Total Tayangan Halaman

Sabtu, 18 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 41)




Musikal 41


Fi baru saja datang, tapi teman-teman di sanggarnya sudah berisik. Tidak hanya berisik, mereka juga seperti sedang mengerumuni seorang anak. Fi mencoba mencari tahu dengan menerobos kumpulan teman-temannya. Saat ia berhasil mencapai baris terdepan, Fi mendapati seorang laki-laki yang usianya jauh lebih tua darinya. Namun, yang membuat anak itu istimewa adalah perawakannya. Rambutnya pirang dan kulitnya putih seperti orang bule. Anak itu sangat tampan, mungkin karena itulah ia dikerumuni oleh semua orang.

Fi tak pernah melihat anak itu, dan ia juga tak pernah mendengar kalau ada anak bule akan bergabung di sanggar mereka. Fi belum sempat berkomentar, karena pelatih mereka datang. Ia dan anak-anak lainnya langsung duduk rapi membentuk lingkaran.

“ Adik-adik semua, hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Adrian Kusuma Nugraha. Dia baru datang dari Palembang.”

Bisik-bisik mulai terdengar. Tiba-tiba ada salah seorang dari mereka mengangkat tangannya.

“ Kamu orang bule ya?”

“ Nggak, aku memang mewarnai rambutku,” jawabnya kalem.

Kali ini terdengar huruf  “O” yang panjang.

“ Mulai hari ini Adrian akan bergabung dengan kita. Kakak harap kalian bisa berteman baik dengan dia. Nah, sekarang ayo kita mulai pemanasan!”

Fi kaget saat laki-laki bernama Adrian itu berdiri tepat di depannya. Sebenarnya Fi ingin berkenalan dengan laki-laki itu, tapi pemanasan sudah dimulai. Ia hanya bisa menahan keinginannya sambil terus memandangi punggung laki-laki itu.

ooOoo

“ Jadi artis? Lalu kenapa nyasar ke sini?”

“ Aku ingin menjadi artis yang serba bisa. Dengan aku masuk ke sanggar ini aku bisa berlatih akting dan menyanyi. Aku suka di sini.”

Adrian tersenyum mendengar jawaban dari seorang gadis kecil berusia 10 tahun ini. Baru dua minggu ia berada di sini, tapi gadis kecil ini sudah menarik perhatiannya. Gadis kecil ini menarik perhatiannya lewat kerja keras dan keseriusnya. Adrian bahkan lima tahun lebih tua darinya, tapi ia merasa gadis itu lebih bersemangat darinya.

“ Kalau Kakak pengen jadi apa?”

Adrian merenung sejenak, “ Hmm, mungkin jadi sutradara seperti Tanteku. Dia sekarang menjadi seorang sutradara di salah satu kelompok teater di Broadway. Aku pengen keren seperti dia.”

“ Waaah, Tantenya Kak Adrian keren bangeeet,” gadis itu tersenyum cerah. “ Kalau aku sudah besar nanti, aku juga pengen disutradari oleh Tantenya Kakak.”

Good! Berusahalah, Fi!” Adrian ikut tersenyum seraya mengusap rambut gadis itu. “ Ah ya, aku kembali ke dalam dulu ya.”

Gadis itu mengangguk. Adrian pun beranjak dari dari tempat duduknya. Baru saja ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar sirine mobil ambulans dari kejauhan. Fi sempat menoleh ke arah sumber suara. Hanya sesaat, kemudian ia mengabaikannya. Namun, saat ia kembali menoleh pada Adrian, ia pun terkejut. Laki-laki yang baru saja berpamitan dengannya terlihat sangat kesakitan. Ia mengerang sambil menutupi kedua telinganya. Buru-buru Fi menghampiri laki-laki itu.

“ Kak, Kakak, kenapa?”

Adrian masih terlihat kesakitan dan tangannya masih memegangi kedua telinga. Fi bernisiatif membimbing Adrian untuk duduk. Ia pun segera berlari mencari air minum. Setelah ia mendapatkan air minum, ia berikan pada Adrian. Laki-laki itu terlihat sedikit tenang setelah meneguk air yang diberikan oleh Fi.

“ Kakak, sudah enak’kan?”

Adrian mengangguk lemah, “ Terima kasih, Fi.”

Fi menatap laki-laki blonde ini. Ia ingin menanyakan sesuatu, tapi ia tak berani. Ia hanya bisa menekan rasa keingintahuannya dengan menggigit ujung bibir.

“ Aku memang ada fobia dengan suara ambulans. Tiap kali dengar suara sirinenya telinga aku langsung berdenging dan kepalaku pusing.”

Fi hanya bisa curi-curi pandang pada laki-laki ini. namun, ia tak menyangka kalau Adrian akan menceritakan tanpa diminta.

“ Mungkin karena kematian Ibuku,” Adrian menarik napas panjang dan hembusan napasnya terdengar berat. “ Dia bunuh diri.”

Fi tersentak kaget. Adrian menceritakan bahwa ibunya bunuh diri seperti menceritakan orang lain saja. Tidak ada air mata atau sebersit kemurungan melintas di wajahnya. Ekspresinya datar, hanya matanya saja yang terlihat menerawang jauh.

“ Waktu itu aku masih berumur empat tahun. Aku tak mengerti apapun, yang aku tahu ketika sirine ambulans datang para petugas masuk dan membawa ibuku, setelah itu ibuku lenyap ditelan mobil putih itu. Aku selalu berpikir kalau ibuku diculik oleh ambulans itu. Aku ketakutan. Makanya setiap mendengar ambulans aku selalu ketakutan, dan imbasnya kepalaku pusing dan telingaku berdenging.”

Adrian kembali menarik napas panjang. Ia melirik Fi yang dari tadi hanya mendengarkan ceritanya saja.

“ Kamu kenapa diam saja? Aneh ya?”

Fi menggeleng, “ Tidak, tapi aku cuma heran. Kenapa Kak Adrian cerita ini sama aku? Apa semua orang sudah tahu?”

“ Entahlah, aku juga tidak sadar kenapa aku ceritakan semua itu padamu. Mungkin kamu orang pertama yang melihat fobiaku.”

Fi mengangguk pelan.

“ Hmm, ini rahasia kita berdua saja ya. Well, bukannya aku takut fobiaku ini ketahuan, tapi aku gak mau cerita tentang Ibuku terbongkar. Aku sedih kalau harus mengingat cerita itu terus.”

Fi mengangkat jarinya membentuk huruf V, “ Aku janji, Kak!”

Adrian tertawa, lalu kembali mengusap kepala gadis ini.

“ Terima kasih ya. Kamu teman pertamaku yang baik sekali.”

Bluush, kedua pipi Fi merona. Ia memang terlalu kecil untuk mengerti apa itu terpesona, tapi ia senang dipuji seperti itu.

ooOoo

Mungkin ini kali pertamanya Fi memikirkan seseorang. Ia anak tunggal. Kedua orang tuanya juga jarang ada di rumah. Segala kebutuhannya terpenuhi, makanya ia tak pernah merasa kesusahan. Namun, semua itu berubah saat ia memikirkan Adrian. Entah kenapa ia berempati sekali dengan laki-laki itu. Ia tak bisa membayangkan kalau ia melihat langsung kematian ibunya, apalagi dengan cara yang tidak wajar.

Pikiran Fi terfokus pada fobia laki-laki itu. Ia berusaha memikirkan bagaimana caranya untuk mengusirnya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk memecahkan celengan dan menggunakan semua isinya untuk membeli sebuah hadiah untuk laki-laki itu.

Ia mendapatkan jawaban yang tidak terduga saat memberikan hadiah tersebut.

“ Apa aku juga cerita kapan aku ulang tahun?”

“ Eh, maksudnya?”

Adrian tersenyum, “ Hari ini ulang tahunku, dan pas banget kamu kasih hadiah.”

Fi tersentak, “ Eh, loh, aku cuma kebeneran aja. Aku memang mau kasih Kakak hadiah, tapi aku gak tahu kalau hari ini ulang tahun Kakak. Hmm, kalo gitu selamat ulang tahun deh. Terima kadonya ya.”

Adrian tertawa kecil seraya mengambil kotak bersampul beruang hijau. Ia mengucapkan terima kasih. Adrian membuka bungkus kado itu tanpa merusak kertasnya, dan ia cukup terkejut saat melihat isinya.

M—Mp3 player? Ka-kamu serius kasih aku ini, Fi?”

Fi mengangguk malu-malu.

“ Apa ini gak terlalu mahal kamu belinya?”

Fi menggeleng cepat, “ Nggak apa-apa kok. Lagi pula aku gak maksa minta beliin sama Mama dan Papa. Itu uang tabunganku sendiri. Diterima ya, Kak.”

Adrian menghela napas panjang, lalu tersenyum, “ Oke deh, karena kamu sudah mengorbankan tabunganmu, aku gak mungkin nolak. Sekali lagi terima kasih banyak.”

Senyum Fi mengembang, “ Ah ya, Kak. Aku udah isi beberapa lagu di dalamnya coba dengerin deh.”

Adrian pun memasang headset dan memutar lagu secara acak. Hanya sebuah instrument piano yang terdengar ceria. Di sana tertulis “Yiruma_It’s Your Day”. Adrian menebak bahwa instrument ini dibawakan oleh orang yang bernama Yiruma dengan judul tersebut. Hanya saja ia tak tahu kenapa gadis kecil ini memberikannya lagu tersebut.

“ Aku coba cari lagu yang menenangkan pikiran dan hati,” jawab Fi yang seolah tahu apa isi kepala Adrian. “ Mungkin instrument piano bisa menjadi obat alternatif Kakak, supaya pikiran Kakak bisa teralihkan saat mendengar suara sirine ambulans. Jadi, kalo Kakak dengar ada sirine ambulans, Kakak langsung dengerin aja musik itu.”

Sejenak Adrian kehilangan kata-kata. Bagaimana mungkin gadis berumur 10 tahun itu sangat perhatian padanya. Mereka bahkan baru dua bulan saling kenal, tapi simpatinya sudah seperti orang yang lama menyanyanginya. Untuk sesaat, Adrian merasakan sosok ibunya berenkarnasi pada tubuh gadis itu.

“ Terima kasih ya,” Adrian tiba-tiba memeluk gadis itu. “ Kamu sahabat terbaik aku.”

Fi awalanya terkejut saat tubuh besar itu memeluknya. Ia pernah diperingati oleh Ibunya agar tidak membiarkan dirinya bisa disentuh lawan jenis seenaknya, apalagi orang yang lebih tua. Namun, pelukan ini bukan pelukan yang akan melukainya. Fi justru merasakan kehangatan dari pelukan itu.

“ Aku senang bisa jadi sahabat Kakak.”

Adrian terkekeh, “ Kalau sudah besar nanti, aku mau jadi pengantinmu.”

Fi terkejut. Buru-buru ia melepaskan pelukan laki-laki itu. Namun, Adrian masih saja tertawa. Fi kemudian merasakan kalau laki-laki itu sedang mengusap pucuk kepalanya.

“ Dan kalau sudah besar nanti, berhentilah memanggilku Kakak. Panggil saja Adrian.”

“ Eh, tapi itu’kan gak sopan. Lagi pula aku tidak tahu kapan aku tumbuh besar.”

“ Saat kamu seusiaku, berarti kamu sudah besar. Di saat itu aku akan menemui lagi.”

Fi hanya tersenyum. Ia tidak pernah menghitung hari-harinya menjadi dewasa, karena tak lama setelah itu mereka berpisah. Fi mulai menjadi artis, dan Adrian melanglang buana ke penjuru negeri. Keduanya masih saling berhubungan. Fi memang tidak pernah melupakan janji laki-laki itu, hanya saja ia tak pernah menyangkan kalau ia akan dipertemukan kembali dalam tempo yang singkat.

ooOoo

“ Selamat pagi!” sapa Fi ketika Adrian membuka matanya. Bola matanya bergerak-gerak mencari cahaya. Ia merenggangkan tubuhnya seraya menguap lebar.

“ Pagi? Kamu gak lihat bulan di atas kepala?” gerutu Adrian, kemudian terkekeh. “Yuk, pulang. Kayaknya aku kelamaan tidur.”

Fi tersenyum. Keduanya lalu sama-sama menuju mobil. Dengan sopannya Adrian membukakan pintu untuk Fi. Tak pelak gadis itu pun tersanjung.

“ Kamu pulas banget ya tidurnya,” ujar Fi sambil memasang sitbelt-nya. “ Sambil senyum-senyum lagi. Mimpi apaan sih?”

Adrian kembali terkekeh, “ Mimpiin kamu.”

“ Idiih, gombal. Pasti mimpi jorok deh,” ujar Fi sewot. Namun, di dalam hatinya ia senang bukan kepalang.

Tawa Adrian pecah, “ Ya ampuuun, kamu kira aku semesum itu? Aku mimpiin kita berdua….” Mobil yang baru saja Adrian starter kembali ia matikan. Entah kenapa ia terlihat serius saat menatap Fi. “ Aku mimpi tentang awal pertemuan kita.”

Fi melirik Adrian, lalu perlahan-lahan membalasa tatapan laki-laki itu. Sedetik pun tatapan itu tak lepas menatapnya. Jantung Fi berdebar keras.

“ Tentang awal pertemuan kita, dan awal dimana aku suka kamu.”

Jackpot! Fi seperti baru saja memenangkan undian jutaan dolar. Tidak, bahkan lebih dari itu. Kata-kata Adrian barusan membuatnya melambung ke langit tujuh.

“ Ka—kamu barusan nembak aku?”

Adrian tak menjawab, tapi Fi merasa jawabannya kini berada pada sentuhan bibir Adrian di keningnya. Lembut dan singkat. Fi tak bisa lagi menggambarkan bagaimana perasaannya saat itu. Semua berjalan lebih cepat, lebih cepat dari jet coaster. Mengalun indah seindah merry go around.

“ Apa aku masih perlu menjawabnya?” tanya Adrian sesaat setelah ia melepaskan ciumannya.

“ Dan apakah aku juga harus menjawabnya?” sahut Fi dengan pipi yang merona.

Adrian mencubit pipi Fi sambil tertawa, lalu kembali men-starter mobilnya, “ Oke, kalau begitu ayo kita pulang!”

please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar