Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 47)



Musikal 47


Bagi rapor masih 10 hari lagi. Namun, tak lantas sekolah langsung meliburkan semua para siswa. Selain masih ada yang ikut remedial, guru-guru menyiasatinya dengan segudang kegiatan classmeeting. Berbagai macam perlombaan dilaksanakan, mulai dari lomba olahraga yang unik hingga lomba yang berbau seni.

Anjani bergegas menuju kelas 11 IPA 1. Ia ditugaskan oleh wakil kepala sekolah untuk memanggil Hiro Hasegawa, karena ada sedikit masalah dengan berkas-berkas pindahannya. Namun, sepertinya ia dan anak-anak di kelasnya sedang melaksanakan remedial akbar. Aneh memang, kelas IPA 1 yang dielu-elukan kepintarannya saat ini justru sedang melaksanakan remedial fisika bersama.

Anjani mengetuk pintu, memberi salam, dan menyampaikan maksud dan tujuannya pada guru fisika yang sedang mengawas ujian ulang. Guru itu mengangguk dan mempersilakan Hiro untuk meninggalkan kelasnya. Namun, Anjani justru menggerutu saat salah seorang dari Hasegawa bersaudara itu melangkah keluar kelas.

“ Tunggu dulu, aku disuruh memanggil Hiro dan kamu bukan Hiro”

Seisi kelas tercengang, termasuk guru fisika tersebut. Laki-laki yang ada di depan kelas ini menatap kembarannya. Keduanya tertawa.

“ Hei, kita ketahuan Hiro.”

Ternyata tebakan Anjani benar. Keduanya segera menukarkan papan nama yang menempel di dada kanan mereka. Salah seorang dari mereka kembali duduk, dan yang seorangnya lagi meminta maaf pada guru fisikanya lalu mengajak Anjani pergi.

“ Wah, hebat kamu, nak. Padahal dari awal Bapak gak bisa bedain mereka. Sekarang kamu bisa nebak yang mana Jiro yang mana Hiro.”

Anjani hanya tersenyum kecil. Ia mengangguk dan pamit, lalu mengantarkan Hiro yang asli ke ruang wakil kepala sekolah.

“ Kamu ini kembar ya?” tanya Hiro saat keduanya menyusuri koridor kelas.

“ Emm, iya, tapi gak semirip kalian.”

Hiro mengangguk sambil tersenyum, “ Ohh, pantas. Jadi, kalian pratenal yah?”

“ Tahu dari mana kalau aku ini kembar?”

Senyum Hiro kembali mengembang, “ Hanya orang-orang kembar yang bisa membedakan orang kembar lainnya.”

Kening Anjani mengerenyit. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan Hiro itu adalah sebuah fakta. Ia memang tidak pernah bertemu dengan orang kembar semirip Hiro dan Jiro. Tak bisa dipungkiri, pertama kali melihat mereka Anjani juga tak bisa membedakannya. Namun, semakin sering melihat keduanya berseliweran di sekolah, Anjani mulai bisa melihat perbedaan di antara mereka. Meski sulit ditemukan, tapi memang firasat Anjani selalu bisa menunjukkan yang mana Hiro yang mana Jiro.

Anjani menunjukkan ruang wakil kepala sekolah yang ada di dekat ruang komputer. Ia hanya berniat mengantarkan tak mau ikut menunggui.

“ Oh iya, kembaranmu itu vokalis utama kita’kan?”

Anjani mengangguk, “ Kamu udah kenalan dengan dia?”

Hiro menggeleng, “ Hanya orang-orang kembar yang bisa mengetahui yang mana kembaran orang lain.”

Hiro melangkah masuk, meninggalkan Anjani yang masih terbengong-bengong dengan quote Hiro mengenai orang-orang kembar. Ia bahkan bertanya-tanya apakah memang  benar orang kembar itu punya intuisi setajam itu?

ooOoo

Esoknya Anjani sengaja membolos dari classmeeting. Ia sudah yakin kalau ia tak akan ikut remedial satu pun, karena ia sudah belajar sekeras mungkin sebelum UAS. Sekarang di sinilah dia, sedang menunggu di salah satu kafe. Menunggu nomor giliran dari nomor urutnya.

Got you! Kamu lagi bolos ya?”

Anjani hampir saja lupa bernapas saat ada seseorang mengejutinya. Ia bertambah kaget saat mengetahui pelakunya adalah Tifa. Entalah, Anjani lebih suka kalau yang mengejutinya itu adalah iblis betulan, bukan Tifa yang senyumnya seperti iblis.

Mi—Miss? Mi—Miss, sedang apa?”

“ Saya muda, lajang, dan separuh pengangguran. Suka-suka saya dong mau ngapain,” Tifa menatap Anjani dengan penuh selidik. “ Kamu sendiri ngapain di sini? Mau aku laporin sama Hana kalau ada muridnya yang keluyuran di jam belajar?”

Benar’kan? Tifa itu memang iblis. Anjani pun dibuat kelabakan, “ Ja—jangan dong, Miss. Gak sepenuhnya aku bolos kok. Di sekolah’kan lagi  classmeeting, lagian aku gak ada remedial. Ja—jadi, gak masuk sehari juga gak apa.”

“ Oho, tapi tetap aja kamu itu disebut bolos!” Tifa mengambil ponsel, “ Aku telepon Hana ya.”

Miss, NO!!” Anjani buru-buru merebut ponsel yang dipegang Tifa. “ A—aku punya alasan sendiri.”

Mata Tifa menyipit saat menunggu jawaban dari Anjani. Gadis itu terlihat malu-malu. Perlahan ia membuka retseliting jaket yang menutupi bagian depan kausnya. Seketika mata Tifa membulat saat melihat ada empat digit angka tertempel di kaus gadis itu.

“ A—aku ikutan audisi kontes menyanyi, Miss.

ooOoo

Anjani pun akhinya menceritakan semua rahasianya mengenai audisi hari ini. Dari awal audisi ia memang sengaja merahasiakannya, sebab ia takut kalau sudah gembar-gembor duluan ternyata ia tidak lolos. Setelah melewati beberapa tahap, akhirnya ia lolos di daftar tunggu untuk masuk di kompetisi menyanyi televisi terkenal, dan hari ini adalah harinya.

I see,” Tifa menganguk-anggukkan kepalanya. “ Okay, good luck for you.”

“ Eh, Miss Tifa gak marah?”

“ Marah? Buat apa saya marah?” Tifa tertawa lepas. “ Justru bagus dong. Tandanya kamu bisa mengeksplor diri kamu. Saya selalu yakin dengan bakat anak didik saya. Hanya saja sampai detik ini kamu tidak pernah menjadi dirimu sendiri.”

“ Maksud, Miss?”

“ Yaa, kamu terlalu obsesi untuk menjadi hebat seperti saudarimu. Sadar atau tidak, kamu hanya bisa menjadi bayangannya saja. Itulah kenapa kamu tidak pernah bersinar seperti dia.”

“ Aku tidak pernah menirunya! Aku punya gayaku sendiri! Justru saat ini aku ingin lepas dari segala kemiripan antara aku dan Andani! Aku bahkan bisa lebih hebat dari dia!” Anjani terlihat marah.

Namun, Tifa menanggapinya dengan sinis, “ Kalau kamu memang bisa melampauinya, lantas kenapa saya tidak memilih kamu sebagai vokalis utama?”

“ Ma—mana aku tahu. Mungkin memang Miss lebih suka Andani ketimbang aku,” Anjani mendengus kesal. “ Andani memang selalu bisa membuat orang memujanya.”

“ Nah, nah, itu. Itu tuh yang membuatmu selalu di bawah bayang-bayang saudarimu,” Tifa kembali tertawa. “ Kamu itu hanya iri, Jane. Rasa iri itu membuatmu terobsesi untuk melampauinya, sehingga kamu membuatnya kembali ke poin awal, yaitu kamu menjadi bayang-bayang saudarimu.”

Percakapan mereka terhenti tatkala seorang pelayan datang membawakan buku menu. Tifa hanya memesan secangkir kopi dan pelayan itu pun segera mencatat pesanan.

“ Saya jadi teringat kata-kata seorang pesulap di acara talk shownya. Dia bilang, ‘untuk menjadi seorang yang hebat kita tidak usah menjadi orang lain, tapi cukup dengan menjadi pribadi yang terbaik untuk diri sendiri’.

“ Jadi, menurut saya, Jane. Berhentilah bermimpi untuk melampaui saudarimu. Kamu gak akan bisa jadi dia dan gak akan pernah sebaik dia, tapi kamu bisa menjadi orang hebat kalau kamu bisa menjadi diri yang paling baik. Lupakan ambisimu yang kemarin, mulailah mencari peluangmu. Saya yakin, kamu akan menjadi pribadi yang luar biasa dibandingkan siapapun.”

Tanpa sadar Anjani tertegun memandangi Tifa. Hatinya baru saja seperti ditiupkan angin segar. Baru kali ini ada kata-kata mutiara yang menyejukkan jiwanya. Inilah nasehat yang ia ingin dengar selama ini. Kenapa bukan dari orang tuanya? Kenapa bukan dari sahabat-sahabatnya? Kenapa justru dari orang yang ia pikir sangat menyebalkan?

Kopi yang Tifa pesan datang. Wanita itu segera menyeruputnya, tak peduli meski uap panas masih mengepul. Pandangannya teralih pada Anjani yang sekarang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

“ Rencananya mau nyanyi lagu apa?”

“ Whitney Houston, ‘When You Believe’”, Anjani berdeham. “ Tapi kayaknya terlalu Andani banget.”

Tifa tertawa, “Saya tidak meragukan teknikmu, tapi bukannya suaramu itu kontralto? Well, koreksi kalau saya salah”

Anjani mengangguk pelan, “Iya sih,Miss. Makanya saya sering kurang pd dengan suara saya.”

“ Tapi kamu tahu’kan vokalis cewek kontralto yang keren?”

Gadis itu terlihat berpikir. Ia tahu siapa penyanyi yang dimaksudkan oleh Tifa, tapi lagu-lagunya terlalu mainstream. Anjani mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“ Ah, kalo lagu yang itu mungkin aku bisa,” ujar Anjani. “Menurut, Miss, aku bisa lolos dengan lagu itu? Enaknya pakai lagu yang lama atau yang baru?”

“ Suatu tantangan menyanyi lagu populer. Daripada terus dibayangi saudarimu, lebih baik mirip dengan penyanyi aslinya.”

Anjani merasa ragu, tapi hati kecilnya membenarkan kata-kata sang sutradara.

“ Hei, udah jam berapa ini? Kamu gak mau audisi?”

Anjani belingsatan bagai tersengat lebah. Ia terlalu lama berpikir di sini.

“ Ya ampun, aku malah belum bayar. Miss, aku―”

“ Udah pergi aja, biar saya saja yang bayar. Hitung-hitung konpesasi kalau kamu gak lolos seleksi.”

Baru saja Anjani menyahut, tapi Tifa lebih dulu memberi kode agar Anjani segera pergi. Gadis itu pun hanya bisa mengangguk sebagai ganti ucapan terima kasih.

ooOoo

Anjani benar-benar gugup 100% saat kakinya melangkah masuk. Ruang audisi itu terasa lebih dingin daripada freezer, bahkan tatapan mata dari para juri seperti menusuk-nusuk dadanya. Padahal keempat juri itu menyapanya dengan senyum.

“ Selamat siang, siapa namanya?” tanya seorang juri yang merupakan seorang diva Indonesia.

“ Anjani Bramastya,” jawabnya dengan nada gugup.

Wanita itu tertawa, “ Santai aja, gak usah nervous. Mau nyanyi apa?”

Anjani menggigit bibirnya, “ Adele, ‘ Hello’”.

“ Hmm, oke. Silakan.”

Musik mulai mengalun. Anjani memejamkan matanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mendekatkan bibirnya pada mic, serta mempertajam pendengarannya agar ia tak salah nada.

Hello from the other side
I must have called a thousand times
To tell you I'm sorry for everything that I've done
But when I call you never seem to be home
Hello from the outside
At least I can say that I've tried
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter. It clearly doesn't tear you apart anymore

ooOoo

Langkah Anjani tak bisa direm. Ia berlarian dari ruang audisi menuju kafe tempat ia menunggu tadi. Napasnya terengah-engah ketika ia sampai di sana. Namun, apa yang ia cari masih di sana. Seorang wanita yang tengah membaca buku sembari menikmati kopi keempatnya.

Miss…!”

Kali ini giliran wanita itu yang terkejut. Bagaimana tidak, kedatangan Anjani yang tergopoh-gopoh membuatnya seperti melihat setan. Untung saja ia tidak berteriak.

“ Astaga, Anjani. Kamu bikin kaget aja!” omelnya. “ Oh ya, audisimu sudah selesai?”

Anjani menarik napas dalam-dalam. Ia mengangguk, tapi seketika wajahnya terlihat murung.

“ Oh—oh,” Tifa terlihat salah tingkah saat melihat ekspresi di wajah Anjani. “ Ka—kamu baik-baik saja’kan?”

Tiba-tiba Anjani mengeluarkan secarik kertas bewarna emas. Di saat yang sama wajahnya berubah ceria.

I got a golden tickeeet!!!

Wajah Tifa tak kalah gembira. Ia langsung memeluk Anjani dan menghujaninya dengan ucapan selamat.

“ Kamu memang hebat! Selamat, selamat!”

Anjani tersenyum lebar saat mereka saling melepaskan pelukan, “ Terima kasih, Miss. Kalau bukan karena kata-kata Miss sebelumnya, mungkin aku gak bakal lulus.”

“ Hei, itu bukan karena saya, tapi itu karena kamu sendiri,” Tifa mengacak-acak rambut Anjani. “ Ini adalah bukti ketika kamu melepaskan diri dari bayang-bayang orang lain. Bukti bahwa kamu bisa menjadi dirimu yang lebih baik, yaitu dirimu sendiri. Selamat ya.”

Ada rasa haru menyelimuti hati Anjani. Hampir saja ia meneteskan air mata kalau saja Tifa tidak memeluknya lagi.

I did it!!!

Please Comment and Share


Author's Note:
Author gak tau sih kalau orang kembar bisa membedakan orang kembar lainnya. Itu cuma fiksi dari Author aja. Hehehe...
Btw, terima kasih untuk Om Deddy Corbuzier untuk quote-nya yang jadi inspirasi musikal kali ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar