Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 33)



Musikal 33



Latihan dimulai pukul tiga sore setelah para siswa pulang sekolah. Tifa mempersilakan mereka untuk istirahat sejenak, makan, atau berganti pakaian. Ia juga tidak mau para anggotanya pingsan saat latihan.

Mereka masih tertawa-tawa sesaat sebelum latihan. Wajah mereka juga terlihat begitu bersemangat untuk memulai latihan. Tifa hanya bisa menyeringai melihat bagaimana kebahagiaan mereka akan terenggut sebentar lagi.

‘ Huh, mereka belum tahu saja.’

Tifa memang tidak main-main. Latihan semi militer yang pernah ia katakan tempo hari memang benar-benar ia lakukan. Setelah ia mengumpulkan semua anggota dan mengisi daftar hadir, ia pu segera memulai latihan. Begitu suara peluit dilantangkan, semua anggota ia perintahkan untuk jogging memutar di dalam gedung teater.

Lima menit berlalu, Tifa menyuruh mereka berhenti berlari. Tidak berhenti sepenuhnya, tapi mereka hanya berjalan seperti biasa dan masih mengelilingi bagian dalam gedung. Ternyata tak hanya jalan biasa yang ia perintahkan, Tifa juga menyuruh mereka berjalan dengan kaki bagian dalam, kaki bagian luar, dengan tumit, dan juga jalan jinjit.

Akhirnya, Tifa benar-benar menyuruh mereka berhenti. Selanjutnya, Tifa menyuruh mereka pemanasan seperti akan berolahraga. Mulai dari kepala hingga kaki, dari gerakan statis hingga dinamis, dan dari gerakan senam dasar hingga senam lantai. Semua gerakan itu Tifa yang memimpin.

Tidak terasa pemanasan tersebut sudah memakan waktu hampir 30 menit. Mereka sudah mulai kelelahan. Napas mereka sudah ngos-ngosan, peluh mengalir deras, bahkan mereka yang berkulit putih sudah berganti kulit menjadi kemerahan. Namun, pemanasan tak hanya untuk tubuh, tapi suara dan konsetrasi juga. Tifa segera memberi aba-aba untuk kembali bersiap olah vokal.

Olah vokal yang dilakukan ternyata bermacam-macam. Selain melantangkan huruf vokal keras-keras, mereka juga disuruh mendesis, bergumam, atau mengukur kekuatan vokal mereka dengan menyebutkan huruf vokal dari bergumam hingga suara yang paling keras.

Kemudian Tifa menguji tingkat konsentrasi mereka. Tifa melakukan permainan huruf vokal. Mereka harus mengucapkan huruf vokal bergantian tetapi di antara mereka ada yang harus diam, sehingga hal itu mengacaukan konsentrasi. Permainan ini ternyata bisa mengembalikan tawa dan keceriaan mereka, karena banyak siswa yang salah mengucapkan huruf atau mereka yang seharusnya diam malah bicara.

Lima belas menit pun berlalu. Tak ada yang paling disyukuri para siswa selain ketika Tifa menyuruh mereka untuk beristirahat. Meski hanya lima menit, tapi mereka gunakan waktu yang ada untuk mengembalikan kesegaran tubuh.

Tifa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tertawa melihat semua anggota hampir mati kelelahan. Riani dan Gloria hanya bisa mengurut dada. Mereka hanya ikut separuh pemanasan fisik. Keduanya sadar kalau tenaga mereka tidak sekuat 10 tahun lalu.

“ Ini hari pertama, dan kamu sudah membuat mereka knock out, Tif,” ujar Riani. “Kalau mereka malah mau keluar gimana coba?”

“ Itu artinya mereka pecundang,” Tifa terkekeh. “ Ah, tenang saja. Dua minggu latihan seperti ini, mereka akan terbiasa kok.”

“ Aku harap mereka belum tewas sampai batas waktunya,” sahut Gloria. Tifa pun menyambutnya dengan tawa.

“ Tidak akan. Aku sudah memeriksa mereka, dan menurutku diantara mereka tidak ada yang memiliki riwayat penyakit dalam,” ujar Tifa. “ Toh, kalian masih bisa hidup sampai sepuluh tahun kemudian setelah mengalami penderitaan yang sama dengan mereka.”

Tifa tersenyum saat melihat Riani dan Gloria tidak membantah lagi. Ia melirik arlojinya, sudah lima menit berlalu. Ia pun kembali meniup peluit dan menginstruksikan mereka untuk berkumpul membentuk lingkaran.

“ Baik, anak-anak. Pemanasan kita sudah usai dan sekarang kita akan mulai latihan sesungguhnya. Silakan kalian berkumpul dengan pelatih sesuai dengan tim kalian masing-masing!

ooOoo

“ Huaaah, Miss Tifa benar-benar gila! Aku mau mati saja rasanya.”

Ben bukan orang pertama yang mengeluhkan porsi latihan mereka. Semua anggota merasa latihan ini sangat berat dan sangat keterlaluan. Sudah capek fisik, mereka juga harus capek mental, karena sepanjang latihan mereka harus siap diteriaki dan dimarahi jika berbuat kesalahan.

“ Aku tidak tahu apakah aku masih sanggup bertahan sampai pementasan nanti,” sahut Anjani seraya mengguyurkan air ke kepalanya.

“ Setidaknya kalian tidak harus gerak fisik lagi setelah pemanasan,” ujar Wenda. “Apalagi harus menerima sikap diskriminasi di sini.”

“ Diskriminasi? Maksudmu?” tanya Anjani.

“ Yaah, Jane. Kurasa kamu benar kalau ada perlakuan yang tidak adil di sini. Mungkin kita memang hanya dijadikan pemanis dalam pementasan ini.”

Anjani dan teman-temannya semakin bingung dengan kata-kata Wenda. Namun, mereka tak berani bertanya lebih jauh. Di sisi lain, Ririn dan Andani yang baru saja akan menyapa mereka pun jadi mengurungkan niat. Kedua gadis itu akan merasa canggung bila Wenda mulai bicara tentang rasis sekolah.

“ Kita tidak usah ke sana, Rin. Sepertinya kita akan menjadi bulan-bulanan mereka saja nanti.”

Ririn mengangguk, “ Tapi menurutmu Wenda kenapa ya? Apa ada yang diantara kita yang membully dia?”

“ Entahlah, tapi kurasa kita langsung pulang saja.”

Ririn menurut. Mereka berdua langsung pulang dan seolah tidak mendengar apa-apa. Keduanya sempat berpapasan dengan Alexi yang sedang melepas kunci sepedanya. Mereka hanya bertukar senyum dan langsung meninggalkan tempat itu. Keadaan seperti ini membuat suasana menjadi tidak nyaman.

‘Ahh, ada apa lagi dengan kedua sekolah ini?’


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar