Musikal
27
“
Serius? Kamu beneran bilang gitu ke Kemal?”
Andani
tak percaya ketika Ririn menceritakan tentang kejadian kemarin malam. Ia lebih
tak percaya lagi ketika Ririn mengiyakan pertanyaannya barusan.
“
Astaga, Ririn. Kamu tahu Kemal’kan? Dia itu playboy!
Masa kamu mau percaya aja sama dia? Bisa aja dia itu cuma ngegombal supaya kamu
bisa jadi pacar dia. Terus kalau dia bosan, dia dengan mudah mutusin kamu.”
“
Yaaa… tapi’kan penentuannya setelah audisi. Aku juga gak tahu bisa lolos apa
nggak.”
“
Oh, good.
Lalu semua kerja kerasmu akan sia-sia aja?”
“
Ya, gak gitu juga,” ujar Ririn membela diri. “ Aku juga pengen mengenal Kemal
dan juga teman-temannya lebih dekat lagi. Aku pikir ini juga salah satu cara
yang bagus supaya aku bisa lebih dekat dengan mereka. Lagi pula kita bakalan
kerja sama untuk waktu yang lama.”
Andani
mendecakkan lidahnya, “ Aku rasa masih banyak cara lain kalau kamu mau lebih
dekat dengan anak-anak Panji Semirang. Bukan dengan jatuh ke dalam perangkap si
buaya darat itu.”
“
Hmm, mungkin aja setelah pacaran sama aku, dia bisa berubah,” suara Ririn
terdengar lebih lunak dari sebelumnya. “ Kemal memang playboy, tapi menurutku dia lumayan ganteng.”
“
Dia memang ganteng, makanya playboy!”
Andani menyudahi omelannya. “ Ah, sudahlah. Aku harap kamu gak pakai perasaan
100% pas pacaran sama dia. Terus kalau kamu ditinggalin dia, jangan
nangis-nangis di hadapan aku! Pintu kamarku tertutup untuk itu!”
Akhirnya
tawa Ririn pecah. Syukurlah sahabatnya ini mau mengerti.
“
Tapi kamu enak ya, bisa akrab-akraban sama anak-anak Panji Semirang,” ujar
Andani sambil menyesap cappuccino
cincaunya. “ Aku dengar dari Mamaku, kamu pergi bareng Anjani.”
Ririn
hanya melirik Andani. Ia tak berani menjawab. Terdengar desahan berat dari
gadis bersuara indah itu.
“
Aku kangen jalan-jalan bareng Anjani lagi. Sayang, sekarang dia berubah banget.
Tanpa tahu salahku di mana, dia semakin menjaga jarak denganku. Aku sudah
berusaha untuk ngobrol atau mencari kesempatan untuk hang out bareng, tapi dia selalu tak acuh. Aku kangen dia yang
dulu.”
Ririn
tersenyum kecil, “ Salah satu tujuanku pacaran dengan Kemal adalah mencari tahu
kenapa Anjani berubah. Mungkin Kemal lebih tahu tentang masalah ini. Kalau aku
tahu dimana letak permasalahannya, aku pasti bakalan bantuin kamu baikkan lagi
sama Anjani.”
Andani
menatap Ririn dengan wajah memelas. Lalu memeluk gadis itu.
“
Huaaa, kamu memang sahabatku. Terima kasiiiih…”
“
Sama-sama,” Ririn membalas erat pelukan Andani.
Keduanya
sama-sama tertawa.
“
Eh, aku harus ke rumah Kemal nih. Nanti terlambat.”
Kening
Andani kembali berkerut, “ Kamu mau pergi ke sarang penyamun? Kamu sudah gila?”
“
Ya ampun, An. Aku ke sana buat latihan. Masa kamu lupa?”
Tawa
Andani kembali pecah, “ Oh iya, aku lupa. Habisnya sekarang kalau dengar nama
itu, kuping aku langsung panas aja. Oke deh, hati-hati di jalan ya. Semangat!”
Ririn
melambaikan tangannya. Kemudian menyetop sebuah angkot yang akan membawanya
menuju komplek rumah Kemal.
ooOoo
Wenda
mematikan MP3 playernya. Ia
mengisyaratkan pada Ben, Kemal, dan Ririn untuk beristirahat. Sudah dua jam
mereka berlatih, istirahat 15 menit akan membantu mereka untuk merenggakan
tubuh sejenak.
Ben
dan Kemal memutuskan untuk beristirahat di luar ruangan. Pengap juga dua jam di
dalam studio. Sementara Ririn menghampiri Wenda yang sedang mengecek ponselnya.
“
Wen, gimana tarianku tadi?”
“
Menurutku sudah cukup bagus,” ujar Wenda sambil menyimpan ponselnya. “Gerakan
kamu sudah lumayan luwes, chemistrynya
juga sudah dapat. Hanya saja…”
“
Hanya apa?” tanya Ririn cepat.
Wenda
menghela napas berat, “ Hanya saja kamu belum mengerjakan PRmu, Rin.”
“
Maksudmu PR yang ‘berciuman dengan gestur tubuh’ itu?”
“
Nah, itu kamu inget. Kenapa belum dikerjakan?”
Ririn
menggaruk-garuk ujung hidungnya, “ Habisnya aku gak ngerti, Wen. Kamu kasih
penjelasan lagi dong. Otakku ini agak sulit menangkap peribahasa seperti itu.”
“
Hmm, maksudku itu―”
“
Aku bisa mengajarimu berciuman kalau kamu mau, Rin.”
Wenda
melempar tatapan membunuh pada Kemal yang baru saja masuk.
“
Kalo ngomong jangan ngaco deh. Aku sumpal mulut kamu pake sandal, mau?”
Kemal
hanya terkekeh, tapi ia masih sempat mengedipkan matanya pada Ririn. Buru-buru
gadis itu mengalihkan padangannya. Pura-pura tidak melihat.
“
Aku gak bakal ngajarin kamu cara berciuman, tapi aku mempraktekkan apa yang
Wenda katakan,” sahut Ben seraya menyetel kembali MP3 player. “ Sini, Wen!”
Wenda
langsung menyambut uluran tangan Ben. Musik mengalun, dan mereka pun
memperlihatkan gerakan-gerakan indah mereka. Kadang cepat, kadang perlahan,
tapi tak pernah keluar dari tempo. Tak hanya sampai disitu. Adegan puncak dari
dansa mereka adalah ketika wajah mereka saling bertatapan. Mata bertemu mata.
Ada jeda beberapa detik saat kontak itu berlangsung. Begitu cepat dan tajam,
sehingga membuat siapa saja yang melihatnya terenyuh dan merasa seakan baru
saja berciuman.
Ririn
menahan napasnya. Tatapan mereka berdua seperti baru saja menikam jantungnya.
Ia terpana. Bagaimana mungkin tatapan itu sampai padanya, padahal kedua orang
itu sama sekali tak meliriknya.
“
Nah, begitulah kira-kira,” ujar Wenda setelah mereka selesai berdansa. “ Kamu
ngerti’kan?”
Ririn
mengangguk. Namun, dalam hatinya ia ragu untuk melakukannya. Ia mengerti tapi
tak tahu bagaimana cara melakukannya.
ooOoo
Beginilah
Ririn. Di saat ia menemukan jalan buntu untuk memecahkan masalahnya ia selalu
berakhir di toko buku. Berharap ada sebuah buku yang dapat memecahkan masalah
hidupnya.
Frustasi.
Sia-sia saja, ia tak menemukan buku yang ia cari. Ia bingung harus bagaimana.
Dengan hembusan napas yang berat, ia memutuskan untuk pulang saja. Namun, ada
sosok laki-laki yang sangat familiar sedang mencari buku. Ia kenal pria ini.
Pria aneh yang pernah ia temui di tempat yang sama.
“
Alexi?”
Laki-laki
berkacamata tebal itu menoleh, lalu tersenyum, “ Wah, kita seperti déjà vu ya.”
Ririn
terkekeh, “ Sedang mencari buku apa?”
“
Ah, hanya bacaan ringan sebelum tidur. Kamu sendiri?”
“
Yah, seperti biasa. Mencari inspirasi,” ujar Ririn sambil mengangkat bahu.
“
Oh ya, mungkin bisa aku bantu?”
Ririn
tertawa sambil melambaikan tangannya, “ Aku takut nanti kamu kasih buku yang
tepat lagi.”
“
Hei, jangan seperti itu,” Alexi ikut tertawa. “ Ayolah, ceritakan padaku.”
“
Hmm, bagaimana yaa…” Ririn menggaruk-garuk ujung hidungnya. “ Aku butuh buku
yang mengulas tentang berciuman dengan gestur tubuh.”
Alexi
langsung bengong menatap Ririn. Gadis itu semakin gelisah saat ditatap dengan
cara seperti itu. Garukan di hidungnya semakin cepat, bahkan saking gugupnya ia
pun menggaruk bagian belakang kepalanya.
“
Sudahlah, sepertinya ti―”
“
Hmm, ikut aku!” Alexi menarik tangan Ririn dan mengajaknya ke salah satu rak
buku dengan genre sastra. Di sana Alexi memilihkan sebuah buku dan menyerahkan
pada Ririn.
“
‘Latihan dasar pementasan drama dan teater’?” giliran Ririn yang menatap Alexi
dengan bingung. “ Kamu suruh aku baca hal-hal dasar lagi?”
“
Sesuatu yang sulit itu harus kembali ke dasar masalahnya,” ujar Alexi sambil
merebut buku yang dipegang Ririn. “ Aku bayarin lagi deh. Hitung-hitung jaminan.”
Ririn
tak bisa membantah saat Alexi sudah membawa buku itu ke meja kasir. Malam ini
ia benar-benar merasa déjà vu.
ooOoo
“
Alexi bikin bingung deh, arrgh…”
Ririn
terlalu kesal dengan buku yang sudah ia baca berkali-kali. Buku itu ia
bolak-balik dengan kasar dan ditambah gerakan bibirnya yang semakin lama
semakin maju. Ia mendesah lagi, kemudian ia serakkan buku itu ke ujung
kasurnya.
“
Si Wenda lagi pake perumpamaan segala. Memangnya ia guru Bahasa Indonesia apa?”
‘Sesuatu yang sulit itu
harus kembali ke dasar masalahnya.’
Kata-kata
Alexi terus berdengung manakala matanya melirik buku yang baru saja ia tak
acuhkan. Ririn mencoba memejamkan matanya. Gagal. Dengungan kalimat itu semakin
mengusai pikirannya. Petuah Alexi seolah-olah ancaman dari guru fisikanya
bilamana ada tugas yang harus segera dikerjakan.
Selimut
yang menutupi sebagian tubuhnya, ia sibak dengan cepat. Ririn bangkit dan
langsung menyergap kembali buku tersebut. Ia baca dengan seksama, hingga di
halaman 32 ia menemukan sebuah alinea yang sangat tepat untuk menafsirkan semua
perumpamaan Wenda. Seketika Ririn meloncat kegirangan.
“
Yohooo, I got it! I got it!
Lalalala….”
Ririn
menutup buku itu dengan perasaan lega yang membanjiri tubuhnya. Ia tak pernah
sesenang ini sebelumnya. Rasa senang ini bahkan melampaui para peneliti ketika
menemukan kapal Titanic yang karam di Samudra Artik.
“
Tapi… kenapa si Alexi itu tahu segalanya yah? Apa dia itu peramal? Atau
jangan-jangan dia itu pemuda indigo?”
Ririn
kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Kepalanya kini sudah
dipenuhi oleh spekulasi-spekulasi mengenai laki-laki bernama Alexi itu.
Laki-laki itu memang penuh dengan misteri. Entah dari mana munculnya, tapi
selalu saja membawa solusi. Sempat terpikir oleh Ririn kalau laki-laki ini keturunan
peri atau malaikat.
Semakin
lama pemikiran Ririn semakin dalam. Tak sadar ia terlelap dalam semua
pemikirannya. Malam itu Ririn tertidur sangat nyenyak. Mungkin efek buku sastra
yang ia jadikan sebagai pengganti guling malam itu.
Author's Note:
Cieeeh... yang ditembak Kemal. Btw
audisinya besok loooh. Buat Fi dan Ririn siap-siap yah, buat yang lain jangan
sampai lewat!!!!
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar