Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 34)




Musikal 34
 

Semua anggota berkumpul berdasarkan pada masing-masing tim. Terlihat tim akting sudah memulai tahap reading naskah, sedangkan tim musik sudah memulai mengukur nada. Tim tari sendiri sedang diberikan pengarahan oleh Riani.

“ Kita tidak hanya sebagai penari latar saja, tetapi kita juga bertugas sebagai figuran dalam pementasan ini. Oleh karena itu, pekerjaan di tim kita lebih berat.”

“ Selain itu, tarian yang kita bawakan ada dua macam. Pertama, adalah tarian kontemporer. Kemudian tarian daerah.”

Beberapa di antara mereka terkejut mendengar tarian jenis kedua, karena sebagian dari mereka hanya menguasai tarian pop atau kontemporer. Namun, tidak berlaku pada Wenda. Dia sudah memiliki basic untuk tarian tersebut.

“ Kita akan memilih leader untuk semua tarian. Tugas seorang leader adalah mengawasi jalannya latihan, karena tidak setiap saat Ibu bisa menemani kalian latihan. Selain itu, leader juga akan ditempatkan sebagai center.”

Riani melambaikan sebuah map, “ Di dalam map ini berisi data diri kalian, lengkap dengan semua skill yang kalian miliki. Melalui data ini, Ibu akan memilih siapa yang akan menjadi leader untuk tim kita.”

Wenda tersenyum yakin. Ia tahu kalau ia pasti akan terpilih, karena semua tarian  akan ia lahap dengan cepat.

“ Priyanka, kamu yang akan menjadi leader.”

Wenda menoleh dengan cepat. ‘ Gadis itu… kenapa dia yang terpilih?’

“ Ibu pilih dia karena dia bakat yang dimilikinya memang sangat bagus.”

‘ Hanya itu? Huh, aku 100 kali lebih baik dari dia.’

Priyanka tahu dirinya sedang diawasi dengan tatapan tajam. Dengan santai ia membalas tatapan itu. Tak lupa seringai kemenangan ia sampaikan pada orang tersebut.

‘ Kau lihat? Aku kali ini aku yang menang.’

‘ Kau selalu menang tanpa bertarung lebih dulu denganku ya.’

‘ Mungkin aku akan kalah bila harus face to face denganmu, tapi bisa dibilang keberuntungan selalu menyertaiku.’

Priyanka dan Wenda sepakat mengakhiri aksi saling ejek lewat tatapan mata mereka. Priyanka merasa di atas angin dengan posisinya sekarang. Di pihak lain, Wenda semakin tenggelam dalam api cemburunya.

ooOoo

Kekesalan Wenda sudah di ubun-ubun. Ia ingin berontak, tapi itu akan membuatnya semakin dipandang rendah oleh Priyanka. Lagi pula Wenda yakin pasti ada campur tangan sang sutradara dalam pemilihan leader ini. Semua orang tahu apapun keputusan yang diambil Tifa selalu dianggap benar. She is absolute!

Sekarang ia tahu bagaimana rasanya di posisi Anjani saat itu.

Entah kenapa malam itu kesialannya bertambah. Saat ia mengendarai motornya, tiba-tiba laju motornya tersedat dan akhirnya berhenti di tengah jalan. Wenda buru-buru menepikan motornya dan mencoba memerikasa. Sayangnya, meski sudah mengendari motor selama dua tahun, tapi pengetahuannya tentang kerusakan motor nihil.
    
        “ Butuh bantuan?”

Wenda terlonjak kaget saat suara barusan bariton itu menegurnya. Bagaimana ia tak kaget ketika di dalam kegelapan ada seorang pria dengan wajah tertutup masker datang menghampirimu. Kalau saja Wenda tak mengenali pria itu dari kacamata tebalnya, mungkin ia sudah berteriak sekuat tenaga.

“ Al, kamu ngagetin aja,” ujar Wenda sambil mengelus dada.

“ Motor kamu mogok?” Alexi seolah tak memedulikan Wenda yang baru saja terkejut dengan penampilannya. Mata laki-laki itu tampak menelusuri bagian motor Wenda.

“ Ah, i—iya,” Wenda seketika merasa kikuk. “ Tapi aku gak tahu rusaknya dimana.”

Alexi mengangguk-anggukkan kepalanya, “ 100 meter dari sini ada bengkel. Mau aku temani?”

Yah, tidak ada pilihan lain. Mungkin ia akan menelepon Kemal atau Ben bila ia mau pulang atau uang untuk bayar perbaikan motor. Ia berniat untuk mendorong motornya. Di luar dugaan, Alexi justru mengambil alih motor itu.

“ 100 meter itu lumayan loh. Lumayan bikin lengan kamu berotot,” ia terkekeh. “Kamu bawain sepeda aku aja deh.”

Wenda cukup tersanjung dengan kebaikan laki-laki ini. 100 meter memang melelahkan untuk mendorong sebuah matic. Biasanya kalau Ben atau Kemal yang dimintai tolong, pasti mereka minta Wenda mendorong dari belakang, tapi tidak dengan laki-laki ini.

Untung bengkel tersebut masih buka. Mereka menerima perbaikan motor Wenda, tetapi baru akan dikerjakan besok. Sepertinya mereka akan segera menutup bengkel, mengingat hari sudah malam. Apa boleh buat, lagi-lagi Wenda hanya bisa pasrah.

“ Kamu laper gak? Kita makan pecel lele di depan situ yuk.”

Bisa saja Wenda menolak ajakan laki-laki itu, tapi perutnya tidak bisa dibohongi. Latihan hari ini benar-benar menguras semua energinya. Rencana awalnya ia ingin cepat sampai di rumah, tapi karena motornya ketiban sial dan ia pun harus berakhir di sini. Wenda mencoba menghibur dirinya. Yah, paling tidak ia bisa mentraktir kebaikan laki-laki ini dengan sepiring pecel lele.

“ Sebelumnya aku minta maaf karena sudah mencuri dengar pembicaraanmu dengan teman-teman yang lain,” Alexi membuka percakapan saat mereka sedang menunggu pesanan.

“ Tentang apa?”

“ Hmm, rasisme antara sekolah kita dengan sekolah ‘mereka’”.

Wenda hanya mengangguk, meski di dalam hati ia menyumpahi laki-laki karena sudah ikut campur urusannya.

“ Yaah, ini hanya pendapatku saja. Kupikir kita dan sekolah mereka akan bekerja sama dalam waktu yang lama, lagi pula dua sekolah itu saling beraliansi. Menurutku rasisme yang kalian ucapkan tadi itu sangat tidak masuk akal.”

“ Oho, kamu bilang begitu karena kamu mendapat posisi yang esensial dalam pementasan ini,” balas Wenda sinis.

“ Bukan, bukan begitu. Maksudku, Miss  Tifa dan yang lainnya tidak mungkin hanya mementingkan anak-anak dari SMA Chandra Kirana saja. Mereka pasti sudah memiliki pertimbangan tersendiri sehingga mereka selalu memilih anak-anak dari ‘sana’. Miss Tifa memang orang yang susah ditebak, tapi aku yakin dia orang yang profesional.”

“ Lagi pula jika memang mereka lebih mementingkan sekolah ‘sana’, kupikir juga masuk akal. Ini’kan ajang promosi untuk sekolah mereka. Wajar bila anak-anak ‘sana’ yang lebih ditonjolkan.”

‘ Iya juga sih’. Wenda meberengut saat hati kecilnya membenarkan kata-kata Alexi. Ia jadi kesal pada dirinya sendiri.

“ Hmm, mungkin aku kesal pada seseorang saja di sana. Jadinya satu sekolah itu aku hakimi,” Wenda mencoba membela diri. “ Mungkin kalau bukan orang itu, aku tidak akan jadi sewot seperti ini.”

Alexi tertawa kecil, “ Aku bisa mengerti kalau itu alasanmu. Baiklah, aku tidak akan tanya kenapa mengenai ketidaksukaanmu pada orang itu. Itu sudah ranah pribadimu.”

“ Terima kasih,” Wenda membalasnya dengan senyuman.

Makanan yang mereka pesan pun tiba. Air liur Wenda sepertinya akan menetes bila ia tak segera melahap ikan lele garing yang ada di depannya. Sementara itu terdengar desisan dari bibir Alexi. Laki-laki itu seperti kepedasan. Bukan pada mulutnya, tapi di matanya. Mungkin karena pengaruh tumisan kangkung yang sedang dimasak. Bumbu dari tumisan itu menguap dan memberi efek pedih pada mata laki-laki itu.

Wenda hampir tertawa terpingkal-pingkal melihat Alexi yang merasa kepedihan. Ia membuka kacamata agar bisa mengucek matanya dengan leluasa. Seketika itulah tawa Wenda tertelan bulat-bulat. Ia begitu terpana melihat sosok Alexi tanpa dua lensa yang super tebal.

“ Sialan, tuh kangkung,” omel Alexi seraya mengenakan kacamatanya kembali dan menyantap makanannya.

Ia tidak bermimpi’kan? Meski mata Alexi  cukup sipit (yang ia duga karena efek kacamata), tapi itu justru tampak sempurna di wajah laki-laki itu. Malah ia tampak seperti idol Korea Yook Sung Jae, tapi kenapa Alexi justru menutupi ketampanan wajahnya?

Lepas dari semua pertanyaan itu, Wenda justru kehilangan selera makannya. Ketampanan wajah Alexi sepertinya telah memberinya asupan gizi yang cukup. Ingin rasanya ia menekan tombol rewind dan mengulangi adegan Alexi tanpa kacamata.

‘ Apakah aku bertemu dengan sang malaikat?’

ooOoo

Baru kali ini Wenda diantar pulang dengan sepeda. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia bermain sepeda, dan selama itu pula ia tak pernah dibonceng dengan benda itu. Apalagi dengan cowok yang baru saja ia ketahui sangat tampan.

“ Udah sampai nih, Wen.”

Lamunan Wenda buyar saat Alexi memanggilnya. Sial, wajah Alexi tanpa kacamata itu membuat imajinasinya melayang tanpa arah. Buru-buru ia turun dari sadel sebelum Alexi menyadari fakta bahwa ia baru saja melamun.

Thank’s ya. Udah nganterin ke bengkel, trus nganterin pulang lagi. Pasti kamu capek banget,” ujar Wenda dengan kikuk. “ Hmm, mau mampir dulu?”

“ Gak usah. Udah malem, nanti aja deh,” ujar Alexi sambil memutar sepedanya. “Oh iya, Wen. Aku punya satu permintaan.”

“ Eh, mau minta apa?”

Alexi tersenyum, “ Begini, kamu’kan tadi pasti ngelihat muka aku tanpa kacamata. Nah, aku minta kamu jangan cerita-cerita sama siapapun tentang muka aku tanpa kacamata ya.”

Wenda tersentak, “ Eh, memangnya kenapa?”

“ Gak apa-apa. Cukup jadi rahasia kita berdua aja,” Alexi mengulurkan jari kelingkingnya. “ Janji?”

Meski ragu, Wenda akhirnya mengikat jari kelingkingnya, “ Oke, aku janji.”

Alexi kembali tersenyum. Ia melambaikan tangannya dan segera lenyap di antara keremangan lampu jalan. Meski bayangannya semakin jauh, tapi tatapan Wenda belum bergeser.

“ Dasar aneh, tapi… dia ganteng bangeeeet!”


Author's Note: 
Nah loooh... mukanya Alexi ketahuan. Ganteng kaaaaan?
Btw, thank's buat Endung yang udah kasih inspirasi muka Alexi. Love Love Love

please comment and share 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar