Musikal
20
Ririn
baru menyelesaikan latihannya ketika waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Ketika
ia selesai latihan, Kemal sempat menawari untuk mengantarkan pulang, tapi ia
tolak. Ririn benar-benar tak percaya dengan laki-laki itu. Kemal terlalu
agresif, apalagi senyumannya yang mirip dengan seringai picik serigala. Tidak,
tidak, Ririn tak mau Kemal mengenalnya lebih jauh.
Sekarang
di sinilah dia. Terpaku di depan gerbang SMA Panji Semirang menunggu angkot
lewat. Ketiga orang lainnya sudah pulang dengan motor masing-masing. Sebenarnya
ia bisa saja nebeng dengan Wenda, tapi ia tak mau merepotkan lagi. Jadi,
sekarang ia menunggu angkot di gelapnya malam dan hembusan angin yang dingin.
“
Butuh tumpangan?”
Ririn
terlonjak kaget. Untung saja ia tak sempat berteriak saking terkejutnya.
Bagaimana tidak? Di tengah gelap tiba-tiba
ada seorang laki-laki bermasker menawari tumpangan. Wajar jika Ririn
menganggap orang itu adalah laki-laki cabul. Untungnya laki-laki itu cepat
membuka maskernya.
“
Hei, ini aku.”
“
Alexi, kamu mengagetkan aku,” Ririn mengusap-usap dadanya. “ Aku pikir aku akan
dikerjai laki-laki mesum.”
Alexi
tertawa lebar, sementara Ririn masih memberengut.
“
Lagian malam-malam ngapain pakai masker? Kamu udah kayak petugas kebersihan
abadi tahu!”
“
Justru di saat malam polusi udara sedang mengepul di sekitar kita,” jawabnya.
“Eh, kamu baru selesai latihan?”
“
Begitulah,” jawab Ririn yang disusul dengan desahan berat.
Alexi
menunduk agar dapat memerhatikan wajah Ririn dengan seksama. Risih dengan
perlakuannya, Ririn pun segera menjauhkan wajahnya.
“
Kamu kelihatan capek banget. Mau aku antar pulang? Eh, kamu pulang ke arah
mana?”
Ririn
baru sadar kalau Alexi datang dengan sebuah sepeda. Ia merasa heran, ternyata
masih ada juga anak kota pergi ke sekolah dengan sepeda. Ia pikir motor matic sudah menjadi pengganti sepeda
untuk semua anak sekolahan.
“
Ke komplek Amanda. Eh, memangnya kamu sanggup bawa aku pake sepeda itu? Aku
lumayan berat loh.”
“
Loh ternyata Komplek Amanda, gak jauh dari rumahku,” ujar Alexi antusias. “Gak
apa, aku kuat kok. Naik aja.”
Sepertinya
memang tak ada pilihan lain. Angkot yang tunggu dari tadi juga tak kunjung
datang. Hari sudah semakin malam. Kali ini boleh saja Alexi, tapi selanjutnya
mungkin benar-benar penjahat yang menghampiri. Sebelum semua itu terjadi, lebih
baik ia menerima tawaran laki-laki ini. Masa bodoh dengan berat badan.
“
Wah, ternyata kamu memang beneran berat ya,” ujar Alexi dengan desahan berat.
Namun, ia masih tertawa.
“
Tuuh kan, aku bilang juga apa,” omel Ririn. “ Hei, kamu bilang komplekku dekat
dengan rumahmu. Memangnya rumahmu dimana?”
“
Di Komplek Nusantara. Bukan rumah pribadi sih, aku kost di sana.”
“
Eh, kost?”
“
Iya, aku pengen belajar hidup mandiri. Makanya aku naik sepeda pulang pergi.
Soalnya kalau pake motor, bakalan nambah uang bensin. Kalau pakai sepeda’kan
lebih hemat. Yaah, hitung-hitung olahraga gitu.”
Ririn
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia baru saja akan menanyakan itu,
tapi ia sudah mendapatkan jawabannya lebih dulu.
“
Lagian biar keren aja kayak cowok-cowok di Jepang atau Korea gitu,” ujar Alexi
sambil tertawa.
Ririn
memberikan tinjuan kecil di punggung laki-laki itu, “ Alaaah, gak ada
mirip-miripnya tau.”
Mereka
berdua pun tertawa.
“
Tadi latihan apa aja?”
“
Cuma dasar-dasar waltz. Cuma dasar sih,
tapi capek juga. Kaki aku pegel banget. Apa lagi si Ben. Aku udah gak tahu
berapa kali aku injak kaki dia.”
Tawa
Alexi kembali terdengar, “ Namanya juga baru pertama kali. Oh ya, sampai rumah
nanti jangan lupa rendam kakimu dengan air hangat yang dicampur garam. Supaya
besok nggak keram.”
“
Ohh, gitu ya,” Ririn mengangguk-angguk. “ Makasih ya, buat tipsnya. Untung kamu
kasih tahu.”
Alexi
hanya tersenyum dari balik maskernya. Obrolan mereka terus berlanjut, hingga
tak terasa Alexi sudah membelokkan sepedanya ke arah Komplek Amanda. Hanya
melewati beberapa rumah, sepeda itu mengantarkan mereka tepat di depan rumah
Ririn.
“
Makasih banyak ya, Al. Kamu mau mampir dulu?”
“
Udah malam, kapan-kapan aja deh. Aku pulang dulu ya.”
Ririn
mengangguk sambil melambaik tangannya, “ Oke deh, hati-hati ya. Sekali lagi
makasih banyak.”
Alexi
membalas lambaian itu. Berikutnya ia sudah memutarkan kembali stang sepedanya
dan meluncur meninggalkan rumah Ririn. Tak lama setelah Alexi menghilang, gadis
itu pun masuk rumah dan menutup pintu.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar