Musikal 41
Fi baru saja
datang, tapi teman-teman di sanggarnya sudah berisik. Tidak hanya berisik,
mereka juga seperti sedang mengerumuni seorang anak. Fi mencoba mencari tahu
dengan menerobos kumpulan teman-temannya. Saat ia berhasil mencapai baris terdepan,
Fi mendapati seorang laki-laki yang usianya jauh lebih tua darinya. Namun, yang
membuat anak itu istimewa adalah perawakannya. Rambutnya pirang dan kulitnya
putih seperti orang bule. Anak itu sangat tampan, mungkin karena itulah ia
dikerumuni oleh semua orang.
Fi tak pernah melihat
anak itu, dan ia juga tak pernah mendengar kalau ada anak bule akan bergabung
di sanggar mereka. Fi belum sempat berkomentar, karena pelatih mereka datang.
Ia dan anak-anak lainnya langsung duduk rapi membentuk lingkaran.
“ Adik-adik
semua, hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Adrian Kusuma Nugraha. Dia
baru datang dari Palembang.”
Bisik-bisik
mulai terdengar. Tiba-tiba ada salah seorang dari mereka mengangkat tangannya.
“ Kamu orang
bule ya?”
“ Nggak, aku
memang mewarnai rambutku,” jawabnya kalem.
Kali ini terdengar
huruf “O” yang panjang.
“ Mulai hari ini
Adrian akan bergabung dengan kita. Kakak harap kalian bisa berteman baik dengan
dia. Nah, sekarang ayo kita mulai pemanasan!”
Fi kaget saat
laki-laki bernama Adrian itu berdiri tepat di depannya. Sebenarnya Fi ingin
berkenalan dengan laki-laki itu, tapi pemanasan sudah dimulai. Ia hanya bisa
menahan keinginannya sambil terus memandangi punggung laki-laki itu.
ooOoo
“ Jadi artis?
Lalu kenapa nyasar ke sini?”
“ Aku ingin
menjadi artis yang serba bisa. Dengan aku masuk ke sanggar ini aku bisa
berlatih akting dan menyanyi. Aku suka di sini.”
Adrian tersenyum
mendengar jawaban dari seorang gadis kecil berusia 10 tahun ini. Baru dua
minggu ia berada di sini, tapi gadis kecil ini sudah menarik perhatiannya. Gadis
kecil ini menarik perhatiannya lewat kerja keras dan keseriusnya. Adrian bahkan
lima tahun lebih tua darinya, tapi ia merasa gadis itu lebih bersemangat
darinya.
“ Kalau Kakak
pengen jadi apa?”
Adrian merenung
sejenak, “ Hmm, mungkin jadi sutradara seperti Tanteku. Dia sekarang menjadi
seorang sutradara di salah satu kelompok teater di Broadway. Aku pengen keren
seperti dia.”
“ Waaah,
Tantenya Kak Adrian keren bangeeet,” gadis itu tersenyum cerah. “ Kalau aku
sudah besar nanti, aku juga pengen disutradari oleh Tantenya Kakak.”
“ Good! Berusahalah,
Fi!” Adrian ikut tersenyum seraya mengusap rambut gadis itu. “ Ah ya, aku
kembali ke dalam dulu ya.”
Gadis itu
mengangguk. Adrian pun beranjak dari dari tempat duduknya. Baru saja ia
melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar sirine mobil ambulans dari kejauhan.
Fi sempat menoleh ke arah sumber suara. Hanya sesaat, kemudian ia
mengabaikannya. Namun, saat ia kembali menoleh pada Adrian, ia pun terkejut.
Laki-laki yang baru saja berpamitan dengannya terlihat sangat kesakitan. Ia
mengerang sambil menutupi kedua telinganya. Buru-buru Fi menghampiri laki-laki
itu.
“ Kak, Kakak,
kenapa?”
Adrian masih
terlihat kesakitan dan tangannya masih memegangi kedua telinga. Fi bernisiatif
membimbing Adrian untuk duduk. Ia pun segera berlari mencari air minum. Setelah
ia mendapatkan air minum, ia berikan pada Adrian. Laki-laki itu terlihat
sedikit tenang setelah meneguk air yang diberikan oleh Fi.
“ Kakak, sudah
enak’kan?”
Adrian
mengangguk lemah, “ Terima kasih, Fi.”
Fi menatap
laki-laki blonde ini. Ia ingin menanyakan sesuatu, tapi ia tak berani. Ia hanya
bisa menekan rasa keingintahuannya dengan menggigit ujung bibir.
“ Aku memang ada
fobia dengan suara ambulans. Tiap kali dengar suara sirinenya telinga aku
langsung berdenging dan kepalaku pusing.”
Fi hanya bisa
curi-curi pandang pada laki-laki ini. namun, ia tak menyangka kalau Adrian akan
menceritakan tanpa diminta.
“ Mungkin karena
kematian Ibuku,” Adrian menarik napas panjang dan hembusan napasnya terdengar
berat. “ Dia bunuh diri.”
Fi tersentak
kaget. Adrian menceritakan bahwa ibunya bunuh diri seperti menceritakan orang
lain saja. Tidak ada air mata atau sebersit kemurungan melintas di wajahnya.
Ekspresinya datar, hanya matanya saja yang terlihat menerawang jauh.
“ Waktu itu aku
masih berumur empat tahun. Aku tak mengerti apapun, yang aku tahu ketika sirine
ambulans datang para petugas masuk dan membawa ibuku, setelah itu ibuku lenyap
ditelan mobil putih itu. Aku selalu berpikir kalau ibuku diculik oleh ambulans
itu. Aku ketakutan. Makanya setiap mendengar ambulans aku selalu ketakutan, dan
imbasnya kepalaku pusing dan telingaku berdenging.”
Adrian kembali
menarik napas panjang. Ia melirik Fi yang dari tadi hanya mendengarkan
ceritanya saja.
“ Kamu kenapa
diam saja? Aneh ya?”
Fi menggeleng, “
Tidak, tapi aku cuma heran. Kenapa Kak Adrian cerita ini sama aku? Apa semua
orang sudah tahu?”
“ Entahlah, aku
juga tidak sadar kenapa aku ceritakan semua itu padamu. Mungkin kamu orang
pertama yang melihat fobiaku.”
Fi mengangguk
pelan.
“ Hmm, ini
rahasia kita berdua saja ya. Well, bukannya aku takut fobiaku ini ketahuan,
tapi aku gak mau cerita tentang Ibuku terbongkar. Aku sedih kalau harus
mengingat cerita itu terus.”
Fi mengangkat
jarinya membentuk huruf V, “ Aku janji, Kak!”
Adrian tertawa,
lalu kembali mengusap kepala gadis ini.
“ Terima kasih
ya. Kamu teman pertamaku yang baik sekali.”
Bluush, kedua
pipi Fi merona. Ia memang terlalu kecil untuk mengerti apa itu terpesona, tapi
ia senang dipuji seperti itu.
ooOoo
Mungkin ini kali
pertamanya Fi memikirkan seseorang. Ia anak tunggal. Kedua orang tuanya juga
jarang ada di rumah. Segala kebutuhannya terpenuhi, makanya ia tak pernah
merasa kesusahan. Namun, semua itu berubah saat ia memikirkan Adrian. Entah
kenapa ia berempati sekali dengan laki-laki itu. Ia tak bisa membayangkan kalau
ia melihat langsung kematian ibunya, apalagi dengan cara yang tidak wajar.
Pikiran Fi
terfokus pada fobia laki-laki itu. Ia berusaha memikirkan bagaimana caranya
untuk mengusirnya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk memecahkan celengan dan
menggunakan semua isinya untuk membeli sebuah hadiah untuk laki-laki itu.
Ia mendapatkan
jawaban yang tidak terduga saat memberikan hadiah tersebut.
“ Apa aku juga
cerita kapan aku ulang tahun?”
“ Eh,
maksudnya?”
Adrian
tersenyum, “ Hari ini ulang tahunku, dan pas banget kamu kasih hadiah.”
Fi tersentak, “
Eh, loh, aku cuma kebeneran aja. Aku memang mau kasih Kakak hadiah, tapi aku
gak tahu kalau hari ini ulang tahun Kakak. Hmm, kalo gitu selamat ulang tahun
deh. Terima kadonya ya.”
Adrian tertawa
kecil seraya mengambil kotak bersampul beruang hijau. Ia mengucapkan terima
kasih. Adrian membuka bungkus kado itu tanpa merusak kertasnya, dan ia cukup
terkejut saat melihat isinya.
“ M—Mp3 player?
Ka-kamu serius kasih aku ini, Fi?”
Fi mengangguk
malu-malu.
“ Apa ini gak
terlalu mahal kamu belinya?”
Fi menggeleng
cepat, “ Nggak apa-apa kok. Lagi pula aku gak maksa minta beliin sama Mama dan
Papa. Itu uang tabunganku sendiri. Diterima ya, Kak.”
Adrian menghela
napas panjang, lalu tersenyum, “ Oke deh, karena kamu sudah mengorbankan
tabunganmu, aku gak mungkin nolak. Sekali lagi terima kasih banyak.”
Senyum Fi
mengembang, “ Ah ya, Kak. Aku udah isi beberapa lagu di dalamnya coba dengerin
deh.”
Adrian pun
memasang headset dan memutar lagu secara acak. Hanya sebuah instrument piano yang
terdengar ceria. Di sana tertulis “Yiruma_It’s Your Day”. Adrian menebak bahwa instrument ini
dibawakan oleh orang yang bernama Yiruma dengan judul tersebut. Hanya saja ia
tak tahu kenapa gadis kecil ini memberikannya lagu tersebut.
“ Aku coba cari
lagu yang menenangkan pikiran dan hati,” jawab Fi yang seolah tahu apa isi
kepala Adrian. “ Mungkin instrument piano bisa menjadi obat alternatif Kakak,
supaya pikiran Kakak bisa teralihkan saat mendengar suara sirine ambulans.
Jadi, kalo Kakak dengar ada sirine ambulans, Kakak langsung dengerin aja musik
itu.”
Sejenak Adrian
kehilangan kata-kata. Bagaimana mungkin gadis berumur 10 tahun itu sangat
perhatian padanya. Mereka bahkan baru dua bulan saling kenal, tapi simpatinya
sudah seperti orang yang lama menyanyanginya. Untuk sesaat, Adrian merasakan
sosok ibunya berenkarnasi pada tubuh gadis itu.
“ Terima kasih
ya,” Adrian tiba-tiba memeluk gadis itu. “ Kamu sahabat terbaik aku.”
Fi awalanya
terkejut saat tubuh besar itu memeluknya. Ia pernah diperingati oleh Ibunya
agar tidak membiarkan dirinya bisa disentuh lawan jenis seenaknya, apalagi
orang yang lebih tua. Namun, pelukan ini bukan pelukan yang akan melukainya. Fi
justru merasakan kehangatan dari pelukan itu.
“ Aku senang
bisa jadi sahabat Kakak.”
Adrian terkekeh,
“ Kalau sudah besar nanti, aku mau jadi pengantinmu.”
Fi terkejut.
Buru-buru ia melepaskan pelukan laki-laki itu. Namun, Adrian masih saja
tertawa. Fi kemudian merasakan kalau laki-laki itu sedang mengusap pucuk
kepalanya.
“ Dan kalau
sudah besar nanti, berhentilah memanggilku Kakak. Panggil saja Adrian.”
“ Eh, tapi
itu’kan gak sopan. Lagi pula aku tidak tahu kapan aku tumbuh besar.”
“ Saat kamu
seusiaku, berarti kamu sudah besar. Di saat itu aku akan menemui lagi.”
Fi hanya
tersenyum. Ia tidak pernah menghitung hari-harinya menjadi dewasa, karena tak
lama setelah itu mereka berpisah. Fi mulai menjadi artis, dan Adrian melanglang
buana ke penjuru negeri. Keduanya masih saling berhubungan. Fi memang tidak
pernah melupakan janji laki-laki itu, hanya saja ia tak pernah menyangkan kalau
ia akan dipertemukan kembali dalam tempo yang singkat.
ooOoo
“ Selamat pagi!” sapa Fi ketika Adrian membuka
matanya. Bola matanya bergerak-gerak mencari cahaya. Ia merenggangkan tubuhnya
seraya menguap lebar.
“ Pagi? Kamu gak lihat bulan di atas kepala?” gerutu
Adrian, kemudian terkekeh. “Yuk, pulang. Kayaknya aku kelamaan tidur.”
Fi tersenyum. Keduanya lalu sama-sama menuju mobil.
Dengan sopannya Adrian membukakan pintu untuk Fi. Tak pelak gadis itu pun
tersanjung.
“ Kamu pulas banget ya tidurnya,” ujar Fi sambil
memasang sitbelt-nya. “ Sambil
senyum-senyum lagi. Mimpi apaan sih?”
Adrian kembali terkekeh, “ Mimpiin kamu.”
“ Idiih, gombal. Pasti mimpi jorok deh,” ujar Fi
sewot. Namun, di dalam hatinya ia senang bukan kepalang.
Tawa Adrian pecah, “ Ya ampuuun, kamu kira aku semesum
itu? Aku mimpiin kita berdua….” Mobil yang baru saja Adrian starter kembali ia
matikan. Entah kenapa ia terlihat serius saat menatap Fi. “ Aku mimpi tentang
awal pertemuan kita.”
Fi melirik Adrian, lalu perlahan-lahan membalasa
tatapan laki-laki itu. Sedetik pun tatapan itu tak lepas menatapnya. Jantung Fi
berdebar keras.
“ Tentang awal pertemuan kita, dan awal dimana aku
suka kamu.”
Jackpot! Fi seperti baru saja memenangkan undian jutaan dolar.
Tidak, bahkan lebih dari itu. Kata-kata Adrian barusan membuatnya melambung ke
langit tujuh.
“ Ka—kamu barusan nembak aku?”
Adrian tak menjawab, tapi Fi merasa jawabannya kini
berada pada sentuhan bibir Adrian di keningnya. Lembut dan singkat. Fi tak bisa
lagi menggambarkan bagaimana perasaannya saat itu. Semua berjalan lebih cepat,
lebih cepat dari jet coaster.
Mengalun indah seindah merry go around.
“ Apa aku masih perlu menjawabnya?” tanya Adrian
sesaat setelah ia melepaskan ciumannya.
“ Dan apakah aku juga harus menjawabnya?” sahut Fi
dengan pipi yang merona.
Adrian mencubit pipi Fi sambil tertawa, lalu kembali
men-starter mobilnya, “ Oke, kalau
begitu ayo kita pulang!”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar