Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 19)



Musikal 19



Priyanka mematikan mp3 playernya. Ia tersenyum pada Fi dan memberikan selembar handuk pada gadis itu.

“ Ini baru latihan pertama. Masih banyak salah, tapi aku rasa tarian kamu cukup bagus.”

“ Terima kasih,” Fi menerima handuk pemberian Priyanka. “ Ya, memang aku harus banyak berlatih.”

Dering ponsel Fi menginterupsi latihan mereka. Namun, Fi sangat antusias saat melihat nama yang tertera di layar adalah Adrian.

“ Halo… ah, iya, jadi dong… aku masih latihan di sekolahan, jemput saja aku di sini. Hm, baiklah, sampai jumpa.”

“ Kalian akan makan malam berdua?”

Fi mengangguk semangat, “ Sepertinya latihan harus kita selesaikan sekarang. Aku harus segera berganti baju.”

Priyanka mengangkat bahunya, “ Yah, sepertinya aku juga tidak bisa menghalangi.” Ia pun turut mengganti bajunya. “ Tapi aku tidak menyangka kalau ternyata Adrian adalah orang yang ramah.”

“ Dia terlalu baik. Aku juga heran kenapa ada orang yang begitu baiknya. Awalnya aku mengira dia orang yang sulit didekati, tapi setelah berkenalan ternyata dia memiliki kepribadian yang hangat. Tak ada yang tak menyukainya.”

Priyanka menangkap mata Fi berbinar saat menceritakan tentang pria itu. Hal itu membuat senyumnya kembali mengembang.

“ Kamu menyukainya?”

Fi tersentak, tapi kemudian ia ikut tersenyum, “ Tidak ada salahnya’kan menyukai pria tampan yang baik hati.”

“ Ya, tidak ada salahnya,” Priyanka terkekeh. “ Tapi menyukai pangeran seperti dia, mungkin kamu akan mendapatkan banyak saingan.”

“ Tidak masalah,” sahut Fi sambil mengibaskan rambutnya. Ia menatap cermn dengan senyum sinisnya, “ Karena aku selalu mendapatkan apa yang aku mau.”

ooOoo


Adrian membukakan pintu mobil ketika Fi datang menghampirinya. Fi tersenyum malu-malu seraya masuk ke dalam mobil. Adrian memutari mobilnya, kemudian duduk manis di belakang kemudi.

“ Eh, kamu latihan sendiri?” tanya Adrian sambil menyalakan mesin mobil.

“ Oh, sama Priyanka. Kamu ingat’kan?” ujar Fi yang disambung dengan anggukan Adrian. “ Tapi dia udah pulang sendiri. Dia bawa motor matic sih.”

“ Wow, aku pikir Priyanka itu cewek yang feminim banget. Ternyata bisa juga bawa motor. Keren juga tuh anak,” Adrian terkekeh. “ Ngomong-ngomong kita mau kemana? Makan dulu atau nonton dulu?”

“ Hmm, gimana kalau makan dulu aja. Aku laper banget nih. Latihan tadi cukup menguras energi.”

Adrian mengangguk, “ Oke, princess!”

ooOoo

“ Kamu bilang laper banget, tapi kamu cuma pesan sandwich. Aneh deh.”

Fi tersenyum geli, lalu meletakkan sandwichnya di atas piring, “ Well, aku harus tetap diet. Aku gak mau kalau setelah vakum badanku malah melar-melar.”

“ Ahh, dasar cewek. Ribet deh,” ujar Adrian sambil menyuap steak. “ Eh, kamu belum cerita kenapa kamu bisa vakum dari dunia entertainment. Bukannya jadi artis itu cita-cita kamu?”

Senyuman itu perlahan memudar. Perasaan Fi selalu campur aduk tatkala menceritakan atau sekadar mengingat kenapa dirinya bisa terdampar di sini. Fi pun mulai membeberkan semua peristiwa yang membawanya hingga hari ini.

“ Ah, jadi begitu,” Adrian berujar setelah Fi benar-benar menyelesaikan ceritanya. “Kamu benar-benar malang, Fi.”

Fi mengangkat bahunya, “ Ya sudahlah, sudah berlalu. Makanya sekarang aku berusaha keras di pementasan ini, karena menurutku pementasan ini langkah baruku untuk memulai semuanya.”

Ada aura kesedihan terpancar dari mata Adrian, tapi senyuman laki-laki itu terlihat begitu lembut.

“ Maaf ya, Fi. Aku gak ada di samping kamu ketika kamu lagi masa susah.”

Fi tersentak. Ia tak menyangka Adrian akan mengatakan hal yang bisa membuatnya terharu.

Oh, tidak. Dia benar-benar seorang pangeran!

“ Sudahlah, lagi pula aku sekarang baik-baik saja,” Fi mengalihkan perhatiannya. Ia malu jika Adrian mendapati pipinya yang merona. “ Oh ya, kamu sendiri gimana? Apa kamu sudah keliling dunia?”

Adrian tertawa kecil, kemudian memberengut, “ Seharusnya begitu, tapi gara-gara seseorang aku harus menunda semuanya selama enam bulan. Sial, padahal aku harus ke Jepang besok. Aku benci mengakui kalau semua ini adalah perbuatan Tanteku sendiri.”

“ Wow, kamu benar-benar berkembang pesat. Sepertinya kamu sangat menyukainya.”

“ Ya, tentu saja, tapi bagaimana pun juga permintaan Tanteku ini juga sebuah tanggung jawab yang besar,” ujar Adrian. “ Bekerja dengan para profesional adalah saatnya belajar, tapi membuat sebuah pertunjukan bersama para amatir membuatku menjadi seorang guru. Jika aku berhasil, maka euphoria yang kurasakan pasti lebih besar.”

Fi tak bisa berhenti menganggumi laki-laki di hadapannya ini. Dia memang benar-benar mempesona. Baik secara fisik, hingga personalnya. Saking terpesonnaya, Fi bahkan tidak sadar kalau jari Adrian terjulur dan menyentuh sudut bibirnya.

“ Kamu makan kayak anak kecil. Berantakan,” ujarnya sambil tertawa.

Tubuh Fi seperti tersiram air es. Membeku. Namun, jantungnya justru berdegup lebih kencang dari biasanya. 

please comment and share
 
Malam itu Fi tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada teman masa kecilnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar