa coba?’ Ririn berusaha menyembunyikan rona merah di
wajahnya. “ A—aku anggap itu pujian.”
Adrian
kembali tertawa, “ Jujur aku pilih kamu tadi. Sayang, hasil voting berkata
lain.”
Sekali
lagi, Fi dan Ririn sama-sama terkejut. Benarkah demikian?
Ririn
mulai merasakan kalau Fi sedang mengintimidasi melalui tatapannya. Ia pun
buru-buru meminta diri. Bahaya kalau Fi sampai memandanginya terus-menerus
dengan cara seperti itu.
ooOoo
Niatan
awal Ririn memang ingin berganti baju. Namun, sebenarnya ia ingin menyendiri
sejenak. Ia tak bisa menenangkan perasaannya bila terus menerus di tengah
keramaian. Hatinya sedang campur aduk dan ia butuh bernapas sendirian.
Bohong
kalau ia tak bersedih. Bohong kalau ia tak kecewa. Bohong kalau ia baik-baik
saja.
Air
mata Ririn jatuh setelah ia mengambil satu tarikan napas yang panjang.
Kekecewaan dan kesedihan sepertinya tak pantas untuk sebuah hasil yang ia perjuangkan.
Padahal ia sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan peran utama ini. Ia
pikir semua berjalan mulus, tapi ia harus menelan pil pahit ini.
Di
tengah-tengah rasa sedih yang menderanya, tiba-tiba saja ada selembar handuk
sengaja dilempar untuk menutupi kepalanya. Ririn dengan cepat menoleh untuk
mencari tahu siapa pemilik handuk tersebut. Lagi-lagi perbuatan si laki-laki
berkacamata tebal itu.
Ririn
berusaha menghapus air matanya. Namun, laki-laki itu justru menepuk-nepuk
kepalanya yang tertutup handuk. Dari nada bicaranya, Ririn tahu laki-laki ini
sedang tersenyum.
“
Bisa repot kalau ada salah satu dari teman-temanmu melihat kamu menangis di
sini. Makanya aku tutup pakai handuk.”
“
Da—darimana kamu tahu kalau aku nangis di sini?”
Alexi
menghela napas. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Ririn dengan jawaban yang
seharusnya.
“
Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan
oleh angka satu atau dua.”
Alexi
tersenyum saat melihat handuk di kepala Ririn terangguk-angguk.
“
Ya sudah, kalau bisa sekarang nangisnya dipercepat. Teman-temanmu sudah
menunggu di sana.”
Ririn
mengangkat handuk itu dari kepalanya. Air matanya sudah kering. Ia pun bisa
memberikan senyumannya yang paling tulus pada laki-laki itu.
“
Al, terima kasih banyak.”
ooOoo
Tidak
terasa hari sudah semakin sore. Ririn dan teman-temannya menghabiskan waktu di game center dan makan-makan di salah
satu restoran cepat saji. Ketika matahari mulai tergelincir, mereka pun
memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
‘ Ini saat yang tepat.’
Ketika
mereka berangkat Ririn dibonceng Kemal, sedangkan Andani bersama kembarannya.
Kedua gadis ini sama-sama tidak membawa kendaraan pribadi. Makanya ketika
pulang, mereka menaiki kendaraan yang sama.
Kemal
dan Ririn tiba di parkiran paling akhir. Ia sengaja menahan Kemal lebih lama
supaya ia bisa mengatakan hal penting pada laki-laki itu. Hal penting itu tentu
saja pernyataan cinta Kemal beberapa hari yang lalu.
“
Hmm, Kemal. Aku mau jawab pernyataan cinta kamu waktu itu.”
Kemal
mengurungkan niatanya untuk memakai helm. Perasaannya langsung tidak enak. Ia
tahu apa jawaban gadis itu. Sesuai perjanjian, mereka akan berpacaran kalau
Ririn berhasil mendapatkan peran utama. Namun, semua orang tahu bagaimana
hasilnya.
“
Iya, aku tahu,” ujar Kemal terkekeh. “ Tapi kamu tadi beneran gak berniat
kalah’kan?”
Ririn
menggeleng cepat. Hal itu membuat Kemal kembali tertawa.
“
Kamu begitu mempesona Adrian. Bagaimana mungkin kamu sengaja kalah. Yaah,
kurasa memang kita tidak berjodoh. Hmm, tapi kalau kamu memang suka sama aku,
gak apa-apa kok kalau kita melanggar perjanjian.”
Ririn
menggeleng pelan, lalu ia tersenyum, “ Ini bukan masalah perjanjian, tapi
masalah prinsip.
“
Kemal, aku tahu kalau kamu mudah jatuh cinta pada setiap wanita meski itu hanya
pandangan pertama. Sayangnya, aku nggak bisa kayak gitu. Meski kamu bilang kamu
akan buat aku jatuh cinta sama kamu, tapi aku merasa itu nggak akan berhasil.
“
Jujur aja, aku gak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Menurutku cinta
itu butuh proses. Aku percaya cinta itu enggak lahir dari hubungan yang serba
gampang.”
Kemal
mendesah panjang. Ia kembali tertawa sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
“
Wah, wah, baru kali ini aku ditolak dengan kalimat sepanjang itu. Berapa lama
kamu menyusun kata-katamu itu?”
“
Ah, nggak. Aku mengutip itu dari Yamada Ryosuke.”
“
Apa Yamada Ryosuke itu seorang filsuf?”
Ririn
menggeleng sambil tersenyum geli, “ Bukan, dia cuma member sebuah boyband.”
Tawa
Kemal meledak, “ Astaga, aku dikalahkan oleh seorang pria lembut,” kemudian ia
memasang helm dan menstarter motornya. “ Rin, maaf ya. Aku lagi patah hati sama
kamu. Jadi, kamu pulang sendiri aja. Daaah…”
Napas
Ririn tercekat. Ia tak tahu kalau Kemal bisa setega itu. Patah hati sih boleh
saja, tapi pikirkan juga nasib anak gadis orang. Sekarang sudah gelap, angkot
akan sulit didapat, dan bagaimana Ririn akan pulang? Kemal ternyata orangnya
sadis juga.
Dengan
helaan napas berat, Ririn menyusuri parkiran mall itu. Ia harus segera bergegas agar masih bisa mendapat angkot.
Namun, ada keberuntungan kecil yang diberikan Tuhan hari itu. Ternyata masih
ada seseorang yang menunggunya di depan pintu keluar dari parkiran tersebut.
Tidak
pakai motor, hanya sebuah sepeda. Ririn kaget bercampur bingung. Bagaimana
mungkin laki-laki itu tahu kalau ia masih ada di parkiran? Lalu apakah
laki-laki itu mendengar semua percakapannya dengan Kemal? Cepat-cepat Ririn
mengesampingkan semua dugaannya itu. Ia pun segera menghampiri laki-laki
berkacamata tebal yang sedang tersenyum padanya.
“
Ha—hai, ka—kamu
masih di sini?”
Tanpa
mengurangi kadar senyumannya, laki-laki itu memberikan kode agar Ririn segera
naik di sepedanya. Ririn tak bertanya ataupun membantah. Segera setelah ia
mendudukkan pantatnya, sepeda itu meluncur menembus langit malam Palembang.
“
Hari yang berat ya?” tanya Alexi tiba-tiba.
Ririn
tak bisa menjawab. Satu kata saja keluar dari bibirnya, ia pastikan air matanya
ikut jatuh. Ia pun hanya bisa mengangguk, meski ia tahu Alexi tak bisa
mendengarnya.
“
Bersandar saja bila itu bisa sedikit meringankan bebanmu.”
Ririn
tak bisa lebih bersyukur lagi karena telah dipertemukan dengan laki-laki itu.
Ia seperti malaikat penolong yang Tuhan turunkan dari surga. Semua kegalauannya
hari ini bisa terselesaikan hanya dengan bersandar di punggung pria ini.
‘ Aku berhutang padamu, Al….’
Insipirated by Hey Say Jump “Aki, Hare, Boku ni Kaze
ga Fuita”
Author's Note:
Jiaaah... selamat
buat Fi yang lulus seleksi pemeran utama. Author tolong ditraktir yah...
Buat yang patah
hati jangan sedih yah. Ingat, patah tumbuh hilang berganti *author digebukin
Kemal*
Well, author mau
curhat dikit boleh yaaa... Dalam pembuatan musikal 29 ini author sampai galau
loooh... abisnya selama pembuatan author dengerin lagunya Hey Say Jump yang
judulnya "Aki, Hare, Boku ni Kaze ga Fuita". Berasaaa musim gugur di
hati, tapi di luar musim asep, wkwkwkwk, soalnya pembuatan part ini udah
setahun yang lalu bertepatan dengan kabut asap yang melanda Palembang.
Jujur aja ini
musikal kesenengan author, kalau lagi buntu ide biasanya author suka balik baca
part ini. Hoaaalah... author juga mau lah boncengan ala-ala dorama gitu...
eaaaak *galau mode on*
Oh iya, kalimat
Ririn waktu nolak Kemal itu emang bener dikutip dari Yamada Ryosuke kok.
Auhtor pernah baca trivia dia dan ucapannya menyentuh banget. *peluk erat
Yama-chan*
Okeee... sampai
di sini dulu curhat author, maaf panjangnya melebihi postingannya dan maaf postingan minggu ini rada error, soalnya asisten author yang melakukannya *bungkuk dalem-dalem*
So, tetap
pantengin Love Musical Extraordinary minggu depan!!!!
Please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar