Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 27)




Musikal 27
 

“ Serius? Kamu beneran bilang gitu ke Kemal?”

Andani tak percaya ketika Ririn menceritakan tentang kejadian kemarin malam. Ia lebih tak percaya lagi ketika Ririn mengiyakan pertanyaannya barusan.

“ Astaga, Ririn. Kamu tahu Kemal’kan? Dia itu playboy! Masa kamu mau percaya aja sama dia? Bisa aja dia itu cuma ngegombal supaya kamu bisa jadi pacar dia. Terus kalau dia bosan, dia dengan mudah mutusin kamu.”

“ Yaaa… tapi’kan penentuannya setelah audisi. Aku juga gak tahu bisa lolos apa nggak.”

“ Oh, good. Lalu semua kerja kerasmu akan sia-sia aja?”

“ Ya, gak gitu juga,” ujar Ririn membela diri. “ Aku juga pengen mengenal Kemal dan juga teman-temannya lebih dekat lagi. Aku pikir ini juga salah satu cara yang bagus supaya aku bisa lebih dekat dengan mereka. Lagi pula kita bakalan kerja sama untuk waktu yang lama.”

Andani mendecakkan lidahnya, “ Aku rasa masih banyak cara lain kalau kamu mau lebih dekat dengan anak-anak Panji Semirang. Bukan dengan jatuh ke dalam perangkap si buaya darat itu.”

“ Hmm, mungkin aja setelah pacaran sama aku, dia bisa berubah,” suara Ririn terdengar lebih lunak dari sebelumnya. “ Kemal memang playboy, tapi menurutku dia lumayan ganteng.”

“ Dia memang ganteng, makanya playboy!” Andani menyudahi omelannya. “ Ah, sudahlah. Aku harap kamu gak pakai perasaan 100% pas pacaran sama dia. Terus kalau kamu ditinggalin dia, jangan nangis-nangis di hadapan aku! Pintu kamarku tertutup untuk itu!”

Akhirnya tawa Ririn pecah. Syukurlah sahabatnya ini mau mengerti.

“ Tapi kamu enak ya, bisa akrab-akraban sama anak-anak Panji Semirang,” ujar Andani sambil menyesap cappuccino cincaunya. “ Aku dengar dari Mamaku, kamu pergi bareng Anjani.”

Ririn hanya melirik Andani. Ia tak berani menjawab. Terdengar desahan berat dari gadis bersuara indah itu.

“ Aku kangen jalan-jalan bareng Anjani lagi. Sayang, sekarang dia berubah banget. Tanpa tahu salahku di mana, dia semakin menjaga jarak denganku. Aku sudah berusaha untuk ngobrol atau mencari kesempatan untuk hang out bareng, tapi dia selalu tak acuh. Aku kangen dia yang dulu.”

Ririn tersenyum kecil, “ Salah satu tujuanku pacaran dengan Kemal adalah mencari tahu kenapa Anjani berubah. Mungkin Kemal lebih tahu tentang masalah ini. Kalau aku tahu dimana letak permasalahannya, aku pasti bakalan bantuin kamu baikkan lagi sama Anjani.”

Andani menatap Ririn dengan wajah memelas. Lalu memeluk gadis itu.

“ Huaaa, kamu memang sahabatku. Terima kasiiiih…”

“ Sama-sama,” Ririn membalas erat pelukan Andani.

Keduanya sama-sama tertawa.

“ Eh, aku harus ke rumah Kemal nih. Nanti terlambat.”

Kening Andani kembali berkerut, “ Kamu mau pergi ke sarang penyamun? Kamu sudah gila?”

“ Ya ampun, An. Aku ke sana buat latihan. Masa kamu lupa?”

Tawa Andani kembali pecah, “ Oh iya, aku lupa. Habisnya sekarang kalau dengar nama itu, kuping aku langsung panas aja. Oke deh, hati-hati di jalan ya. Semangat!”

Ririn melambaikan tangannya. Kemudian menyetop sebuah angkot yang akan membawanya menuju komplek rumah Kemal.

ooOoo

Wenda mematikan MP3 playernya. Ia mengisyaratkan pada Ben, Kemal, dan Ririn untuk beristirahat. Sudah dua jam mereka berlatih, istirahat 15 menit akan membantu mereka untuk merenggakan tubuh sejenak.

Ben dan Kemal memutuskan untuk beristirahat di luar ruangan. Pengap juga dua jam di dalam studio. Sementara Ririn menghampiri Wenda yang sedang mengecek ponselnya.

“ Wen, gimana tarianku tadi?”

“ Menurutku sudah cukup bagus,” ujar Wenda sambil menyimpan ponselnya. “Gerakan kamu sudah lumayan luwes, chemistrynya juga sudah dapat. Hanya saja…”

“ Hanya apa?” tanya Ririn cepat.

Wenda menghela napas berat, “ Hanya saja kamu belum mengerjakan PRmu, Rin.”

“ Maksudmu PR yang ‘berciuman dengan gestur tubuh’ itu?”

“ Nah, itu kamu inget. Kenapa belum dikerjakan?”

Ririn menggaruk-garuk ujung hidungnya, “ Habisnya aku gak ngerti, Wen. Kamu kasih penjelasan lagi dong. Otakku ini agak sulit menangkap peribahasa seperti itu.”

“ Hmm, maksudku itu―”

“ Aku bisa mengajarimu berciuman kalau kamu mau, Rin.”

Wenda melempar tatapan membunuh pada Kemal yang baru saja masuk.

“ Kalo ngomong jangan ngaco deh. Aku sumpal mulut kamu pake sandal, mau?”

Kemal hanya terkekeh, tapi ia masih sempat mengedipkan matanya pada Ririn. Buru-buru gadis itu mengalihkan padangannya. Pura-pura tidak melihat.

“ Aku gak bakal ngajarin kamu cara berciuman, tapi aku mempraktekkan apa yang Wenda katakan,” sahut Ben seraya menyetel kembali MP3 player. “ Sini, Wen!”

Wenda langsung menyambut uluran tangan Ben. Musik mengalun, dan mereka pun memperlihatkan gerakan-gerakan indah mereka. Kadang cepat, kadang perlahan, tapi tak pernah keluar dari tempo. Tak hanya sampai disitu. Adegan puncak dari dansa mereka adalah ketika wajah mereka saling bertatapan. Mata bertemu mata. Ada jeda beberapa detik saat kontak itu berlangsung. Begitu cepat dan tajam, sehingga membuat siapa saja yang melihatnya terenyuh dan merasa seakan baru saja berciuman.

Ririn menahan napasnya. Tatapan mereka berdua seperti baru saja menikam jantungnya. Ia terpana. Bagaimana mungkin tatapan itu sampai padanya, padahal kedua orang itu sama sekali tak meliriknya.

“ Nah, begitulah kira-kira,” ujar Wenda setelah mereka selesai berdansa. “ Kamu ngerti’kan?”

Ririn mengangguk. Namun, dalam hatinya ia ragu untuk melakukannya. Ia mengerti tapi tak tahu bagaimana cara melakukannya.

ooOoo

Beginilah Ririn. Di saat ia menemukan jalan buntu untuk memecahkan masalahnya ia selalu berakhir di toko buku. Berharap ada sebuah buku yang dapat memecahkan masalah hidupnya.

Frustasi. Sia-sia saja, ia tak menemukan buku yang ia cari. Ia bingung harus bagaimana. Dengan hembusan napas yang berat, ia memutuskan untuk pulang saja. Namun, ada sosok laki-laki yang sangat familiar sedang mencari buku. Ia kenal pria ini. Pria aneh yang pernah ia temui di tempat yang sama.

“ Alexi?”

Laki-laki berkacamata tebal itu menoleh, lalu tersenyum, “ Wah, kita seperti déjà vu ya.”

Ririn terkekeh, “ Sedang mencari buku apa?”

“ Ah, hanya bacaan ringan sebelum tidur. Kamu sendiri?”

“ Yah, seperti biasa. Mencari inspirasi,” ujar Ririn sambil mengangkat bahu.

“ Oh ya, mungkin bisa aku bantu?”

Ririn tertawa sambil melambaikan tangannya, “ Aku takut nanti kamu kasih buku yang tepat lagi.”

“ Hei, jangan seperti itu,” Alexi ikut tertawa. “ Ayolah, ceritakan padaku.”

“ Hmm, bagaimana yaa…” Ririn menggaruk-garuk ujung hidungnya. “ Aku butuh buku yang mengulas tentang berciuman dengan gestur tubuh.”

Alexi langsung bengong menatap Ririn. Gadis itu semakin gelisah saat ditatap dengan cara seperti itu. Garukan di hidungnya semakin cepat, bahkan saking gugupnya ia pun menggaruk bagian belakang kepalanya.

“ Sudahlah, sepertinya ti―”

“ Hmm, ikut aku!” Alexi menarik tangan Ririn dan mengajaknya ke salah satu rak buku dengan genre sastra. Di sana Alexi memilihkan sebuah buku dan menyerahkan pada Ririn.

“ ‘Latihan dasar pementasan drama dan teater’?” giliran Ririn yang menatap Alexi dengan bingung. “ Kamu suruh aku baca hal-hal dasar lagi?”

“ Sesuatu yang sulit itu harus kembali ke dasar masalahnya,” ujar Alexi sambil merebut buku yang dipegang Ririn. “ Aku bayarin lagi deh. Hitung-hitung jaminan.”

Ririn tak bisa membantah saat Alexi sudah membawa buku itu ke meja kasir. Malam ini ia benar-benar merasa déjà vu.

ooOoo

“ Alexi bikin bingung deh, arrgh…”

Ririn terlalu kesal dengan buku yang sudah ia baca berkali-kali. Buku itu ia bolak-balik dengan kasar dan ditambah gerakan bibirnya yang semakin lama semakin maju. Ia mendesah lagi, kemudian ia serakkan buku itu ke ujung kasurnya.

“ Si Wenda lagi pake perumpamaan segala. Memangnya ia guru Bahasa Indonesia apa?”

‘Sesuatu yang sulit itu harus kembali ke dasar masalahnya.’

Kata-kata Alexi terus berdengung manakala matanya melirik buku yang baru saja ia tak acuhkan. Ririn mencoba memejamkan matanya. Gagal. Dengungan kalimat itu semakin mengusai pikirannya. Petuah Alexi seolah-olah ancaman dari guru fisikanya bilamana ada tugas yang harus segera dikerjakan.

Selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, ia sibak dengan cepat. Ririn bangkit dan langsung menyergap kembali buku tersebut. Ia baca dengan seksama, hingga di halaman 32 ia menemukan sebuah alinea yang sangat tepat untuk menafsirkan semua perumpamaan Wenda. Seketika Ririn meloncat kegirangan.

“ Yohooo, I got it! I got it! Lalalala….”

Ririn menutup buku itu dengan perasaan lega yang membanjiri tubuhnya. Ia tak pernah sesenang ini sebelumnya. Rasa senang ini bahkan melampaui para peneliti ketika menemukan kapal Titanic yang karam di Samudra Artik.

“ Tapi… kenapa si Alexi itu tahu segalanya yah? Apa dia itu peramal? Atau jangan-jangan dia itu pemuda indigo?”

Ririn kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Kepalanya kini sudah dipenuhi oleh spekulasi-spekulasi mengenai laki-laki bernama Alexi itu. Laki-laki itu memang penuh dengan misteri. Entah dari mana munculnya, tapi selalu saja membawa solusi. Sempat terpikir oleh Ririn kalau laki-laki ini keturunan peri atau malaikat.

Semakin lama pemikiran Ririn semakin dalam. Tak sadar ia terlelap dalam semua pemikirannya. Malam itu Ririn tertidur sangat nyenyak. Mungkin efek buku sastra yang ia jadikan sebagai pengganti guling malam itu.




Author's Note:

Cieeeh... yang ditembak Kemal. Btw audisinya besok loooh. Buat Fi dan Ririn siap-siap yah, buat yang lain jangan sampai lewat!!!!


please comment and share

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar