Musikal
22
‘ Aku cuma bisa meminta izin
dengan penjaga sekolah untuk memakai studio ini sampai malam hari ini saja.
Selanjutnya, kita akan berlatih di rumah Kemal saja. Rumah dia ada studionya
juga, jadi kita bisa pakai sepuasnya. Alamatnya di….’
“….
Komplek Maruti, Lorong Cendrawasih, nomor tiga.”
Ririn
mencocokkan nomor rumah dengan alamat yang ia ketik di ponselnya. Sama. Ia mendesah panjang. Harapannya
sekarang ia benar-benar sampai di rumah yang dituju.
Ia
mendongakkan kepalanya. Rumah Kemal ternyata besar juga. Terdiri dari tiga
lantai. Ririn pun menguatkan dirinya untuk menekan intercom bewarna putih itu.
“
Siapa?” tanya seseorang dari balik
intercom itu.
“
Engg, saya Ririn, temannya Kemal. Saya sudah janji mau bertemu.”
“
Oke, tunggu sebentar, manis.”
Manis?
Ririn mengutuk takdir Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Padahal sudah sebisa
mungkin Ririn tak mau berurusan dengan Kemal si playboy itu, tapi entah kenapa
ia justru datang ke sarang penyamun. Harapannya sekarang ia bisa pulang dengan
keadaanya ketika ia pergi.
Pintu
terbuka, dan keluarlah Kemal dengan kaus abu-abu dan celana loreng. Ia
mempersilahkan Ririn masuk, tapi gadis itu masih sedikit ragu.
“
Apa Wenda dan Ben sudah datang?”
“
Kenapa? Kamu takut terjadi sesuatu jika hanya aku dan kamu saja di dalam?”
tanya Kemal dengan seringai mafia, dan seketika bulu kuduk Ririn berdiri. Kemal
pun tertawa. “ Tenang saja, mereka sudah pemanasan dari tadi.”
Ada
sedikit kelegaan di hati Ririn saat mendengar itu. Meski begitu ia masih tetap
waspada. Siapa tahu Kemal hanya berdusta. Namun, begitu ia masuk sosok Ben dan
Wenda terlihat, barulah Ririn benar-benar lega.
“
Kayaknya kamu benar-benar gak percaya sama aku ya?” Kemal terkekeh sambil
menepuk bahu Ririn. “ Tenang aja, aku gak tergabung dalam sindikat traffic human kok.”
“
Abisnya kamu punya tampang mafia sih,” sahut Wenda yang disusul tawa Ben.
“Ngomong-ngomong, selamat datang. Kamu ganti baju dulu, terus pemanasan, abis
itu baru kita mulai latihan lagi.”
“
Kamar mandinya di sana,” Ben menunjuk sebuah ruangan yang ada di sudut studio.
“ Gak usah takut. Semesum apapun Kemal, dia gak masang CCTV di kamar mandi
kok.”
Ririn
tertawa kecil, lalu ia pamit untuk berganti baju. Kemal pun bergabung dengan
kedua temannya dengan wajah masam.
“
Dia kok kayak alergi gitu ya sama aku?” tanya Kemal.
“
Kamu sih terlalu agresif,” ujar Ben. “ Aku rasa dia bukan tipikal yang suka
digombali. Makanya dia agak-agak geli sama kamu. Seharusnya kamu jadi cowok cool di depan dia, bukan kayak anjing
kehausan gitu.
“
Oh, gitu ya,” Kemal memonyong-monyongkan bibirnya. “ Dia manis sih, makanya aku
langsung tancap gas. Takut keduluan yang lain.”
“
Alaaah, gak usahkan cewek manis. Kambing dibedakkin juga kamu sosor,” cibir
Wenda seraya tertawa bersama Ben.
Kedatangan
Ririn setelah berganti baju memadamkan tawa mereka. Wenda kembali menyuruhnya
pemanasan, dan tanpa membantah Ririn mengikuti semua perintah gadis itu.
“
Oke, hari ini kita akan belajar dasar-dasar salsa,” ujar Wenda setelah Ririn menyelesaikan
pemanasannya. “ Aku harap kamu tidak keberatan bila harus dipasangkan dengan
Kemal, karena dia ahli untuk dansa yang satu ini.”
Ririn
melirik Kemal dengan tatapan ragu.
“
Santai saja, Rin. Kalau dia sampai kurang ajar sama kamu, tinggal ditampar saja
kok,” sahut Ben sambil tertawa.
Kemal
berdecak kesal, “ Hei, aku ini lumayan profesional. Mana mungkin aku ambil
kesempatan di saat seperti ini,” lalu ia menatap Ririn. “ Kamu jangan takut
sama aku. Aku gak bakal apa-apain kamu kok.”
“
Sudah, sudah, kita mulai saja latihannya. Ririn, ambil posisi dansa seperti
kemarin!” ujar Wenda menengahi.
Ririn
mendesah berat. Kemudian ia bersiap pada posisi berdansa. Wenda pun menjelaskan
langkah-langkah yang harus ia lakukan. Di luar dugaan, ternyata Kemal tidak
menyentuhnya lebih dari seorang penari biasa.
Satu
jam berlalu, ternyata salsa memang lebih sulit ketimbang waltz kemarin. Berbeda dengan waltz,
salsa mengutamakan tempo dan ketukan pada setiap gerakannya. Kemal sampai
kewalahan sendiri menghadapi Ririn. Entah apa karena gadis itu gugup atau tak
terbiasa, tapi ia merasa kalau Ririn lebih banyak menginjak kakinya ketimbang
dengan Ben. Ia pun meminta Wenda untuk menghentikan latihannya sejenak karena
kakinya sudah sakit.
“
Kamu luar biasa, Rin. Baru kali ini ada yang menginjak partner menarinya lebih
dari 10 kali,” ujar Ben sakartis.
“
Ma—maaf, itu benar-benar tidak sengaja,” Ririn menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
“
Ahh, ya sudah,” Wenda kembali melerai. “ Nah, sembari menunggu sakit kaki Kemal
hilang, kamu latihan denganku saja. Ada satu tarian yang akan aku ajarkan
padamu.”
“
Salsa lagi?” tanya Ririn.
“
Bukan, tapi jazz dance,” ujar Wenda
seraya menyalakan MP3nya. “ Sekarang perhatikan gerakanku.”
Jazz dance?
Baru kali ini Ririn mendengar sebuah tarian yang namanya mirip dengan sebuah
aliran musik. Ia pikir jazz dance
adalah sebuah tarian yang menggunkan musik jazz,
tapi ternyata tidak. Tarian ini lebih mirip tarian balet kontemporer yang
dicampur dengan gerakan atletik.
Lihat
saja, Wenda begitu lincah bergerak ke sana ke mari. Ririn tak yakin ia bisa
menguasai tarian dengan tempo yang secepat itu. Apa lagi ada sebagian besar
gerakannya harus berdiri dengan jari-jari kakinya, seperti posisi penari balet.
Wenda
mematikan MP3 playernya, “ Bagaimana?
Kamu bisa?”
Kepala
Ririn langsung menggeleng cepat.
“
Aku tahu, aku tahu, dengan tempo seperti tadi aku yakin kamu tidak akan
langsung menguasainya. Kamu juga tidak perlu posisi jinjit seperti aku tadi
kok. Sekarang ikuti gerakanku! Kita belajar belajar dari dasarnya.”
Ketika
Wenda mengajarinya, ternyata berbeda jauh dengan apa yang ia contohkan tadi.
Mungkin yang tadi hanya sebuah gambaran saja bagaimana jazz dance itu. Tidak terlalu sulit bagi Ririn untuk mengikuti
semua ajaran Wenda, bahkan 10 menit pertama ia sudah langsung hapal semua
gerakan dasar dari tarian tersebut. Melihat perkembangan Ririn yang lebih
pesat, Wenda pun menambah jumlah gerakan tariannya.
Dua
jam berlalu, Wenda pun memutuskan istirahat sejenak. Ia merasa Ririn sudah
kehilangan konsentrasinya. Mungkin ia butuh air.
“
Menurutku yang ini lebih mudah. Meskipun banyak gerakan yang harus aku hapal,”
ujar Ririn.
“
Begitukah? Kalau benar, lima menit setelah ini coba kamu praktekkan!” ujar
Wenda.
Ririn
tak membual. Walaupun masih agak kaku, tapi ia sudah berhasil menari dengan
baik. Wenda tahu gadis ini bisa melakukan dua tarian yang harusnya ia kuasai
sejak awal, tapi gadis ini masih memiliki masalah dengan itu.
“
Baik, itu bagus. Kamu hanya perlu memoles gerakanmu barusan dan menambah porsi
gerakannya sesuai kemauanmu sendiri. Ternyata kamu berbakat juga ya.”
Ririn
menghela napas, “ Terima kasih.”
“
Tapi kenapa kamu susah sekali untuk berdansa? Kamu ada masalah atau kamu tidak
suka berdansa?”
“
Eh, a—aku tidak tahu. Ha—hanya saja aku tidak nyaman bila harus berdekatan
dengan pria seperti itu.”
“
Apa kamu pernah pacaran?”
Seperti
tersambar petir, Ririn kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Wenda.
Untung saat itu Ben dan Kemal sedang di luar studio. Kalau tidak, mungkin
mereka sudah menertawai ekspresi Ririn yang seperti kerbau bengong. Lagi-lagi
Wenda hanya bisa menghela napas.
“
Ah ya, tidak usah dijawab. Aku sudah tahu,” Wenda melambai-lambaikan tangannya
dan hal itu membuat wajah Ririn merah padam. “ Aku juga sudah tahu apa masalahmu.
Kamu ini tipikal perempuan yang tidak biasa bersentuhan dengan laki-laki. Ahh,
maksudku bukan wanita yang aneh-aneh. Kamu mengertikan maksudku?”
‘Itu artinya dia tahu kalau
aku tidak pernah pacaran,’ Ririn mengeluh dalam hati.
Namun, ia hanya bisa mengangguk pada Wenda.
“
Disitulah letak kelemahanmu. Kamu harus tahu, tokoh Nayu menjadi sangat agresif
ketika menari. Kalau berhadapan dengan Kemal dan Ben saja kamu tidak bisa,
bagaimana kamu bisa menarik perhatian Adrian. Apalagi nantinya Adrian akan menjadi
Antony yang menawan dan sudah memiliki tunangan. Itu akan lebih sulit.”
“
Lantas aku harus aku bagaimana?” tanya Ririn frustasi.
“
Kamu harus membangkitkan gairah dengan partnermu. Bangun chemistry dengan cara mengenal dan berteman dengan pasangan menarimu.
Dengan begitu, kamu bisa memercayai mereka dan dengan sendirinya gairah itu
akan bangkit. Kalau sudah demikian, tak ada yang bisa melawan pesonamu ketika
menari.”
Ririn
menggaruk-garuk ujung hidungnya, “ Jadi, maksudmu aku harus mengenal Ben dan
Kemal lebih jauh lagi. Setelah itu aku harus berteman baik dengan mereka.”
“
Tentu saja,” Wenda menghela napas panjang. “ Dengar, aku tahu Kemal sedang
mengincarmu dan kamu sendiri ketakutan dengan sikapnya, tapi kamu harus
memberanikan diri untuk mengenal Kemal lebih jauh lagi. Begitu juga dengan Ben.
Kamu harus percaya bahwa mereka berdua tidak akan berbuat kurang ajar padamu
ketika kalian sedang dalam posisi berdansa. Runtuhkan semua ketakutanmu
terhadap sentuhan para pria, dengan begitu kamu bisa mendapatkan chemistry dari keduanya.”
Kepala
Ririn terangguk-angguk, ia mulai paham dengan penjelasan Wenda. Namun, ia masih
ragu untuk memulai.
“
Ingat dan praktekkan semua nasehatku tadi,” ujar Wenda seraya melihat
arlojinya. “ Aku akan memanggil Kemal dan Ben dulu, kemudian kita lanjutkan
latihan lagi.”
Wenda
bangkit dan tempat duduknya. Namun, sebelum membuka pintu, ia melontarkan
sebuah pertanyaan pada Ririn.
“
Rin, apa kamu pernah berciuman?”
Wajah
Ririn kembali merah padam.
Wenda
terkekeh seketika, “ Aku tahu kok. Kalau begitu ada tambaha PR untukmu. Chemistry yang kamu bangun dengan kedua
partnermu nanti adalah tentang berciuman. Bukan berciuman dengan bibir, tapi
dengan gestur tubuh.”
ooOoo
Hari
sudah gelap. Ririn berjalan sendirian di pinggir jalan menuju rumahnya.
Sesekali ia menendang-nendang kerikil yang ada di hadapannya seraya berusaha
memikirkan kata-kata yang dilontarkan Wenda ketika latihan.
“
Berciuman dengan gestur tubuh? Bah, apa pula itu?” dumalnya seorang diri.
Ia
masih berusaha keras menemukan jawaban dari makna kiasan tersebut. Sampai ia
tidak sadar kalau jalannya sudah melenceng dari trotoar. Ririn tak terlalu
peduli, karena jalanan di kompleknya selalu sepi jika sudah malam.
“
Awas!”
Ririn
tak tahu siapa yang berteriak atau apa yang sedang terjadi. Tahu-tahu tubuhnya
tertarik ke belakang. Begitu cepat hingga yang Ririn tahu hanya sekelebat angin
yang menerpa separuh wajahnya.
“
Ya ampun, sudah tahu gelap begini. Kenapa motornya tidak dinyalakan sih?”
terdengar suara seorang pria yang mengomel habis-habisan, lalu orang itu
menatap dirinya. “ Kamu gak apa-apa?”
Ririn
masih shock akibat peristiwa tadi.
Butuh beberapa detik baginya untuk menelaah yang baru saja terjadi. Ternyata
ada sebuah motor yang meluncur tanpa menghidupkan mesin. Jalanan di komplek
Ririn memang turun naik seperti bukit, makanya mudah saja bagi si pengendara
motor menjalankan kendaraannya. Sial bagi Ririn, karena turunan, motor itu
meluncur dengan sangat cepat, saking cepatnya Ririn sampai tak sadar. Ditambah
ia melamun pula.
“
Kamu juga kalau jalan jangan melamun! Malam-malam begini bahaya sekali kalau
jalan sambil melamun.”
Itu
memang salahnya, dan Ririn hanya pasrah bila orang itu terus mengomelinya.
Setidaknya orang itu sudah menyelamatkannya dari serangan maut.
“
Ma-maaf, memang salahku, tapi terima kasih ya.”
Mata
Ririn menatap wajah si pahlawan itu. Ia beruntung karena tempat mereka berdiri
tepat di bawah lampu jalan. Namun, begitu bayang wajah si pahlawan itu jatuh
tepat di depan retinanya, Ririn mengalami shock
yang kedua kalinya.
“
A—A—Adrian?”
Lama
pemuda itu menatap wajah Ririn. Ia bawah lampu jalan yang temaram, laki-laki
ini mencoba menelusuri dan menyambungkan memorinya tentang wajah yang tak asing
ini.
“
Aha, kamu yang tergabung di Love Musical’kan?
Ahh, siapa namamu? Ahh, iya, Marinda kalau tidak salah?”
Ririn
mengangguk cepat, “ Ternyata kamu ingat aku. Syukurlah.”
“
Tentu saja, ingatanku’kan seperti gajah,” jawab Adrian diiringi senyum dengan
sederet gigi yang rata. “ Hei, ngapain malam-malam jalan sendirian? Pakai acara
melamun lagi. Untung gak sekalian kesambet.”
“
Sembarangan kamu,” Ririn mengeluarkan nada menggerutu. “ Aku mau pulang.
Rumahku tinggal beberapa meter lagi dari sini.”
“
Ohh, jadi kamu tinggal di sini ya?”
“
Memangnya kenapa? Tapi, hei, kamu sendiri ngapain di sini?”
“
Aku dari minimarket,” Adrian menggoyangkan kantung plastik yang berlogo sebuah
minimarket. “ Dan aku juga mau pulang.”
“
Pulang? Eh, kamu tinggal di sini?” Ririn terkejut dengan premisnya sendiri. “
Ja-jadi Miss Tifa juga tinggal di
sini?”
Adrian
tertawa, “ Aku tinggal di rumah nenekku, ibunya Miss Tifa, tapi tanteku itu malah tinggal di apartemen. Jangan
tanya aku kenapa, karena dari dulu tanteku itu suka nyeleneh.”
“
Nenekmu? Siapa nama nenekmu?”
“
July. July Sastrawan. Kamu tahu dia?”
Ririn
hanya mengagguk ragu. Ia hanya pernah dengar nama itu, tapi ia tidak tahu
persis siapa July Sastrawan itu. Mungkin
karena rumah nenek itu ada di ujung blok, sementara Ririn ada
di bagian depan. Yaah, Ririn memang jarang main-main ke bagian ujung
kompleknya.
“
Pulangmu malam sekali. Habis les?”
Pertanyaan
Adrian membuyarkan lamunan Ririn, “ Eh, itu, nggak. Aku baru pulang latihan.
Untuk audisi peran utama nanti.”
“
Waah, kamu semangat sekali. Good luck ya,” Adrian kembali
memamerkan senyumannya. Tak lupa ia menepuk pundak gadis itu. “ Oh iya, aku
duluan ya. Soalnya nenekku suka cerewet kalau aku terlalu lama. Sampai jumpa,
dan hei, jangan melamun lagi!”
Ririn
hanya tertawa kecil sambil melambaikan tangannya. Langkah Adrian semakin
menjauh, tapi ia tetap setia menatap punggung lelaki tampan itu. Ada sebuah
fakta yang terus teringang-ngiang di kepala Ririn setelah percakapan singkatnya
dengan pemuda itu. Ternyata ia sudah bertetangga dengan ibu dari Latifa Kusuma
Ningsih sekaligus nenek dari Adrian Kusuma Nugraha. Apakah ini takdir?
please comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar