Musikal
14
“
Eeh, tambah orang?”
Tifa
hanya mengangguk menanggapi reaksi Riani. Matanya terlalu fokus untuk membaca
lembaran-lembaran kerta yang berserakan di hadapannya.
“
Tapi apa Hana setuju?” Gloria menimpali.
“
Dia bilang gak masalah. Asalkan gak menambah biaya.”
Kening
Riani berkerut, “ Bukannya kamu bilang mau pakai yang profesional? Mana mungkin
mereka gak menuntut upah.”
“
Dia koneksiku. Koneksi yang paling kusayang, Kalian gak usah pusing dengan
masalah itu dan
tinggal terima beres kok. Selain itu aku ada tugas untuk kalian,” jawab Tifa.
Senyumnya mengembang, lalu ia menyerahkan selembar kertas pada Gloria dan
Riani. “ Nah, tolong selamatkan dua orang ini. Beri mereka latihan intesif.
Soalnya setelah kuselidiki mereka mempunyai prospek untuk mendapatkan koneksi
yang bagus lainnya.”
“
Menyelediki?” tanya Riani dengan alis terangkat. “ Kamu benar-benar stalker ya sekarang.”
“
Sebenarnya apa rencanamu kali ini, Tif?” ujar Gloria dengan wajah masam.
“
Pokoknya rencana ini supaya kita mendapatkan banyak bantuan dari profesional
tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Apa yang kita punya harus kita manfaatkan
dengan baik.”
Gloria
tertawa sinis, “ Dasar picik.”
Tifa
balas tertawa. Ia melihat arlojinya dan segera bergegas.
“
Aku harus menjemput orang ini. Bisa-bisa dia ngambek. Sampai jumpa.”
ooOoo
Sekali
lagi Tifa menginjakkan kakinya di Bandar udara internasional Palembang. Kali
ini ia datang tidak sebagai tamu, melainkan untuk menjemput seseorang. Ia sudah
menyiapkan papan nama dan menunggu di pintu keluar. Baru saja ia akan menuju
tempat kedatangan, tiba-tiba ia melihat seorang pria dengan kaus ungu dengan
kaca mata hitam yang digantungkan di kerah bajunya. Laki-laki itu seolah tak
peduli dengan kedaan sekitar. Telinganya tertutup headset dan matanya terfokus pada layar ponsel.
Tifa
tahu persis siapa pria itu, karena pria itulah yang seharusnya ia jemput. Ia
pun bergegas untuk menghampiri laki-laki itu.
“
Hai, darling. Maaf ya aku lama.”
Pria
itu mendengus kesal. Ia segera melepas headset
dan menyimpan ponselnya. Kemudian tangannya terjulur pada Tifa.
“
Kenapa? Mau minta peluk? Kamu kangen ya sama akuuu?” tanya Tifa dengan nada
menggoda.
“
Cih, kunci mobil tahu! Aku mau cepat-cepat sampai rumah.”
Giliran
Tifa yang mendengus kesal, tapi ia tetap memberikan kunci mobilnya pada
laki-laki itu.
“
Issh, dasar laki-laki. Tidak punya kesabaran
ekstra.”
please comment and share
Author's note:
nyaaah... maaf yah cuma update dua musikal pendek. tolong jangan gebukin author. besok janji update tiga musikal dan author tambahin cogan alias cowok ganteng. well, see you tomorrow....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar