Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 50)



Musikal 50



Ririn hanya bisa menatap Andani lewat jendela bus. Gadis itu seperti buronan yang tengah digelandang polisi ke dalam mobil. Hingga suara Riani berhasil menyita perhatiannya.

“ Baiklah, saya akan menjadi pamong bus satu. Seperti yang kita lihat tadi, Andani tampaknya akan menyusul kita bersama Miss Tifa. Kalian tenang saja, dia akan berlatih bersama kita besok. Nah, sekarang kita akan segera berangkat.”

Bus mulai melaju. Bergerak meninggalkan gedung teater, gerbang sekolah, dan seterusnya. Ririn menghela napas. Matanya kembali beralih pada pemandangan di luar jendela. Langit tampak mendung. Padahal ia berharap cuaca akan cerah saat ia dan teman-temannya berangkat. Sudah mendung, tanpa Andani pula. Sepertinya perjalanan kali ini ada kelabu sekali.

“ Menurutmu Andani akan dibawa Miss Tifa kemana?”

Suara itu berasal dari laki-laki yang selalu menggunakan kacamata tebal. Ririn hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu.

“ Kursi di sebelahmu kosong. Boleh aku yang isi?”

Ya, kenapa tidak. Ririn justru lebih senang ketimbang Kemal yang duduk di sebelahnya. Soalnya begitu bus mulai jalan, laki-laki itu sudah curi-curi pandang pada kursi Andani yang kosong. Bisa-bisa ia tidak konsentrasi dengan “The Maze Runner” yang sedang ia baca.

“ Kenapa gak nonton filmnya aja? Ceritanya’kan sama aja.”

Ririn merasa kalau Alexi sedang memperhatikan sampul bukunya, ia pun tersenyum, “ Aku lebih suka membuktikan kebenaran lewat membaca karena film adaptasi kadang sering mengecewakan.”

“ Aku bahkan gak tahu kalau ‘The Maze Runner’ itu film adaptasi,” Alexi terkekeh seraya mengeluarkan iPod-nya. “ Mau mendengarkan musik?”

“ Boleh juga,” ujar Ririn seraya memasang sebelah headset di telinganya. “ Mari kita dengar seberapa keren musikmu.”

Love is feeling…

Ririn tertegun saat bait pertama lagu itu bergetar di telinganya. Ia menatap laki-laki yang sedang tersenyum penuh kemenangan padanya.

“ Wah, aku gak nyangka kamu suka yang beginian juga.”

“ Yaah, dulu beberapa anak gadis memintaku untuk meng-cover lagu ini dengan pianoku. Aku terpaksa menyimpan dan mendengarkannya berulang-ulang. Menurutku lagu ini bagus juga. Dari segi lirik, vokal, dan komposisinya.”

Bahu Ririn kembali mengangkat bahu, “ Tapi kenapa kamu memutar lagu ini untukku? Apa wajahku ini terlihat seperti K-Popers?”

Tiba-tiba Alexi menatap Ririn dengan seksama. Ririn terpaksa memundurkan wajahnya, karena mata laki-laki itu sangat intens menatapnya. Detik berikutnya laki-laki itu menarik wajahnya, kemudian tertawa.

“ Kurasa tidak, tapi aku yakin kalau gadis yang kursinya sedang aku duduki sekarang memang iya. Kalian berteman dan aku juga yakin bahwa tidak mungkin kamu tidak diajaknya nonton drama Korea bersama. Lagi pula lagu ini merupakan soundtrack dari drama yang cukup terkenal.”

Giliran Ririn yang tertawa, “ Okee, sekarang siapa yang sedang main detektif-detektifan?”

“ Kita sudahi saja permainan ini,” ujar Alexi yang masih tertawa. “ Ngomong-ngomong kamu tidak melanjutkan membaca?”

Benar juga. Ternyata duduk di sebelah Alexi jusru lebih mengganggu konsetrasinya. Ririn pun memutuskan untuk tidak melanjutkan bacaannya. Ia kembali menatap jendela yang ternyata sudah dihiasi oleh titik-titik air. Rupanya gerimis sudah bergeriliya di luar sana.

Entah kenapa suasana seperti ini membuat Ririn terbawa suasana. Gerimis dan lagu romantis. Bus yang melaju cepat, serta pemandangan yang basah. Ririn seperti terserap dalam video klip Korea romantis.

Bukan Lee Min Hoo atau Kim Woo Bin, tapi hanya ditemani oleh seorang remaja pria teman sekelasnya dan ia  sudah terlelap dengan bantal leher yang nyaman. Tanpa Ririn sadari kali ini ialah yang justru memperhatikan wajah laki-laki itu dengan intens.

Ternyata ia memiliki hidung yang mancung dengan bibir tipis. Ririn tak pernah tahu karena laki-laki itu selalu menutupinya dengan masker N95. Kulitnya juga sudah kembali memutih seperti sedia kala. Jujur Ririn akui, kalau pemutihan kulit Alexi lebih cepat dari kulitnya. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Ririn untuk memutihkan kulit dan butuh waktu seharian untuk menggelapkannya kembali. Selain itu, seputih-putih kulitnya, kulit Alexi dua kali lipat lebih putih darinya.

Dan Ririn sangat penasaran dengan mata di balik lensa yang begitu tebal itu. Ingin rasanya ia menarik kacamata itu diam-diam. Hanya sebentar, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Bagaimana bentuk matanya dan juga seberapa besar minus laki-laki itu sehingga ia tak pernah absen menggunakan kacamata yang tebalnya seperti pantat botol.

‘ Astaga, apa yang sudah aku pikirkan?’

Ririn langsung memalingkan wajahnya. Ia malu sekali dengan imajinasinya yang sudah terlalu liar. Ia mendengus kesal. Untung saja laki-laki itu sudah terbang jauh ke alam mimpi.

Naui sojunghan saram sarangeul allyeojun saram geudaeimnida.
O~ naui meori soge bakhin saram gieok soge saneun saram geudaemnida
Geudae hanaimnida
Geudael saranghamnida
Naega itji motal sarangiyeo haengbokhaetdeon sarangiyeo
Love is love is love is love is feeling

Ririn tak pernah tahu kalau Alexi tak benar-benar tidur. Ada seulas seringai usil tergurat di wajah Alexi. Ia tahu apa saja yang sudah gadis itu lakukan dan Alexi sangat menikmatinya.

Love is feeling….


Author's Note:
Kyaaah... ini musikal kedua kesukaan Author. 
Oh ya, PENGUMUMAN: Update minggu depan edisi spin off yah, jadi kita keluar jalur sejenak. 
Tetap pantengin LOVE MUSICAL Extraordinary... *hot kiss*


Please comment and share
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar