Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 30)



Musikal 30



Untuk semua anggota Love Musical diharapkan berkumpul di SMA Chandra Kirana pada hari Minggu pukul delapan pagi. Kenakan baju yang sederhana dan bawa baju salinan.

Atas alasan itulah semua anggota Love Musical  berkumpul di SMA Chandra Kirana di Minggu pagi ini. Mereka harus mengorbankan waktu untuk bangun siang atau bermalasan-masalan karena sang sutradara sudah menurunkan titahnya.

Ternyata Tifa datang lebih pagi. Ia tersenyum saat menghitung jumlah personelnya lengkap. Ia segera mengarahkan rombongan masuk ke kawasan SMA Chandra Kirana, dan sampailah mereka di salah satu gedung tua yang ada di belakang sekolah.

Gedung itu tampak kusam. Ilalang yang tumbuh bahkan sampai menutupi pemandangan di sana. Tak hanya kusam dan tertutupi ilalang, tapi juga suasana di gedung itu terasa horor. Para siswi SMA Chandara Kirana sendiri pun terkejut dengan keberadaan gedung ini di kawasan sekolah mereka. Mereka baru tahu kalau sekolah mereka menyimpan rumah hantu.

“ Kita mau uji nyali di sini, Miss?” tanya Kemal.

Nope, tapi ini adalah gedung teater tempat kalian pentas nanti.”

Para siswa terbelalak. Mata mereka sontak beralih pada gedung tua yang menyeramkan itu. Bagaimana mungkin mereka akan tampil di tempat  seperti itu?

Mi-Miss, Anda serius?” ujar Priyanka.

Tifa menyeringai,” Asal kalian tahu, aku dan teman-temanku yang lain juga pentas di sini dulu. Yaah, memang keadaannya tidak seperti ini. Sejak klub teater ditutup dan sekolah ini menjadi sekolah khusus wanita, gedung ini menjadi terabaikan. Makanya jadi seperti rumah hantu begini.”

Para siswa terlihat mengangguk-angguk.

“ Nah, maka dari itu aku meminta kalian untuk datang hari ini. Aku mau kita bersama-sama untuk membersihkan gedung ini. Supaya kita bisa berlatih dan pentas di sini!”

Mereka kembali terkejut. Jadi, mereka pagi-pagi datang hanya untuk dijadikan budak?

“ Kalian tenang saja. Tidak ada hantu di sini. Nah, ayo semuaaa!”

Para siswa ragu-ragu mengikuti langkah Tifa. Jika setelah Tifa membuka pintu dan keluar hal-hal aneh, mereka serempak bersumpah untuk segera berlari meninggalkan tempat itu. Namun, begitu pintu terbuka, nyatanya berbeda dari yang mereka pikirkan. Bagian dalam gedung itu memang kotor. Banyak sisa bahan material yang berserakan di sana, tapi tidak menyeramkan seperti tampak dari luar. Bahkan mereka bisa mencium aroma cat yang baru melekat.

“ Gedung ini memang sudah tua, tapi bagian dalamnya baru saja aku minta perbaiki. Aku mengutamakan bagian dalam agar kita bisa latihan tanpa diganggu oleh para pekerja. Aku meminta dinding bagian dalam di cat, atap yang bocor diperbaiki, dan ruangan ini aku minta kembali di buat hampa cahaya. Oh ya, toiletnya juga sudah diperbaiki.”

Penjelasan Tifa membuat para siswa bisa bernapas lega.

“ Sekarang, tugas kalian adalah membersihkan bagian dalam. Pembagian tugasnya bisa kalian tanya pada Ibu Riani dan Gloria. Pastikan tidak ada debu sedikit pun di sini!”

Mereka tak ada jawaban lain selain mengiyakan perintah sang sutradara. Perintah yang sungguh aneh, masa ada pemain teater yang membersihkan gedung teaternya sendiri. sepertinya hanya di sini bisa merasakannya.

Tifa sendiri meninggalkan ruangan. Di luar, Adrian sudah menunggu dengan peralatan tukang kebun. Lengkap dengan kacamata dan alat potong rumput. Mereka saling bertukar senyum saat bertemu. Tifa pun menerima kacamata dan alat potong rumput itu.

“ Keponakanku, ayo kita mulai!”

ooOoo

“ Kenapa kita harus dapat bagian toilet sih?”

Wenda dan Priyanka mendapatkan tugas untuk membersihkan area toilet. Wenda sangat kesal ketika mendapatkan bagian ini. Sejak awal mereka bekerja, mulutnya tak berhenti menggerutu.

“ Untung toiletnya cuma kotor, tidak jorok,” omelnya lagi.

Priyanka tersenyum, “ Berhentilah menggerutu, Wen. Nanti dewa jamban mengutukmu loh.”

Wenda masih mendengus kesal, tapi ia juga tertawa mendengar candaan Priyanka. Gadis itu bisa juga berceloteh tentang jamban.

“ Ngomong-ngomong, Wen. Aku dengar kamu yang melatih gadis yang bernama Ririn itu untuk audisi pemeran utama, ya?”

“ Ya, memangnya kenapa?”

“ Tidak kusangka kemampuanmu masih sehebat dulu.”

Wenda menyeringai pada Priyanka, “ Kamu pikir kemampuanku hilang setelah insiden itu?”, detik berikutnya seringai Wenda menghilang. “ Tapi yah, bagaimana pun juga dia kalah kemarin. Aku tidak merasa menang.”

“ Tidak, tidak, menurutku kamu yang menang,” ujar Priyanka. “ Aku sudah merasa kalah denganmu sejak melihat gairah gadis itu ketika menari.”

“ Hoo, benarkah?” Wenda kembali menyeringai. “ Aku juga kagum dengan kemampuan gadis itu. Padahal dia baru berlatih dua minggu, tapi sudah mampu menguasai panggung. Mungkin dia anak ajaib.”

“ Mungkin benar dia anak ajaib. Berarti dengan begitu kamu gak sepenuhnya menang,” Priyanka terkekeh. “ Tak kusangka, niatan untuk membantu teman justru berubah menjadi ajang persaingan di antara kita. Ternyata kita sehati ya?”

Wenda ikut tertawa, lalu menatap Priyanka, “ Itu karena kita rival abadi.”

“ Hmm, yah, kamu benar,” Priyanka mengangguk, lalu matanya tertuju pada sikat lantai toilet yang masih kotor. “ Kurasa kita harus kembali fokus pada pekerjaan kita sekarang. Kalau tidak ini tidak akan selesai.”

“ Kamu benar,” Wenda berdecak kesal. “ Dasar jamban sialan!”

ooOoo

Jika Wenda dan Priyanka mendapat bagian di toilet, maka si kembar Anjani dan Andani justru mendapatkan bagian belakang panggung. Mereka harus membersihkan dan merapikan ruang peralatan dan ruang ganti kostum.

“ Jadi inget jaman SD dulu ya, Jane,” ujar Andani sembari mengelap meja. “ Kita dulu sering gotong royong bersihin kelas kalau udah mau lomba kebersihan. Kelas kita selalu menang’kan?”

“ Kamu ngapain sih inget-inget hal yang dulu?” balas Anjani yang sedang menyapu.

“ Habisnya aku jarang banget ngobrol sama kamu akhir-akhir ini,” ujar Andani dengan nada menggerutu. “ Hal yang bisa aku obrolin sama kamu yah yang dulu-dulu aja.”

Anjani menghela napas. Matanya tiba-tiba terfokus pada celana hitam selutut yang dikenakan kembarannya.

“ Tumben pakai celana pendek.”

Andani reflek memandang celana yang ia kenakan. Orang-orang terdekatnya pasti tahu gaya berpakaiannya seperti apa. Bisa dibilang Andani itu wanita klasik. Jarang sekali bisa melihat mengenakan celana panjang jeans, apalagi celana ¾ seperti sekarang ini. Andani lebih suka mengenakan rok atau baju terusan. Gaya andalannya saat berpergian adalah terusan selutut dengan cardigan, dan dipermanis dengan sepasang kitten heels.

Berbeda dengan Anjani. Kembarannya ini bila dalam urusan berpakaian justru terkesan cuek. Ia selalu nyaman dengan kaus dan celana jeansnya. Ia tak pernah menggunakan sepatu-sepatu cantik, yang ada di rak sepatunya hanyalah sneaker atau boots. Ia juga tak pernah menggunakan rok, kecuali rok sekolah.

“ Tadinya sih aku mau pakai rok, tapi kupikir kita harus melakukan sesuatu yang ribet jika aku pakai rok. Ternyata benar,” ujar Andani. “ Tapi aku bawa salinan rok kok.”

Anjani hanya mengangguk cuek. Namun, Andani sedikit merasa senang. Setidaknya Anjani masih mengingat bagaimana cara berpakaian dirinya.

“ Ngomong-ngomong, Jane. Menurutmu bagaimana penampilan Ririn saat audisi kemarin?”

“ Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?” ujar Anjani malas.

“ Hmm, abisnya menurutku dia keren banget,” nada bicara Andani terdengar bersemangat. “ Apalagi waktu dia saling tatap-tatapan sama temen kamu itu. Wiiih… Ririn seolah-olah mau menelan tuh cowok bulat-bulat.”

“ Dia memang hebat,” Anjani refleks berhenti dari gerakan menyapu. “ Aku beberapa kali pernah mengikuti latihannya. Kalau kata aku sih, untuk ukuran orang yang awam dari dunia tari, waktu dua minggu itu sangat cepat. Aku aja kalau disuruh kayak dia belum tentu bisa.”
“ Sama, aku juga,” Andani terkekeh, lalu ekspresinya berubah seperti sedang melamun. “ Tapi kenapa ya para juri gak milih dia? Padahal jelas-jelas dia lebih keren. Terus Adrian pake acara dansa bareng dia segala. Menurut kamu kurang dia dimana ya?”

“ Aku juga gak ngerti, tapi mungkin juri punya pendapat sendiri,” Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia sadar kalau dari tadi gerakan menyapunya sudah terhenti. “ Hei, An. Ayo kerja, nanti kita kena marah.”

ooOoo

‘…. Padahal jelas-jelas dia lebih keren. Terus Adrian pake acara dansa bareng dia segala…’

Entah kenapa Fi harus mendengar percakapan si kembar itu. Apalagi kalimat yang diucapkan Andani terdengar penuh penekanan di telinganya. Fi mencoba pura-pura tidak melihat atapun mendengar dari apa yang dilakukan oleh si kembar ini.

Meski ia mendapatkan peran utama, tapi tetap saja ia tak puas. Masih membekas di ingatannya bagaimana Adrian berdansa mesra dengan gadis itu. Belum lagi perkataan Adrian yang menyatakan bahwa dia memberikan suaranya untuk memilih gadis itu sebagai pemeran utama. Itu artinya selama audisi kemarin perhatian Adrian hanya tertuju pada gadis itu, bukan dirinya.

Padahal ia juga sudah berlatih keras. Dibandingkan gadis itu persiapan Fi sudah sangat matang. Fi merasa gadis itu bukan saingan dirinya. Gadis itu bukan Priyanka yang punya kemampuan menari seperti profesional, atau si kembar Andani yang punya suara menakjubkan. Gadis itu juga tidak memiliki bakat akting seperti dirinya. Namun, apa yang membuat gadis itu bernilai lebih di mata Adrian, Fi belum menemukan jawabannya.

Entah kenapa ia harus berselisih jalan dengan gadis itu. Fi baru saja membuang sampah di belakang, sementara gadis itu sedang mengangkat air. Ia menatap tajam pada sosok berambut ikal itu. Ia ingin membalaskan rasa sakit hatinya. Seolah sedang berjalan terburu-buru, ia dengan sengaja menabrakkan bahunya pada bahu gadis itu, kemudian dengan cepat ia menghilang.

 Ia sempat melirik sebentar saat ember yang dibawa gadis itu terjatuh dan airnya tumpah. Fi tahu ia sudah berbuat jahat, tapi kekesalan di hatinya sudah memuncak. Harus disalurkan pada orang yang tepat, kalau tidak, dialah yang meledak.

Fi tersenyum sinis, ‘ Huh, rasakan…’

ooOoo

Rasanya percuma kalau mau mengejar Fi dan ngomel-ngomel padanya. Toh, pada akhirnya dia akan kalah mulut. Untuk sekarang Ririn memikirkan bagaimana caranya membersihkan tumpahan air ini.

“ Butuh bantuan?”

Ririn sudah menduga bahwa suara itu berasal dari si laki-laki berkacamata tebal. Cepat-cepat ia memasang senyum lebarnya. Namun, saat ia menoleh yang didapatinya adalah laki-laki perawakan Arab lengkap dengan hidung mancungnya. Siapa lagi kalau bukan Kemal.

‘Sejak kapan suara Alexi dan Kemal jadi mirip?’

“ Ha—hai, Kemal.”

“ Butuh bantuan nggak?” Kemal bertanya sekali lagi seraya mengulurkan tangannya.

Kayaknya begitu,” Ririn bangkit dengan bantuan Kemal. “ Kurasa aku butuh kain lap atau alat pel.”

Kemal hanya menyeringai. Ternyata ia sedang membawa tongkat serokan air. Tanpa banyak bicara, ia segera menyapu air yang tertumpah itu.

Aku bisa sendiri kok,” Ririn mencoba mengambil tongkat serokan air tersebut. Namun, Kemal menjauhkannya dari Ririn.

“ Gak apa-apa. Aku’kan tadi memang niat nolongin kamu.”

Ririn berdeham. Ia mengusir rasa yang tidak mengenakan hatinya dengan menggaruk-garuk ujung hidungnya.

“ Ka—kamu masih marah sama aku?”

Kemal menoleh, “ Marah kenapa?”

“ Hmm, itu loh kemarin. Waktu di parkiran mall. Aku’kan―”

“ Ohh, yang itu,” tawa Kemal pecah. “ Aku memang patah hati, tapi gak marah kok. Lagi pula aku sudah move on.”

Ririn terkesiap, “ Wow, secepat itu?”

Kemal menyandarkan lengannya di atas tongkat serokan air, “ People said I’m playboy, but I just a man who always move on.

“ Jadi lagunya The Script gak berlaku dong buat kamu,” ujar Ririn sambil tertawa.

“ Itu harga yang harus dibayar untuk orang yang mudah jatuh cinta seperti aku,” Kemal kembali menyapu air itu. “ Orang-orang selalu berpikir kalau aku ini playboy, sebenarnya aku ini hanya ingin memmerluas koneksiku,  tidak peduli itu perempuan atau laki-laki. Salahkan Tuhan kenapa sekarang lebih banyak menciptakan perempuan dari pada laki-laki, sehingga kenalanku lebih banyak perempuan. Lagi pula perempuan itu manis dan boleh digoda. Kalau aku menggoda cowok, bisa berabe.”

Ririn mengangguk-anggukan kepalanya, “ Alasan yang cukup masuk akal. Lantas apakah kamu juga mudah jatuh cinta?”

Kemal kembali tertawa, “ Tergantung, tapi kalau menurutku dia cocok pasti langsung aku tembak. Kamu tahu sendiri’kan pesaing di luar sana sungguh mengancam.

Ririn pun ikut tertawa.

“ Okay, sepertinya di sini sudah selesai,” ujar Kemal sambil melihat-lihat hasil kerjanya. “ Sekarang kamu mau ngapain?”

“ Ah, sudah selesai ya?” Ririn terlihat gembira. “ Sebenarnya aku tadi mau ngepel di ujung sana, tapi malah tumpah di sini. By the way, makasih ya.”

ooOoo

“ Heaaaah, rock ‘n rooooll!”

Tifa terlihat antusias dengan mesin pemotong rumputnya. Sayangnya, potongan rumput yang seharusnya rapi justru berantakan. Ia memotong sesuka hatinya saja. Untuk urusan merapikan, ia serahkan pada keponakannya.

“ Tanteee, bisa rapi sedikit gak motong rumputnya? Jangan ngerepotin aku kayak gini!”

Sayangnya, telinga Tifa tertutup oleh earphone. Ingin rasanya Adrian membuat Tantenya itu terbelah dua dengan mesin pemotong rumput miliknya. Ia kesal karena Tifa membuat pekerjaannya jadi dua kali lipat.

Sebenarnya Adrian adalah anak yang baik. Namun, siapa yang tidak kesal bila harus berhadapan dengan seseorang yang nyentrik dan selalu punya kemauan yang aneh-aneh. Makanya emosinya selalu keluar saat berhadapan dengan Tantenya ini.

Dari jauh Ben memerhatikan kelakuan tukang potong rumput dadakan itu. Padahal mereka mempunyai hubungan keluarga, tapi saling berkelahi. Mereka juga orang-orang hebat, tapi masih mau saja melakukan pekerjaan konyol seperti itu.

“ Keluarga yang aneh,” keluh Ben sambil mengelap kaca.

“ Siapa yang aneh, Ben?” tanya Alexi yang sedang merapikan sebuah buffet.

Ben menunjuk Adrian yang sedang ngomel-ngomel pada Tifa, “ Tuh sutradara sama si pangeran. Heran, kalau sama orang tuh anak baik banget, tapi galak banget kalo sudah sama Tantenya. Apa itu cuma pencitraan aja di depan orang?”

“ Entahlah, kita gak bisa menebak orang yang baru dikenal,” ujar Alexi. “ Tapi mungkin mereka seperti itulah keluarga mereka.”

Ben tidak membahas lagi mengenai keluarga absurd itu. Ia kembali memfokuskan diri pada kaca jendela yang harus ia buat mengkilat. Sementara itu gerakan Alexi yang sedang merapikan buffet seketika terhenti saat ia menemukan selembar foto yang terselip di antara tumpukan dokumen.

“ Ben, apa pengelihatanku gak salah? Coba kamu lihat foto ini?”

Ben pun tergerak untuk melihat apa yang menarik perhatian temannya. Tak ada gambar yang aneh. Namun, setelah ia pasati lebih lama, keningnya seketika berkerut. Ia sempat meragukan indra pengelihatannya.

“ Loh, loh, i-ini kan….”

“ Heeiii, ngapain kalian malas-malasan di sini?” tegur Gloria yang tiba-tiba datang. “ Nanti gak selesai-selesai. Pekerjaan kita banyak, tahu!”

“ Eh, Bu Guru, ke sini deh,” Ben melambaikan tangannya pada Gloria. “ Apa ini foto ini adalah angkatan terakhir dari klub teater sekolah ini?”

Gloria menarik secarik foto yang ada di tangan Alexi. Detik berikutnya ekspresi wajah Gloria terlihat sangat senang.

“ Waaah, masih awet ya. Aku pikir udah hancur dimakan rayap.”

“ Itu kalian’kan?” tanya Alexi.

“ Hebat! Ibu pikir dengan kacamata seperti itu nggak bakal kelihatan,” Gloria terkekeh, lalu ia menunjuk satu persatu wajah yang terpampang pada foto itu. “ Ibu yang rambut ikal ini, terus sebelah Ibu adalah Ibu Riani, terus yang ini Ibu Hana, dan cewek dengan pose paling heboh ini yah si Tifa.”

“ Ooh, jadi Ibu Kepsek juga anggota klub teater juga,” gumam Ben. “ Pantas kemarin jadi juri juga.”

Gloria kembali memandangi foto tersebut, senyumnya semakin melebar.

“ Kalian tahu apa nama klub teater kami dulu?”

Ben dan Alexi menatap Gloria dengan penuh tanda tanya.

Love Musical.”

Bukan Gloria yang menjawab, tapi Tifa yang muncul dengan peralatan kebun yang masih melekat di tubuhnya. Ia tersenyum lalu menarik foto itu dari tangan Gloria.

“ Jadi, kami penerus sejarah dong?” tanya Ben.

“ Tidak, tapi lebih tepatnya revolusi sejarah,” Tifa menatap sendu foto tersebut. “Tidak ada gunanya meneruskan sejarah. Di dunia yang ada hanyalah revolusi.”

Alexi dan Ben sekarang bertukar pandang, Mereka tidak mengerti apa yang baru saja Tifa katakan.

“ Kamu ngomong apa toh, Tif?” Gloria merebut foto tersebut. “ Ngomong-ngomong, gimana kerjaan kamu? Kayaknya cepet banget selesai.”

Wajah sendu Tifa seketika berubah menjadi cengiran lebar, “ Untuk apa punya keponakan kalau tidak dimanfaatkan?”

Gloria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Alexi dan Ben pun kembali bertukar pandang. Sekarang mereka tahu kenapa Adrian selalu marah-marah.

ooOoo

Pukul tiga sore pekerjaan beres-beres itu pun akhirnya selesai. Mereka pun beristirahat untuk melepas lelah. Ada yang tidur-tiduran, ada yang mandi, dan ada pula yang sedang makan.

Suara peluit yang tiba-tiba melengking itu mengejutkan semua siswa. Mereka refleks berbaris rapi. Namun, Tifa si peniup peluit itu, justru menyuruh mereka duduk kembali. Hanya saja Tifa memberikan kode supaya mereka duduk membentuk lingkaran.

“ Aku mau mengatakan beberapa hal penting,” Tifa membuka pidatonya. “ Tapi sebelum itu aku ingin kalian selalu dalam posisi seperti ini bila aku meniup peluit.”

Suasana hening menantikan pidato Tifa selanjutnya.

“ Oh ya, aku mau mengucapkan terima kasih karena kalian telah merelakan waktu dan tenaga kalian untuk membersihkan gedung teater ini. Selanjutnya, aku akan menjelaskan beberapa peraturan yang harus kalian jalani selama pelatihan nanti.”

“ Pertama, mulai dari sekarang aku larang untuk makan makanan atau minuman yang dingin, berminyak, dan yang terlalu pedas. Aku tidak membatasi porsi makan kalian, tetapi tolong hindari ketiga jenis makanan tersebut.”

Bisik-bisik mulai terdengar. Mereka terlihat tak setuju dengan peraturan tersebut.

“ Kita akan berlatih setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Selain itu, nantinya kita akan mengadakan program menginap di setiap malam Minggu di gedung ini. Untuk anggota yang memiliki masalah izin dengan orang tuanya, segera menghadap Ibu Yulia, Gloria, atau aku sendiri.”

“ Terakhir dan yang terpenting, kalian harus ingat kalau pelatihan yang akan kalian terima adalah semi militer. Jangan kaget, karena seperti itulah nanti. Tolong bedakan sikap kalian ketika menghadapi guru kalian selama pelatihan, dan mana guru kalian ketika di sekolah. Kenakan baju yang seperti kalian kenakan seperti sekarang selama pelatihan, dan jangan pernah menggunakan celana jeans dalam model apapun.”

Para siswa hanya bisa saling bertukar pandang. Meskipun peraturan yang dibuat terasa aneh, tapi tak ada seorang pun yang berniat membantah.

“ Aha, ada hal lain yang mau aku sampaikan, dan ini kabar gembira,” Tifa tersenyum lebar. “ Mulai minggu depan, seluruh anggota LM akan bersekolah di SMA Chandra Kirana. Semua kepindahan kalian sudah diurus oleh sekolah dan kalian akan bersekolah di sini seperti biasanya.”

Keheningan pun mulai pecah. Bisik-bisik sudah berubah menjadi obrolan besar.

“ Oke, oke, simpan semua euphoria kalian dulu. Ada hal penting yang harus kalian lakukan sekarang,” Tifa berdiri lalu mengulurkan tangan kanannya. “ Ayo kita satukan tangan kita supaya kalian tetap bersemangat sampai akhir demi pementasan ini.”

Tanpa rasa terpaksa, satu persatu dari mereka menumpukkan telapak tangan mereka. Terasa sesak, tetapi juga menyenangkan.

So let’s say together. For Love Musical sake, we―”

“ Ehem, gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Tif,” ujar Gloria.

“ Ahaha, maaf, maaf,” Tifa menyengir lebar. “ Baiklah, katakan bersama-sama. Demi Love Musical. Semangat!”

“ Demi Love Musical. Semangat!”

Semua tangan yang saling menyatu itu terangkat ke atas. Seolah menebarkan semangat kepada satu orang ke yang lainnya. Seiring matahari yang semakin tergelincir, mereka berjanji pada diri mereka sendiri untuk mengerahkan semua kemampuan mereka demi pementasan ini.

Babak baru pun dimulai.


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar