Musikal 50
Ririn hanya bisa menatap Andani lewat jendela bus.
Gadis itu seperti buronan yang tengah digelandang polisi ke dalam mobil. Hingga
suara Riani berhasil menyita perhatiannya.
“ Baiklah, saya akan menjadi pamong bus satu. Seperti
yang kita lihat tadi, Andani tampaknya akan menyusul kita bersama Miss Tifa. Kalian tenang saja, dia akan
berlatih bersama kita besok. Nah, sekarang kita akan segera berangkat.”
Bus mulai melaju. Bergerak meninggalkan gedung teater,
gerbang sekolah, dan seterusnya. Ririn menghela napas. Matanya kembali beralih
pada pemandangan di luar jendela. Langit tampak mendung. Padahal ia berharap
cuaca akan cerah saat ia dan teman-temannya berangkat. Sudah mendung, tanpa
Andani pula. Sepertinya perjalanan kali ini ada kelabu sekali.
“ Menurutmu Andani akan dibawa Miss Tifa kemana?”
Suara itu berasal dari laki-laki yang selalu
menggunakan kacamata tebal. Ririn hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu.
“ Kursi di sebelahmu kosong. Boleh aku yang isi?”
Ya, kenapa tidak. Ririn justru lebih senang ketimbang
Kemal yang duduk di sebelahnya. Soalnya begitu bus mulai jalan, laki-laki itu
sudah curi-curi pandang pada kursi Andani yang kosong. Bisa-bisa ia tidak
konsentrasi dengan “The Maze Runner”
yang sedang ia baca.
“ Kenapa gak nonton filmnya aja? Ceritanya’kan sama
aja.”
Ririn merasa kalau Alexi sedang memperhatikan sampul
bukunya, ia pun tersenyum, “ Aku lebih suka membuktikan kebenaran lewat membaca
karena film adaptasi kadang sering mengecewakan.”
“ Aku bahkan gak tahu kalau ‘The Maze Runner’ itu film adaptasi,” Alexi terkekeh seraya
mengeluarkan iPod-nya. “ Mau mendengarkan musik?”
“ Boleh juga,” ujar Ririn seraya memasang sebelah headset di telinganya. “ Mari kita dengar
seberapa keren musikmu.”
Love is feeling…
Ririn tertegun saat bait pertama lagu itu bergetar di
telinganya. Ia menatap laki-laki yang sedang tersenyum penuh kemenangan
padanya.
“ Wah, aku gak nyangka kamu suka yang beginian juga.”
“ Yaah, dulu beberapa anak gadis memintaku untuk meng-cover lagu ini dengan pianoku. Aku
terpaksa menyimpan dan mendengarkannya berulang-ulang. Menurutku lagu ini bagus
juga. Dari segi lirik, vokal, dan komposisinya.”
Bahu Ririn kembali mengangkat bahu, “ Tapi kenapa kamu
memutar lagu ini untukku? Apa wajahku ini terlihat seperti K-Popers?”
Tiba-tiba Alexi menatap Ririn dengan seksama. Ririn
terpaksa memundurkan wajahnya, karena mata laki-laki itu sangat intens
menatapnya. Detik berikutnya laki-laki itu menarik wajahnya, kemudian tertawa.
“ Kurasa tidak, tapi aku yakin kalau gadis yang
kursinya sedang aku duduki sekarang memang iya. Kalian berteman dan aku juga
yakin bahwa tidak mungkin kamu tidak diajaknya nonton drama Korea bersama. Lagi
pula lagu ini merupakan soundtrack
dari drama yang cukup terkenal.”
Giliran Ririn yang tertawa, “ Okee, sekarang siapa
yang sedang main detektif-detektifan?”
“ Kita sudahi saja permainan ini,” ujar Alexi yang
masih tertawa. “ Ngomong-ngomong kamu tidak melanjutkan membaca?”
Benar juga. Ternyata duduk di sebelah Alexi jusru
lebih mengganggu konsetrasinya. Ririn pun memutuskan untuk tidak melanjutkan
bacaannya. Ia kembali menatap jendela yang ternyata sudah dihiasi oleh
titik-titik air. Rupanya gerimis sudah bergeriliya di luar sana.
Entah kenapa suasana seperti ini membuat Ririn terbawa
suasana. Gerimis dan lagu romantis. Bus yang melaju cepat, serta pemandangan
yang basah. Ririn seperti terserap dalam video klip Korea romantis.
Bukan Lee Min Hoo atau Kim Woo Bin, tapi hanya ditemani
oleh seorang remaja pria teman sekelasnya dan ia sudah terlelap dengan bantal leher yang
nyaman. Tanpa Ririn sadari kali ini ialah yang justru memperhatikan wajah
laki-laki itu dengan intens.
Ternyata ia memiliki hidung yang mancung dengan bibir
tipis. Ririn tak pernah tahu karena laki-laki itu selalu menutupinya dengan
masker N95. Kulitnya juga sudah kembali memutih seperti sedia kala. Jujur Ririn
akui, kalau pemutihan kulit Alexi lebih cepat dari kulitnya. Butuh waktu
berbulan-bulan bagi Ririn untuk memutihkan kulit dan butuh waktu seharian untuk
menggelapkannya kembali. Selain itu, seputih-putih kulitnya, kulit Alexi dua
kali lipat lebih putih darinya.
Dan Ririn sangat penasaran dengan mata di balik lensa
yang begitu tebal itu. Ingin rasanya ia menarik kacamata itu diam-diam. Hanya
sebentar, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Bagaimana bentuk matanya
dan juga seberapa besar minus laki-laki itu sehingga ia tak pernah absen
menggunakan kacamata yang tebalnya seperti pantat botol.
‘ Astaga, apa
yang sudah aku pikirkan?’
Ririn langsung memalingkan wajahnya. Ia malu sekali
dengan imajinasinya yang sudah terlalu liar. Ia mendengus kesal. Untung saja
laki-laki itu sudah terbang jauh ke alam mimpi.
Naui
sojunghan saram sarangeul allyeojun saram geudaeimnida.
O~ naui meori soge bakhin
saram gieok soge saneun saram geudaemnida
Geudae hanaimnida
Geudae hanaimnida
Geudael
saranghamnida
Naega
itji motal sarangiyeo haengbokhaetdeon sarangiyeo
Love
is love is love is love is feeling
Ririn tak pernah tahu kalau Alexi tak benar-benar
tidur. Ada seulas seringai usil tergurat di wajah Alexi. Ia tahu apa saja yang
sudah gadis itu lakukan dan Alexi sangat menikmatinya.
Love is
feeling….
Author's Note:
Kyaaah... ini musikal kedua kesukaan Author.
Oh ya, PENGUMUMAN: Update minggu depan edisi spin off yah, jadi kita keluar jalur sejenak.
Tetap pantengin LOVE MUSICAL Extraordinary... *hot kiss*
Please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar