Musikal
31
“
Mulai hari ini kalian semua akan kedatangan beberapa murid dari SMA Panji
Semirang. Ibu berharap kalian akan bisa belajar dan berteman dengan mereka.”
Hana
mengakhiri pidatonya dengan memberikan ucapan selamat datang pada siswa-siswa
SMA Panji Semirang. Upacara pagi itu memang sedikit berbeda dari yang biasanya,
karena dikhususkan untuk penyambutan siswa-siswa baru tersebut.
Tak
hanya siswa yang ditransfer ke SMA Chandra Kirana, tetapi salah satu guru
mereka juga turut mendapingi mereka. Siapa lagi kalau bukan Gloria. Hal ini
membuat Riani senang, karena ia bisa mengajar bersama dengan teman lamanya.
“
Eh, pindah kelas?”
“
Iya, kamu, Andani, Fi, dan juga Priyanka. Kalian berempat akan ditempatkan di
kelas khusus.”
Ririn
dan Andani saling bertukar pandang. Mereka baru saja kembali ke kelas mereka
setelah upacara selesai, tapi tiba-tiba Riani datang dan mengatakan mereka
harus pindah kelas. Entah apa alasannya, tapi Ririn dan Andani hanya bisa
mengikuti Riani menuju kelas baru mereka.
Ternyata
di kelas baru tersebut sudah diisi oleh teman-teman mereka dari SMA Panji
Semirang. Segala kebingungan sirna ketika mereka saling bertemu teman
seperjuangan. Dalam hati mereka sudah tahu siapa yang merencakan ini.
Siapa
lagi kalau bukan ulah sang sutradara yang super nyentrik itu.
Kedua
gadis itu segera menempati bangku deret kedua baris kedua. Andani pun langsung
bergabung dengan beberapa anak dari tim musik yang juga dari SMA Panji
Semirang. Ririn tak merasa keberatan, karena ‘Bumi Manusia’ karangan Pramoedya Ananta Toer lebih menyita
perhatiannya.
“
Kalau lihat Al pagi-pagi udah kayak petugas analis deh.”
Suara
Ben yang lantang dan kalimatnya yang lucu membuat seisi kelas menertawakan
laki-laki berkacamata tebal yang baru saja datang. Ia tak marah, karena apa
yang dikatakan Ben memang mewakili dirinya. ¾ wajahnya tertutup oleh kacamata
dan masker N95. Alexi menarik maskernya
dan tersenyum, sekaligus mengumpat pada
Ben.
Kata-kata
Ben ternyata mampun mengalihkan pandangan Ririn dari roman yang ia baca. Mata
mereka bertemu, dan sulit bagi keduanya untuk tidak bertukar senyum.
“
Pagi!” sapa Alexi.
“
Pagi juga,” balas Ririn. “ Selamat datang di sekolah kami.”
Alexi
mengangguk, lalu matanya tertuju pada bangku di sebelah Ririn, “Sebelahmu
kosong?”
“
Terisi!” mendadak
Andani muncul dan menduduki bangku di sebelah Ririn. Ia meleletkan lidahnya
pada si laki-laki berkacamata. “ Sori, Al, tapi kamu harus cari bangku lain.”
Alexi
kembali tertawa, “ Aduuh, ini masih pagi, tapi sudah dua kali aku kena bully.”
“
Kasihan kamu, Al. Pagi-pagi udah kena bully
aja,” Ririn ikut tertawa. “ By the
way, kursi di depan kosong kok. Kamu duduk aja disitu.”
“
Kurasa memang tak ada pilihan lain,” ujar Alexi setelah mengedarkan
pandangannya ke sekeliling kelas. Semua bangku di kelas itu memang sudah
terisi.
Tak
lama kemudian Riani masuk ke kelas. Seisi kelas pun langsung duduk dengan rapi.
“
Selamat pagi, dan selamat bergabung di kelas khusus tim Love Musical,” Riani mengawali perkenalannya. “ Hingga pementasan
berakhir, kalian akan disatukan di kelas ini agar semua urusan lebih lancar.
Saya, Riani, yang akan menjadi wali kelas kalian.”
Satu
persatu Riani menatap anak muridnya. Baru kali ini ia menjabat sebagai wali
kelas, dengan murid-murid dari dua sekolah pula. Riani menghela napas. Pasti
sulit, tapi itu bukan jawaban. Dia hanya harus berusaha untuk bisa diterima dan
menerima mereka.
“ Okay, everybody. Let’s
begin the class!”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar