Musikal 49
Semua anggota LM sudah berkumpul di halaman gedung
teater mereka. Dua buah bus pariwisata sengaja disewa untuk perjalanan ini.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan. Namun, Tifa si tokoh utama belum
juga muncul.
“ Anak-anak, kalian semua berbaris rapi dan mulai
berhitung!” Gloria maju mengambil alih posisi Tifa.
Semua anggota langsung berbaris dan berhitung.
Semuanya lengkap, hanya minus Anjani.
“ Baiklah semuanya, kalian akan dibagi menjadi dua
kelompok. Kelompok satu akan naik bis nomor satu, sedangkan kelompok dua akan
naik bis nomor dua. Setiap kelompok akan ditunjuk seorang pemimpin. Tugas
pemimpin adalah memastikan semua anggotanya lengkap setiap sebelum atau sesudah
naik bus. Untuk kelompok satu akan dipimpin oleh Ben, dan kelompok dua dipimpin
oleh Santi. Kedua ketua kelompok kemari.”
Ben dan kakak kelasnya—Santi menerima daftar nama
kelompok masing-masing. Gloria memerintahkan kedua ketua kelompok untuk membagi
kelompoknya.
“ Nah, sekarang kalian silakan masuk ke dalam bus.
Pilihlah pasangan duduk kalian sesuka hati. Ingat, tetap tertib!”
Satu persatu anggota LM mulai masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian, Mini Cooper oranye
milik Tifa tiba. Si pemilik terlihat buru-buru begitu turun dari mobil.
“ Andani mana?”
“ Mungkin sudah di dalam bus,” jawab Riani. “ Kalau
tidak salah bus satu.”
Tifa langsung meloncat masuk ke dalam bus. Benar,
ternyata gadis itu ada di dalam bus satu dan sudah duduk manis bersama Ririn.
“ Andani, kamu ikut saya!”
Andani bertukar pandang dengan Ririn, dan semua pasang
mata bergantian menatap Andani dan juga Tifa. Mereka semua heran dengan
perintah Tifa. Namun, mau tak mau Andani langsung turun tanpa diperintah dua
kali.
“ Ikut saya ke bandara sekarang!”
Andani tercengang. Untuk apa mereka ke bandara
sekarang?
“ Kamu gak mau mengantar saudarimu pergi. Mungkin
kalian gak akan ketemu dalam waktu yang lama loh.”
Ucapan Tifa ada benarnya. Mereka dari subuh sibuk
dengan keberangkatan masing-masing. Anjani memilih pergi dengan taksi ketimbang
diantar bareng dengan Andani. Padahal jadwal penerbangannya pukul sepuluh.
“ Tapi kalau saya pergi sekarang, saya gak jadi pergi
bersama yang lain dong, Miss?”
Tifa tesenyum, “ Kamu gak usah khawatir. Sekarang kamu
mau ketemu sama saudari kamu atau nggak?”
Tentu saja Andani mau. Tanpa berpikir dua kali ia
langsung mengangguk setuju. Meski ia tidak yakin Anjani masih mau melihatnya
lagi atau tidak.
“ Good!”
Tifa tertawa senang, lalu berteriak pada kedua sahabatnya. “ Glo, Ri, aku
pinjam anak ini yaaa!”
Gloria mengacungkan ibu jarinya, “ Asal bawa kembali!”
Setelah mendapat persetujuan, Tifa langsung mengajak
Andani masuk ke dalam mobilnya. Kali ini giliran Andani-lah yang merasakan naik
mobil ala Vin Diesel abal-abal.
“ Cih, padahal dia sendiri yang bilang kalau tidak ada
yang boleh bawa kendaraan pribadi. Ahh, sudahlah. Ayo, Glo!”
ooOoo
Anjani menghela napas panjang. Bahkan di saat seperti
ini orang tuanya sama sekali tidak menyusul ke bandara. Meski ia mengatakan
bisa pergi sendiri, bukan berarti ia tidak mau ditunggui sebelum berangkat.
Sepertinya orang-orang selalu menyalahartikan perkataannya.
Belum lagi masalahnya dengan Andani. Semalam ia
benar-benar kelepasan. Tapi ia tak mau disalahkan sepenuhnya. Toh Andani duluan yang memulai, makanya
dari dulu ia suka menghindar kalau saudarinya itu bertanya mengenai masalah di
antara mereka berdua, karena ia bisa kelepasan dan akhirnya malah menghancurkan
semuanya. Ia memang tak menyukai Andani, tapi ia juga tak mau menyakiti gadis
itu. Sayang, semuanya telah terjadi.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.30. Anjani harus segera
masuk boarding room. Baru saja ia mau
menggeret tasnya, tiba-tiba saja ia melihat seorang wanita dengan jumpsuit putih berjalan ke arahnya.
Wanita itu membuka tersenyum seraya membuka kacamatanya.
“ Miss Tifa?
Miss, sedang apa di sini? Bukannya Miss harus ikut rombongan.”
“ Ya, benar, tapi rasanya tidak adil kalau kamu
berangkat sendirian,” ujar Tifa. “Makanya kami datang ke sini untuk
mengantarmu.”
Alis Anjani sedikit terangkat. Ia merasa heran dengan
kata ‘kami’ yang diucapkan Tifa. Padahal wanita itu datang sendirian tapi
kenapa menyebut dirinya dengan kata ganti orang kedua jamak.
Tifa sedikit bergeser. Ternyata di belakangnya sudah
ada Andani yang mengekor. Anjani cukup kaget melihat saudarinya-lah yang justru
datang untuk mengantar. Sejenak ia merasa heran melihat wajah Andani yang
tampak pucat.
“ Saat saya ajak dia untuk mengantarmu dia bilang
setuju. Nah, ada baiknya kalian ngobrol sebentar sebelum pesawatnya berangkat.”
Tifa memberikan kesempatan untuk keduanya saling
bertukar sapa. Namun, mereka justru terlihat sangat kaku.
“ An, kok kamu pucat? Kamu baik-baik aja?”
Andani berdeham, “ Sebelumnya baik, tapi setelah naik
mobil Miss Tifa aku jadi kurang baik.
Brrr… aku gak mau naik dua kali.”
Tifa hampir tertawa terbahak-bahak. Ia ingat bagaimana
reaksi gadis itu saat naik di mobilnya.
“ Umm, Jane. Tentang yang semalam―”
“ Oh, please.
Aku memang jujur, tapi maaf kalau sudah menyakitimu. Aku selalu tahan untuk bilang
itu karena aku merasa kamu bakal sedih kalau mendengarnya.”
“ Kurasa itu ide yang terbaik,” Andani tersenyum
kecil. “ Selama ini aku selalu merasa kalau kamu itu seperti tengah berakting
di depanku. Pura-pura gak ada masalah, pura-pura gak marah, tapi sebenarnya
kamu menyimpan rapi semua emosi kamu. Memang menyakitkan, tapi itulah dirimu.
Aku senang kamu bisa jujur pada dirimu sendiri.”
Anjani menarik napas panjang, “ Kamu… kamu gak benci
sama aku?”
“ Siapa bilang?” Andani mengangkat bahunya. “ Aku bahkan
ingin menamparmu.”
Sudut bibir Anjani tertarik. Mereka tersenyum kemudian
tertawa.
“ Baiklah, semoga sukses dengan perlombaanmu,” ujar
Andani seraya mengulurkan tangan.
“ Kamu juga. Semoga pementasannya sukses.”
Keduanya hanya berjabat tangan. Sejujurnya Anjani
bingung ia harus memeluk saudarinya atau jabat tangan ini sudah mewakili
segalanya. Padahal mereka akan berpisah dalam kurun waktu yang lama.
“ Good luck for
you, dan jangan sampai tereleminasi ya,” ujar Tifa.
Anjani tersenyum, “ Sure. Aku juga berharap pementasan kalian dihadiri satu juta
penonton.”
Tifa tertawa lepas. Momen yang hangat itu segera usai
kala waktu keberangkatan Anjani semakin dekat. Gadis itu pun mengucapkan salam
terakhirnya.
“ Aku pergi dulu. Salam buat yang lain.”
Anjani melambai kaku pada saudarinya. Meski begitu
Andani tetap membalasnya dengan lambaian hangatnya. Begitu sosok Anjani lenyap,
ada seringai usil terukir di wajah Tifa. Ia melirik Andani yang ada di
sebelahnya.
“ Maaf, Andani, tapi sepertinya kamu harus naik
mobilku untuk yang kedua kalinya.”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar