Musikal 35
Mata Wenda otomatis teralih ketika sosok laki-laki
berkacamata itu masuk ke kelas. Lengkap dengan masker N95 yang menutup hampir ¾
wajahnya. Wenda sangat menyayangkan kenapa wajah setampan artis Korea itu harus
ditutupi-tutupi.
“ Gimana motormu?”
Wenda terkesiap. Ia tak menyangka kalau Alexi sengaja
berhenti di hadapannya. Ia berdeham supaya tidak salah tingkah.
“ Hmm, iya, baru mau dicek hari ini.”
“ Motormu rusak, Wen?” tanya Ben yang sengaja mencuri
dengar percakapan mereka. “ Kok gak bilang-bilang?”
“ Ah, i—iya. Mendadak kok rusaknya. Kemarin malam pas
pulang latihan. Untung ditolongin sama Al.”
Ben menatap Alexi sekilas, lalu mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“ Makasih yah buat semalam,” ujar Wenda.
“ Sama-sama. Semoga rusaknya gak parah.”
Alexi pun berlalu. Wenda sangat menyayangkan kenapa
percakapan di antara mereka terlalu singkat. Malah Alexi sekarang terlihat asyik
mengobrol dengan gadis berambut ikal yang duduk di belakangnya. Padahal masih
banyak yang ingin katakan pada laki-laki itu. Andai dia bisa bertukar tempat
dengan gadis itu.
‘ Hei, aku ini
mikir apa sih?’
“ Hei, kurasa kita harus ke kafe hari ini juga,” suara
Ben memecahkan lamunan Wenda. “ Kita harus bilang sama bos.”
Wenda baru ingat kalau tadi ia dan ketiga temannya
sedang membicarakan tentang pekerjaan sampingan mereka. Ia dan teman-temannya
sepakat untuk resign karena jadwal
latihan yang sangat menguras energi. Mereka tak sanggup bila malam harinya
masih harus bekerja di kafe, belum lagi esoknya mereka harus sekolah.
“ Iya, aku gak sanggup kalau masih harus bekerja,”
sahut Kemal. “ Badanku bisa rontok.”
“ Sepakat! Pulang sekolah kita ke sana,” ujar Anjani.
Wenda hanya ikut mengiyakan, tapi pikirannya masih
fokus pada laki-laki yang duduk di seberang mejanya. Sesekali ia melirik
laki-laki itu. Berharap laki-laki bisa melempar sedikit senyuman padanya.
‘ Apa aku
terpesona pada laki-laki itu ya?’
ooOoo
“ Sama-sama. Semoga rusaknya gak parah.”
Gadis berhidung mancung itu mengangguk. Alexi pun
beranjak menuju tempat duduknya saat gadis itu sudah kembali berkumpul dengan
teman-temannya. Baru saja ia menaruh tasnya di kursi, matanya sudah bertemu
dengan si gadis berambut ikal yang sedang membaca novel.
“ Pagi!” sapa Alexi.
“ Pa-pagi juga,” balasnya seraya kembali
menenggelamkan pandangannya di balik lembaran novel itu.
Alexi gemas dengan perempuan ini. Tiap kali bertemu,
gadis itu tak pernah lepas dari buku. Bahkan di sela-sela latihan yang
menghabiskan seluruh energi, ia masih sempatkan untuk membaca beberapa baris
dari buku yang ia bawa.
Alexi menurunkan buku yang sedang dibaca oleh gadis
itu. Mata mereka kembali bertemu. Alexi ingin tertawa saat melihat kedua bola
mata gadis itu kian membulat. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dan
bingung.
“ Novel apa sih? Tebal amat?”
Ririn tersenyum, “ Anak
Semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer. Sekuel kedua dari tetralogi Buru,” ia menyelipkan sebuah pembatas
buku sebelum menutupnya. “ Pernah baca?”
“ Nggak. Aku nggak tertarik dengan sastra.”
“ Loh, tapi setiap kali ke toko buku aku ketemu kamu.
Memangnya kamu suka buku apa?”
Alexi tertawa kecil, “ Aku cari buku tentang musik. Aku
lebih suka menambah wawasanku di bidang yang sedang aku tekuni. Oh ya, kamu
suka banget baca ya. Rasanya tiap ketemu kamu lagi pacaran aja sama buku.”
Giliran Ririn yang tertawa, “ Mungkin karena Papaku.
Beliau itu seorang jurnalis, dan suka banget membaca. Tiap kali pulang dari
tugas, oleh-olehnya pasti buku. Makanya jangan heran koleksi buku aku lebih
banyak dari buku di perpustakaan.”
Keduanya sama-sama tertawa.
“ Kamu mau jadi jurnalis juga kayak Papamu?”
Ririn mengangkat bahunya, “ Begitulah. Aku sempat ikut
klub Koran di sekolah ini, tapi sudah berhenti lantaran harus latihan untuk
pementasan ini.”
“ Begitu ya. Mungkin kita sama,” ujar Alexi. Nada
bicaranya tiba-tiba berubah sendu, “ Papaku juga seorang pemusik. Hanya saja―”
Belum sempat Alexi menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba
guru matematika mereka keburu masuk. Alexi langsung memutar tubuhnya dan tak
berniat meneruskan ceritanya. Meski masih penasaran, tapi Ririn berusaha
meredam rasa ingin tahunya. Mungkin suatu saat nanti akan ia tanyakan lagi.
ooOoo
Ada waktu? Kita
makan siang bersama ya.
-Adrian-
Mana mungkin Fi tidak punya waktu untuk sang pangeran.
Ia tersenyum sendiri saat membaca pesan singkat dari Adrian. Rasanya ia ingin
sekali menekan bel pulang dan segera berlari menyambut sang pangeran.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Tanpa mengindahkan
keberadaan Priyanka, ia langsung melesat menuju halaman parkir. Untung temannya
ini pengertian. Ia sudah tahu kalau Fi sedang berurusan dengan Adrian, dunia
akan terlupakan.
Hari ini Adrian mengenakan kaus bewarna hijau dengan
lengan ¾. Celana khaki yang senada dengan warna rambutnya. Dia begitu tampan.
Ah tidak, bagi Fi apapun yang dikenakan pria itu akan selalu keren dan tampan.
Fi memasang senyum terbaiknya, “ Hai!”
“ Hai juga,” Adrian tersenyum lalu membukakan pintu
mobil untuk gadis itu, kemudian mengambil alih di kursi kemudi.
“ Gimana? Capek latihan kemarin?” tanya Adrian setelah
mobil yang ia kendarai keluar dari pintu gerbang sekolah.
“ Lumayan, tapi aku gak kaget kok,” ujar Fi. “ Toh, waktu kita di sanggar dulu juga
gitu.”
Adrian mengangguk. Obrolan mereka terus berlanjut,
hingga akhirnya Adrian memarkir mobilnya di parkiran sebuah rumah makan.
“ Tumben ngajak makan,” Fi mencoba menggoda Adrian. “
Gak ada maksud lain apa?”
“ Hmm, gimana yah?” Adrian terkekeh sambil menyeruput
es jeruknya. “ Kalau aku bilang kangen kamu, gimana?”
Hampir saja Fi menjatuhkan sendok yang ia pegang. Ia
tatap Adrian dengan matanya yang semakin membulat. Ia bahkan tak sadar kalau
mulutnya menganga lebar.
‘ Aku tidak
salah dengar’kan?’
“ Fi? Fi?” Adrian melambai-lambaikan tangannya di
depan wajah gadis itu. “ Are you okay?”
Fi mencoba kembali pada kesadarannya, “ Well, kamu bilang kamu kangen sama aku?”
“ Aku tahu kita baru saja bertemu kemarin, dan rasanya
tidak masuk akal bila aku bilang kangen sekarang. Tapi menurutmu apa tidak
boleh?”
‘ Boleh
bangeeeeet!’ inner Fi berteriak
kencang, sementara dirinya mencoba untuk tetap cool.
“ Yaah, gak ada yang larang kok.”
Adrian kembali tertawa kecil, “ Ya, sebenarnya aku
juga ada maksud lain mengajakmu ke sini.”
“ Gak masalah selama kamu gak berniat membawa aku ke
penadah organ tubuh.”
Kali ini tawa Adrian benar-benar pecah, “ Astaga, Fi.
Kamu pikir aku psikopat apa?” Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Aku cuma
mau minta temani kamu beli kasur buat tanteku.”
“ Kasur? Tantemu?” seketika ekspresi Fi berubah
drastis. “ Miss Tifa maksudmu?”
“ Iya, dia itu aneh banget. Masa di apartemennya cuma
ada sofa dan meja. Aku sendiri heran. Tanteku ini malas, aneh, atau bagaimana
sih? Kok bisa-bisanya dia hidup seperti itu.”
“ Loh, Miss Tifa
gak tinggal bareng kamu?”
“ Dia ada masalahnya dengan Ibunya. Nenekku,” ujar
Adrian kalem. “ Mana hidupnya selalu sendiri lagi. Kasihan gak ada yang
merhatiin dia. Kalau bukan aku siapa lagi.”
Fi mengangkat bahunya, “ Dia benar-benar orang aneh.
Hmm, okelah, nanti aku temani kamu beli kasur spesial buat Tantemu itu.”
Selepas menyantap makan siang, keduanya pun pergi toko
yang menjual barang-barang rumah tangga. Setelah cukup lama memilih dan
mempertimbangkan, akhirnya sebuah kasur ukuran single pun dibeli. Adrian
memilih warna merah, karena Tifa memang memiliki kecenderungan pada warna itu.
Ia meminta jasa kurir untuk mengantarkan ke apartemen Tifa. Biarkan saja Tante
nyentrik itu kerepotan mendorong-dorong kasur di kamarnya.
Tak terasa hari pun beranjak malam. Mereka pun menuju
perjalanan pulang. Tentu saja, Adrian lebih dulu mengantarkan Fi sampai ke
rumahnya.
“ Makasih ya, udah traktir. Diantar pulang pula,” ujar
Fi saat ia sudah Adrian mengantarnya sampai di depan pagar.
“ Aku kali yang makasih. Hari ini kamu udah mau
nemenin aku muter-muter toko cuma mau nyari kasur.”
Fi hanya tertawa kecil. Sesaat kemudian terjadilah
momen canggung di antara merekea berdua. Fi menjadi heran, kenapa Adrian tidak
langsung mengucapkan salam perpisahan lalu pergi, dengan begitu mereka tidak
akan salah tingkah seperti ini.
Namun, Fi kaget ketika Adrian tiba-tiba memegang
pundaknya. Laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya. Spontan, Fi memejamkan
matanya. Ia merasa kalau ia dan laki-laki akan berciuman.
“ Selamat malam.”
Ternyata tidak. Adrian hanya mendekatkan bibirnya pada
telinga Fi. Namun, tetap saja. Jarak Adrian terlalu dekat jika hanya untuk
mengucapkan selamat malam. Belum lagi desah napasnya yang menggelitik. Fi
dibuat terpaku oleh aksi laki-laki itu.
Ia bahkan masih terpana meski Adrian sudah menyalakan
mobilnya. Barulah ia sadar saat knalpot mobil Adrian menyemprotkan asapnya.
Sial, ia jadi kehilangan kendali atas alam bawah sadarnya.
Fi menggerutu, tapi tak pernah ia sesali.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar