Musikal
19
Priyanka
mematikan mp3 playernya. Ia tersenyum
pada Fi dan memberikan selembar handuk pada gadis itu.
“
Ini baru latihan pertama. Masih banyak salah, tapi aku rasa tarian kamu cukup
bagus.”
“
Terima kasih,” Fi menerima handuk pemberian Priyanka. “ Ya, memang aku harus
banyak berlatih.”
Dering
ponsel Fi menginterupsi latihan mereka. Namun, Fi sangat antusias saat melihat
nama yang tertera di layar adalah Adrian.
“
Halo… ah, iya, jadi dong… aku masih latihan di sekolahan, jemput saja aku di
sini. Hm, baiklah, sampai jumpa.”
“
Kalian akan makan malam berdua?”
Fi
mengangguk semangat, “ Sepertinya latihan harus kita selesaikan sekarang. Aku
harus segera berganti baju.”
Priyanka
mengangkat bahunya, “ Yah, sepertinya aku juga tidak bisa menghalangi.” Ia pun
turut mengganti bajunya. “ Tapi aku tidak menyangka kalau ternyata Adrian
adalah orang yang ramah.”
“
Dia terlalu baik. Aku juga heran kenapa ada orang yang begitu baiknya. Awalnya
aku mengira dia orang yang sulit didekati, tapi setelah berkenalan ternyata dia
memiliki kepribadian yang hangat. Tak ada yang tak menyukainya.”
Priyanka
menangkap mata Fi berbinar saat menceritakan tentang pria itu. Hal itu membuat
senyumnya kembali mengembang.
“
Kamu menyukainya?”
Fi
tersentak, tapi kemudian ia ikut tersenyum, “ Tidak ada salahnya’kan menyukai
pria tampan yang baik hati.”
“
Ya, tidak ada salahnya,” Priyanka terkekeh. “ Tapi menyukai pangeran seperti
dia, mungkin kamu akan mendapatkan banyak saingan.”
“
Tidak masalah,” sahut Fi sambil mengibaskan rambutnya. Ia menatap cermn dengan
senyum sinisnya, “ Karena aku selalu mendapatkan apa yang aku mau.”
ooOoo
Adrian
membukakan pintu mobil ketika Fi datang menghampirinya. Fi tersenyum malu-malu
seraya masuk ke dalam mobil. Adrian memutari mobilnya, kemudian duduk manis di
belakang kemudi.
“
Eh, kamu latihan sendiri?” tanya Adrian sambil menyalakan mesin mobil.
“
Oh, sama Priyanka. Kamu ingat’kan?” ujar Fi yang disambung dengan anggukan
Adrian. “ Tapi dia udah pulang sendiri. Dia bawa motor matic sih.”
“
Wow, aku pikir Priyanka itu cewek yang feminim banget. Ternyata bisa juga bawa motor. Keren
juga tuh anak,” Adrian terkekeh. “ Ngomong-ngomong kita mau kemana? Makan dulu
atau nonton dulu?”
“
Hmm, gimana kalau makan dulu aja. Aku laper banget nih. Latihan tadi cukup
menguras energi.”
Adrian
mengangguk, “ Oke, princess!”
ooOoo
“
Kamu bilang laper banget, tapi kamu cuma pesan sandwich. Aneh deh.”
Fi
tersenyum geli, lalu meletakkan sandwichnya di atas piring, “ Well, aku harus tetap diet. Aku gak mau
kalau setelah vakum badanku malah melar-melar.”
“
Ahh, dasar cewek. Ribet deh,” ujar Adrian sambil menyuap steak. “ Eh, kamu belum cerita kenapa kamu bisa vakum dari dunia
entertainment. Bukannya jadi artis itu cita-cita kamu?”
Senyuman
itu perlahan memudar. Perasaan Fi selalu campur aduk tatkala menceritakan atau
sekadar mengingat kenapa dirinya bisa terdampar di sini. Fi pun mulai
membeberkan semua peristiwa yang membawanya hingga hari ini.
“
Ah, jadi begitu,” Adrian berujar setelah Fi benar-benar menyelesaikan
ceritanya. “Kamu benar-benar malang, Fi.”
Fi
mengangkat bahunya, “ Ya sudahlah, sudah berlalu. Makanya sekarang aku berusaha
keras di pementasan ini, karena menurutku pementasan ini langkah baruku untuk
memulai semuanya.”
Ada
aura kesedihan terpancar dari mata Adrian, tapi senyuman laki-laki itu terlihat
begitu lembut.
“
Maaf ya, Fi. Aku gak ada di samping kamu ketika kamu lagi masa susah.”
Fi
tersentak. Ia tak menyangka Adrian akan mengatakan hal yang bisa membuatnya
terharu.
Oh, tidak. Dia benar-benar
seorang pangeran!
“
Sudahlah, lagi pula aku sekarang baik-baik saja,” Fi mengalihkan perhatiannya.
Ia malu jika Adrian mendapati pipinya yang merona. “ Oh ya, kamu sendiri
gimana? Apa kamu sudah keliling dunia?”
Adrian
tertawa kecil, kemudian memberengut, “ Seharusnya begitu, tapi gara-gara
seseorang aku harus menunda semuanya selama enam bulan. Sial, padahal aku harus
ke Jepang besok. Aku benci mengakui kalau semua ini adalah perbuatan Tanteku
sendiri.”
“
Wow, kamu benar-benar berkembang pesat. Sepertinya kamu sangat menyukainya.”
“
Ya, tentu saja, tapi bagaimana pun juga permintaan Tanteku ini juga sebuah
tanggung jawab yang besar,” ujar Adrian. “ Bekerja dengan para profesional
adalah saatnya belajar, tapi membuat sebuah pertunjukan bersama para amatir
membuatku menjadi seorang guru. Jika aku berhasil, maka euphoria yang kurasakan
pasti lebih besar.”
Fi
tak bisa berhenti menganggumi laki-laki di hadapannya ini. Dia memang
benar-benar mempesona. Baik secara fisik, hingga personalnya. Saking
terpesonnaya, Fi bahkan tidak sadar kalau jari Adrian terjulur dan menyentuh
sudut bibirnya.
“
Kamu makan kayak anak kecil. Berantakan,” ujarnya sambil tertawa.
Tubuh
Fi seperti tersiram air es. Membeku. Namun, jantungnya justru berdegup lebih
kencang dari biasanya.
please comment and share
Malam
itu Fi tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada teman masa kecilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar