Musikal 47
Bagi rapor masih 10 hari lagi. Namun, tak lantas
sekolah langsung meliburkan semua para siswa. Selain masih ada yang ikut
remedial, guru-guru menyiasatinya dengan segudang kegiatan classmeeting. Berbagai macam perlombaan dilaksanakan, mulai dari
lomba olahraga yang unik hingga lomba yang berbau seni.
Anjani bergegas menuju kelas 11 IPA 1. Ia ditugaskan
oleh wakil kepala sekolah untuk memanggil Hiro Hasegawa, karena ada sedikit
masalah dengan berkas-berkas pindahannya. Namun, sepertinya ia dan anak-anak di
kelasnya sedang melaksanakan remedial akbar. Aneh memang, kelas IPA 1 yang
dielu-elukan kepintarannya saat ini justru sedang melaksanakan remedial fisika
bersama.
Anjani mengetuk pintu, memberi salam, dan menyampaikan
maksud dan tujuannya pada guru fisika yang sedang mengawas ujian ulang. Guru
itu mengangguk dan mempersilakan Hiro untuk meninggalkan kelasnya. Namun,
Anjani justru menggerutu saat salah seorang dari Hasegawa bersaudara itu
melangkah keluar kelas.
“ Tunggu dulu, aku disuruh memanggil Hiro dan kamu
bukan Hiro”
Seisi kelas tercengang, termasuk guru fisika tersebut.
Laki-laki yang ada di depan kelas ini menatap kembarannya. Keduanya tertawa.
“ Hei, kita ketahuan Hiro.”
Ternyata tebakan Anjani benar. Keduanya segera
menukarkan papan nama yang menempel di dada kanan mereka. Salah seorang dari
mereka kembali duduk, dan yang seorangnya lagi meminta maaf pada guru fisikanya
lalu mengajak Anjani pergi.
“ Wah, hebat kamu, nak. Padahal dari awal Bapak gak
bisa bedain mereka. Sekarang kamu bisa nebak yang mana Jiro yang mana Hiro.”
Anjani hanya tersenyum kecil. Ia mengangguk dan pamit,
lalu mengantarkan Hiro yang asli ke ruang wakil kepala sekolah.
“ Kamu ini kembar ya?” tanya Hiro saat keduanya
menyusuri koridor kelas.
“ Emm, iya, tapi gak semirip kalian.”
Hiro mengangguk sambil tersenyum, “ Ohh, pantas. Jadi,
kalian pratenal yah?”
“ Tahu dari mana kalau aku ini kembar?”
Senyum Hiro kembali mengembang, “ Hanya orang-orang
kembar yang bisa membedakan orang kembar lainnya.”
Kening Anjani mengerenyit. Ia tidak tahu apakah yang
dikatakan Hiro itu adalah sebuah fakta. Ia memang tidak pernah bertemu dengan
orang kembar semirip Hiro dan Jiro. Tak bisa dipungkiri, pertama kali melihat
mereka Anjani juga tak bisa membedakannya. Namun, semakin sering melihat
keduanya berseliweran di sekolah, Anjani mulai bisa melihat perbedaan di antara
mereka. Meski sulit ditemukan, tapi memang firasat Anjani selalu bisa
menunjukkan yang mana Hiro yang mana Jiro.
Anjani menunjukkan ruang wakil kepala sekolah yang ada
di dekat ruang komputer. Ia hanya berniat mengantarkan tak mau ikut menunggui.
“ Oh iya, kembaranmu itu vokalis utama kita’kan?”
Anjani mengangguk, “ Kamu udah kenalan dengan dia?”
Hiro menggeleng, “ Hanya orang-orang kembar yang bisa
mengetahui yang mana kembaran orang lain.”
Hiro melangkah masuk, meninggalkan Anjani yang masih
terbengong-bengong dengan quote Hiro
mengenai orang-orang kembar. Ia bahkan bertanya-tanya apakah memang benar orang kembar itu punya intuisi setajam
itu?
ooOoo
Esoknya Anjani sengaja membolos dari classmeeting. Ia sudah yakin kalau ia
tak akan ikut remedial satu pun, karena ia sudah belajar sekeras mungkin
sebelum UAS. Sekarang di sinilah dia, sedang menunggu di salah satu kafe.
Menunggu nomor giliran dari nomor urutnya.
“ Got you!
Kamu lagi bolos ya?”
Anjani hampir saja lupa bernapas saat ada seseorang
mengejutinya. Ia bertambah kaget saat mengetahui pelakunya adalah Tifa.
Entalah, Anjani lebih suka kalau yang mengejutinya itu adalah iblis betulan,
bukan Tifa yang senyumnya seperti iblis.
“ Mi—Miss? Mi—Miss, sedang apa?”
“ Saya muda, lajang, dan separuh pengangguran.
Suka-suka saya dong mau ngapain,” Tifa menatap Anjani dengan penuh selidik. “
Kamu sendiri ngapain di sini? Mau aku laporin sama Hana kalau ada muridnya yang
keluyuran di jam belajar?”
Benar’kan? Tifa itu memang iblis. Anjani pun dibuat
kelabakan, “ Ja—jangan dong, Miss.
Gak sepenuhnya aku bolos kok. Di sekolah’kan lagi classmeeting, lagian aku gak
ada remedial. Ja—jadi, gak masuk sehari juga gak apa.”
“ Oho, tapi tetap aja kamu itu disebut bolos!” Tifa
mengambil ponsel, “ Aku telepon Hana ya.”
“ Miss, NO!!”
Anjani buru-buru merebut ponsel yang dipegang Tifa. “ A—aku punya alasan
sendiri.”
Mata Tifa menyipit saat menunggu jawaban dari Anjani.
Gadis itu terlihat malu-malu. Perlahan ia membuka retseliting jaket yang
menutupi bagian depan kausnya. Seketika mata Tifa membulat saat melihat ada
empat digit angka tertempel di kaus gadis itu.
“ A—aku ikutan audisi kontes menyanyi, Miss.”
ooOoo
Anjani pun akhinya menceritakan semua rahasianya
mengenai audisi hari ini. Dari awal audisi ia memang sengaja merahasiakannya,
sebab ia takut kalau sudah gembar-gembor duluan ternyata ia tidak lolos.
Setelah melewati beberapa tahap, akhirnya ia lolos di daftar tunggu untuk masuk
di kompetisi menyanyi televisi terkenal, dan hari ini adalah harinya.
“ I see,”
Tifa menganguk-anggukkan kepalanya. “ Okay,
good luck for you.”
“ Eh, Miss
Tifa gak marah?”
“ Marah? Buat apa saya marah?” Tifa tertawa lepas. “
Justru bagus dong. Tandanya kamu bisa mengeksplor diri kamu. Saya selalu yakin
dengan bakat anak didik saya. Hanya saja sampai detik ini kamu tidak pernah
menjadi dirimu sendiri.”
“ Maksud, Miss?”
“ Yaa, kamu terlalu obsesi untuk menjadi hebat seperti
saudarimu. Sadar atau tidak, kamu hanya bisa menjadi bayangannya saja. Itulah
kenapa kamu tidak pernah bersinar seperti dia.”
“ Aku tidak pernah menirunya! Aku punya gayaku
sendiri! Justru saat ini aku ingin lepas dari segala kemiripan antara aku dan
Andani! Aku bahkan bisa lebih hebat dari dia!” Anjani terlihat marah.
Namun, Tifa menanggapinya dengan sinis, “ Kalau kamu
memang bisa melampauinya, lantas kenapa saya tidak memilih kamu sebagai vokalis
utama?”
“ Ma—mana aku tahu. Mungkin memang Miss lebih suka Andani ketimbang aku,”
Anjani mendengus kesal. “ Andani memang selalu bisa membuat orang memujanya.”
“ Nah, nah, itu. Itu tuh yang membuatmu selalu di
bawah bayang-bayang saudarimu,” Tifa kembali tertawa. “ Kamu itu hanya iri,
Jane. Rasa iri itu membuatmu terobsesi untuk melampauinya, sehingga kamu
membuatnya kembali ke poin awal, yaitu kamu menjadi bayang-bayang saudarimu.”
Percakapan mereka terhenti tatkala seorang pelayan
datang membawakan buku menu. Tifa hanya memesan secangkir kopi dan pelayan itu
pun segera mencatat pesanan.
“ Saya jadi teringat kata-kata seorang pesulap di
acara talk shownya. Dia bilang,
‘untuk menjadi seorang yang hebat kita tidak usah menjadi orang lain, tapi
cukup dengan menjadi pribadi yang terbaik untuk diri sendiri’.
“ Jadi, menurut saya, Jane. Berhentilah bermimpi untuk
melampaui saudarimu. Kamu gak akan bisa jadi dia dan gak akan pernah sebaik
dia, tapi kamu bisa menjadi orang hebat kalau kamu bisa menjadi diri yang
paling baik. Lupakan ambisimu yang kemarin, mulailah mencari peluangmu. Saya yakin,
kamu akan menjadi pribadi yang luar biasa dibandingkan siapapun.”
Tanpa sadar Anjani tertegun memandangi Tifa. Hatinya
baru saja seperti ditiupkan angin segar. Baru kali ini ada kata-kata mutiara
yang menyejukkan jiwanya. Inilah nasehat yang ia ingin dengar selama ini.
Kenapa bukan dari orang tuanya? Kenapa bukan dari sahabat-sahabatnya? Kenapa
justru dari orang yang ia pikir sangat menyebalkan?
Kopi yang Tifa pesan datang. Wanita itu segera
menyeruputnya, tak peduli meski uap panas masih mengepul. Pandangannya teralih
pada Anjani yang sekarang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
“ Rencananya mau nyanyi lagu apa?”
“ Whitney Houston, ‘When You Believe’”, Anjani berdeham. “ Tapi kayaknya terlalu Andani
banget.”
Tifa tertawa, “Saya tidak meragukan teknikmu, tapi
bukannya suaramu itu kontralto? Well, koreksi
kalau saya salah”
Anjani mengangguk pelan, “Iya sih,Miss. Makanya saya sering kurang pd dengan suara saya.”
“ Tapi kamu tahu’kan vokalis cewek kontralto yang
keren?”
Gadis itu terlihat berpikir. Ia tahu siapa penyanyi yang
dimaksudkan oleh Tifa, tapi lagu-lagunya terlalu mainstream. Anjani mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Tiba-tiba ia
teringat sesuatu.
“ Ah, kalo lagu yang itu mungkin aku bisa,” ujar
Anjani. “Menurut, Miss, aku bisa lolos
dengan lagu itu? Enaknya pakai lagu yang lama atau yang baru?”
“ Suatu tantangan menyanyi lagu populer. Daripada
terus dibayangi saudarimu, lebih baik mirip dengan penyanyi aslinya.”
Anjani merasa ragu, tapi hati kecilnya membenarkan
kata-kata sang sutradara.
“ Hei, udah jam berapa ini? Kamu gak mau audisi?”
Anjani belingsatan bagai tersengat lebah. Ia terlalu
lama berpikir di sini.
“ Ya ampun, aku malah belum bayar. Miss, aku―”
“ Udah pergi aja, biar saya saja yang bayar.
Hitung-hitung konpesasi kalau kamu gak lolos seleksi.”
Baru saja Anjani menyahut, tapi Tifa lebih dulu
memberi kode agar Anjani segera pergi. Gadis itu pun hanya bisa mengangguk
sebagai ganti ucapan terima kasih.
ooOoo
Anjani benar-benar gugup 100% saat kakinya melangkah
masuk. Ruang audisi itu terasa lebih dingin daripada freezer, bahkan tatapan mata dari para juri seperti menusuk-nusuk
dadanya. Padahal keempat juri itu menyapanya dengan senyum.
“ Selamat siang, siapa namanya?” tanya seorang juri
yang merupakan seorang diva Indonesia.
“ Anjani Bramastya,” jawabnya dengan nada gugup.
Wanita itu tertawa, “ Santai aja, gak usah nervous. Mau nyanyi apa?”
Anjani menggigit bibirnya, “ Adele, ‘ Hello’”.
“ Hmm, oke. Silakan.”
Musik mulai mengalun. Anjani memejamkan matanya. Ia
menarik napas dalam-dalam, mendekatkan bibirnya pada mic, serta mempertajam pendengarannya agar ia tak salah nada.
Hello from the other side
I must have called a thousand times
To tell you I'm sorry for everything that I've done
But when I call you never seem to be home
Hello from the outside
At least I can say that I've tried
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter. It clearly doesn't tear you apart anymore
I must have called a thousand times
To tell you I'm sorry for everything that I've done
But when I call you never seem to be home
Hello from the outside
At least I can say that I've tried
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter. It clearly doesn't tear you apart anymore
ooOoo
Langkah Anjani tak bisa direm. Ia berlarian dari ruang
audisi menuju kafe tempat ia menunggu tadi. Napasnya terengah-engah ketika ia
sampai di sana. Namun, apa yang ia cari masih di sana. Seorang wanita yang
tengah membaca buku sembari menikmati kopi keempatnya.
“ Miss…!”
Kali ini giliran wanita itu yang terkejut. Bagaimana
tidak, kedatangan Anjani yang tergopoh-gopoh membuatnya seperti melihat setan.
Untung saja ia tidak berteriak.
“ Astaga, Anjani. Kamu bikin kaget aja!” omelnya. “ Oh
ya, audisimu sudah selesai?”
Anjani menarik napas dalam-dalam. Ia mengangguk, tapi
seketika wajahnya terlihat murung.
“ Oh—oh,” Tifa terlihat salah tingkah saat melihat
ekspresi di wajah Anjani. “ Ka—kamu baik-baik saja’kan?”
Tiba-tiba Anjani mengeluarkan secarik kertas bewarna
emas. Di saat yang sama wajahnya berubah ceria.
“ I got a golden
tickeeet!!!”
Wajah Tifa tak kalah gembira. Ia langsung memeluk
Anjani dan menghujaninya dengan ucapan selamat.
“ Kamu memang hebat! Selamat, selamat!”
Anjani tersenyum lebar saat mereka saling melepaskan
pelukan, “ Terima kasih, Miss. Kalau
bukan karena kata-kata Miss
sebelumnya, mungkin aku gak bakal lulus.”
“ Hei, itu bukan karena saya, tapi itu karena kamu
sendiri,” Tifa mengacak-acak rambut Anjani. “ Ini adalah bukti ketika kamu melepaskan
diri dari bayang-bayang orang lain. Bukti bahwa kamu bisa menjadi dirimu yang
lebih baik, yaitu dirimu sendiri. Selamat ya.”
Ada rasa haru menyelimuti hati Anjani. Hampir saja ia
meneteskan air mata kalau saja Tifa tidak memeluknya lagi.
I did it!!!
Please Comment and Share
Author's Note:
Author gak tau sih kalau orang kembar bisa membedakan orang kembar lainnya. Itu cuma fiksi dari Author aja. Hehehe...
Btw, terima kasih untuk Om Deddy Corbuzier untuk quote-nya yang jadi inspirasi musikal kali ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar