Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 35)



Musikal 35


Mata Wenda otomatis teralih ketika sosok laki-laki berkacamata itu masuk ke kelas. Lengkap dengan masker N95 yang menutup hampir ¾ wajahnya. Wenda sangat menyayangkan kenapa wajah setampan artis Korea itu harus ditutupi-tutupi.

“ Gimana motormu?”

Wenda terkesiap. Ia tak menyangka kalau Alexi sengaja berhenti di hadapannya. Ia berdeham supaya tidak salah tingkah.

“ Hmm, iya, baru mau dicek hari ini.”

“ Motormu rusak, Wen?” tanya Ben yang sengaja mencuri dengar percakapan mereka. “ Kok gak bilang-bilang?”

“ Ah, i—iya. Mendadak kok rusaknya. Kemarin malam pas pulang latihan. Untung ditolongin sama Al.”

Ben menatap Alexi sekilas, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“ Makasih yah buat semalam,” ujar Wenda.

“ Sama-sama. Semoga rusaknya gak parah.”

Alexi pun berlalu. Wenda sangat menyayangkan kenapa percakapan di antara mereka terlalu singkat. Malah Alexi sekarang terlihat asyik mengobrol dengan gadis berambut ikal yang duduk di belakangnya. Padahal masih banyak yang ingin katakan pada laki-laki itu. Andai dia bisa bertukar tempat dengan gadis itu.

‘ Hei, aku ini mikir apa sih?’

“ Hei, kurasa kita harus ke kafe hari ini juga,” suara Ben memecahkan lamunan Wenda. “ Kita harus bilang sama bos.”

Wenda baru ingat kalau tadi ia dan ketiga temannya sedang membicarakan tentang pekerjaan sampingan mereka. Ia dan teman-temannya sepakat untuk resign karena jadwal latihan yang sangat menguras energi. Mereka tak sanggup bila malam harinya masih harus bekerja di kafe, belum lagi esoknya mereka harus sekolah.

“ Iya, aku gak sanggup kalau masih harus bekerja,” sahut Kemal. “ Badanku bisa rontok.”

“ Sepakat! Pulang sekolah kita ke sana,” ujar Anjani.

Wenda hanya ikut mengiyakan, tapi pikirannya masih fokus pada laki-laki yang duduk di seberang mejanya. Sesekali ia melirik laki-laki itu. Berharap laki-laki bisa melempar sedikit senyuman padanya.

‘ Apa aku terpesona pada laki-laki itu ya?’

ooOoo

“ Sama-sama. Semoga rusaknya gak parah.”

Gadis berhidung mancung itu mengangguk. Alexi pun beranjak menuju tempat duduknya saat gadis itu sudah kembali berkumpul dengan teman-temannya. Baru saja ia menaruh tasnya di kursi, matanya sudah bertemu dengan si gadis berambut ikal yang sedang membaca novel.

“ Pagi!” sapa Alexi.

“ Pa-pagi juga,” balasnya seraya kembali menenggelamkan pandangannya di balik lembaran novel itu.

Alexi gemas dengan perempuan ini. Tiap kali bertemu, gadis itu tak pernah lepas dari buku. Bahkan di sela-sela latihan yang menghabiskan seluruh energi, ia masih sempatkan untuk membaca beberapa baris dari buku yang ia bawa.

Alexi menurunkan buku yang sedang dibaca oleh gadis itu. Mata mereka kembali bertemu. Alexi ingin tertawa saat melihat kedua bola mata gadis itu kian membulat. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dan bingung.

“ Novel apa sih? Tebal amat?”

Ririn tersenyum, “ Anak Semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer. Sekuel kedua dari tetralogi Buru,” ia menyelipkan sebuah pembatas buku sebelum menutupnya. “ Pernah baca?”

“ Nggak. Aku nggak tertarik dengan sastra.”

“ Loh, tapi setiap kali ke toko buku aku ketemu kamu. Memangnya kamu suka buku apa?”

Alexi tertawa kecil, “ Aku cari buku tentang musik. Aku lebih suka menambah wawasanku di bidang yang sedang aku tekuni. Oh ya, kamu suka banget baca ya. Rasanya tiap ketemu kamu lagi pacaran aja sama buku.”

Giliran Ririn yang tertawa, “ Mungkin karena Papaku. Beliau itu seorang jurnalis, dan suka banget membaca. Tiap kali pulang dari tugas, oleh-olehnya pasti buku. Makanya jangan heran koleksi buku aku lebih banyak dari buku di perpustakaan.”

Keduanya sama-sama tertawa.

“ Kamu mau jadi jurnalis juga kayak Papamu?”

Ririn mengangkat bahunya, “ Begitulah. Aku sempat ikut klub Koran di sekolah ini, tapi sudah berhenti lantaran harus latihan untuk pementasan ini.”

“ Begitu ya. Mungkin kita sama,” ujar Alexi. Nada bicaranya tiba-tiba berubah sendu, “ Papaku juga seorang pemusik. Hanya saja―”

Belum sempat Alexi menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba guru matematika mereka keburu masuk. Alexi langsung memutar tubuhnya dan tak berniat meneruskan ceritanya. Meski masih penasaran, tapi Ririn berusaha meredam rasa ingin tahunya. Mungkin suatu saat nanti akan ia tanyakan lagi.

ooOoo

Ada waktu? Kita makan siang bersama ya.
-Adrian-

Mana mungkin Fi tidak punya waktu untuk sang pangeran. Ia tersenyum sendiri saat membaca pesan singkat dari Adrian. Rasanya ia ingin sekali menekan bel pulang dan segera berlari menyambut sang pangeran.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Tanpa mengindahkan keberadaan Priyanka, ia langsung melesat menuju halaman parkir. Untung temannya ini pengertian. Ia sudah tahu kalau Fi sedang berurusan dengan Adrian, dunia akan terlupakan.

Hari ini Adrian mengenakan kaus bewarna hijau dengan lengan ¾. Celana khaki yang senada dengan warna rambutnya. Dia begitu tampan. Ah tidak, bagi Fi apapun yang dikenakan pria itu akan selalu keren dan tampan.

Fi memasang senyum terbaiknya, “ Hai!”

“ Hai juga,” Adrian tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk gadis itu, kemudian mengambil alih di kursi kemudi.

“ Gimana? Capek latihan kemarin?” tanya Adrian setelah mobil yang ia kendarai keluar dari pintu gerbang sekolah.

“ Lumayan, tapi aku gak kaget kok,” ujar Fi. “ Toh, waktu kita di sanggar dulu juga gitu.”

Adrian mengangguk. Obrolan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya Adrian memarkir mobilnya di parkiran sebuah rumah makan.

“ Tumben ngajak makan,” Fi mencoba menggoda Adrian. “ Gak ada maksud lain apa?”

“ Hmm, gimana yah?” Adrian terkekeh sambil menyeruput es jeruknya. “ Kalau aku bilang kangen kamu, gimana?”

Hampir saja Fi menjatuhkan sendok yang ia pegang. Ia tatap Adrian dengan matanya yang semakin membulat. Ia bahkan tak sadar kalau mulutnya menganga lebar.

‘ Aku tidak salah dengar’kan?’

“ Fi? Fi?” Adrian melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. “ Are you okay?”

Fi mencoba kembali pada kesadarannya, “ Well, kamu bilang kamu kangen sama aku?”

“ Aku tahu kita baru saja bertemu kemarin, dan rasanya tidak masuk akal bila aku bilang kangen sekarang. Tapi menurutmu apa tidak boleh?”

‘ Boleh bangeeeeet!’ inner Fi berteriak kencang, sementara dirinya mencoba untuk tetap cool.

“ Yaah, gak ada yang larang kok.”

Adrian kembali tertawa kecil, “ Ya, sebenarnya aku juga ada maksud lain mengajakmu ke sini.”

“ Gak masalah selama kamu gak berniat membawa aku ke penadah organ tubuh.”

Kali ini tawa Adrian benar-benar pecah, “ Astaga, Fi. Kamu pikir aku psikopat apa?” Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Aku cuma mau minta temani kamu beli kasur buat tanteku.”

“ Kasur? Tantemu?” seketika ekspresi Fi berubah drastis. “ Miss Tifa maksudmu?”

“ Iya, dia itu aneh banget. Masa di apartemennya cuma ada sofa dan meja. Aku sendiri heran. Tanteku ini malas, aneh, atau bagaimana sih? Kok bisa-bisanya dia hidup seperti itu.”

“ Loh, Miss Tifa gak tinggal bareng kamu?”

“ Dia ada masalahnya dengan Ibunya. Nenekku,” ujar Adrian kalem. “ Mana hidupnya selalu sendiri lagi. Kasihan gak ada yang merhatiin dia. Kalau bukan aku siapa lagi.”

Fi mengangkat bahunya, “ Dia benar-benar orang aneh. Hmm, okelah, nanti aku temani kamu beli kasur spesial buat Tantemu itu.”

Selepas menyantap makan siang, keduanya pun pergi toko yang menjual barang-barang rumah tangga. Setelah cukup lama memilih dan mempertimbangkan, akhirnya sebuah kasur ukuran single pun dibeli. Adrian memilih warna merah, karena Tifa memang memiliki kecenderungan pada warna itu. Ia meminta jasa kurir untuk mengantarkan ke apartemen Tifa. Biarkan saja Tante nyentrik itu kerepotan mendorong-dorong kasur di kamarnya.

Tak terasa hari pun beranjak malam. Mereka pun menuju perjalanan pulang. Tentu saja, Adrian lebih dulu mengantarkan Fi sampai ke rumahnya.

“ Makasih ya, udah traktir. Diantar pulang pula,” ujar Fi saat ia sudah Adrian mengantarnya sampai di depan pagar.

“ Aku kali yang makasih. Hari ini kamu udah mau nemenin aku muter-muter toko cuma mau nyari kasur.”

Fi hanya tertawa kecil. Sesaat kemudian terjadilah momen canggung di antara merekea berdua. Fi menjadi heran, kenapa Adrian tidak langsung mengucapkan salam perpisahan lalu pergi, dengan begitu mereka tidak akan salah tingkah seperti ini.

Namun, Fi kaget ketika Adrian tiba-tiba memegang pundaknya. Laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya. Spontan, Fi memejamkan matanya. Ia merasa kalau ia dan laki-laki akan berciuman.

“ Selamat malam.”

Ternyata tidak. Adrian hanya mendekatkan bibirnya pada telinga Fi. Namun, tetap saja. Jarak Adrian terlalu dekat jika hanya untuk mengucapkan selamat malam. Belum lagi desah napasnya yang menggelitik. Fi dibuat terpaku oleh aksi laki-laki itu.

Ia bahkan masih terpana meski Adrian sudah menyalakan mobilnya. Barulah ia sadar saat knalpot mobil Adrian menyemprotkan asapnya. Sial, ia jadi kehilangan kendali atas alam bawah sadarnya.

Fi menggerutu, tapi tak pernah ia sesali.


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar