Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 29)



Musikal 29


Lima belas menit berlalu. Kelima juri pun kembali dari tempat perundingannya. Fi dan Ririn diminta untuk berdiri di depan teman-temannya. Mereka berdua menunggu hasil perundingan dengan jantung yang dag dig dug. Begitu pun teman-teman mereka. Seketika ruangan terasa senyap.

“ Sebenarnya mereka berdua memiliki bakat yang hebat. Kita semua mengakui hal tersebut,” ujar Tifa membuka hasil pengumumannya. “ Tapi pemeran utama hanya ada satu.”

“ Dan dia adalah….”

Tifa sengaja mengulur waktu untuk melihat ekspresi orang-orang yang ada di sana. Perasaan gugup tak hanya menjalari kedua peserta, tetapi juga penonton yang lain. Semakin lama Tifa mengulur waktu, perasaan mereka semakin tak jelas.

“ Selamat kepada… Firdayanti. Kamu terpilih sebagai pemeran utama!”

Dewi Fortuna saat itu benar-benar berada di pihak Fi. Ia meloncat kegirangan saat namanya disebut sebagai pemeran utama. Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada juri sekaligus mentornya nanti. Lalu ia alihkan pandangannya pada Priyanka. Gadis itu juga bersorak riang.

Di sisi lain awan mendung menyelimuti perasaan Ririn. Ia tak berani mengangkat wajahnya lagi. Ia merasa malu. Malu pada teman-temannya dan juga malu kepada dirinya sendiri. padahal tadi ia sudah sangat percaya diri, apalagi ketika Adrian juga ikut berdansa bersamanya. Sayang ternyata harapannya musnah. Rasa percaya diri itu justru menelannya ke dalam jurang penuh cacian.

“ Kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Suara itu. Suara yang selalu memberikannya semangat. Perlahan-lahan Ririn mengangkat wajahnya. Ternyata benar, suara itu berasal dari laki-laki yang selalu menggunakan kacamata tebal. Senyuman tulus darinya seperti menyiram dahaga Ririn setelah kehausan yang panjang.

Belum sempat Ririn membalas kata-kata itu, ia langsung diserbu oleh Andani. Sahabatnya itu memeluknya dengan rentetetan kalimatnya.

“ Huaaa… kamu hebat kok, Rin. Kamu jangan sedih karena kalah, tapi kamu boleh nangis kok.”

Ririn sebenarnya mau tertawa. Bagaimana mungkin ia bisa menangis, sementara Andani duluan yang sudah berurai air mata.

“ Aku setuju. Kamu beneran hebat kok,” ujar Anjani. “ Tapi ternyata keputusan berbeda dari yang diharapkan.”

“ Padahal si Adrian tadi sudah ikutan dansa,” sahut Ben. “ Apa itu gak menambah nilai bonus ya buat Ririn?”

“ Mungkin juri punya penilaian sendiri,” ujar Wenda, lalu ia mengulurkan tangannya. “ Yah, setidaknya kamu sudah berhasil mengerjakan PRmu. Aku akui kamu tadi sangat memukau.”

Ririn menyambut tangan Wenda, “ Terima kasih.”

“ Hanya dapat pemeran kedua. Kamu tetap bagian dari Love Musical kok,” ujar Kemal.

Ririn tersenyum. Ia pandangi teman-temannya satu persatu, “ Semuanya, terima kasih ya. Yaah, sebenarnya aku malu karena tidak bisa memenuhi harapan kalian. Padahal kalian sudah bekerja keras membantuku,” Ririn lalu menghapus air mata Andani. “ An, udah dong. Aku yang kalah, masa kamu yang nangis bombay.”

“ Ha—habisnya kamu sih…” Andani ikut menghapus air matanya sambil sesegukan.

“ Gimana kalau kita sekarang jalan-jalan atau makan? Hitung-hitung buat menghibur Ririn. Lagi pula kita sudah dapat dispensasi belajar’kan?” ujar Ben. “ Gimana?”

Mereka pun langsung menyetujui usulan Ben. Seperti telah melupakan kesedihannya, Ririn pun langsung ikut menentukan tempat mereka hang out.

“ Eh, teman-teman kalian duluan aja ya. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Ririn.

Ririn pun segera memisahkan diri. Namun, ia ragu saat akan melewati pintu keluar, karena di sana Fi, Priyanka, dan Adrian sedang bercakap-cakap. Sayang, pintu keluar cuma satu. Akhirnya mau tak mau ia harus melewati ketiga orang itu.

“ Hei, wanita penggoda!”

Tak hanya Ririn, tapi Fi pun ikut kaget saat Adrian memanggil Ririn dengan sebutan itu. Fi langsung memasang tatapan sinisnya ketika Adrian menghampiri gadis itu

“ Ma—maksud  kamu, aku?” tanya Ririn sambil menunjuk hidungnya.

“ Siapa lagi yang berhasil menggodaku berdansa?” ujar Adrian sambil terkekeh. “Kamu tadi memang luar biasa. Kalau sampai aku tak berdansa denganmu tadi, rasa-rasanya aku akan menjadi manusia paling merugi di dunia ini.”

‘ Sekarang siapa menggoda siapa coba?’ Ririn berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. “ A—aku anggap itu pujian.”

Adrian kembali tertawa, “ Jujur aku pilih kamu tadi. Sayang, hasil voting berkata lain.”

Sekali lagi, Fi dan Ririn sama-sama terkejut. Benarkah demikian?

Ririn mulai merasakan kalau Fi sedang mengintimidasi melalui tatapannya. Ia pun buru-buru meminta diri. Bahaya kalau Fi sampai memandanginya terus-menerus dengan cara seperti itu.

ooOoo

Niatan awal Ririn memang ingin berganti baju. Namun, sebenarnya ia ingin menyendiri sejenak. Ia tak bisa menenangkan perasaannya bila terus menerus di tengah keramaian. Hatinya sedang campur aduk dan ia butuh bernapas sendirian.

Bohong kalau ia tak bersedih. Bohong kalau ia tak kecewa. Bohong kalau ia baik-baik saja.

Air mata Ririn jatuh setelah ia mengambil satu tarikan napas yang panjang. Kekecewaan dan kesedihan sepertinya tak pantas untuk sebuah hasil yang ia perjuangkan. Padahal ia sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan peran utama ini. Ia pikir semua berjalan mulus, tapi ia harus menelan pil pahit ini.

Di tengah-tengah rasa sedih yang menderanya, tiba-tiba saja ada selembar handuk sengaja dilempar untuk menutupi kepalanya. Ririn dengan cepat menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik handuk tersebut. Lagi-lagi perbuatan si laki-laki berkacamata tebal itu.

Ririn berusaha menghapus air matanya. Namun, laki-laki itu justru menepuk-nepuk kepalanya yang tertutup handuk. Dari nada bicaranya, Ririn tahu laki-laki ini sedang tersenyum.

“ Bisa repot kalau ada salah satu dari teman-temanmu melihat kamu menangis di sini. Makanya aku tutup pakai handuk.”

“ Da—darimana kamu tahu kalau aku nangis di sini?”

Alexi menghela napas. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Ririn dengan jawaban yang seharusnya.

“ Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua.”

Alexi tersenyum saat melihat handuk di kepala Ririn terangguk-angguk.

“ Ya sudah, kalau bisa sekarang nangisnya dipercepat. Teman-temanmu sudah menunggu di sana.”

Ririn mengangkat handuk itu dari kepalanya. Air matanya sudah kering. Ia pun bisa memberikan senyumannya yang paling tulus pada laki-laki itu.

“ Al, terima kasih banyak.”

ooOoo

Tidak terasa hari sudah semakin sore. Ririn dan teman-temannya menghabiskan waktu di game center dan makan-makan di salah satu restoran cepat saji. Ketika matahari mulai tergelincir, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

‘ Ini saat yang tepat.’

Ketika mereka berangkat Ririn dibonceng Kemal, sedangkan Andani bersama kembarannya. Kedua gadis ini sama-sama tidak membawa kendaraan pribadi. Makanya ketika pulang, mereka menaiki kendaraan yang sama.

Kemal dan Ririn tiba di parkiran paling akhir. Ia sengaja menahan Kemal lebih lama supaya ia bisa mengatakan hal penting pada laki-laki itu. Hal penting itu tentu saja pernyataan cinta Kemal beberapa hari yang lalu.

“ Hmm, Kemal. Aku mau jawab pernyataan cinta kamu waktu itu.”

Kemal mengurungkan niatanya untuk memakai helm. Perasaannya langsung tidak enak. Ia tahu apa jawaban gadis itu. Sesuai perjanjian, mereka akan berpacaran kalau Ririn berhasil mendapatkan peran utama. Namun, semua orang tahu bagaimana hasilnya.

“ Iya, aku tahu,” ujar Kemal terkekeh. “ Tapi kamu tadi beneran gak berniat kalah’kan?”

Ririn menggeleng cepat. Hal itu membuat Kemal kembali tertawa.

“ Kamu begitu mempesona Adrian. Bagaimana mungkin kamu sengaja kalah. Yaah, kurasa memang kita tidak berjodoh. Hmm, tapi kalau kamu memang suka sama aku, gak apa-apa kok kalau kita melanggar perjanjian.”

Ririn menggeleng pelan, lalu ia tersenyum, “ Ini bukan masalah perjanjian, tapi masalah prinsip.

“ Kemal, aku tahu kalau kamu mudah jatuh cinta pada setiap wanita meski itu hanya pandangan pertama. Sayangnya, aku nggak bisa kayak gitu. Meski kamu bilang kamu akan buat aku jatuh cinta sama kamu, tapi aku merasa itu nggak akan berhasil.

“ Jujur aja, aku gak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Menurutku cinta itu butuh proses. Aku percaya cinta itu enggak lahir dari hubungan yang serba gampang.”

Kemal mendesah panjang. Ia kembali tertawa sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

“ Wah, wah, baru kali ini aku ditolak dengan kalimat sepanjang itu. Berapa lama kamu menyusun kata-katamu itu?”

“ Ah, nggak. Aku mengutip itu dari Yamada Ryosuke.”

“ Apa Yamada Ryosuke itu seorang filsuf?”

Ririn menggeleng sambil tersenyum geli, “ Bukan, dia cuma member sebuah boyband.”

Tawa Kemal meledak, “ Astaga, aku dikalahkan oleh seorang pria lembut,” kemudian ia memasang helm dan menstarter motornya. “ Rin, maaf ya. Aku lagi patah hati sama kamu. Jadi, kamu pulang sendiri aja. Daaah…”

Napas Ririn tercekat. Ia tak tahu kalau Kemal bisa setega itu. Patah hati sih boleh saja, tapi pikirkan juga nasib anak gadis orang. Sekarang sudah gelap, angkot akan sulit didapat, dan bagaimana Ririn akan pulang? Kemal ternyata orangnya sadis juga.

Dengan helaan napas berat, Ririn menyusuri parkiran mall itu. Ia harus segera bergegas agar masih bisa mendapat angkot. Namun, ada keberuntungan kecil yang diberikan Tuhan hari itu. Ternyata masih ada seseorang yang menunggunya di depan pintu keluar dari parkiran tersebut.

Tidak pakai motor, hanya sebuah sepeda. Ririn kaget bercampur bingung. Bagaimana mungkin laki-laki itu tahu kalau ia masih ada di parkiran? Lalu apakah laki-laki itu mendengar semua percakapannya dengan Kemal? Cepat-cepat Ririn mengesampingkan semua dugaannya itu. Ia pun segera menghampiri laki-laki berkacamata tebal yang sedang tersenyum padanya.

“ Ha—hai, kakamu masih di sini?”

Tanpa mengurangi kadar senyumannya, laki-laki itu memberikan kode agar Ririn segera naik di sepedanya. Ririn tak bertanya ataupun membantah. Segera setelah ia mendudukkan pantatnya, sepeda itu meluncur menembus langit malam Palembang.

“ Hari yang berat ya?” tanya Alexi tiba-tiba.

Ririn tak bisa menjawab. Satu kata saja keluar dari bibirnya, ia pastikan air matanya ikut jatuh. Ia pun hanya bisa mengangguk, meski ia tahu Alexi tak bisa mendengarnya.

“ Bersandar saja bila itu bisa sedikit meringankan bebanmu.”

Ririn tak bisa lebih bersyukur lagi karena telah dipertemukan dengan laki-laki itu. Ia seperti malaikat penolong yang Tuhan turunkan dari surga. Semua kegalauannya hari ini bisa terselesaikan hanya dengan bersandar di punggung pria ini.

‘ Aku berhutang padamu, Al….’


Insipirated by Hey Say Jump “Aki, Hare, Boku ni Kaze ga Fuita”


Author's Note:
Jiaaah... selamat buat Fi yang lulus seleksi pemeran utama. Author tolong ditraktir yah...
Buat yang patah hati jangan sedih yah. Ingat, patah tumbuh hilang berganti *author digebukin Kemal*
Well, author mau curhat dikit boleh yaaa... Dalam pembuatan musikal 29 ini author sampai galau loooh... abisnya selama pembuatan author dengerin lagunya Hey Say Jump yang judulnya "Aki, Hare, Boku ni Kaze ga Fuita". Berasaaa musim gugur di hati, tapi di luar musim asep, wkwkwkwk, soalnya pembuatan part ini udah setahun yang lalu bertepatan dengan kabut asap yang melanda Palembang.
Jujur aja ini musikal kesenengan author, kalau lagi buntu ide biasanya author suka balik baca part ini. Hoaaalah... author juga mau lah boncengan ala-ala dorama gitu... eaaaak *galau mode on*
Oh iya, kalimat Ririn waktu nolak Kemal itu emang bener dikutip dari Yamada Ryosuke kok. Auhtor pernah baca trivia dia dan ucapannya menyentuh banget. *peluk erat Yama-chan*
Okeee... sampai di sini dulu curhat author, maaf panjangnya melebihi postingannya dan maaf postingan minggu ini rada error, soalnya asisten author yang melakukannya *bungkuk dalem-dalem*
So, tetap pantengin Love Musical Extraordinary minggu depan!!!!

Please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar