Musikal 43
Tepat di hari kedelapan, Tifa beserta Alexi sudah
kembali mendarat di Palembang. Begitu Tifa menyalakan ponsel, ia langsung
diserbu dengan puluhan pesan dan telepon masuk. Ia bahkan tak bisa melepas
ponsel tersebut dari telinganya.
“ Alexi, kamu bisa tolong ambilkan bagasiku? Ada pita
warna merah di pegangannya.”
Laki-laki mengangguk, ia pun meninggalkan Tifa yang
masih sibuk dengan ponselnya. Wanita itu tampaknya dibuat sibuk oleh si
penelpon, dan terlihat jelas kalau Tifa tak menyukai si penelpon.
“ Aiiish, dasar monster brengsek!” omel Tifa saat ia
memutuskan telepon tersebut. Tak tanggung-tanggung, ia pun langsung mematikan
ponselnya dengan cara mencabut baterai dan langsung memasukkannya ke dalam tas.
“ Latifa?”
Tifa menoleh ke sumber suara. Siapa pula yang
memanggil namanya di saat ia sedang dipenuhi emosi. Namun, dari cara orang itu
memanggil namanya, pasti ia bukan teman akrabnya. Jarang sekali ada yang memanggilnya
dengan nama tersebut.
“ Hei, Latifa. Masih ingat aku?”
Tifa mencoba mengenali pria yang memanggil namanya
itu. Pria itu tersenyum, dan di saat itulah Tifa baru teringat siapa pria ini.
“ Kak Armandi!”
Tifa ingin memeluk pria itu, tapi pria bernama Armandi
itu lebih dulu mengulurkan tangannya. Tifa pun hanya bisa menjabat tangan pria
itu.
“ Waaah, udah lama banget ya kita gak ketemu”, ujar
Armandi antusias. “ Kamu keren banget ya sekarang.”
Tifa terkekeh, “ Kak Arman bisa aja. Apa kabar nih?
Ngomong-ngomong Kak Arman dari mana nih?”
“ Kabarku baik. Aku baru saja pulang dari Afrika.
Biasa urusan pekerjaan”
“ Afrika? Oh my
Godness,” Tifa tertawa geli. “ Heh, Kak, udah punya anak istri juga masih
aja melanglang buana ke Afrika. Ternyata Kakak lebih milih gajah dan jerapah
ketimbang keluarga.”
“ Heeei, aku ke sana juga karena pekerjaan. Kalau aku
gak kerja keluargaku mau dikasih makan apa?” Armandi menyentil dahi Tifa. “
Lagian emangnya pantas kalimat seperti itu diucapkan oleh seorang lajang 30
tahun?”
“ Sialan,” umpat Tifa yang disahut tawa Armandi. “
Mulut Kakak masih setajam dulu.”
“ Oke, kita lupakan masa lalu dan masalah keluarga. Well, aku dengar kamu vakum dari
Broadway dan malah buat pertunjukkan di SMA kita?”
Tifa mengangguk semangat, “ Yuup, nanti Kakak
sekali-sekali datang dong lihat latihan kami. Kami akan membuat pertunjukkan
lebih hebat dari sebelumnya.”
“ Hmm, bisa diatur,” ujar Armandi sambil terkekeh. “
Asal bayarannya pas.”
Mereka berdua pun tertawa.
“ Eh ya, anakku juga bersekolah di sana loh.”
“ Benarkah? Apa dia salah satu anggota Love Musical?”
Armandi melambaikan tangannya, “ Tidak, tidak, dia
tidak memiliki bakat di bidang pertunjukkan.”
“ Hooo, begitu ya. Sayang sekali, padahal ayahnya
punya pengalaman yang hebat di bidang ini.”
Keduanya kembali tertawa.
“ Miss, ini
koper Anda,” ujar Alexi yang tiba-tiba datang.
“ Oh ya, terima kasih,” sahut Tifa setengah kaget. “
Ah, Alexi kenalkan ini Pak Armandi. Dia ini salah satu penasihat teater waktu
zamanku dulu. Kak Arman ini Alexi salah satu anggota LM sekarang.”
Kedua laki-laki itu saling berjabat tangan. Namun,
entah kenapa tatapan Armandi pada Alexi begitu intens.
“ Alexi, ya, hmm… kok sepertinya tidak asing ya?”
“ Dia memang bukan orang sembarangan,” bisik Tifa yang
disahut dengan anggukan Armandi.
“ Begitu, ya. Oh ya, aku pamit duluan ya. Seperti yang
kamu bilang, anak istriku lebih penting sekarang. Aku akan mampir nanti. Sampai
jumpa.”
Tifa melambaikan tangan pada Armandi, kemudian
mengajak Alexi ke tempat parkir. Tifa memang memarkir mobilnya di bandara
sebelum ia pergi supaya ketika pulang tidak perlu repot mencari taksi. Mobil
itu pun bertolak dari bandara.
Satu keanehan yang terjadi ketika mereka pulang adalah
perilaku Tifa saat menyetir. Sejak mereka meninggalkan bandara, entah kenapa
mulutnya terus melisankan nama pria yang mereka temui di sana tadi. Alexi pun
keheranan dan mulai berspekulasi. Jangan-jangan Tifa sudah kena pelet oleh
laki-laki tadi.
“ Mi—miss, are
you okay?”
“ Ah, yes, I’m
okay,” Tifa berdeham. “ Armandi, Armandi, Armandi…. Ahhhh!”
“ A—ada apa, Miss?”
Alexi terlonjak saking kagetnya.
“ Alexi, kamu gak keberatan’kan kalau kita mampir ke
sekolah dulu? Nanti aku bisa lupa dengan apa yang aku pikirkan sekarang” tanya
Tifa yang disahut dengan anggukan takut dari Alexi, kemudian Tifa pun memasang headset dan menelpon seseorang.
“ Hei, keponakan. Hubungi semua anggota. Suruh mereka
semua berkumpul di gedung teater tanpa kecuali… apa? Iya, aku sudah kembali.
Ya, sudah, cepat ya!”
Alexi menduga kalau orang yang baru saja ditelepon
adalah Adrian. Namun, orang kedua yang ditelpon Alexi sama sekali tidak tahu,
karena Tifa menggunakan bahasa yang tidak ia mengerti artinya.
“ Moshi-moshi,
Tanaka-san? Ahh, haik, Latifa desu. Ano nee….”
Dan seterusnya hingga Tifa menutup telepon dari orang
tersebut. Wanita itu menyeringai saat ia kembali fokus pada stirnya.
“ Nah, Alexi. Kamu pernah nonton Fast and Furious’kan? Mungkin ini saatnya kamu merasakannya.”
Alexi menarik napas panjang. Ucapan Tifa bukan bualan
belaka.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar