Musikal 25
Pintu
rumah keluarga Bramastya terbuka. Tampak sosok nyonya Bramastya yang muncul
dari balik pintu itu. Ia tersenyum ramah pada tamu yang baru saja mengetuk
pintu rumah mereka.
“
Ririn? Mau ketemu Andani ya? Dia lagi les vokal, sayang.”
Gadis
berambut ikal itu tersenyum lebar, “ Nggak, Tante. Aku mau ketemu Anjani. Kita
mau pergi bareng.”
“
Anjani?” nyonya Bramastya terlihat heran mendengar jawaban gadis itu. Biasanya
gadis itu datang ke rumahnya untuk bertemu dengan kembaran Anjani. Seingatnya
Anjani dan Ririn tidak berteman terlalu akrab.
“
Eh, Rin. Kamu sudah datang?” Anjani muncul dari belakang ibunya. “ Tunggu
bentar ya, aku ganti baju dulu.”
Anjani
melesat masuk ke kamarnya. Nyonya Bramastya pun mempersilahkan Ririn masuk
sembari menunggu anaknya.
“
Tumben kamu jalan bareng Anjani. Pada mau kemana?”
“
Kita cuma mau nongkrong aja kok, Ma,” Anjani tiba-tiba sudah muncul seraya
memasang snakernya
“
Kamu ini, daripada nongkrong mendingan kamu balik les vokal bareng Andani,”
nada bicara nyonya Bramastya terdengar tidak senang.
“
Aku pergi dulu, Ma,” Anjani tak menggubris kata-kata mamanya dan langsung
mencium tangan Mamanya. “ Yuk, Rin.”
Ririn
ikut mencium tangan nyonya Bramastya, “ Kita pamit ya, Tante.”
Nyonya
Bramastya akhirnya hanya bisa menghela napas, “ Ya, hati-hati di jalan saja.”
ooOoo
Motor
matic Anjani berderu kencang.
Ternyata Anjani pandai menghindari traffic
light sehingga motornya benar-benar berhenti ketika mereka sudah sampai di
tempat tujuan.
Ririn
membuka helmnya. Ia mengedarkan pandanganya ke sekitar. Tempat yang ia berada
ternyata di bilangan Kambang Iwak. Di Sabtu sore seperti sekarang, tempat ini
memang selalu ramai dikunjungi anak muda. Ada yang berolahraga, nongkrong
bersama teman-teman, hingga pacaran. Namun, Ririn dan Anjani ada alasan sendiri
kenapa mereka ke sini.
Mereka
menuju ke salah satu spot teramai di Kambang Iwak saat itu. Orang-orang
berkumpul di sana karena ada sebuah event
yang diselenggarakan. Semakin mereka mendekati tenda tempat event itu berlangsung, maka suara yang
di dengar semakin bising. Entah itu suara musik live band, disk jockey,
atau riuh suara penonton. Namun, di tengah kebisingan itu Anjani masih bisa mendengar
namanya dipanggil oleh seseorang.
Wenda,
Kemal, dan Ben ternyata sudah menunggu mereka di sana. Mereka sudah mengenakan
kostum yang serupa. Hari ini mereka bertiga mengikuti kompetisi dance yang diselenggarakan di sana.
Selain itu, Anjani juga direkrut sebagai pengisi acara pada event yang sama. Entah kenapa kali ini
Wenda mengajak Ririn datang sebagai penonton.
“
Hei, apa kami terlambat?” sapa Anjani.
“
Nggak, tapi kalian melewatkan acara pembukanya. Wah, dance group pembukanya keren banget,” jawab Wenda.
“
Ohh, gitu. Ya udah deh, aku mau gabung dulu sama anak-anak band,” Anjani lalu
menoleh pada Ririn. “ Rin, kamu ikut aku aja. Mungkin kita nonton dari samping,
tapi itu lebih baik dari pada kamu nonton sendirian.”
Ririn
mengangguk, “ Oke deh, aku ikut kamu aja.”
“
Kalo pas kita tampil nanti, kamu teriak kenceng-kenceng yah,” ujar Ben. “ Biar
kita semangat.”
“
Siap deh, Bos,” jawab Ririn sambil mengacungkan
jempolnya.
“
Terus bilang ‘Kemal I love youuu’, gitu
ya.”
“
Kemal kurang kerjaan deh,” gerutu Anjani. “ Udah ah, kita pergi dulu. Semangat
ya kalian!”
“
Daah, semangat ya!” Ririn melambaikan tangannya dan ketiga orang itu
membalasnya.
Tidak
lama kemudian tim Wenda cs pun tampil. Spontan Anjani dan Ririn berteriak
memberikan semangat. Sepertinya tim mereka sudah cukup tenar. Terbukti begitu
nama grup mereka disebut, tepuk tangan dan teriakan penonton lebih riuh.
Musik
berdentum keras. Ketiga orang itu menari dengan lincah dan kompak. Tak ada yang
saling mendahului, apalagi yang sangat ingin menonjol. Semuanya sudah diatur
dengan chemistry yang saling
mengikat, dan mempesona siapa saja yang melihatnya.
Tepuk
tangan penonton kembali riuh saat mereka menutup akhir peforma mereka dengan
sebuah pose yang paling apik. Ririn dan Anjani pun sampai ikut-ikutan bersorak.
Tak bisa dipungkiri kalau penampilan ketiga orang ini memang benar-benar keren.
“
Sumpaaah… kalian keren banget!” seru Anjani ketika menemui ketiga temannya di backstage. “ Aku sampai terpana gituuu!”
“
Makasiiih…” Wenda berseru senang seraya memeluk Anjani.
Ben
yang tadinya tersenyum jumawa, tiba-tiba keheranan melihat tingkh Ririn. Gadis
itu tak berbicara, hanya saja matanya berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya pun sulit
ditebak.
“
Eh, kamu kenapa, Rin?”
Ririn
menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Ahh, nggak. Aku cuma kehabisan kata-kata aja.
Abisnya kalian terlalu keren untuk dideskripsikan.”
“
Yaelah, kayak pelajaran Bahasa Indonesia aja kudu dideskripsikan,” ujar Ben
sambil tertawa. “ Tapi tadi kamu teriak kenceng-kenceng’kan?”
Ririn
mengangguk cepat. Sementara yang lainnya pun ikut tertawa.
“
Hei, guys. Aku udah mau tampil nih.
Giliran kalian yang nonton aku ya,” Anjani melambaikan tangannya, kemudian ia
bergabung dengan teman-teman bandnya. Mereka terlihat sedang melakukan check sound sebelum tampil.
Wenda
mengajak ketiga temannya untuk menonton Anjani di baris depan. Setelah berusaha
keras berdesak-desakkan dengan para penonton, mereka pun berhasil mendapatkan
posisi tepat di depan panggung. Suasana kembali riuh saat musik mulai dimainkan
oleh personel band.
Dari
jenis musiknya, Ririn menebak kalau Anjani akan menyanyikan lagu rock. Ternyata benar, sore itu Anjani
bersama bandnya membawakan lagu ‘Pressure’
dari Paramore. Anjani benar-benar sangat keren saat membawakan lagu itu.
“ Waah, Anjani keren banget ya,” ujar Ririn dengan
nada kagum. “ Padahal suaranya kontralto, tapi pas nyanyi lagu rock dia justru lebih keren.”
“ Hebat, tahu juga kamu soal musik?” sahut Kemal yang
berdiri di sampingnya.
Ririn tersenyum kecil, “ Yaah, sedikit. Menurutku
Anjani tahu banget teknik-teknik bernyanyi. Aku aja gak mungkin bisa narik nada
setinggi itu.”
“ Tapi sayang ya, dia selalu dibanding-bandingkan
dengan saudarinya. Memangnya sehebat apa sih saudarinya itu?”
Kening Ririn mengerut saat mendengar nada bertanya
Kemal yang terkesan sinis, “Andani itu range suaranya mencapai tiga oktaf.
Kalau kamu dengar dia seriosa, aku yakin bulu kuduk kamu merinding.”
“ Heei, sepertinya kamu terlalu memihak pada
saudarinya,” sahut Kemal.
“ Tidak, aku hanya memberi tahu seperti apa saudarinya
itu,” Ririn membela diri. “Anjani dan Andani memang saudara kembar dan mereka
sama-sama jago dalam urusan bernyanyi, tapi keduanya tetap gak bisa disamakan.
Menurutku, Andani adalah penyanyi terbaik, tapi Anjani adalah entertainer
sejati.”
Kemal tertawa mendengar jawaban Ririn yang begitu
apik. Sepertinya ia memilih orang yang salah untuk diajak berdebat.
“ Ya, soal itu aku setuju denganmu.”
ooOoo
Tak
usah ditanya siapa yang menyabet juara satu dalam kompetisi dance sore itu. Berkat kekompakan dan
keharmonisan dari Wenda, Kemal, dan juga Ben, ketiganya berhasil mendapat gelar
juara satu. Siapa pun pasti setuju dengan hasil ini.
“Waaah,
kalian hebat bisa jadi juara satu,” puji Ririn. “ Selamat ya!”
Wenda
tersenyum, “ Terima kasih. Nah, hari ini kamu gak usah praktik, cuma belajar
aja. Ngerti’kan maksudku?”
Ririn
mengangguk paham.
“
Okeee, sekarang gimana kalau Anjani yang traktir kita makan?” ujar Ben.
“
Hee, loh kok aku? ‘kan yang menang lomba itu kalian.”
“
Tapi yang dapat gaji paling gede’kan kamu, Jane,” Ben terkekeh. “ Ayolah, cuma
makan bakso kok.”
Anjani
menggerutu, “ Hu uh, sialan kamu.”
“
Aku gak ikut deh, capek banget soalnya,” ujar Wenda. “ Lagi pula besok aku
harus melatih Ririn. Dari kemarin aku harus latihan dua kali lipat, dan
sekarang aku mau istirahat.”
“
Kalau begitu aku mau ngajak Ririn jalan berdua aja,” sahut Kemal. “ Kamu mau
gak, Rin?”
“
Eeeh?” spontan Ririn bingung dengan tawaran Kemal.
“
Eiit, kamu curang, Mal. Masa cuma jalan berdua aja?” omel Ben.
“
Iya, lagian’kan aku pergi berdua sama Ririn. Masa pulangnya sendirian?” sahut
Anjani.
Kemal,
Anjani, dan Ben pun saling adu mulut. Wenda pun akhirnya turun tangan untuk
melerai mereka. Kalau tidak masalah ini tidak akan selesai sampai besok pagi.
“
Heei, gimana kalau Ririn ajalah yang memutuskan. Lagi pula kalau hanya Ben,
kamu gak terlalu keberatan untuk traktir dia’kan, Jane?”
Sekarang
keputusan ada di tangan Ririn. Ia harus memilih jawaban yang tepat supaya
pertengkaran mereka tidak semakin memanas. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba
ia teringat dengan pembicaraannya bersama Wenda waktu itu.
‘…. Bangun chemistry dengan
cara mengenal dan berteman dengan pasangan menarimu….’
Ririn
menghela napas, “ Aku ikut Kemal deh. Gak apa-apa’kan, Jane?”
Kemal
bersorak gembira. Di sisi lain Anjani mendesah berat.
“
Ya sudah, terserah kamu aja. Eh, Kemal, temanku ini jangan kamu apa-apain ya!”
ujar Anjani dengan nada mengancam. Kemal memberikan hormat diikuti senyum
cengengesannya. “ Yuk, Ben. Katanya mau makan bakso.”
Mereka
pun saling mengucapkan salam dan berpisah. Wenda segera meluncur pulang dengan maticnya. Anjani dan Ben iring-iringan
dengan motornya menuju warung bakso yang jaraknya hanya 100 meter dari tempat
mereka berada. Warung bakso yang mereka tuju sudah sangat terkenal akan
kelezatannya dan juga rasa pedas yang membara.
Sementara
Ririn memberanikan dirinya untuk duduk di jok belakang motor Kemal. Ia sedikit
kesulitan saat menaiki motornya Kemal, karena Kemal tidak pakai motor seperti
teman-temanya. Ia memang sangat macho dengan motor Ninja hijaunya.
‘ Semoga ini cuma
benar-benar makan malam saja…’
please comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar