Musikal 34
Semua anggota
berkumpul berdasarkan pada masing-masing tim. Terlihat tim akting sudah memulai
tahap reading naskah, sedangkan tim musik sudah memulai mengukur nada. Tim tari
sendiri sedang diberikan pengarahan oleh Riani.
“ Kita tidak
hanya sebagai penari latar saja, tetapi kita juga bertugas sebagai figuran
dalam pementasan ini. Oleh karena itu, pekerjaan di tim kita lebih berat.”
“ Selain itu, tarian
yang kita bawakan ada dua macam. Pertama, adalah tarian kontemporer. Kemudian
tarian daerah.”
Beberapa di
antara mereka terkejut mendengar tarian jenis kedua, karena sebagian dari
mereka hanya menguasai tarian pop atau kontemporer. Namun, tidak berlaku pada
Wenda. Dia sudah memiliki basic untuk tarian tersebut.
“ Kita akan
memilih leader untuk semua tarian. Tugas seorang leader adalah mengawasi jalannya latihan, karena tidak setiap saat Ibu bisa
menemani kalian latihan. Selain itu, leader juga akan ditempatkan sebagai center.”
Riani
melambaikan sebuah map, “ Di dalam map ini berisi data diri kalian, lengkap
dengan semua skill yang kalian miliki. Melalui data ini, Ibu
akan memilih siapa yang akan menjadi leader untuk tim kita.”
Wenda tersenyum
yakin. Ia tahu kalau ia pasti akan terpilih, karena semua tarian akan ia lahap dengan cepat.
“ Priyanka, kamu
yang akan menjadi leader.”
Wenda menoleh
dengan cepat. ‘ Gadis itu… kenapa
dia yang terpilih?’
“ Ibu pilih dia
karena dia bakat yang dimilikinya memang sangat bagus.”
‘ Hanya itu? Huh, aku 100 kali lebih baik dari dia.’
Priyanka tahu
dirinya sedang diawasi dengan tatapan tajam. Dengan santai ia membalas tatapan
itu. Tak lupa seringai kemenangan ia sampaikan pada orang tersebut.
‘ Kau lihat? Aku kali ini aku yang menang.’
‘ Kau selalu menang tanpa bertarung lebih dulu denganku
ya.’
‘ Mungkin aku akan kalah bila harus face to face denganmu, tapi bisa
dibilang keberuntungan selalu menyertaiku.’
Priyanka dan
Wenda sepakat mengakhiri aksi saling ejek lewat tatapan mata mereka. Priyanka
merasa di atas angin dengan posisinya sekarang. Di pihak lain, Wenda semakin
tenggelam dalam api cemburunya.
ooOoo
Kekesalan Wenda sudah di ubun-ubun. Ia ingin berontak,
tapi itu akan membuatnya semakin dipandang rendah oleh Priyanka. Lagi pula
Wenda yakin pasti ada campur tangan sang sutradara dalam pemilihan leader ini. Semua orang tahu apapun
keputusan yang diambil Tifa selalu dianggap benar. She is absolute!
Sekarang ia tahu bagaimana rasanya di posisi Anjani
saat itu.
Entah kenapa malam itu kesialannya bertambah. Saat ia
mengendarai motornya, tiba-tiba laju motornya tersedat dan akhirnya berhenti di
tengah jalan. Wenda buru-buru menepikan motornya dan mencoba memerikasa.
Sayangnya, meski sudah mengendari motor selama dua tahun, tapi pengetahuannya
tentang kerusakan motor nihil.
“
Butuh bantuan?”
Wenda terlonjak kaget saat suara barusan bariton itu
menegurnya. Bagaimana ia tak kaget ketika di dalam kegelapan ada seorang pria
dengan wajah tertutup masker datang menghampirimu. Kalau saja Wenda tak
mengenali pria itu dari kacamata tebalnya, mungkin ia sudah berteriak sekuat
tenaga.
“ Al, kamu ngagetin aja,” ujar Wenda sambil mengelus
dada.
“ Motor kamu mogok?” Alexi seolah tak memedulikan
Wenda yang baru saja terkejut dengan penampilannya. Mata laki-laki itu tampak
menelusuri bagian motor Wenda.
“ Ah, i—iya,” Wenda seketika merasa kikuk. “ Tapi aku
gak tahu rusaknya dimana.”
Alexi mengangguk-anggukkan kepalanya, “ 100 meter dari
sini ada bengkel. Mau aku temani?”
Yah, tidak ada pilihan lain. Mungkin ia akan menelepon
Kemal atau Ben bila ia mau pulang atau uang untuk bayar perbaikan motor. Ia
berniat untuk mendorong motornya. Di luar dugaan, Alexi justru mengambil alih
motor itu.
“ 100 meter itu lumayan loh. Lumayan bikin lengan kamu
berotot,” ia terkekeh. “Kamu bawain sepeda aku aja deh.”
Wenda cukup tersanjung dengan kebaikan laki-laki ini.
100 meter memang melelahkan untuk mendorong sebuah matic. Biasanya kalau Ben atau Kemal yang dimintai tolong, pasti
mereka minta Wenda mendorong dari belakang, tapi tidak dengan laki-laki ini.
Untung bengkel tersebut masih buka. Mereka menerima
perbaikan motor Wenda, tetapi baru akan dikerjakan besok. Sepertinya mereka
akan segera menutup bengkel, mengingat hari sudah malam. Apa boleh buat,
lagi-lagi Wenda hanya bisa pasrah.
“ Kamu laper gak? Kita makan pecel lele di depan situ
yuk.”
Bisa saja Wenda menolak ajakan laki-laki itu, tapi
perutnya tidak bisa dibohongi. Latihan hari ini benar-benar menguras semua
energinya. Rencana awalnya ia ingin cepat sampai di rumah, tapi karena motornya
ketiban sial dan ia pun harus berakhir di sini. Wenda mencoba menghibur
dirinya. Yah, paling tidak ia bisa mentraktir kebaikan laki-laki ini dengan
sepiring pecel lele.
“ Sebelumnya aku minta maaf karena sudah mencuri
dengar pembicaraanmu dengan teman-teman yang lain,” Alexi membuka percakapan
saat mereka sedang menunggu pesanan.
“ Tentang apa?”
“ Hmm, rasisme antara sekolah kita dengan sekolah
‘mereka’”.
Wenda hanya mengangguk, meski di dalam hati ia
menyumpahi laki-laki karena sudah ikut campur urusannya.
“ Yaah, ini hanya pendapatku saja. Kupikir kita dan
sekolah mereka akan bekerja sama dalam waktu yang lama, lagi pula dua sekolah
itu saling beraliansi. Menurutku rasisme yang kalian ucapkan tadi itu sangat
tidak masuk akal.”
“ Oho, kamu bilang begitu karena kamu mendapat posisi
yang esensial dalam pementasan ini,” balas Wenda sinis.
“ Bukan, bukan begitu. Maksudku, Miss Tifa dan yang lainnya
tidak mungkin hanya mementingkan anak-anak dari SMA Chandra Kirana saja. Mereka
pasti sudah memiliki pertimbangan tersendiri sehingga mereka selalu memilih
anak-anak dari ‘sana’. Miss Tifa
memang orang yang susah ditebak, tapi aku yakin dia orang yang profesional.”
“ Lagi pula jika memang mereka lebih mementingkan
sekolah ‘sana’, kupikir juga masuk akal. Ini’kan ajang promosi untuk sekolah
mereka. Wajar bila anak-anak ‘sana’ yang lebih ditonjolkan.”
‘ Iya juga sih’. Wenda meberengut saat hati kecilnya membenarkan
kata-kata Alexi. Ia jadi kesal pada dirinya sendiri.
“ Hmm, mungkin aku kesal pada seseorang saja di sana.
Jadinya satu sekolah itu aku hakimi,” Wenda mencoba membela diri. “ Mungkin
kalau bukan orang itu, aku tidak akan jadi sewot seperti ini.”
Alexi tertawa kecil, “ Aku bisa mengerti kalau itu
alasanmu. Baiklah, aku tidak akan tanya kenapa mengenai ketidaksukaanmu pada
orang itu. Itu sudah ranah pribadimu.”
“ Terima kasih,” Wenda membalasnya dengan senyuman.
Makanan yang mereka pesan pun tiba. Air liur Wenda
sepertinya akan menetes bila ia tak segera melahap ikan lele garing yang ada di
depannya. Sementara itu terdengar desisan dari bibir Alexi. Laki-laki itu
seperti kepedasan. Bukan pada mulutnya, tapi di matanya. Mungkin karena
pengaruh tumisan kangkung yang sedang dimasak. Bumbu dari tumisan itu menguap
dan memberi efek pedih pada mata laki-laki itu.
Wenda hampir tertawa terpingkal-pingkal melihat Alexi
yang merasa kepedihan. Ia membuka kacamata agar bisa mengucek matanya dengan
leluasa. Seketika itulah tawa Wenda tertelan bulat-bulat. Ia begitu terpana
melihat sosok Alexi tanpa dua lensa yang super tebal.
“ Sialan, tuh kangkung,” omel Alexi seraya mengenakan
kacamatanya kembali dan menyantap makanannya.
Ia tidak bermimpi’kan? Meski mata Alexi cukup sipit (yang ia duga karena efek
kacamata), tapi itu justru tampak sempurna di wajah laki-laki itu. Malah ia
tampak seperti idol Korea Yook Sung
Jae, tapi kenapa Alexi justru menutupi ketampanan wajahnya?
Lepas dari semua pertanyaan itu, Wenda justru
kehilangan selera makannya. Ketampanan wajah Alexi sepertinya telah memberinya
asupan gizi yang cukup. Ingin rasanya ia menekan tombol rewind dan mengulangi adegan Alexi tanpa kacamata.
‘ Apakah aku
bertemu dengan sang malaikat?’
ooOoo
Baru kali ini Wenda diantar pulang dengan sepeda. Ia
bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia bermain sepeda, dan selama itu pula ia
tak pernah dibonceng dengan benda itu. Apalagi dengan cowok yang baru saja ia
ketahui sangat tampan.
“ Udah sampai nih, Wen.”
Lamunan Wenda buyar saat Alexi memanggilnya. Sial,
wajah Alexi tanpa kacamata itu membuat imajinasinya melayang tanpa arah.
Buru-buru ia turun dari sadel sebelum Alexi menyadari fakta bahwa ia baru saja
melamun.
“ Thank’s
ya. Udah nganterin ke bengkel, trus nganterin pulang lagi. Pasti kamu capek
banget,” ujar Wenda dengan kikuk. “ Hmm, mau mampir dulu?”
“ Gak usah. Udah malem, nanti aja deh,” ujar Alexi
sambil memutar sepedanya. “Oh iya, Wen. Aku punya satu permintaan.”
“ Eh, mau minta apa?”
Alexi tersenyum, “ Begini, kamu’kan tadi pasti
ngelihat muka aku tanpa kacamata. Nah, aku minta kamu jangan cerita-cerita sama
siapapun tentang muka aku tanpa kacamata ya.”
Wenda tersentak, “ Eh, memangnya kenapa?”
“ Gak apa-apa. Cukup jadi rahasia kita berdua aja,”
Alexi mengulurkan jari kelingkingnya. “ Janji?”
Meski ragu, Wenda akhirnya mengikat jari
kelingkingnya, “ Oke, aku janji.”
Alexi kembali tersenyum. Ia melambaikan tangannya dan
segera lenyap di antara keremangan lampu jalan. Meski bayangannya semakin jauh,
tapi tatapan Wenda belum bergeser.
“ Dasar aneh, tapi… dia ganteng bangeeeet!”
Author's Note:
Nah loooh... mukanya Alexi ketahuan. Ganteng kaaaaan?
Btw, thank's buat Endung yang udah kasih inspirasi muka Alexi. Love Love Love
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar