Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 31)



Musikal 31


“ Mulai hari ini kalian semua akan kedatangan beberapa murid dari SMA Panji Semirang. Ibu berharap kalian akan bisa belajar dan berteman dengan mereka.”

Hana mengakhiri pidatonya dengan memberikan ucapan selamat datang pada siswa-siswa SMA Panji Semirang. Upacara pagi itu memang sedikit berbeda dari yang biasanya, karena dikhususkan untuk penyambutan siswa-siswa baru tersebut.

Tak hanya siswa yang ditransfer ke SMA Chandra Kirana, tetapi salah satu guru mereka juga turut mendapingi mereka. Siapa lagi kalau bukan Gloria. Hal ini membuat Riani senang, karena ia bisa mengajar bersama dengan teman lamanya.

“ Eh, pindah kelas?”

“ Iya, kamu, Andani, Fi, dan juga Priyanka. Kalian berempat akan ditempatkan di kelas khusus.”

Ririn dan Andani saling bertukar pandang. Mereka baru saja kembali ke kelas mereka setelah upacara selesai, tapi tiba-tiba Riani datang dan mengatakan mereka harus pindah kelas. Entah apa alasannya, tapi Ririn dan Andani hanya bisa mengikuti Riani menuju kelas baru mereka.

Ternyata di kelas baru tersebut sudah diisi oleh teman-teman mereka dari SMA Panji Semirang. Segala kebingungan sirna ketika mereka saling bertemu teman seperjuangan. Dalam hati mereka sudah tahu siapa yang merencakan ini.

Siapa lagi kalau bukan ulah sang sutradara yang super nyentrik itu.

Kedua gadis itu segera menempati bangku deret kedua baris kedua. Andani pun langsung bergabung dengan beberapa anak dari tim musik yang juga dari SMA Panji Semirang. Ririn tak merasa keberatan, karena ‘Bumi Manusia’ karangan Pramoedya Ananta Toer lebih menyita perhatiannya.

“ Kalau lihat Al pagi-pagi udah kayak petugas analis deh.”

Suara Ben yang lantang dan kalimatnya yang lucu membuat seisi kelas menertawakan laki-laki berkacamata tebal yang baru saja datang. Ia tak marah, karena apa yang dikatakan Ben memang mewakili dirinya. ¾ wajahnya tertutup oleh kacamata dan masker  N95. Alexi menarik maskernya dan  tersenyum, sekaligus mengumpat pada Ben.

Kata-kata Ben ternyata mampun mengalihkan pandangan Ririn dari roman yang ia baca. Mata mereka bertemu, dan sulit bagi keduanya untuk tidak bertukar senyum.

“ Pagi!” sapa Alexi.

“ Pagi juga,” balas Ririn. “ Selamat datang di sekolah kami.”

Alexi mengangguk, lalu matanya tertuju pada bangku di sebelah Ririn, “Sebelahmu kosong?”

“ Terisi!” mendadak Andani muncul dan menduduki bangku di sebelah Ririn. Ia meleletkan lidahnya pada si laki-laki berkacamata. “ Sori, Al, tapi kamu harus cari bangku lain.”

Alexi kembali tertawa, “ Aduuh, ini masih pagi, tapi sudah dua kali aku kena bully.

“ Kasihan kamu, Al. Pagi-pagi udah kena bully aja,” Ririn ikut tertawa. “ By the way, kursi di depan kosong kok. Kamu duduk aja disitu.”

“ Kurasa memang tak ada pilihan lain,” ujar Alexi setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Semua bangku di kelas itu memang sudah terisi.

Tak lama kemudian Riani masuk ke kelas. Seisi kelas pun langsung duduk dengan rapi.

“ Selamat pagi, dan selamat bergabung di kelas khusus tim Love Musical,” Riani mengawali perkenalannya. “ Hingga pementasan berakhir, kalian akan disatukan di kelas ini agar semua urusan lebih lancar. Saya, Riani, yang akan menjadi wali kelas kalian.”

Satu persatu Riani menatap anak muridnya. Baru kali ini ia menjabat sebagai wali kelas, dengan murid-murid dari dua sekolah pula. Riani menghela napas. Pasti sulit, tapi itu bukan jawaban. Dia hanya harus berusaha untuk bisa diterima dan menerima mereka.

“ Okay, everybody. Let’s begin the class!”

please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar