Musikal
30
Untuk semua anggota Love
Musical diharapkan berkumpul di SMA
Chandra Kirana pada hari Minggu pukul delapan pagi. Kenakan baju yang sederhana
dan bawa baju salinan.
Atas
alasan itulah semua anggota Love Musical berkumpul di SMA Chandra Kirana di Minggu pagi
ini. Mereka harus mengorbankan waktu untuk bangun siang atau bermalasan-masalan
karena sang sutradara sudah menurunkan titahnya.
Ternyata
Tifa datang lebih pagi. Ia tersenyum saat menghitung jumlah personelnya
lengkap. Ia segera mengarahkan rombongan masuk ke kawasan SMA Chandra Kirana,
dan sampailah mereka di salah satu gedung tua yang ada di belakang sekolah.
Gedung
itu tampak kusam. Ilalang yang tumbuh bahkan sampai menutupi pemandangan di
sana. Tak hanya kusam dan tertutupi ilalang, tapi juga suasana di gedung itu
terasa horor. Para siswi SMA Chandara Kirana sendiri pun terkejut dengan
keberadaan gedung ini di kawasan sekolah mereka. Mereka baru tahu kalau sekolah
mereka menyimpan rumah hantu.
“
Kita mau uji nyali di sini, Miss?”
tanya Kemal.
“
Nope, tapi ini adalah gedung teater
tempat kalian pentas nanti.”
Para
siswa terbelalak. Mata mereka sontak beralih pada gedung tua yang menyeramkan
itu. Bagaimana mungkin mereka akan tampil di tempat seperti itu?
“
Mi-Miss, Anda serius?” ujar Priyanka.
Tifa
menyeringai,” Asal kalian tahu, aku dan teman-temanku yang lain juga pentas di
sini dulu. Yaah, memang keadaannya tidak seperti ini. Sejak klub teater ditutup
dan sekolah ini menjadi sekolah khusus wanita, gedung ini menjadi terabaikan.
Makanya jadi seperti rumah hantu begini.”
Para
siswa terlihat mengangguk-angguk.
“
Nah, maka dari itu aku meminta kalian untuk datang hari ini. Aku mau kita
bersama-sama untuk membersihkan gedung ini. Supaya kita bisa berlatih dan
pentas di sini!”
Mereka
kembali terkejut. Jadi, mereka pagi-pagi datang hanya untuk dijadikan budak?
“
Kalian tenang saja. Tidak ada hantu di sini. Nah, ayo semuaaa!”
Para
siswa ragu-ragu mengikuti langkah Tifa. Jika setelah Tifa membuka pintu dan
keluar hal-hal aneh, mereka serempak bersumpah untuk segera berlari
meninggalkan tempat itu. Namun, begitu pintu terbuka, nyatanya berbeda dari
yang mereka pikirkan. Bagian dalam gedung itu memang kotor. Banyak sisa bahan
material yang berserakan di sana, tapi tidak menyeramkan seperti tampak dari
luar. Bahkan mereka bisa mencium aroma cat yang baru melekat.
“
Gedung ini memang sudah tua, tapi bagian dalamnya baru saja aku minta perbaiki.
Aku mengutamakan bagian dalam agar kita bisa latihan tanpa diganggu oleh para
pekerja. Aku meminta dinding bagian dalam di cat, atap yang bocor diperbaiki,
dan ruangan ini aku minta kembali di buat hampa cahaya. Oh ya, toiletnya juga
sudah diperbaiki.”
Penjelasan
Tifa membuat para siswa bisa bernapas lega.
“
Sekarang, tugas kalian adalah membersihkan bagian dalam. Pembagian tugasnya
bisa kalian tanya pada Ibu Riani dan Gloria. Pastikan tidak ada debu sedikit
pun di sini!”
Mereka
tak ada jawaban lain selain mengiyakan perintah sang sutradara. Perintah yang
sungguh aneh, masa ada pemain teater yang membersihkan gedung teaternya
sendiri. sepertinya hanya di sini bisa merasakannya.
Tifa
sendiri meninggalkan ruangan. Di luar, Adrian sudah menunggu dengan peralatan
tukang kebun. Lengkap dengan kacamata dan alat potong rumput. Mereka saling
bertukar senyum saat bertemu. Tifa pun menerima kacamata dan alat potong rumput
itu.
“
Keponakanku, ayo kita mulai!”
ooOoo
“
Kenapa kita harus dapat bagian toilet sih?”
Wenda
dan Priyanka mendapatkan tugas untuk membersihkan area toilet. Wenda sangat
kesal ketika mendapatkan bagian ini. Sejak awal mereka bekerja, mulutnya tak
berhenti menggerutu.
“
Untung toiletnya cuma kotor, tidak jorok,” omelnya lagi.
Priyanka
tersenyum, “ Berhentilah menggerutu, Wen. Nanti dewa jamban mengutukmu loh.”
Wenda
masih mendengus kesal, tapi ia juga tertawa mendengar candaan Priyanka. Gadis
itu bisa juga berceloteh tentang jamban.
“
Ngomong-ngomong, Wen. Aku dengar kamu yang melatih gadis yang bernama Ririn itu
untuk audisi pemeran utama, ya?”
“
Ya, memangnya kenapa?”
“
Tidak kusangka kemampuanmu masih sehebat dulu.”
Wenda
menyeringai pada Priyanka, “ Kamu pikir kemampuanku hilang setelah insiden
itu?”, detik berikutnya seringai Wenda menghilang. “ Tapi yah, bagaimana pun juga
dia kalah kemarin. Aku tidak merasa menang.”
“
Tidak, tidak, menurutku kamu yang menang,” ujar Priyanka. “ Aku sudah merasa
kalah denganmu sejak melihat gairah gadis itu ketika menari.”
“
Hoo, benarkah?” Wenda kembali menyeringai. “ Aku juga kagum dengan kemampuan
gadis itu. Padahal dia baru berlatih dua minggu, tapi sudah mampu menguasai
panggung. Mungkin dia anak ajaib.”
“
Mungkin benar dia anak ajaib. Berarti dengan begitu kamu gak sepenuhnya
menang,” Priyanka terkekeh. “ Tak kusangka, niatan untuk membantu teman justru
berubah menjadi ajang persaingan di antara kita. Ternyata kita sehati ya?”
Wenda
ikut tertawa, lalu menatap Priyanka, “ Itu karena kita rival abadi.”
“
Hmm, yah, kamu benar,” Priyanka mengangguk, lalu matanya tertuju pada sikat
lantai toilet yang masih kotor. “ Kurasa kita harus kembali fokus pada
pekerjaan kita sekarang. Kalau tidak ini tidak akan selesai.”
“
Kamu benar,” Wenda berdecak kesal. “ Dasar jamban sialan!”
ooOoo
Jika
Wenda dan Priyanka mendapat bagian di toilet, maka si kembar Anjani dan Andani
justru mendapatkan bagian belakang panggung. Mereka harus membersihkan dan
merapikan ruang peralatan dan ruang ganti kostum.
“
Jadi inget jaman SD dulu ya, Jane,” ujar Andani sembari mengelap meja. “ Kita
dulu sering gotong royong bersihin kelas kalau udah mau lomba kebersihan. Kelas
kita selalu menang’kan?”
“
Kamu ngapain sih inget-inget hal yang dulu?” balas Anjani yang sedang menyapu.
“
Habisnya aku jarang banget ngobrol sama kamu akhir-akhir ini,” ujar Andani
dengan nada menggerutu. “ Hal yang bisa aku obrolin sama kamu yah yang
dulu-dulu aja.”
Anjani
menghela napas. Matanya tiba-tiba terfokus pada celana hitam selutut yang
dikenakan kembarannya.
“
Tumben pakai celana pendek.”
Andani
reflek memandang celana yang ia kenakan. Orang-orang terdekatnya pasti tahu
gaya berpakaiannya seperti apa. Bisa dibilang Andani itu wanita klasik. Jarang
sekali bisa melihat mengenakan celana panjang jeans, apalagi celana ¾ seperti sekarang ini. Andani lebih suka
mengenakan rok atau baju terusan. Gaya andalannya saat berpergian adalah
terusan selutut dengan cardigan, dan dipermanis dengan sepasang kitten heels.
Berbeda
dengan Anjani. Kembarannya ini bila dalam urusan berpakaian justru terkesan
cuek. Ia selalu nyaman dengan kaus dan celana jeansnya. Ia tak pernah menggunakan sepatu-sepatu cantik, yang ada
di rak sepatunya hanyalah sneaker
atau boots. Ia juga tak pernah
menggunakan rok, kecuali rok sekolah.
“
Tadinya sih aku mau pakai rok, tapi kupikir kita harus melakukan sesuatu yang
ribet jika aku pakai rok. Ternyata benar,” ujar Andani. “ Tapi aku bawa salinan
rok kok.”
Anjani
hanya mengangguk cuek. Namun, Andani sedikit merasa senang. Setidaknya Anjani
masih mengingat bagaimana cara berpakaian dirinya.
“
Ngomong-ngomong, Jane. Menurutmu bagaimana penampilan Ririn saat audisi
kemarin?”
“
Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?” ujar Anjani malas.
“
Hmm, abisnya menurutku dia keren banget,” nada bicara Andani terdengar
bersemangat. “ Apalagi waktu dia saling tatap-tatapan sama temen kamu itu. Wiiih…
Ririn seolah-olah mau menelan tuh cowok bulat-bulat.”
“
Dia memang hebat,” Anjani refleks berhenti dari gerakan menyapu. “ Aku beberapa
kali pernah mengikuti latihannya. Kalau kata aku sih, untuk ukuran orang yang
awam dari dunia tari, waktu dua minggu itu sangat cepat. Aku aja kalau disuruh
kayak dia belum tentu bisa.”
“
Sama, aku juga,” Andani terkekeh, lalu ekspresinya berubah seperti sedang
melamun. “ Tapi kenapa ya para juri gak milih dia? Padahal jelas-jelas dia
lebih keren. Terus Adrian pake acara dansa bareng dia segala. Menurut kamu
kurang dia dimana ya?”
“
Aku juga gak ngerti, tapi mungkin juri punya pendapat sendiri,” Anjani
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia sadar kalau dari tadi gerakan
menyapunya sudah terhenti. “ Hei, An. Ayo kerja, nanti kita kena marah.”
ooOoo
‘…. Padahal jelas-jelas dia
lebih keren. Terus Adrian pake acara dansa bareng dia segala…’
Entah
kenapa Fi harus mendengar percakapan si kembar itu. Apalagi kalimat yang
diucapkan Andani terdengar penuh penekanan di telinganya. Fi mencoba pura-pura
tidak melihat atapun mendengar dari apa yang dilakukan oleh si kembar ini.
Meski
ia mendapatkan peran utama, tapi tetap saja ia tak puas. Masih membekas di
ingatannya bagaimana Adrian berdansa mesra dengan gadis itu. Belum lagi
perkataan Adrian yang menyatakan bahwa dia memberikan suaranya untuk memilih
gadis itu sebagai pemeran utama. Itu artinya selama audisi kemarin perhatian
Adrian hanya tertuju pada gadis itu, bukan dirinya.
Padahal
ia juga sudah berlatih keras. Dibandingkan gadis itu persiapan Fi sudah sangat
matang. Fi merasa gadis itu bukan saingan dirinya. Gadis itu bukan Priyanka
yang punya kemampuan menari seperti profesional, atau si kembar Andani yang
punya suara menakjubkan. Gadis itu juga tidak memiliki bakat akting seperti
dirinya. Namun, apa yang membuat gadis itu bernilai lebih di mata Adrian, Fi
belum menemukan jawabannya.
Entah
kenapa ia harus berselisih jalan dengan gadis itu. Fi baru saja membuang sampah
di belakang, sementara gadis itu sedang mengangkat air. Ia menatap tajam pada
sosok berambut ikal itu. Ia ingin membalaskan rasa sakit hatinya. Seolah sedang
berjalan terburu-buru, ia dengan sengaja menabrakkan bahunya pada bahu gadis
itu, kemudian dengan cepat ia menghilang.
Ia sempat melirik sebentar saat ember yang
dibawa gadis itu terjatuh dan airnya tumpah. Fi tahu ia sudah berbuat jahat,
tapi kekesalan di hatinya sudah memuncak. Harus disalurkan pada orang yang
tepat, kalau tidak, dialah yang meledak.
Fi
tersenyum sinis, ‘ Huh, rasakan…’
ooOoo
Rasanya
percuma kalau mau mengejar Fi dan ngomel-ngomel padanya. Toh, pada akhirnya dia akan kalah mulut. Untuk sekarang Ririn
memikirkan bagaimana caranya membersihkan tumpahan air ini.
“
Butuh bantuan?”
Ririn
sudah menduga bahwa suara itu berasal dari si laki-laki berkacamata tebal.
Cepat-cepat ia memasang senyum lebarnya. Namun, saat ia menoleh yang
didapatinya adalah laki-laki perawakan Arab lengkap dengan hidung mancungnya.
Siapa lagi kalau bukan Kemal.
‘Sejak kapan suara Alexi dan
Kemal jadi mirip?’
“
Ha—hai, Kemal.”
“
Butuh bantuan nggak?” Kemal bertanya sekali lagi seraya mengulurkan tangannya.
“
Kayaknya begitu,” Ririn
bangkit dengan bantuan Kemal. “ Kurasa aku butuh kain lap atau alat pel.”
Kemal
hanya menyeringai. Ternyata ia sedang membawa tongkat serokan air. Tanpa banyak
bicara, ia segera menyapu air yang tertumpah itu.
“
Aku
bisa sendiri kok,” Ririn mencoba mengambil tongkat serokan air tersebut. Namun,
Kemal menjauhkannya dari Ririn.
“
Gak apa-apa. Aku’kan tadi memang niat nolongin kamu.”
Ririn
berdeham. Ia mengusir rasa yang tidak mengenakan hatinya dengan menggaruk-garuk
ujung hidungnya.
“
Ka—kamu masih marah sama aku?”
Kemal
menoleh, “ Marah kenapa?”
“
Hmm, itu loh kemarin. Waktu di parkiran mall.
Aku’kan―”
“
Ohh, yang itu,” tawa Kemal pecah. “ Aku memang patah hati, tapi gak marah kok.
Lagi pula aku sudah move on.”
Ririn
terkesiap, “ Wow, secepat itu?”
Kemal
menyandarkan lengannya di atas tongkat serokan air, “ People said I’m playboy, but I just a man who always move on.”
“
Jadi lagunya ‘The
Script’ gak berlaku dong buat
kamu,” ujar Ririn sambil tertawa.
“
Itu harga yang harus dibayar untuk orang yang mudah jatuh cinta seperti aku,”
Kemal kembali menyapu air itu. “ Orang-orang
selalu berpikir kalau aku ini playboy, sebenarnya aku ini hanya ingin memmerluas
koneksiku, tidak peduli itu perempuan
atau laki-laki. Salahkan Tuhan kenapa sekarang lebih banyak menciptakan
perempuan dari pada laki-laki, sehingga kenalanku lebih banyak perempuan. Lagi
pula perempuan itu manis dan boleh digoda. Kalau aku menggoda cowok, bisa
berabe.”
Ririn
mengangguk-anggukan kepalanya, “ Alasan
yang cukup masuk akal. Lantas apakah kamu juga mudah jatuh cinta?”
Kemal
kembali tertawa, “ Tergantung, tapi kalau
menurutku dia cocok pasti langsung aku tembak. Kamu tahu sendiri’kan pesaing di luar sana sungguh
mengancam.”
Ririn
pun ikut tertawa.
“
Okay, sepertinya di sini sudah selesai,” ujar Kemal sambil melihat-lihat hasil
kerjanya. “ Sekarang kamu mau ngapain?”
“
Ah, sudah selesai ya?” Ririn terlihat gembira. “ Sebenarnya aku tadi mau ngepel
di ujung sana, tapi malah tumpah di sini. By
the way, makasih ya.”
ooOoo
“
Heaaaah, rock ‘n rooooll!”
Tifa
terlihat antusias dengan mesin pemotong rumputnya. Sayangnya, potongan rumput
yang seharusnya rapi justru berantakan. Ia memotong sesuka hatinya saja. Untuk
urusan merapikan, ia serahkan pada keponakannya.
“
Tanteee, bisa rapi sedikit gak motong rumputnya? Jangan ngerepotin aku kayak
gini!”
Sayangnya,
telinga Tifa tertutup oleh earphone.
Ingin rasanya Adrian membuat Tantenya itu terbelah dua dengan mesin pemotong
rumput miliknya. Ia kesal karena Tifa membuat pekerjaannya jadi dua kali lipat.
Sebenarnya
Adrian adalah anak yang baik. Namun, siapa yang tidak kesal bila harus
berhadapan dengan seseorang yang nyentrik dan selalu punya kemauan yang
aneh-aneh. Makanya emosinya selalu keluar saat berhadapan dengan Tantenya ini.
Dari
jauh Ben memerhatikan kelakuan tukang potong rumput dadakan itu. Padahal mereka
mempunyai hubungan keluarga, tapi saling berkelahi. Mereka juga orang-orang
hebat, tapi masih mau saja melakukan pekerjaan konyol seperti itu.
“
Keluarga yang aneh,” keluh Ben sambil mengelap kaca.
“
Siapa yang aneh, Ben?” tanya Alexi yang sedang merapikan sebuah buffet.
Ben
menunjuk Adrian yang sedang ngomel-ngomel pada Tifa, “ Tuh sutradara sama si
pangeran. Heran, kalau sama orang tuh anak baik banget, tapi galak banget kalo
sudah sama Tantenya. Apa itu cuma pencitraan aja di depan orang?”
“
Entahlah, kita gak bisa menebak orang yang baru dikenal,” ujar Alexi. “ Tapi
mungkin mereka seperti itulah keluarga mereka.”
Ben
tidak membahas lagi mengenai keluarga absurd itu. Ia kembali memfokuskan diri
pada kaca jendela yang harus ia buat mengkilat. Sementara itu gerakan Alexi
yang sedang merapikan buffet seketika terhenti saat ia menemukan selembar foto
yang terselip di antara tumpukan dokumen.
“
Ben, apa pengelihatanku gak salah? Coba kamu lihat foto ini?”
Ben
pun tergerak untuk melihat apa yang menarik perhatian temannya. Tak ada gambar
yang aneh. Namun, setelah ia pasati lebih lama, keningnya seketika berkerut. Ia
sempat meragukan indra pengelihatannya.
“
Loh, loh, i-ini kan….”
“
Heeiii, ngapain kalian malas-malasan di sini?” tegur Gloria yang tiba-tiba
datang. “ Nanti gak selesai-selesai. Pekerjaan kita banyak, tahu!”
“
Eh, Bu Guru, ke sini deh,” Ben melambaikan tangannya pada Gloria. “ Apa ini
foto ini adalah angkatan terakhir dari klub teater sekolah ini?”
Gloria
menarik secarik foto yang ada di tangan Alexi. Detik berikutnya ekspresi wajah
Gloria terlihat sangat senang.
“
Waaah, masih awet ya. Aku pikir udah hancur dimakan rayap.”
“
Itu kalian’kan?” tanya Alexi.
“
Hebat! Ibu pikir dengan kacamata seperti itu nggak bakal kelihatan,” Gloria
terkekeh, lalu ia menunjuk satu persatu wajah yang terpampang pada foto itu. “
Ibu yang rambut ikal ini, terus sebelah Ibu adalah Ibu Riani, terus yang ini
Ibu Hana, dan cewek dengan pose paling heboh ini yah si Tifa.”
“
Ooh, jadi Ibu Kepsek juga anggota klub teater juga,” gumam Ben. “ Pantas
kemarin jadi juri juga.”
Gloria
kembali memandangi foto tersebut, senyumnya semakin melebar.
“
Kalian tahu apa nama klub teater kami dulu?”
Ben
dan Alexi menatap Gloria dengan penuh tanda tanya.
“
Love Musical.”
Bukan
Gloria yang menjawab, tapi Tifa yang muncul dengan peralatan kebun yang masih
melekat di tubuhnya. Ia tersenyum lalu menarik foto itu dari tangan Gloria.
“
Jadi, kami penerus sejarah dong?” tanya Ben.
“
Tidak, tapi lebih tepatnya revolusi sejarah,” Tifa menatap sendu foto tersebut.
“Tidak ada gunanya meneruskan sejarah. Di dunia yang ada hanyalah revolusi.”
Alexi
dan Ben sekarang bertukar pandang, Mereka tidak mengerti apa yang baru saja
Tifa katakan.
“
Kamu ngomong apa toh, Tif?” Gloria
merebut foto tersebut. “ Ngomong-ngomong, gimana kerjaan kamu? Kayaknya cepet
banget selesai.”
Wajah
sendu Tifa seketika berubah menjadi cengiran lebar, “ Untuk apa punya keponakan
kalau tidak dimanfaatkan?”
Gloria
hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Alexi dan Ben pun kembali bertukar
pandang. Sekarang mereka tahu kenapa Adrian selalu marah-marah.
ooOoo
Pukul
tiga sore pekerjaan beres-beres itu pun akhirnya selesai. Mereka pun
beristirahat untuk melepas lelah. Ada yang tidur-tiduran, ada yang mandi, dan
ada pula yang sedang makan.
Suara
peluit yang tiba-tiba melengking itu mengejutkan semua siswa. Mereka refleks
berbaris rapi. Namun, Tifa si peniup peluit itu, justru menyuruh mereka duduk
kembali. Hanya saja Tifa memberikan kode supaya mereka duduk membentuk
lingkaran.
“
Aku mau mengatakan beberapa hal penting,” Tifa membuka pidatonya. “ Tapi
sebelum itu aku ingin kalian selalu dalam posisi seperti ini bila aku meniup
peluit.”
Suasana
hening menantikan pidato Tifa selanjutnya.
“
Oh ya, aku mau mengucapkan terima kasih karena kalian telah merelakan waktu dan
tenaga kalian untuk membersihkan gedung teater ini. Selanjutnya, aku akan
menjelaskan beberapa peraturan yang harus kalian jalani selama pelatihan
nanti.”
“
Pertama, mulai dari sekarang aku larang untuk makan makanan atau minuman yang
dingin, berminyak, dan yang terlalu pedas. Aku tidak membatasi porsi makan
kalian, tetapi tolong hindari ketiga jenis makanan tersebut.”
Bisik-bisik
mulai terdengar. Mereka terlihat tak setuju dengan peraturan tersebut.
“
Kita akan berlatih setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Selain itu, nantinya
kita akan mengadakan program menginap di setiap malam Minggu di gedung ini.
Untuk anggota yang memiliki masalah izin dengan orang tuanya, segera menghadap
Ibu Yulia, Gloria, atau aku sendiri.”
“
Terakhir dan yang terpenting, kalian harus ingat kalau pelatihan yang akan
kalian terima adalah semi militer. Jangan kaget, karena seperti itulah nanti.
Tolong bedakan sikap kalian ketika menghadapi guru kalian selama pelatihan, dan
mana guru kalian ketika di sekolah. Kenakan baju yang seperti kalian kenakan
seperti sekarang selama pelatihan, dan jangan pernah menggunakan celana jeans dalam model apapun.”
Para
siswa hanya bisa saling bertukar pandang. Meskipun peraturan yang dibuat terasa
aneh, tapi tak ada seorang pun yang berniat membantah.
“
Aha, ada hal lain yang mau aku sampaikan, dan ini kabar gembira,” Tifa
tersenyum lebar. “ Mulai minggu depan, seluruh anggota LM akan bersekolah di SMA Chandra Kirana. Semua kepindahan kalian
sudah diurus oleh sekolah dan kalian akan bersekolah di sini seperti biasanya.”
Keheningan
pun mulai pecah. Bisik-bisik sudah berubah menjadi obrolan besar.
“
Oke, oke, simpan semua euphoria kalian
dulu. Ada hal penting yang harus kalian lakukan sekarang,” Tifa berdiri lalu
mengulurkan tangan kanannya. “ Ayo kita satukan tangan kita supaya kalian tetap
bersemangat sampai akhir demi pementasan ini.”
Tanpa
rasa terpaksa, satu persatu dari mereka menumpukkan telapak tangan mereka.
Terasa sesak, tetapi juga menyenangkan.
“
So let’s say together. For Love Musical
sake, we―”
“
Ehem, gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Tif,” ujar Gloria.
“
Ahaha, maaf, maaf,” Tifa menyengir lebar. “ Baiklah, katakan bersama-sama. Demi
Love Musical. Semangat!”
“
Demi Love Musical. Semangat!”
Semua
tangan yang saling menyatu itu terangkat ke atas. Seolah menebarkan semangat
kepada satu orang ke yang lainnya. Seiring matahari yang semakin tergelincir,
mereka berjanji pada diri mereka sendiri untuk mengerahkan semua kemampuan
mereka demi pementasan ini.
Babak
baru pun dimulai.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar