Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 22)



Musikal 22




‘ Aku cuma bisa meminta izin dengan penjaga sekolah untuk memakai studio ini sampai malam hari ini saja. Selanjutnya, kita akan berlatih di rumah Kemal saja. Rumah dia ada studionya juga, jadi kita bisa pakai sepuasnya. Alamatnya di….’

“…. Komplek Maruti, Lorong Cendrawasih, nomor tiga.”

Ririn mencocokkan nomor rumah dengan alamat yang ia ketik di ponselnya. Sama. Ia mendesah panjang. Harapannya sekarang ia benar-benar sampai di rumah yang dituju.

Ia mendongakkan kepalanya. Rumah Kemal ternyata besar juga. Terdiri dari tiga lantai. Ririn pun menguatkan dirinya untuk menekan intercom bewarna putih itu.

Siapa?” tanya seseorang dari balik intercom itu.

“ Engg, saya Ririn, temannya Kemal. Saya sudah janji mau bertemu.”

Oke, tunggu sebentar, manis.”

Manis? Ririn mengutuk takdir Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Padahal sudah sebisa mungkin Ririn tak mau berurusan dengan Kemal si playboy itu, tapi entah kenapa ia justru datang ke sarang penyamun. Harapannya sekarang ia bisa pulang dengan keadaanya ketika ia pergi.

Pintu terbuka, dan keluarlah Kemal dengan kaus abu-abu dan celana loreng. Ia mempersilahkan Ririn masuk, tapi gadis itu masih sedikit ragu.

“ Apa Wenda dan Ben sudah datang?”

“ Kenapa? Kamu takut terjadi sesuatu jika hanya aku dan kamu saja di dalam?” tanya Kemal dengan seringai mafia, dan seketika bulu kuduk Ririn berdiri. Kemal pun tertawa. “ Tenang saja, mereka sudah pemanasan dari tadi.”

Ada sedikit kelegaan di hati Ririn saat mendengar itu. Meski begitu ia masih tetap waspada. Siapa tahu Kemal hanya berdusta. Namun, begitu ia masuk sosok Ben dan Wenda terlihat, barulah Ririn benar-benar lega.

“ Kayaknya kamu benar-benar gak percaya sama aku ya?” Kemal terkekeh sambil menepuk bahu Ririn. “ Tenang aja, aku gak tergabung dalam sindikat traffic human kok.”

“ Abisnya kamu punya tampang mafia sih,” sahut Wenda yang disusul tawa Ben. “Ngomong-ngomong, selamat datang. Kamu ganti baju dulu, terus pemanasan, abis itu baru kita mulai latihan lagi.”

“ Kamar mandinya di sana,” Ben menunjuk sebuah ruangan yang ada di sudut studio. “ Gak usah takut. Semesum apapun Kemal, dia gak masang CCTV di kamar mandi kok.”

Ririn tertawa kecil, lalu ia pamit untuk berganti baju. Kemal pun bergabung dengan kedua temannya dengan wajah masam.

“ Dia kok kayak alergi gitu ya sama aku?” tanya Kemal.

“ Kamu sih terlalu agresif,” ujar Ben. “ Aku rasa dia bukan tipikal yang suka digombali. Makanya dia agak-agak geli sama kamu. Seharusnya kamu jadi cowok cool di depan dia, bukan kayak anjing kehausan gitu.

“ Oh, gitu ya,” Kemal memonyong-monyongkan bibirnya. “ Dia manis sih, makanya aku langsung tancap gas. Takut keduluan yang lain.”

“ Alaaah, gak usahkan cewek manis. Kambing dibedakkin juga kamu sosor,” cibir Wenda seraya tertawa bersama Ben.

 Kedatangan Ririn setelah berganti baju memadamkan tawa mereka. Wenda kembali menyuruhnya pemanasan, dan tanpa membantah Ririn mengikuti semua perintah gadis itu.

“ Oke, hari ini kita akan belajar dasar-dasar salsa,” ujar Wenda setelah Ririn menyelesaikan pemanasannya. “ Aku harap kamu tidak keberatan bila harus dipasangkan dengan Kemal, karena dia ahli untuk dansa yang satu ini.”

Ririn melirik Kemal dengan tatapan ragu.

“ Santai saja, Rin. Kalau dia sampai kurang ajar sama kamu, tinggal ditampar saja kok,” sahut Ben sambil tertawa.

Kemal berdecak kesal, “ Hei, aku ini lumayan profesional. Mana mungkin aku ambil kesempatan di saat seperti ini,” lalu ia menatap Ririn. “ Kamu jangan takut sama aku. Aku gak bakal apa-apain kamu kok.”

“ Sudah, sudah, kita mulai saja latihannya. Ririn, ambil posisi dansa seperti kemarin!” ujar Wenda menengahi.

Ririn mendesah berat. Kemudian ia bersiap pada posisi berdansa. Wenda pun menjelaskan langkah-langkah yang harus ia lakukan. Di luar dugaan, ternyata Kemal tidak menyentuhnya lebih dari seorang penari biasa.

Satu jam berlalu, ternyata salsa memang lebih sulit ketimbang waltz kemarin. Berbeda dengan waltz, salsa mengutamakan tempo dan ketukan pada setiap gerakannya. Kemal sampai kewalahan sendiri menghadapi Ririn. Entah apa karena gadis itu gugup atau tak terbiasa, tapi ia merasa kalau Ririn lebih banyak menginjak kakinya ketimbang dengan Ben. Ia pun meminta Wenda untuk menghentikan latihannya sejenak karena kakinya sudah sakit.

“ Kamu luar biasa, Rin. Baru kali ini ada yang menginjak partner menarinya lebih dari 10 kali,” ujar Ben sakartis.

“ Ma—maaf, itu benar-benar tidak sengaja,” Ririn menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“ Ahh, ya sudah,” Wenda kembali melerai. “ Nah, sembari menunggu sakit kaki Kemal hilang, kamu latihan denganku saja. Ada satu tarian yang akan aku ajarkan padamu.”

“ Salsa lagi?” tanya Ririn.

“ Bukan, tapi jazz dance,” ujar Wenda seraya menyalakan MP3nya. “ Sekarang perhatikan gerakanku.”

Jazz dance? Baru kali ini Ririn mendengar sebuah tarian yang namanya mirip dengan sebuah aliran musik. Ia pikir jazz dance adalah sebuah tarian yang menggunkan musik jazz, tapi ternyata tidak. Tarian ini lebih mirip tarian balet kontemporer yang dicampur dengan gerakan atletik.

Lihat saja, Wenda begitu lincah bergerak ke sana ke mari. Ririn tak yakin ia bisa menguasai tarian dengan tempo yang secepat itu. Apa lagi ada sebagian besar gerakannya harus berdiri dengan jari-jari kakinya, seperti posisi penari balet.

Wenda mematikan MP3 playernya, “ Bagaimana? Kamu bisa?”

Kepala Ririn langsung menggeleng cepat.

“ Aku tahu, aku tahu, dengan tempo seperti tadi aku yakin kamu tidak akan langsung menguasainya. Kamu juga tidak perlu posisi jinjit seperti aku tadi kok. Sekarang ikuti gerakanku! Kita belajar belajar dari dasarnya.”

Ketika Wenda mengajarinya, ternyata berbeda jauh dengan apa yang ia contohkan tadi. Mungkin yang tadi hanya sebuah gambaran saja bagaimana jazz dance itu. Tidak terlalu sulit bagi Ririn untuk mengikuti semua ajaran Wenda, bahkan 10 menit pertama ia sudah langsung hapal semua gerakan dasar dari tarian tersebut. Melihat perkembangan Ririn yang lebih pesat, Wenda pun menambah jumlah gerakan tariannya.

Dua jam berlalu, Wenda pun memutuskan istirahat sejenak. Ia merasa Ririn sudah kehilangan konsentrasinya. Mungkin ia butuh air.

“ Menurutku yang ini lebih mudah. Meskipun banyak gerakan yang harus aku hapal,” ujar Ririn.

“ Begitukah? Kalau benar, lima menit setelah ini coba kamu praktekkan!” ujar Wenda.

Ririn tak membual. Walaupun masih agak kaku, tapi ia sudah berhasil menari dengan baik. Wenda tahu gadis ini bisa melakukan dua tarian yang harusnya ia kuasai sejak awal, tapi gadis ini masih memiliki masalah dengan itu.

“ Baik, itu bagus. Kamu hanya perlu memoles gerakanmu barusan dan menambah porsi gerakannya sesuai kemauanmu sendiri. Ternyata kamu berbakat juga ya.”

Ririn menghela napas, “ Terima kasih.”

“ Tapi kenapa kamu susah sekali untuk berdansa? Kamu ada masalah atau kamu tidak suka berdansa?”

“ Eh, a—aku tidak tahu. Ha—hanya saja aku tidak nyaman bila harus berdekatan dengan pria seperti itu.”

“ Apa kamu pernah pacaran?”

Seperti tersambar petir, Ririn kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Wenda. Untung saat itu Ben dan Kemal sedang di luar studio. Kalau tidak, mungkin mereka sudah menertawai ekspresi Ririn yang seperti kerbau bengong. Lagi-lagi Wenda hanya bisa menghela napas.

“ Ah ya, tidak usah dijawab. Aku sudah tahu,” Wenda melambai-lambaikan tangannya dan hal itu membuat wajah Ririn merah padam. “ Aku juga sudah tahu apa masalahmu. Kamu ini tipikal perempuan yang tidak biasa bersentuhan dengan laki-laki. Ahh, maksudku bukan wanita yang aneh-aneh. Kamu mengertikan maksudku?”

‘Itu artinya dia tahu kalau aku tidak pernah pacaran,’ Ririn mengeluh dalam hati. Namun, ia hanya bisa mengangguk pada Wenda.

“ Disitulah letak kelemahanmu. Kamu harus tahu, tokoh Nayu menjadi sangat agresif ketika menari. Kalau berhadapan dengan Kemal dan Ben saja kamu tidak bisa, bagaimana kamu bisa menarik perhatian Adrian. Apalagi nantinya Adrian akan menjadi Antony yang menawan dan sudah memiliki tunangan. Itu akan lebih sulit.”

“ Lantas aku harus aku bagaimana?” tanya Ririn frustasi.

“ Kamu harus membangkitkan gairah dengan partnermu. Bangun chemistry dengan cara mengenal dan berteman dengan pasangan menarimu. Dengan begitu, kamu bisa memercayai mereka dan dengan sendirinya gairah itu akan bangkit. Kalau sudah demikian, tak ada yang bisa melawan pesonamu ketika menari.”

Ririn menggaruk-garuk ujung hidungnya, “ Jadi, maksudmu aku harus mengenal Ben dan Kemal lebih jauh lagi. Setelah itu aku harus berteman baik dengan mereka.”

“ Tentu saja,” Wenda menghela napas panjang. “ Dengar, aku tahu Kemal sedang mengincarmu dan kamu sendiri ketakutan dengan sikapnya, tapi kamu harus memberanikan diri untuk mengenal Kemal lebih jauh lagi. Begitu juga dengan Ben. Kamu harus percaya bahwa mereka berdua tidak akan berbuat kurang ajar padamu ketika kalian sedang dalam posisi berdansa. Runtuhkan semua ketakutanmu terhadap sentuhan para pria, dengan begitu kamu bisa mendapatkan chemistry dari keduanya.”

Kepala Ririn terangguk-angguk, ia mulai paham dengan penjelasan Wenda. Namun, ia masih ragu untuk memulai.

“ Ingat dan praktekkan semua nasehatku tadi,” ujar Wenda seraya melihat arlojinya. “ Aku akan memanggil Kemal dan Ben dulu, kemudian kita lanjutkan latihan lagi.”

Wenda bangkit dan tempat duduknya. Namun, sebelum membuka pintu, ia melontarkan sebuah pertanyaan pada Ririn.

“ Rin, apa kamu pernah berciuman?”

Wajah Ririn kembali merah padam.

Wenda terkekeh seketika, “ Aku tahu kok. Kalau begitu ada tambaha PR untukmu. Chemistry yang kamu bangun dengan kedua partnermu nanti adalah tentang berciuman. Bukan berciuman dengan bibir, tapi dengan gestur tubuh.”

ooOoo

Hari sudah gelap. Ririn berjalan sendirian di pinggir jalan menuju rumahnya. Sesekali ia menendang-nendang kerikil yang ada di hadapannya seraya berusaha memikirkan kata-kata yang dilontarkan Wenda ketika latihan.

“ Berciuman dengan gestur tubuh? Bah, apa pula itu?” dumalnya seorang diri.

Ia masih berusaha keras menemukan jawaban dari makna kiasan tersebut. Sampai ia tidak sadar kalau jalannya sudah melenceng dari trotoar. Ririn tak terlalu peduli, karena jalanan di kompleknya selalu sepi jika sudah malam.

“ Awas!”

Ririn tak tahu siapa yang berteriak atau apa yang sedang terjadi. Tahu-tahu tubuhnya tertarik ke belakang. Begitu cepat hingga yang Ririn tahu hanya sekelebat angin yang menerpa separuh wajahnya.

“ Ya ampun, sudah tahu gelap begini. Kenapa motornya tidak dinyalakan sih?” terdengar suara seorang pria yang mengomel habis-habisan, lalu orang itu menatap dirinya. “ Kamu gak apa-apa?”

Ririn masih shock akibat peristiwa tadi. Butuh beberapa detik baginya untuk menelaah yang baru saja terjadi. Ternyata ada sebuah motor yang meluncur tanpa menghidupkan mesin. Jalanan di komplek Ririn memang turun naik seperti bukit, makanya mudah saja bagi si pengendara motor menjalankan kendaraannya. Sial bagi Ririn, karena turunan, motor itu meluncur dengan sangat cepat, saking cepatnya Ririn sampai tak sadar. Ditambah ia melamun pula.

“ Kamu juga kalau jalan jangan melamun! Malam-malam begini bahaya sekali kalau jalan sambil melamun.”

Itu memang salahnya, dan Ririn hanya pasrah bila orang itu terus mengomelinya. Setidaknya orang itu sudah menyelamatkannya dari serangan maut.

“ Ma-maaf, memang salahku, tapi terima kasih ya.”

Mata Ririn menatap wajah si pahlawan itu. Ia beruntung karena tempat mereka berdiri tepat di bawah lampu jalan. Namun, begitu bayang wajah si pahlawan itu jatuh tepat di depan retinanya, Ririn mengalami shock yang kedua kalinya.

“ A—A—Adrian?”

Lama pemuda itu menatap wajah Ririn. Ia bawah lampu jalan yang temaram, laki-laki ini mencoba menelusuri dan menyambungkan memorinya tentang wajah yang tak asing ini.

“ Aha, kamu yang tergabung di Love Musical’kan? Ahh, siapa namamu? Ahh, iya, Marinda kalau tidak salah?”

Ririn mengangguk cepat, “ Ternyata kamu ingat aku. Syukurlah.”

“ Tentu saja, ingatanku’kan seperti gajah,” jawab Adrian diiringi senyum dengan sederet gigi yang rata. “ Hei, ngapain malam-malam jalan sendirian? Pakai acara melamun lagi. Untung gak sekalian kesambet.”

“ Sembarangan kamu,” Ririn mengeluarkan nada menggerutu. “ Aku mau pulang. Rumahku tinggal beberapa meter lagi dari sini.”

“ Ohh, jadi kamu tinggal di sini ya?”

“ Memangnya kenapa? Tapi, hei, kamu sendiri ngapain di sini?”

“ Aku dari minimarket,” Adrian menggoyangkan kantung plastik yang berlogo sebuah minimarket. “ Dan aku juga mau pulang.”

“ Pulang? Eh, kamu tinggal di sini?” Ririn terkejut dengan premisnya sendiri. “ Ja-jadi Miss Tifa juga tinggal di sini?”

Adrian tertawa, “ Aku tinggal di rumah nenekku, ibunya Miss Tifa, tapi tanteku itu malah tinggal di apartemen. Jangan tanya aku kenapa, karena dari dulu tanteku itu suka nyeleneh.”

“ Nenekmu? Siapa nama nenekmu?”

“ July. July Sastrawan. Kamu tahu dia?”

Ririn hanya mengagguk ragu. Ia hanya pernah dengar nama itu, tapi ia tidak tahu persis siapa July Sastrawan itu. Mungkin karena rumah nenek itu ada di ujung blok, sementara Ririn ada di bagian depan. Yaah, Ririn memang jarang main-main ke bagian ujung kompleknya.

“ Pulangmu malam sekali. Habis les?”

Pertanyaan Adrian membuyarkan lamunan Ririn, “ Eh, itu, nggak. Aku baru pulang latihan. Untuk audisi peran utama nanti.”

“ Waah, kamu semangat sekali. Good luck ya,” Adrian kembali memamerkan senyumannya. Tak lupa ia menepuk pundak gadis itu. “ Oh iya, aku duluan ya. Soalnya nenekku suka cerewet kalau aku terlalu lama. Sampai jumpa, dan hei, jangan melamun lagi!”

Ririn hanya tertawa kecil sambil melambaikan tangannya. Langkah Adrian semakin menjauh, tapi ia tetap setia menatap punggung lelaki tampan itu. Ada sebuah fakta yang terus teringang-ngiang di kepala Ririn setelah percakapan singkatnya dengan pemuda itu. Ternyata ia sudah bertetangga dengan ibu dari Latifa Kusuma Ningsih sekaligus nenek dari Adrian Kusuma Nugraha. Apakah ini takdir?

please comment and share


Tidak ada komentar:

Posting Komentar