Musikal
33
Latihan
dimulai pukul tiga sore setelah para siswa pulang sekolah. Tifa mempersilakan
mereka untuk istirahat sejenak, makan, atau berganti pakaian. Ia juga tidak mau
para anggotanya pingsan saat latihan.
Mereka
masih tertawa-tawa sesaat sebelum latihan. Wajah mereka juga terlihat begitu
bersemangat untuk memulai latihan. Tifa hanya bisa menyeringai melihat
bagaimana kebahagiaan mereka akan terenggut sebentar lagi.
‘ Huh, mereka belum tahu
saja.’
Tifa
memang tidak main-main. Latihan semi militer yang pernah ia katakan tempo hari
memang benar-benar ia lakukan. Setelah ia mengumpulkan semua anggota dan
mengisi daftar hadir, ia pu segera memulai latihan. Begitu suara peluit
dilantangkan, semua anggota ia perintahkan untuk jogging memutar di dalam
gedung teater.
Lima
menit berlalu, Tifa menyuruh mereka berhenti berlari. Tidak berhenti
sepenuhnya, tapi mereka hanya berjalan seperti biasa dan masih mengelilingi
bagian dalam gedung. Ternyata tak hanya jalan biasa yang ia perintahkan, Tifa
juga menyuruh mereka berjalan dengan kaki bagian dalam, kaki bagian luar,
dengan tumit, dan juga jalan jinjit.
Akhirnya,
Tifa benar-benar menyuruh mereka berhenti. Selanjutnya, Tifa menyuruh mereka
pemanasan seperti akan berolahraga. Mulai dari kepala hingga kaki, dari gerakan
statis hingga dinamis, dan dari gerakan senam dasar hingga senam lantai. Semua
gerakan itu Tifa yang memimpin.
Tidak
terasa pemanasan tersebut sudah memakan waktu hampir 30 menit. Mereka sudah
mulai kelelahan. Napas mereka sudah ngos-ngosan, peluh mengalir deras, bahkan
mereka yang berkulit putih sudah berganti kulit menjadi kemerahan. Namun,
pemanasan tak hanya untuk tubuh, tapi suara dan konsetrasi juga. Tifa segera
memberi aba-aba untuk kembali bersiap olah vokal.
Olah
vokal yang dilakukan ternyata bermacam-macam. Selain melantangkan huruf vokal
keras-keras, mereka juga disuruh mendesis, bergumam, atau mengukur kekuatan
vokal mereka dengan menyebutkan huruf vokal dari bergumam hingga suara yang
paling keras.
Kemudian
Tifa menguji tingkat konsentrasi mereka. Tifa melakukan permainan huruf vokal.
Mereka harus mengucapkan huruf vokal bergantian tetapi di antara mereka ada
yang harus diam, sehingga hal itu mengacaukan konsentrasi. Permainan ini
ternyata bisa mengembalikan tawa dan keceriaan mereka, karena banyak siswa yang
salah mengucapkan huruf atau mereka yang seharusnya diam malah bicara.
Lima
belas menit pun berlalu. Tak ada yang paling disyukuri para siswa selain ketika
Tifa menyuruh mereka untuk beristirahat. Meski hanya lima menit, tapi mereka
gunakan waktu yang ada untuk mengembalikan kesegaran tubuh.
Tifa
hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tertawa melihat semua anggota hampir
mati kelelahan. Riani dan Gloria hanya bisa mengurut dada. Mereka hanya ikut
separuh pemanasan fisik. Keduanya sadar kalau tenaga mereka tidak sekuat 10
tahun lalu.
“
Ini hari pertama, dan kamu sudah membuat mereka knock out, Tif,” ujar Riani. “Kalau mereka malah mau keluar gimana
coba?”
“
Itu artinya mereka pecundang,” Tifa terkekeh. “ Ah, tenang saja. Dua minggu
latihan seperti ini, mereka akan terbiasa kok.”
“
Aku harap mereka belum tewas sampai batas waktunya,” sahut Gloria. Tifa pun
menyambutnya dengan tawa.
“
Tidak akan. Aku sudah memeriksa mereka, dan menurutku diantara mereka tidak ada
yang memiliki riwayat penyakit dalam,” ujar Tifa. “ Toh, kalian masih bisa hidup
sampai sepuluh tahun kemudian setelah
mengalami penderitaan yang sama dengan mereka.”
Tifa
tersenyum saat melihat Riani dan Gloria tidak membantah lagi. Ia melirik
arlojinya, sudah lima menit berlalu. Ia pun kembali meniup peluit dan
menginstruksikan mereka untuk berkumpul membentuk lingkaran.
“
Baik, anak-anak. Pemanasan kita sudah usai dan sekarang kita akan mulai latihan
sesungguhnya. Silakan kalian berkumpul dengan pelatih sesuai dengan tim kalian
masing-masing!
ooOoo
“
Huaaah, Miss Tifa benar-benar gila!
Aku mau mati saja rasanya.”
Ben
bukan orang pertama yang mengeluhkan porsi latihan mereka. Semua anggota merasa
latihan ini sangat berat dan sangat keterlaluan. Sudah capek fisik, mereka juga
harus capek mental, karena sepanjang latihan mereka harus siap diteriaki dan
dimarahi jika berbuat kesalahan.
“
Aku tidak tahu apakah aku masih sanggup bertahan sampai pementasan nanti,”
sahut Anjani seraya mengguyurkan air ke kepalanya.
“
Setidaknya kalian tidak harus gerak fisik lagi setelah pemanasan,” ujar Wenda.
“Apalagi harus menerima sikap diskriminasi di sini.”
“
Diskriminasi? Maksudmu?” tanya Anjani.
“
Yaah, Jane. Kurasa kamu benar kalau ada perlakuan yang tidak adil di sini.
Mungkin kita memang hanya dijadikan pemanis dalam pementasan ini.”
Anjani
dan teman-temannya semakin bingung dengan kata-kata Wenda. Namun, mereka tak
berani bertanya lebih jauh. Di sisi lain, Ririn dan Andani yang baru saja akan
menyapa mereka pun jadi mengurungkan niat. Kedua gadis itu akan merasa canggung
bila Wenda mulai bicara tentang rasis sekolah.
“
Kita tidak usah ke sana, Rin. Sepertinya kita akan menjadi bulan-bulanan mereka
saja nanti.”
Ririn
mengangguk, “ Tapi menurutmu Wenda kenapa ya? Apa ada yang diantara kita yang
membully dia?”
“
Entahlah, tapi kurasa kita langsung pulang saja.”
Ririn
menurut. Mereka berdua langsung pulang dan seolah tidak mendengar apa-apa.
Keduanya sempat berpapasan dengan Alexi yang sedang melepas kunci sepedanya.
Mereka hanya bertukar senyum dan langsung meninggalkan tempat itu. Keadaan
seperti ini membuat suasana menjadi tidak nyaman.
‘Ahh, ada apa lagi dengan
kedua sekolah ini?’
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar